Ketika Cinta Tak Lagi Sekedar Peluk dan Cium (versi Cerpen)

Pemimpin Bayangan III
Karya Pemimpin Bayangan III Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 28 Februari 2016
Ketika Cinta Tak Lagi Sekedar Peluk dan Cium (versi Cerpen)

Jam dinding berdenting tiga kali ketika Aro mengakhiri sujud panjangnya malam ini. Matanya terlihat begitu sembab, dengan sisa-sisa bening yang masih membuat peta pada wajahnya. Masih dalam tangis ia tengadahkan kedua tangan. Khusuk, lirih, sambil sesekali ia gumamkan sebuah nama.

Entah sejak kapan Aro melakukan ritual yang begitu indah itu, tahajud, entah sejak kapan. Tapi yang jelas, malam ini ia begitu ingin meleburkan semuanya ke dalam gerak penghambaan itu. Semuanya: Raganya, jiwanya, juga cinta dan kerinduannya. Kerinduan yang begitu mengakar di hatinya, yang tersusun dengan sangat rapat, yang kini menyeruak kembali bersama baris demi baris yang tertulis pada buku biru muda di tangannya.

Ditatapinya lagi lembar demi lembar yang tertera di sana. Dibacanya kembali. Dan ia kembali terlarut, hanyut dalam kenangan yang penuh keharuan. Seperti siang tadi tatkala ia pertama kali menemukannya di antara tumpukan pakaian milik Indah.?

***

Aro merasa ada sesuatu yang menyentuh keningnya. Sesuatu yang begitu lembut, mengusap dan membelai kening serta anak rambutnya. Barangkali serangga, pikir Aro.

Serangga? Secepat kilat Aro terjaga, bangun dari kenikmatan mati sementaranya. Tapi bukannya serangga yang ia dapatkan, melainkan sebuah tangan lembut milik Indah, sosok yang baru ia nikahi beberapa bulan yang lalu.

?Kakak kaget, ya?? bisik wajah segar itu sambil tersenyum.

?Bangun dong, Kak,? masih dengan kelembutan yang sama ia berkata lagi. Ditariknya lengan Aro perlahan.

?Mmmh? Ada apa?? Aro bertanya enggan. Matanya kembali terpejam. Tapi bukan jawaban yang ia peroleh, melainkan sebuah tarikan lagi pada tangannya.

Masih dengan mengantuk Aro bangkit dari tempat tidur, mengikuti arah tarikan istrinya. Rupanya ke kamar mandi.

Setelah beberapa saat terdengar gemericik air, Indah keluar dari dalam kamar mandi. Wajahnya penuh dengan bekas wudhu.

?Indah ingin tahajud,? ucapnya.

?Lalu??? suara Aro terdengar bingung.

?Temani Indaah?? ucapnya lagi setengah merajuk.

***

Aro menggeleng-gelengkan kepalanya sendiri. Ia tak habis pikir. Bagaimana mungkin Indah begitu penakut? Bahkan untuk ke kamar mandi dan shalat tahajudpun minta ditemani.

Yang ia tahu, walau terkesan agak manja dan kekanak-kanakan, Indah adalah sosok perempuan yang taat beribadah. Bahkan alasan itulah yang membuatnya memilih Indah sebagai pendamping hidup. Tapi kini, ternyata?

Lagi-lagi Aro menggelengkan kepalanya. Sementara pada sudut yang lain Indah tersenyum kecil, tanpa sepengetahuan Aro.

***

Sore ini Aro terlihat begitu sibuk. Mejanya penuh dengan kertas dan majalah.? Sementara layar komputernya tak berhenti berkedip, merangkai huruf demi huruf yang dicipta jarinya lewat keyboard. Sesekali ia meraih majalah, mengutip sesuatu dan mengetiknya. Terdiam sejenak, lalu kembali menekan-nekan tuts.

Beberapa jenak kemudian ia menghentikan aktivitasnya. Wajahnya terlihat puas. Diambilnya sebatang rokok, disulut dan dihisapnya dalam-dalam. Tapi ia menghisap terlalu dalam. Dengan terbatuk ia raih sisa kopi di gelas lalu meminumnya.? Serta-merta cairan kesat manis itu membasahi tenggorokannya.

Entah mengapa ia begitu suka akan rokok dan kopi. Baginya, sehari tanpa benda-benda itu bagaikan melewati kemarau tanpa AC atau hujan tanpa mantel. Barangkali kebiasaan. Tapi ia merasa seperti ada yang kurang jika belum merasainya.

Tapi akhir-akhir ini kenikmatannya agak terganggu. Sering ketika ia tengah asyik melakukan ritual tersebut, Indah memperhatikannya. Betapa tatapan istrinya itu begitu terpaku pada rokok dan kopinya. Juga, betapa kemudian Indah menatapnya dengan pandang yang aneh. Pandang yang dalam dengan makna yang tak bisa ia terka.

Tak sukakah Indah pada kebiasaannya? Terganggukah? Tapi bukankah ia selalu menjauh dari Indah ketika merokok? Dan, anehnya lagi, seringkali Indah mencium tangannya usai ia merokok, seperti mencoba membaui jejak nikotin yang tertinggal di sana.

***

Malam ini Aro kembali terbangun, lebih tepatnya dibangunkan. Sementara Indah, sosok yang selalu membangunkannya itu, terlihat senyum-senyum sendiri.

Sering Aro bertanya-tanya sendiri tentang perilaku Indah. Mengapa ia selalu dibangunkan setiap malam, hanya untuk menemani tahajud? Dan, anehnya lagi, Indah selalu membangunkannya dengan cara-cara yang, entahlah?cukup unik mungkin. Kadang mengusap rambutnya, memainkan jemari tangannya, menepuk-nepuk pipinya secara perlahan atau menyentuh-nyentuh dan melangkahkan jari pada hidungnya. Dan, seperti biasa, Indah akan serta-merta menyiapkan sebuah senyum yang paling manis saat ia terjaga. Kalau sudah begitu, bagaimana mungkin ia bisa marah?

?Kenapa Indah selalu minta ditemani?? akhirnya Aro bertanya juga. ?Indah takut hantu, ya??

Bukannya menjawab, Indah justru tertawa kecil. Tapi sebentar kemudian tawanya menghilang, berganti dengan sedikit mendung yang tersaput di wajahnya.

?Kakak bosan menemani Indah?? tanyanya dengan menunduk.

?Bukan itu?? cepat-cepat Aro menyanggah. Ia agak menyesal ketika menyadari bahwa pertanyaannya, telah menebas senyum pada wajah itu. Bahkan kini sosok itu terlihat sedih.

?Indah minta ditemani bukan karena ingin merepotkan Kakak, juga bukan karena takut hantu. Bukan itu??

?Lalu? karena apa?? tanpa sadar Aro bertanya lagi.

?Indah hanya ingin ditemani? Indah hanya ingin ketika mengadu sama Allah, Indah ditemani oleh orang yang Indah sayangi. Dan Indah tak punya siapapun? lagi selain Kakak. Tak ada ayah dan ibu, juga tak ada Wak Haji. Makanya Indah selalu mengajak Kakak. Biar Allah juga tahu bahwa Indah sangat bersyukur atas segala karunia ?Nya. Biar Allah juga tahu bahwa Indah? begitu bersyukur mendapatkan Kakak. Biar Indah??

Tiba-tiba Indah memberi sesuatu kepada Aro. Satu setel pakaian takwa? lengkap dengan peci dan tasbih! Agaknya benda tersebut telah jauh waktu ia siapkan.

?Indah sayang sama Kakak,? suaranya terdengar dalam. ?Indah ingin masuk surga. Indah ingin menjadi bidadari di sana? Lalu Indah akan mencari Kakak, agar kita bisa bersama? Itulah sebabnya Indah selalu minta ditemani Kakak. Agar Allah tahu orang yang Indah inginkan. Sebab Indah, ingin menempati surga? bersama Kakak.?

Tak habis-habisnya Aro memandangi istrinya. Rasa haru yang terbangun sejak tadi, menggumpal, melahirkan jutaan perasaan yang tak bisa ia terakan lewat kata. Inikah keindahan dari? sebuah pernikahan?

?Indah sayang sama Kakak?? ucapnya lagi sambil memainkan ujung kerudung ungunya.

Dan malam ini, Indah tak lagi tahajud sendirian.

***

?

Bogor, 14 Agustus 1997

Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Hari ini Indah lulus SMU. Indah senaaaang sekali, walau Indah tak tahu takdir apalagi yang akan menghampiri Indah. Tapi Indah percaya Allah akan memberi yang terbaik buat Indah. Ah, indah jadi ingat sama Ayah dan Ibu. Jika mereka masih hidup, mereka juga pasti akan merasa senang.

?

Bogor, 07 September 1997

Wak Haji Shiddiq memanggil. Sepuluh tahun sudah Indah tinggal bersama beliau, sejak ayah meninggal. Wak Haji orangnya baik. Beliau juga pandai bercerita. Dulu, setiap usai mengaji, Wak Haji selalu menceritakan sebuah kisah kepada Indah. Tentang Rasulullah dan para sahabat, tentang istri-istri Rasulullah, juga tentang wanita-wanita shaleh pada zaman itu. Indah sangat suka dengan cerita beliau. Terutama cerita tentang Khadijah dan Aisyah. Juga tentang Fatimah istri Sayyidina Ali. Ah, Indah ingin seperti mereka, wanita-wanita yang turut menguatkan lelaki paling mulia dunia. Tapi bisakah? Indah bukan apa-apa, juga bukan siapa-siapa. Hanya dua huruf belakang Indah saja yang kebetulan sama dengan mereka.

?

Bogor, 11 September 1997

Tiga kali sudah Indah beristikharah, jawabannya tetap sama. Mungkin sudah jodoh. Nama lelaki itu Umaro, mirip nama salah satu khulafaur rasyidin. Baru satu tahun ia ?berteduh? di rumah Wak Haji, setelah sebelumnya harus terpaksa menjauh dari ?dunianya? yang teramat penuh dengan warna.

Kata Wak Haji, ia dulu seorang aktivis multi organisasi: Kepemudaan, kampus, politik juga beberapa organisasi garis keras dan sekuler. Usianya tak jauh berbeda dengan Indah, duapuluh satu. Entahlah? Indah merasa agak takut mendengar cerita Wak Haji tentang dia. Tapi Indah percaya sama Wak Haji, terutama sama Allah. Jika memang ini kehendak ?Nya, Insya Allah Indah siap menjalani semua.

?

Jakarta, 26 Februari 1998

Subhanallaah! Betapa bergegasnya waktu! Tahu-tahu lima bulan sudah Indah hidup bersamanya. Emmh? Indah memanggilnya Kak Aro. Bukan apa-apa. Setiap mendengar ceritanya, Indah langsung teringat sebuah cerita dari masa Hindu. Kisah seorang pemuda yang, dengan segala kecakapan dan keuletannya, berusaha untuk memperoleh nilai tertinggi dalam hidupnya.

Pemuda itu akhirnya menjadi seorang raja. Tapi yang Indah heran, mengapa dalam buku-buku cerita rakyat, kisah pemuda itu begitu jauh berbeda? Hanya menonjolkan pemberontakannya, kecantikan istrinya, juga senjatanya: Keris Empu Gandring! Mengapa kecakapannya dalam beragama tidak diceritakan? Entahlah. Tapi yang jelas, Kak Umaro juga mirip dengannya. Makanya Indah beri panggilan yang nyaris persis: Aro, Kak aro. Bukankah Kak Aro juga seorang yang cerdas? Walau gaya Kak Aro agak-agak, emmh? apa yah, namanya?

?

Jakarta, 14 Maret 1998

Adakah nikmat ?Mu yang lebih memesona dari hari ini duhai Pemilik Segala Indah? Hari ini, tiba-tiba saja Kak Aro mengajak Indah berjamaah di rumah. Maha Suci Engkau duhai Yang Maha Adzim, betapa bagusnya bacaan Kak Aro! Indah sampai tak kuasa menahan air mata.

Pada rakaat pertama Kak Aro membaca ayat-ayat terakhir Al Baqarah. Suaranya bergetar, penuh dengan penghayatan. Begitu juga rakaat kedua. Betapa Kak Aro membacakan Ar-Rahman dengan sangat sempurna.? Dengan tartil, dan? satu surat penuh!

Mungkinkah Kak Aro seorang hafidz? Ah, tapi? mengapa Indah tak pernah melihat Kak Aro mengaji? Atau melakukan shalat sunah? Indah jadi bingung. Tapi Indah tak ingin banyak berprasangka. Justru Indah ingin melakukan sesuatu. Emmh? belajar mengaji pada Kak Aro mungkin. Belajar mengaji? Hihihi? Indah jadi teringat Wak Haji. Bagaimana kabar beliau di Bogor sana, ya?

?

Jakarta, 26 Maret 1998

Malam ini Indah membangunkan Kak Aro. Hihihi? wajah Kak Aro terlihat lucu. Keningnya berkerut, dan mata sipitnya berkerjap-kerjap mengusir kantuk. Ah, Indah jadi ingat waktu kecil dulu. Dulu Ibu juga sering membangunkan Indah malam-malam. Kata Ibu, Indah harus membiasakan diri bangun malam dan shalat tahajud.

Dulu Indah tak mengerti kenapa harus shalat tahajud segala. Indah kan masih kecil. Lagipula Indah masih mengantuk. Yah, walau akhirnya Indah bangun juga sebab Ibu begitu sabar membangunkan.

Lama-lama Indah jadi terbiasa bangun sendiri. Tapi Indah tetap berpura-pura tidur, sebab Indah ingin terus dibangunkan Ibu. Ibu akan mengelus-elus kening Indah dengan lembut dan mengecup kedua pipi Indah. Indah senaa? ng sekali. Indah merasa Ibu sangat sayang sama Indah. Walau kadang Ibu seperti tahu kalau Indah sedang berpura-pura. Tapi Ibu tetap melakukannya, tetap mengelus dan mencium pipi Indah dengan sayang. Dan, seperti biasa, Indah akan minta dipeluk Ibu dulu sebelum bangun. Ah, Ibu?

?

Jakarta, 14 April 1998

Hari ini Kak Aro berhenti kerja. Katanya, Kak Aro ingin lebih menekuni dunia tulis-menulis yang telah dijalaninya setahun belakangan ini. Eh, tapi? lucu juga, yah? Kak Aro yang dulu aktivis terkenal, bahkan seseorang yang sempat dicari banyak pihak karena dianggap dalang beberapa kerusuhan, kini hanya menjadi seorang pelayan restoran.

Yah, tapi manusia memang tak pernah bisa benar-benar terlepas dari masa lalunya. Setelah satu tahun, Kak Aro akhirnya memasuki dunianya kembali. Tapi kali ini, katanya, tanpa organisasi.

Entahlah, Indah tak begitu mengerti penjelasan Kak Aro. Tapi Indah senang karena Kak Aro jadi lebih banyak di rumah. Hanya beberapa kali Kak Aro keluar. Itupun hanya ke kantor pos di seberang jalan, sambil menenteng beberapa amplop coklat besar. Dan pulangnya, Kak Aro pasti membawa sesuatu buat Indah. Kadang buah-buahan dan makanan kecil, tapi tak jarang Kak Aro membawa setangkai bunga. Ya, setangkai bunga yang, entah apa namanya, dipetik Kak Aro dari pinggir jalan? untuk Indah!

Betapa romantisnya! Apakah orang seperti ini mampu memciptakan kerusuhan?

?

Jakarta, 17 November 1998

Kak Aro semakin banyak merokok. Indah jadi teringat Ayah. Ayah juga seorang perokok. Indah masih ingat bau tangan Ayah ketika mengajak Indah jalan-jalan. Bau yang sangat khas, entah bau apa (lama setelahnya baru Indah tahu bahwa itu bau nikotin).

Indah sangat suka bau itu, bau yang selalu terhambur dari sosok yang menyayangi Indah. Sosok yang -tak lama kemudian- jatuh sakit lalu meninggal. Kata dokter, Ayah terkena kanker paru-paru.

Dan kini Indah kembali menemukan bau itu? pada Kak Aro! Akankah Kak Aro juga seperti ayah? Sakit, lalu? Ah, Indah jadi sedih memikirkannya.

?

Jakarta, 26 Februari 1997

Kadang Indah membayangkan Kak Aro menjadi seorang ikhwan. Hihihi? Kak Aro pasti kelihatan lucu, mirip Cina masuk Islam! Putih, sipit, mancung, sedikit berjanggut (hihihi?) dan selalu mengenakan baju koko serta peci. Hmm? kayaknya Indah bisa bikin senandung buat Kak Aro, nih.

?

Ah, Kak Aro jadi ikhwan?? Cakep kali, ya?

Na? na? na? Kak Aro jadi ikhwan?? Ah, alangkah tampannya?

?

***

Adzan subuh baru saja labuh ketika Aro selesai membaca lembar terakhir catatan istrinya. Ditutupnya buku biru muda itu dengan perlahan, diusapnya, lalu ia menghirup napas dalam-dalam.

?Betapa bergegasnya waktu!? tanpa sadar Aro mengulang salah satu tulisan istrinya. Rasanya baru kemarin ia melihat Indah tersenyum. Sebuah senyum yang penuh dengan kebahagiaan, sesaat setelah ia melahirkan Sholah kecil mereka. Rasanya baru kemarin ia melihatnya, melihat senyum itu. Sebuah senyum yang tak akan pernah usai sebab pemiliknya kemudian syahid menuju muara segala senyum. Bahkan rasanya baru kemarin ia menggenggam tangan Wak Haji, yang menyerahkan Indah sebagai sebuah amanah, dalam ?perjanjian berat? yang begitu agung dan menentramkan itu. Rasanya?

Andai waktu bisa ditarik mundur, ingin rasanya Aro kembali ke masa lalu dan memainkan perannya dengan lebih sempurna. Tapi waktu tetaplah waktu, tetap berderap sesuai titah penciptanya.

Tiba-tiba saja Aro seperti terilhami sesuatu. Bergegas ia bangkit, menuju kamar. Sesampainya di sana ia sempat tergugu. Sesaat ia menangkap bayangan wajah istrinya, pada bocah yang baru berumur tiga tahun itu. Tapi pada saat yang bersamaan ia juga melihat wajahnya sendiri di sana.

Didekatinya sosok kecil itu dengan perasaan penuh. Diusapnya perlahan kening lembut itu, dikecupnya, lalu sejarah kembali terulang.

(Dan pada lembar terakhir buku biru muda itu Aro menambahkan sebuah kata. Hanya sebuah kata?).

***********

?

*Versi cermin (cerita mini) kisah ini dapat dilihat pada tautan berikut: Dan Malam Ini, Rin Tak Lagi Tahajud Sendirian