Benarkah Kegiatan Menulis, Harus Menjadi Amat Kapitalis?

Pemimpin Bayangan III
Karya Pemimpin Bayangan III Kategori Kisah Inspiratif
dipublikasikan 28 Februari 2016
Benarkah Kegiatan Menulis, Harus Menjadi Amat Kapitalis?

Kau menulis cerita tetapi lebih banyak membaca puisi ketimbang membaca cerita. "Puisi selalu memukau," katamu, "dan dari sana kau menemukan gambar-gambar dan suasana, dan juga kosakata baru." Sebetulnya bukan benar-benar baru. Kau sudah mengenal kosakata itu tetapi nyaris tidak pernah mengoperasikannya, dan puisi-puisi yang baik memberimu ilham untuk menemukan kembali apa-apa yang sudah lama terpendam. (AS Laksana-Sastrawan).

?Jadi inikah nama asli Sang Bayangan? ^_^?

Kalimat itu yang tertera di kolom komen sebelas jam setelah saya ubah nama akun media sosial, setelah sebelumnya masuk pula kalimat yang lainnya di kotak inbox, yang kebetulan semuanya berasal dari akun bergender wanita? :P

"Assalaamu'alaykum wr wb
Afwan akhi, mau tanya, apa buku ?Love in Dumay? masih ada?
Kalau masih ada, saya ingin memesan buku tersebut."

Kalimat tersebut mengingatkan saya kepada kisah yang pernah saya posting secara bersambung sebanyak dua belas bagian di akun media sosial yang telah dibreidel karena ?mungkin? terlalu bersemangat melakukan otokritik terhadap apapun juga siapapun, yang tentu pula melahirkan segmen penggemar tertentu sebab siapakah yang tidak menyukai kisah cinta? Terutama jika kisah cinta itu berjalin tragedi buah pencarian cintanya yang religius, yang inginnya menuju muara segala cinta, Sang Maha Cinta, yang kisahnya masih terus berkelindan di laptop tua saya hingga lebih dari dua puluh enam bagian, yang tidak pernah lagi saya posting di akun manapun juga.

Tapi, benarkah itu cinta? Cinta yang ber-Tuhan? Cinta yang menuju Tuhan? Ragu saya, sambil kembali menapak tilasi bait-bait panjang 'Lantas dengan Apa Lagi Kumaknai Cinta, Jika Semua Mesti Saja Kau Baca Noda?'?yang di-share cukup banyak di inspirasi.co ini, yang kelak mungkin saya himpun dalam kumpulan 'Di Bawah Kibaran Dosa', yang memang penuh uap neraka tersebut.

Hanya saja keinginan tersebut langsung kuncup, terutama sekali ketika mengingat latar belakang sejarah kegiatan menulis saya yang awalnya memang mengedepankan nilai berbagi manfaat, dengan cara yang seikhlas mungkin, dengan sesedikit mungkin menyelipkan pamrih di dalamnya. Sesuatu yang akhir-akhir ini telah menjadi amat sukar jika mengingat betapa segalanya telah menjadi begitu uang. Penghargaan adalah uang. Produktivitas juga uang. Bahkan ketika kita ikhlas menolong seseorang yang tertimpa musibahpun selalu awalnya dipaksa untuk menerima tanda terima kasih berupa: Uang. Hufh?

?Wah, ini karya sastra?!? ulang Mulan, merekonstruksi ulang kejadian melayangnya cabikan kertas panjang bertuliskan cinta dari seniornya di Fakultas Kedokteran Kampus Islam Super Mahal, waktu saya masih berstatus resmi sebagai pengangguran dulu.

Dan saya membayangkan Mulan yang bergegas menelusuri koridor kampus dengan jubah praktikum kedokterannya yang melambai-lambai seperti di film ER, masih harus berbalik menghampiri sang kakak tingkat untuk meminta kembali robekan cintanya tersebut, walau untuk itu dia menjadi terlambat mengikuti kelas praktikum bedah mayat, misalnya.

Surat cinta tersebut entah dimana keberadaannya sekarang. Saya hanya ingat judulnya, Apiku Api Liar, Mutiaramupun Terbakar. Bait panjang yang hanya berisi larik patah-patah sebanyak dua atau tiga kata di setiap barisnya.

Masih di masa remaja yang sama pula datang DN, alumni SMEA Negeri yang senang bercampur pusing menerima surat dari kekasihnya yang menjadi TKW di Taiwan.

Kubaca sekilas. Muram, khas derita TKW yang terus berkeras membanting-banting tulang di negeri seberang dengan amat lelah, sambil banyak kali terkenang negeri asalnya yang amat indah ini, Indonesia.

Kutulis surat balasan yang menguatkan, dengan beberapa kalimat yang dipulas gincu diksi dan ditaburi bedak rima agar terkesan lebih puitis dan mengena langsung ke jiwa. Karena setahu saya, obat untuk hati tentulah dengan hati pula.

Tak lama berselang mereka menikah, dengan ungkapan tulus betapa berterima kasihnya wanita eks TKW tersebut pada DN, karena telah mengirimkan surat cinta bersyair yang terus dia baca demi menyemangati hati tatkala lemah mendera.

Beranjak dewasa kembali datang seseorang. Kali ini om-om paruh baya, yang minta tolong untuk dibuatkan serial puisi guna dikirim ke tambatan hati, yang kabarnya kala itu tengah dilirik oleh salah satu anggota dewanlegislatif negeri ini.

Dan seperti kisah sebelumnya, om paruh baya tersebut kemudian berhasil memenangkan cintanya, yang seringkali sambil tertawa bahagia dia katakan, atau barangkali pula dia tanyakan, ?Bagaimana mungkin hanya berbekal puisi bisa mengalahkan cinta dari orang berpangkat??!?

Ada kejadian yang kurang mengenakkan dari sederetan pengalaman menulis di atas, yaitu ketika pada akhirnya istri DN mengetahui bahwa sayalah ghost writer dibalik surat yang dia kagumi, memaksa saya untuk menyingkir sejenak dari kehidupan mereka, sebab menjadi perusak rumah tangga teman jelas bukan pilihan yang amat menarik bagi saya. Hingga akhirnya saya pakai nama Bayangan sebagai akun di media sosial, hanya demi menghindari adanya ?pengagum berlebihan? pada tulisan yang pernah dibuat, walau memang tetap ada saja model penggemar yang seperti itu, yang akhirnya dengan amat hati-hati saya beri pengertian serta jarak interaksi.

Berlindung dibalik akun hantu abal-abal sebenarnya memiliki cukup banyak keunggulan. Terutama untuk masalah hati dan kejiwaan di mana tulisan yang dikeluarkan, akan menjadi jauh lebih ikhlas sebab sebagus apapun tulisan, tak akan pernah berpengaruh kepada saya sebagai pembuat tulisan. Nama pena, photo profil blur juga data diri yang absurd, menjadikan tulisan murni dinilai dan dinikmati hanya berdasarkan kualitas tulisan, tanpa sedikitpun dibayang-bayangi oleh nama besar atau nama busuk si pembuat tulisan.

Begitu pula ketika terjadi perdebatan tentang muatan tulisan yang agak sensitif, menjadikan diskusi menjadi lebih berisi karena pertarungan argumen yang tersaji tak lagi demi mempertahankan nama dan harga diri dengan selalu melakukan ?pembenaran?, melainkan lebih mengacu kepada ?kebenaran?. Hanya saja tren kemudian mengenai penjahat berakun abal-abal memaksa saya menggunakan nama utama. Dan berakhirlah petualangan seorang Bayangan di dunia maya seketika itu juga.

Ketika tulisan tentang Mulan dan Love in Dumay memiliki segmentasi penikmat yang lumayan besar, timbul aura kapitalis dalam diri saya, ?Enak juga nih kalo misalnya dibukukan lalu dijual, lumayan buat tambah-tambah beli pulau? :P ?

Tapi kembali ingatan tentang beberapa hal memasung saya untuk diam.

Saya teringat beberapa tulisan teman-teman yang mendadak raib secara amat ghoib, yang lalu berganti dengan gambar buku cetakan plus status modus yang menggiring untuk membeli buku yang telah dicetak tersebut. Selebihnya, halaman itu kosong melompong.

Begitu juga dengan blog Kambing Jantannya si Raditya Dika. Begitu juga dengan postingan beberapa teman, hingga akhirnya saya berpikir, apakah menulis, hanya perlu dibagi ketika tulisan tersebut belum memperoleh nilai dan harga, yang setelah banyak pihak kesengsem dengan tulisan tersebut, maka berakhirlah ?berbagi? tersebut, mengingatkan saya dengan modus serta praktek yang banyak dilakukan mafia narkoba, ?Cicipi dulu gratis, Bro, nanti kalo udeh ketagihan silakan bayar, haha??

Beberapa kali saya mengintip ulang postingan pribadi di media sosial, yang lalu dengan amat kapitalis membathin, ?Wah? jika tulisan yang ini digabung sama yang itu, lalu dipoles ulang dan dilempar ke Horison atau Harian Kompas, sudah tergambar tuh rupiah yang langsung meluncur melalui rekening?^_?

?Atau beberapa tulisan yang anu dirangkai dengan muatan yang itu, sepertinya dah cukup buat naik cetak kayak yang waktu itu??

Atau ketika hendak membuat artikel baru, kembali saya tergoda, ?Emm? jika artikel seperti ini dijadikan opini tentang ini dengan penambahan data dari sini, Jawa Post honornya lumayan juga, loh?^_?

Hingga akhirnya, kembali seorang anak muda mengingatkan saya, dengan tanya jawabnya tentang novel perdananya yang tetap nangkring di blog pribadi miliknya tanpa perlu ada penghapusan.

?Kenapa cerpen-cerpenmu hanya ditaruh gratis di blog, padahal jika diuangkanpun bukan perkara yang amat sukar mengingat kualitasnya yang cukup tinggi??

Apa jawaban anak muda tersebut?

?Karena saya merasa berhutang pernah belajar dari tulisan-tulisan gratis yang banyak bertebaran di media maya.?

Keren. Singkat sekaligus mengeplak sosok-sosok yang gemar ingkar terhadap jasa orang lain di hidup mereka. Yang kembali bertambah keren ketika anak muda tersebut kembali berkata.

?Dan saya pikir itu semua sudah takdir, sebab jika saya tak menaruh tulisan saya di bog pribadi, maka tak akan ditemukan oleh si anak muda anu yang kemudian menerbitkannya.?

Mmh? barangkali ada baiknya kita juga belajar dari mereka, tentang keikhlasan bersedekah kepada sesama melalui tulisan, karena dari sanalah kelak diharapkan muncul peradaban agung berciri khas yang lebih mengedepankan nilai dan fungsi alih-alih modus yang penuh pamrih. Mungkin juga sejenis ?open source pengetahuan? yang murni milik masyarakat umum. Titik.

Apakah menjual tulisan adalah sebuah dosa? Apakah ketika tulisan dinilai dengan uang adalah sebuah kesalahan?

Saya tak pernah berkata seperti itu. Bahkan saya pikir itu adalah sesuatu yang amat terpuji, membantu pemerintah meng-goal-kan bisnis berbasis kreativitas, mengurangi pengangguran terhadap diri sendiri, juga membantu memelihara perusahaan penerbitan ataupun yang berbahan dasar tulisan.

Tapi tolong, tetaplah berbagi, walau jika untuk kegiatan tersebut tak ada penghargaan berbentuk uang sebagai pembalas jerih payahnya. Juga usahakan untuk tak menghapus yang pernah kau bagi dengan penuh sukacita itu, hanya karena tuntutan uang dan uang dan uang?!!! Bukankah ada masanya kita merasa jauh lebih berbahagia, ketika tulisan kita dihargai? bukan sekedar dengan uang?

Oh, ya, hampir saya lupa. Ada beberapa hal yang saya peroleh dari membagikan tulisan secara gratis.

Dari Mulan saya mendapatkan nyaris segalanya, yang kelak menjadi amat penuh manfaat baik untuk dunia kepenulisan maupun dunia yang lainnya lagi.

Dari DN saya mendapatkan persahabatan yang abadi lengkap dengan seluruh cinta kasih terhadap sesama teman, walau hingga kini sebisa mungkin saya menghindari berinteraksi dengan istrinya?^_

Dan dari akun bayangan, saya tak mendapatkan apapun yang terlihat sangat berharga selain segmentasi penggemar yang cukup mendongkrak semangat kepenulisan saya.

Tapi memang saya akui, ada sesuatu yang amat spesial yang saya peroleh dari berbagi tulisan di akun bayangan, yaitu?. saya mendapatkan seorang istri.

Berawal dari ketertarikannya terhadap tulisan saya, yang kemudian berlanjut dengan pertemanan singkat melalui dunia maya.

Kami bertemu untuk yang pertama kalinya jam delapan pagi, dilanjutkan dengan akad nikah pada siang harinya sekitar enam jam kemudian.

Ada banyak kelucuan, kesedihan juga keriangan yang bercampur dari kisah pernikahan yang aneh tersebut. Tapi itu bukan di tulisan yang ini, karena kisahnya yang agak ajaib tersebut tak akan habis hanya dengan satu atau dua paragraf saja.

Dan mengenai tema kepenulisan yang kian kemari telah menjadi semakin amat kapitalis, saya hanya ingin menyarankan, tetaplah menulis, dan berilah bagian masing-masing tanpa harus menghilangkan salah satunya.

Beberapa tulisan perlu untuk menambah nafkah, sementara untuk tulisan yang lainnya, anggap saja itu sedekah bagi sesama, dan biarlah Allah yang membayarnya, dengan balasan yang saya yakin kelak akan membuatmu ternganga-nganga saking kagumnya akan honor yang Allah berikan kepada kita. Entah dalam bentuk pahala ketika kelak kita mati, atau justru dalam bentuk ?surprise? yang amat membahagiakan saat kita masih terjaga di dunia yang fana ini.

Selamat menulis, selamat mencari rejeki, selamat berbagi?^_

?

Secangkir Kopi tentang Menulis di Era Kapitalis, ThornVille, Tahun Cinta.

?


  • Bina Raharja
    Bina Raharja
    1 tahun yang lalu.
    cuma ini yang bisa saya ucapkan, Ka T_T rindu, diteriakkan kata. cinta, dibisikkan larik. bait menggantung sayu, di tepian kertas ungu, layu. waktu menagih utang, berapa generasi masa terbuang. di sini masih mengejar lembaran kertas penukar harga barang. padahal gelisah sudah mampir di alam sadar. menggali lubang, untuk mengubur kisah. takut sudah mulai sibuk mengukir nisan bertulis kesibukan. kesal bersiap memetik kamboja yang tumbuh karena penundaan. intinya... masih butuh latihan ekstra untuk saya mengatur waktu ber'cinta' dengan kata.... T_T doakan saja Ka, adikmu segera menemukan celah masa untuk bermain menggoda karya... oh nggak, bukan menemukan, melainkan membuat celah itu sendiri

  • Bina Raharja
    Bina Raharja
    1 tahun yang lalu.
    Speechless. Setuju. Terinspirasi Lebih. Terharu. Makin Semangat. Apapun itu sebutannya... Terima kasih Ka *sebelum senja berakhir, selagi hujan terhenti... mari menempuh perjalanan