Dunia Hitam, Pelajaran tentang Uang dan Titik Balik Si Bay

Pemimpin Bayangan III
Karya Pemimpin Bayangan III Kategori Kisah Inspiratif
dipublikasikan 03 Maret 2016
Dunia Hitam, Pelajaran tentang Uang dan Titik Balik Si Bay

jika cinta adalah tuhan

dia pasti memiliki nabi

dan kita sebagai makhluk yang memujanya

tak akan pernah lagi gagap

dalam ritual kebodohan yang sedih

(?Jika Cinta adalah Tuhan? dalam Tinta Kepedihan)

?

?Pengalaman...!? Jawaban mengejutkan itu yang dipilih oleh dosen UI berpenampilan necis yang gemar wara-wiri ke luar negeri tersebut, saat saya tanyakan tentang mana yang terbaik antara ilmu yang diperoleh di bangku kuliah, dengan pengetahuan yang didapatkan dari pengalaman di lapangan.

Dan terdorong oleh rasa penasaran juga kekhawatiran bahwa sang dosen salah tangkap atas pertanyaan tadi, saya kembali bertanya, dengan tendensi yang jauh lebih tegas.

?Walaupun jika yang diperoleh di sekolah adalah kualitas yang terbaik misalnya, sementara pengalaman langsung di lapangan cuma sekedar tingkat yang biasa saja??

Tetap saja beliau menjawab dengan jawaban yang sama, yang membuat saya merasa terjebak dalam ?kebodohan kolektif? bersama teman-teman karena terus saja ngejogrok di UI. Belajar ini-itu yang ternyata cuma ilmu kelas dua doang, dan bukannya langsung cabut ke Mesir untuk mulai menggali peradaban tinggi yang terdapat dalam kuburan Fir?aun di entah piramida yang mana. Atau jika dirasa terlalu jauh, tinggal putar arah ke daerah Karet untuk mulai setidaknya menggali kubur bagi diri sendiri.

Tapi saya tak menyangka begitu mahalnya imbalan yang harus dibayar, hanya untuk memperoleh ?ilmu kelas satu? itu. Imbalan yang kadang tidak hanya saya bayar dengan uang saja, melainkan juga dengan keringat, hati, juga hidup dan kebebasan saya sendiri, yang barangkali dengan sedikit sedih akan saya tuangkan dalam tulisan ini.

Setelah hengkang dari UI, saya langsung dikepung oleh berbagai kesibukan yang bertubi-tubi. Terutama sekali sibuk menghitung betapa banyaknya waktu dan energi yang terbuang dengan sangat percuma, hanya untuk memperoleh pengalaman hidup yang ternyata ?cuma begini saja?.

Dan sambil sibuk memikirkan kesibukan apa kira-kira yang akan saya buat setelah berbagai kesibukan yang lalu, iseng-iseng saya sibuk mencolak-colek memori, berharap ada sepotong kenangan dalam hidup saya yang mampu untuk memberi setidaknya sedikit inspirasi.

Tapi kehidupan agaknya bukanlah sesuatu yang cukup berharga buat saya, terutama saat mengetahui bahwa hidup yang dijalani, cuma penuh terisi oleh berbagai macam remeh temeh kejadian yang hanya begitu saja, yang seketika memprovokasi saya untuk bertanya, ?Tak adakah sesuatu yang membanggakan dalam hidup saya...??

Sejak kecil saya telah tahu ada begitu banyak tempat yang menjual minuman beralkohol dengan bebas, yang bahkan anak SDpun bisa memperolehnya dengan mudah: Secara eceran per gelas!

Atau di lokasi mana bisa memperoleh narkoba kelas monyet yang terjangkau anak sekolah, lengkap dengan obat kuat dan segala macam alat yang dapat membuat seks bebas menjelma komoditas yang amat menendang adrenalin keuntungannya.

Namun pengetahuan tentang hal-hal tersebut jelas bukanlah sesuatu yang dapat saya banggakan. Sama tidak membanggakannya seperti ketika saya dengar cerita dedengkot kenalan saya yang terkaing-kaing diburu peluru gepeng selebar tiga jari yang nyaris membuat lehernya putus, tidak lama setelah dia membajak sebuah mobil yang membawa banyak barang berharga.

Saya tahu begitu banyak hal. Melihat dengan jelas dan mengalami sendiri dunia yang terekam dalam lirik ?Sugali?, ?lonte?, atau ?bento? nya Iwan Fals. Tahu bahwa dengan sedikit siasat yang sederhana maka saya dapat membuat bermacam-macam kartu kredit dan berbagai produk keuangan sejenis, juga cara mencairkan 100% pagunya tanpa perlu berpayah-payah membagi antara tarik tunai dengan pembelian barang, bahkan untuk mereka yang bekerja di sektor informal dan atau mungkin pengangguran sekalipun!

Dan pengetahuan itu saya dapatkan bertahun-tahun sebelum era di mana semua begitu gamblang dan terbuka seperti saat ini, yang mungkin cuma perlu membaca harian murah seharga buang air di terminal atau nge-klik google, twitter juga sms maka selesailah semua terhidang rapi serta siap saji di atas meja.

Saya tahu cukup banyak hal. Tahu bahwa era informasi agaknya telah lebih dulu menghampiri saya, bahkan jauh-jauh waktu sebelum era tersebut mulai mangkal dan terkenal. Tahu tentang perbankan saat tak semua teman saya mengenal dan memiliki walau cuma rekening tabungan. Tahu tentang uang, saat orang-orang terdekat saya mungkin baru tahu tentang uang saku saja. Juga tahu tentang betapa seringkali aneh, janggal dan berlikunya jalan yang terbentang menuju uang tersebut, yang menjadikan hidup tak melulu hanya terisi dengan senyum dan atau tawa saja.

Saat itulah masa-masa awal Mulan datang dalam hidup saya, dan melakukan begitu banyak kisah heroik terhadap saya setelahnya, yang membuat hidup saya jadi memiliki begitu banyak warna selain hitam dan abu. Walau saya juga paham teramat banyak parafin yang meleleh dari tubuhnya saat ia menjelma lilin yang terus-menerus saya dekap hingga terbakar semua gelap saya.

Dan itu bukanlah sesuatu yang mudah buat kami berdua! Butuh terlalu banyak tahun untuk kami melakukannya, yang mungkin akan terus kami lakukan selamanya jika saja sebuah badai besar tak menerjang kapal saya.

Tapi mengetahui jelas berbeda dengan mencicipi. Apalagi menikmati dan atau menggunakannya untuk kepentingan pribadi, yang seringkali hanya berujung sebagai umpan lambung yang lantas menjadi kotoran tak berarti.

Bersamaan dengan kehadiran Mulan, saya tinggalkan semua petualangan hitam yang pernah begitu tak asing dalam hidup saya tersebut, tanpa pernah sekalipun berkeinginan untuk mengulanginya. Walau lama setelahnya saya masih mendengar kabar ada saja teman yang betah berkecimpung dan terlibat dalam bisnis yang teramat dekat dengan ?dunia lendir? itu, dengan segala variasi dan turunannya.

Tapi bahkan dengan segala petualangan berat yang telah saya alami tersebut, tetap tak mampu membuat saya menjadi seseorang yang lebih berharga, melainkan justru terlempar dari UI dan semua dunia utopia yang pernah begitu optimis saya reka bersama Mulan!

Kembali kosong, kembali abu-abu. Kekosongan yang melahirkan jutaan pemikiran yang begitu entah.

Pada masa-masa seperti itu tentu saja saya juga mencari Tuhan, karena kita semua tahu bahwa Tuhan seringkali menjadi begitu berharga, terutama saat tak ada lagi sesuatupun yang tersisa. Walau saya sadar bahwa pencarian itu amatlah sia-sia mengingat betapa rapatnya Mulan menyembunyikan Tuhan dari diri saya.

Dalam duka saya kembali terkapar, terjerembab ke kubangan sunyi yang pernah amat saya kenal dengan nama: Kehilangan. Tanpa pernah ada seorangpun yang berkehendak untuk menguatkan saya. Tidak teman-teman saya. Tidak juga Mulan...

Namun keisengan agaknya memang telah begitu sukses menjadi kawan terbaik saya. Bahkan di saat tersuram seperti inipun saya masih saja suka berangan nakal. Dan sambil bercanda saya sering berpikir, alangkah saktinya saya! Di saat begitu banyak orang yang mati-matian ingin kuliah di UI, saya justru meninggalkannya.

?Ah... Lo kan cuma dapat jurusan anu, Bay... Ga bonafid kalee...!?.

Benarkah begitu? Alangkah lugunya pemilik pendapat tersebut, karena tidak paham bahwa di negeri ini, segala yang berbau UI tentu saja masih tetap terkesan mewah serta memiliki bargaining position yang lebih tinggi dari universitas lainnya. Tak peduli apakah kau ?cuma? terdaftar begitu saja di fakultas kedokterannya, atau ?justru? tercatat dengan sangat hormat namanya sebagai mahasiswa Sastra Jawa. Dan jurusan anu siapa sangka ternyata adalah disiplin ilmu yang paling tidak normal serta paling bunglon cakupannya...?!

Tak perlu kau rogoh kocekmu dalam-dalam jika hanya ingin memiliki keahlian setingkat pemandu wisata, karena dana negara yang mungkin tak sempat dikorupsi, telah cukup untuk membiayaimu keliling begitu banyak lokasi wisata yang ada. Atau setelahnya kau bisa menjadi wartawan dengan segala macam ilmu photografi, topografi, bibliografi serta skill penunjang berakhiran ?i? lainnya yang kau pelajari, yang dijamin tak akan kalah canggih dengan sekolah jurnalistik yang ada.

Menjadi budayawan? Sambil merem juga jadi. Tinggal banyak nongkrong bareng ?orang tv dan koran? yang menjadi dosen di sana. Dari Seno Gumira hingga Ayat Rohaedi dan yang lainnya. Bahkan jika kau punya sense of brothership yang kuat, maka memiliki bahasa asing secara gratis bukanlah sesuatu yang di luar jangkauan... berapapun banyaknya bahasa yang ingin kau kuasai!? Dan banyak lagi kelebihan yang lainnya bila kau diterima di jurusan ajaib ini. Walau memang ada satu yang tak akan pernah kau pelajari di sana: Menjadi presiden! Karena di masa lalu, jabatan tersebut memang lebih sering diperoleh bukan karena apa yang kau punya, melainkan lebih berdasarkan kepada segala yang justru tidak kau miliki. Dan semakin banyak tidak kau miliki, maka semakin besar peluangmu untuk menjadi.

?Tapi lo tetap keluar dari sana, Bay...??

Kenapa tidak? Saya masuk UI cuma buat Mulan. Dan setelah Mulan tak ada lagi, saya tak merasa perlu untuk mempertahankannya.

?Ga sayang, Bay...??

?Ah, cuma UI doang...? Begitu yang kerap saya ucap ke Gimbal, yang kontan membuat dia ngotot-ngotot sambil melotot, dan dengan bentuk bibir yang memang setelan dari sononya seperti agak kebetot, Gimbal selalu teriak, ?Ini UI, Bay...! UI...!!!? seakan-akan kampus itu adalah situs sejarah yang baru saja ditemukan kemarin siang.

Tapi dua huruf itu memang seringkali tak terlalu berarti apa-apa buat saya, bahkan jauh-jauh hari sebelum saya tinggal pergi. Seperti ketika saya baru menyelesaikan Arok-Dedesnya Pram yang saya pinjam dari Dian. Langsung saya buat puisi singkat, tentang jika saya menjadi Arok dan dihadapkan pada pilihan antara Tahta Ametung dan Dedes, tanpa pikir panjang niscaya saya akan langsung memilih: Ken Mulan, dari sekedar UI.

Puisi itu tentu saya beri pada Mulan, yang lantas memulas merah dadu di wajahnya yang malu, sambil berpura-pura concern tidak senang hati karena tak ingin saya keluar dari kampus kuning tersebut dengan alasan apapun, mengingat cukup rumit persiapan yang kami buat untuk menembusnya. Walau Mulan lupa atau mungkin juga terlalu bahagia untuk mempersoalkan bait sebelumnya.

Namun kesaktian saya agaknya tak berumur lama. Karena sesibuk apapun saya mencari kesibukan, tetap saja tak mampu membuat saya memiliki kesibukan apapun yang saya inginkan. Terutama kesibukan yang cukup berarti sebagai kangtaw bagi segala kerugian saya pada kesibukan-kesibukan yang sebelumnya. Pernah terlintas keinginan saya untuk pindah kuliah dan memulai semuanya dari awal lagi. Namun bayangan tentang ?sekolah lagi? dengan segala tuntutan dan konsekuensinya langsung saja membuat saya ngeri.

Dan di sinilah saya berada, tergeletak tanpa daya setelah kehilangan semua yang dulu sepertinya pernah membuat saya merasa agak digjaya, tanpa saya tahu harus berbuat apa dan bagaimana selain cuma menunggui waktu yang terus terasa meredup dengan amat sia-sia.

Kematian seringkali terlihat begitu dekat dan jelas bagi saya saat itu. Bukan kematian yang sebenarnya, tentu. Namun adakah yang lebih buruk dari mati, bahkan jauh-jauh waktu sebelum kita benar-benar mati...?! Menjadi mayat pada saat masih hidup, tanpa pernah peduli apakah hidup yang tengah dijalani adalah sebuah hidup yang benar-benar hidup, yang mampu membuat hidup menjadi lebih hidup tanpa perlu merisaukan hidup sesudah hidup?

Tapi bahkan setelah matipun, kehidupan -anehnya- terus saja memberi saya hidup yang baru!

Pernahkah kau merasa hidup terus saja memberimu ?kelahiran kembali?, dan menjadikanmu serupa bayi dengan berbagai caranya yang aneh dan tak terjangkau nalar para ahli, setelah begitu banyak kematian yang kau alami berkali-kali?

Saya pernah. Dan rasanya: Amat membingungkan! Terutama ketika dengan cengap-cengepnya coba untuk terus pertahankan living on the edge of earth sekuat daya, yang lantas tetap saja terjungkal dengan sukses karena memang saya sudah tidak lagi memiliki prasyarat dan segala macam ketentuan yang -dalam banyak hal- memang amat dibutuhkan untuk tetap walau sekedar hidup.

Namun anehnya saya tak pernah jatuh ke jurang dengan ribuan makhluk ganjilnya yang siap memangsa, atau tercebur ke empang neraka sambil diam-diam berharap ada pahala yang membebaskan saya dari sana, melainkan selalu saja terlempar kembali ke sebuah dunia yang, ajaibnya, tak pernah saya pikirkan sebelumnya!

Dalam bingung saya kembali ke diri sendiri. Menyelinap di setiap kebisuan yang entah kenapa seperti telah menjadi garis terkuat hidup saya. Hening, yang berbaur dengan perasaan resah yang terus hinggap dan menyelusupi setiap sel dalam membran otak dan mungkin juga hati saya. Sebuah warna kembali usai saya poles dalam buku hidup saya. Biru lebam, selebam kenyataan yang telah beramai-ramai menggebok saya dengan pongahnya.

Saat menyelinap ke diri sendiri itulah saya tiba-tiba sadar betapa manusia, memang tak sekedar terbuat dari daging dan darah saja!

Saya lihat ada begitu banyak sosok hebat dalam diri saya, dengan beraneka ragam buku dan catatan yang terbuka di sana. Juga fragmen tentang berbagai kisah dan keadaan, dengan seting dan situasi yang amat menarik dan kadang-kadang terasa menggelitik. Dan itu semua adalah milik saya?!!!

Dalam sebuah tirakat yang sangat serius saya panggil semua teman terhebat yang ada dalam diri saya tersebut. Tentu saja bukan memanggil mereka seperti jika kita main jelangkung, atau mengundang para lelembut -yang sebelumnya menyamar sebagai mereka- dengan sekerat kemenyan bakar, untuk diajak diskusi bareng dalam sebuah forum gaib yang mistik. Karena yang saya maksud tirakat di sinipun hanya berpikir sambil ngopi dan menghembuskan asap kuat-kuat dari bibir saya yang telah biru-ungu karena terlalu banyak dilewati partikel nikotin tersebut.

Saya hanya mengajak mereka bermonolog, sambil sesekali bermain penjahat-polisi dengan mereka. Bertukar peranan dan menebak, jika mereka menjadi saya, apa kira-kira yang akan mereka perbuat untuk memperbaiki semuanya.

Tahukah kau apa yang saya lihat? Jelas bukan sebuah pemandangan yang cukup asyik untuk dinikmati, bahkan oleh orang yang tengah bahagia sekalipun! Apalagi oleh sosok sengak seperti saya yang saat itu kebetulan tengah terpuruk dimakan pikiran.

Nyaris semuanya menunjukkan sikap dan raut wajah yang sama! (bersambung).

?

ThornVille, Tahun Entah.

*Link sebelumnya:Susahnya Pacaran dalam Islam (Edisi Lengkap Non Edit)

  • view 215