Ternyata Ada yang Lebih Penting dari Sekedar Kemampuan dan Teknik Semata!

Pemimpin Bayangan III
Karya Pemimpin Bayangan III Kategori Kisah Inspiratif
dipublikasikan 04 Maret 2016
Ternyata Ada yang Lebih Penting dari Sekedar Kemampuan dan Teknik Semata!

Cerita sebelumnya:

Tahukah kau apa yang saya lihat? Jelas bukan sebuah pemandangan yang cukup asyik untuk dinikmati, bahkan oleh orang yang tengah bahagia sekalipun! Apalagi oleh sosok senga? seperti saya yang saat itu kebetulan tengah terpuruk dimakan pikiran.

Nyaris semuanya menunjukkan sikap dan raut wajah yang sama! (Dunia Hitam, Pelajaran Tentang Uang dan Titik Balik Si Bay)

***

Dengan wajah ketusnya Si Eksentrik berucap setengah teriak, ?Bullshit ini semua!? sambil ngeloyor ke dalam Villa dengan gagahnya, meninggalkan sang senior yang terus saja coba mengutak-atik inisiasi kampus jurusan yang telah kami boikot, dan mencoba untuk membuat kami mengulanginya lagi sesuai dengan selera murahan mereka.

Dengan wajah yang sama Mulan mengecam dan meng-ultimatum saya untuk masuk UI tahun itu juga, atau hubungan kami selamanya seperti yang diucapkan Si Wendi Cagur dalam OVJ dengan gaya homonya, ?Lo... Gue... : End...!?. Walau nyatanya setelah saya masuk UIpun hubungan itu tetap saja End...! dan membuat saya memilih End...! juga dari UI.

Dian menatap saya dengan sorot mata yang amat serius dan dalam. Dijey juga. O?ir juga. Bahkan tembok, lampu, kipas angin dan kucing yang lewat ikut-ikutan menatap saya dengan sorot yang sama, yang membuat saya buru-buru meneguk habis sisa kopi dan menggantung batang kemerdekaan di sudut bibir sambil beranjak dari kursi.

?Bullshit ini semua!? teriak saya meniru Si Eksentrik dengan gaya yang sama kerennya, dan ngeloyor bersama bayangnya ke dalam kamar. Dan setelah mengultimatum diri sendiri untuk menyelesaikan semua kekacauan yang terjadi -seperti yang dulu pernah dilakukan Mulan- saya tatap peta diri yang terpampang di seluruh hidup saya dengan sorot mata yang seperti milik Dian, Dijey atau mungkin kucing yang lewat itu, yang sempat saya duga sebagai kucingnya Si Bintang yang jauh-jauh mampir dari wilayah utara cuma untuk ikutan memelototi saya. Mencoba mencari-cari dari mana saya dapat memulai perbaikannya.

Di antara saya dan Mulan saat itu ada jalan gelap yang tanpa ujung sama sekali.

Di antara saya dan kehidupan, ada sebuah lembaga pendidikan kelas warteg yang dulu pernah saya buat sebagai CSR sebagai mahasiswa terhadap masyarakat.

Dan di antara keduanya saya melihat masa depan mengintip dari balik pintu, yang ketika saya membukanya, membuat masa depan tersebut gerabak-gerubuk hingga nyungsep dan ngusruk menjauhi saya.

Saya memilih lembaga pendidikan tersebut, dan melepaskan Mulan untuk terbang ke neraka manapun yang dia inginkan, dan membiarkan masa depan saya turut out bersamanya. Selesai sudah. Satu masalah telah teratasi. Tinggal bagaimana cara saya mengubah yang lainnya.

Kembali saya terlahir, sebagai bayi yang telanjang tanpa sehelaipun benang ketrampilan yang saya punya. Menjadi guru, tanpa memiliki sedikitpun kemampuan dan latar belakang akademis yang mendukung. Tak ada bahan ajar yang bisa saya pelajari sebagai persiapan sebelumnya. Juga tak ada alat atau referensi pendukung lainnya yang benar-benar dibutuhkan untuk bisa menjadi seorang guru yang baik.

Bagi yang pernah mengenal saya, tentu semua itu akan terasa lebih aneh lagi. Sebab mereka tahu betapa ngap-nya saya terhadap pelajaran-pelajaran eksakta. Atau betapa amat asing dan hijaunya saya dengan materi Bahasa Inggris. Sementara keseriusan seringkali terlihat sebagai musuh terbesar buat saya.

Dan dengan semua gambaran tersebut, tak ragu lagi mereka akan langsung memvonis saya sebagai guru terburuk yang pernah ada!

Tapi anehnya, saya justru berhasil menjadi guru yang baik. Tentu saja setelah sebelumnya membayar lunas semua dosa masa lalu saya saat masih menjadi anak sekolah, seperti yang telah saya tulis dalam kisah yang ini. Hingga saat terakhir kepengajaran, saya tetap menjadi satu-satunya guru yang mampu menangani kelas gabungan dari berbagai tingkat sekolah yang berbeda, dengan tetap menjadikan seluruh siswa tersebut mampu untuk menunjukkan prestasi terbaiknya di sekolah. Dan itu adalah satu-satunya kelas tersulit yang paling banyak ditampik oleh guru lainnya!

Begitu cerdaskah saya hingga mampu melakukan semua itu dengan sangat baik? Saya khawatir akan kembali mendengar ?bwahaha? yang riuh saat teman-teman saya mendengar pertanyaan itu.

?Si Bay cerdas? Hehehe... Kiamat udeh makin dekat aje...?

Barangkali itu pernyataan paling obyektif yang mampu mereka berikan. Karena setahu saya, seumur hidup baru satu orang yang menuduh saya sebagai orang cerdas: L?es Farada dari IPB! Itu juga kata Mulan, karena saya tidak pernah mendengarnya secara langsung. Sebagai bantahan dia terhadap ?ramainya? dugaan yang sering menganggap saya sebagai orang yang ?cuma beruntung? atas berbagai peristiwa, yang tidak hanya di UI? dan IPB saja mengingat jaringan teman yang saya punya tersebar di berbagai kampus dan tempat kerja.

Bahkan Mulanpun tak pernah mengakui saya sebagai orang yang cerdas. Walau saya amat yakin tak seorangpun akan dapat menjelaskan begitu banyaknya ?peristiwa aneh? yang membuat saya selalu mampu memperoleh IPK di atas tiga koma saat masih ngampus di UI dulu, tanpa perlu banyak belajar bahkan juga tanpa perlu banyak kuliah, yang membuat Si Eksentrik misuh-misuh di koridor dua karena yang dia peroleh jauh lebih rendah sementara dia merasa lebih rajin dan lebih berusaha.

Atau bagaimana caranya NEM SMU saya bisa begitu mengejutkan Si Mimi, juga Si Tege karena mereka jelas paham siswa seperti apa saya waktu itu.

Atau ketika tanpa perlu belajar berpayah-payah, saya tamatkan jenjang SD dengan peringkat teratas pada setiap tahunnya, dengan selisih nilai rapor amat jauh bahkan dari murid yang paling tokcer sekalipun di beberapa SD yang pernah saya singgahi tersebut, tanpa saya butuh menjadi cerdas atau tergabung dalam komunitas contek massal anak SD yang memalukan itu, yang membuat Sang Menteri turut pula mempermalukan diri dengan mengingkari kejadiannya.

Kok bisa, Bay? DESPERADO mungkin cukup untuk mewakili jawaban saya. Komik Jepang yang saya tarik dari altar persembunyian Si Gimbal yang ada gambar dewa babinya! Berkisah tentang petualangan Shina dalam mempelajari gitar, mengingatkan saya saat belajar gitar satu minggu hanya untuk menghadiahi Mulan lagu Kamulah satu-satunya Dewa 19 saat dia ulang tahun, dengan mengganti lirik nama pada lagu tersebut dengan nama asli Mulan yang memang homofon, yang setelahnya ?kata Mulan- ditertawakan Igay si ponakan, karena banyak petikan yang terdengar tak sama dengan versi aslinya.

Salah Dewa kenapa memainkan nada yang berbeda dengan genjrengan gitar saya? :P Lagi pula saya memang tak berminat untuk menjadi gitaris besar seperti Ian Antono, misalnya, dan sudah merasa amat senang ketika Mulan begitu khusuk dan bersikap romantis menikmati hadiah yang saya mainkan di teras rumahnya -dengan suara yang agak sengau karena flu- saat kami masih remaja.

Tapi saya tidak melengkapinya dengan bunga. Karena prosesi itu telah terlalu sering saya lakukan kepadanya. Memetiki bunga yang entah apa ketika saya berangkat sekolah, yang saya beri ke Mulan lewat kolong laci meja saat kelas agama. Dan ketika tertangkap basah oleh Si Kutu dari kelas sebelah, lantas saja membuatnya cengar-cengir sambil melirik ke arah saya dan Mulan yang jadi jengah dan agak grogi karena malu. Walau hingga waktu yang lama saya masih suka memberi Mulan bunga. Kadang serumpun Edelweis yang sengaja saya petik untuk Mulan saat mendaki gunung Bogor, Cirebon atau Solo, walau tak jarang setangkai-dua mawar yang saya peroleh di Jalan Kesehatan-Tanah Abang.

?Romantis banget lo, Bay...?

Ah, tidak juga. Saya cuma senang saja melihat wajah Mulan yang berwarna-warni setiap kali menerima bunga dari saya. Perpaduan antara malu, risih, senang, juga lirikan matanya yang curi-curi pandang saat menunduk, sambil melemparkan segumpal besar cinta yang dia punya kepada saya, yang dengan tepat langsung mendarat dan membuat wajah saya belepotan oleh lumpur indah tersebut, dan menetes secipret-secipret ke dalam hati saya.

Dari komik jepang itulah saya mengetahui, bahwa ternyata memang ada yang jauh lebih penting dari sekedar kemampuan dan teknik semata. Dan itu adalah jiwa, yang sering saya pahami sebagai keinginan amat kuat dan begitu menggebu untuk melakukannya: Dengan hati.

Hal itu pula yang saya lakukan. Menjadikan siswa bukan sekedar karung yang siap diisi, melainkan justru seperti menyulut tungku hingga menjadi begitu besar dan menggelora serta siap melalap habis apapun yang dihidangkan kepadanya.

Dan itu terus saya lakukan dengan tidak begitu saja, melainkan dengan sepenuh ruh dan segenap hati juga rasa yang saya punya.

Hasilnya? Sila kau coba sendiri dengan kegiatan apapun yang tengah kau lakukan saat ini, dan tak perlu takjub jika kemudian hasilnya akan memaksamu ternganga-nganga saking dahsyatnya... ^_ (bersambung).

?

Dunia Aneh Si Bay, ThornVille, Tahun Entah.


  • Nisrina S Nissinero
    Nisrina S Nissinero
    1 tahun yang lalu.
    ^_^

  • 31 
    31 
    1 tahun yang lalu.
    Benar sekali..saya iri sama orang yang sangat lihai menulis dan menggambar apalagi yang memiliki aneka tekhnik ini dan itu..tapi saya lebih iri sama orang yang mampu berkarya dari hati, padahal dia ga kuliah di fakultas Tekhnik dulu jadi ga pernah tau tentang tekhnik2nya (hehe)..

    • Lihat 11 Respon