Belajar Menjadi Orang Benar dari Puisi

Pemimpin Bayangan III
Karya Pemimpin Bayangan III Kategori Kesusastraan
dipublikasikan 28 Februari 2016
Belajar Menjadi Orang Benar dari Puisi

Tulisan ini saya buat bertepatan dengan Hari Puisi Sedunia yang ditetapkan oleh UNESCO, ditujukan untuk yang selalu menimbun rindu di tumpukan aksara. Semoga ada hikmah yang terselip di dalamnya. Atau jika memang tak ada, semoga kita bisa menikmatinya bersama. Dengan rasa yang agak berbeda, tentu saja?^_

Muqadimah pertama dari DP Anggi?, sobat baru di Dunia Bayangan, dara muda yang ditengarai banyak kalangan sebagai calon penerus Amir Hamzah si penyair religius, yang saya kutip dengan izin pembuatnya, dengan sedikit perubahan agar tetap mempertahankan keasliannya (maaf, yah, Anggi...^_)

?

Tiba-tiba, aku menjadi rahasia di antara kata yang biasanya kauucap

Aku menjadi satu-satunya kata yang tak mampu lagi kausebut di hadapan manusia

Aku menjadi rahasia selama Allah belum mengizinkan kita

Mungkin selamanya akan menjadi rahasia, ketika semasing kita tak lagi

mampu merahasiakan apapun yang tengah tumbuh dan mewangi di hati

Lalu aku menjadi malu ketika aku menjadi kata yang engkau ungkapkan di hadapan Dia

Aku menjadi malu ketika aku menjadi kata yang engkau pinta kepada Dia

Lalu bagaimana aku tidak menjadi malu, ketika aku masih menjadi hamba yang biasa-biasa saja, sementara kau kian dekat kepada-Nya?

?

Membaca sekilas pertama, saya menganggapnya biasa dan stereotif. Penasaran, saya baca untuk yang kedua kalinya dengan sedikit tuma'ninah. Dan, emmh? Dalam. Agak jarang saya temui anak muda (juga anak tua) yang bisa mengekspresikan prosesi 'merah jambu' dalam bingkai religi seperti ini. Kebanyakan terjebak di dunia alay, atau justru sangat kaku dogmatis? :P

Tapi mari kita beralih lagi ke puisi yang sama tema, namun anehnya sangat jauh nuansa rasa juga nada di dalamnya. Dan untuk puisi ini saya tak berani mengutak-atik sedikitpun. Biarlah itu menjadi ?zona ekslusif? Bung Purnama Tepilangit si mantan debu yang pernah menyerpih itu...^_

ingin kutulisi sajak
di kerut pipimu yang telah lelah
dicemkrema waktu

sambil kucoba lagi
bergelayut pada sisa tawa
yang lama kucari
pada buku harian yang kau sembunyikan
di taman bunga yang kita sirami malu-malu

kidung biru itu
telah membawaku ke bukit langit
dipenuhi jemari kita yang terpingkal pingkal?
menertawakan bulan
digerayangi pucuk-pucuk pinus


Sekilas kita akan langsung mengetuk palu bahwa puisi pertama jauh lebih religius dibandingkan yang kedua. Hanya saja ?sayangnya, hal itu adalah sebuah kekeliruan besar. Sebuah ?ilusi penafsiran?, yang saya duga tidak cuma mengenai kita sebagai pembacanya, melainkan juga (mungkin) menghampiri sang penulis puisi itu sendiri.

Jelas saya menganggap puisi pertama indah. Terutama bingkai religiusnya ketika penyair tetap berusaha mempertahankan kesucian cintanya yang belum legal, mati-matian menolak berpacaran -karena banyak pihak menganggapnya sebagai warisan yahudi, sangat tidak islami, atau berpotensi merubah cinta menjadi noda- lalu kelokan baitnya yang meminjam metafor malu sebagai cara untuk ber-fastabiqul khoirot: Bersama menuju Tuhan yang sama untuk kufu yang sama...^_

Dan itu tetaplah indah meski tak banyak diksi, majas atau cara bersastra lain yang dipakai penyair untuk menjadikan puisinya berkelas. Karena asal mula keindahan kata adalah permainan ritme dan rima kata, dan bukannya makna kata. So, masihkah ingin bersastra-sastra dengan pilihan kata yang njelimet kusut serta sukar dicerna? Yang membuat pembaca berpikir ini puisi gelap atau malah puisi tanpa makna??

Puisi kedua agak berat, walau terlihat penyair sudah berusaha mengawinkan keindahan diksi dan sebagainya itu, dengan tetap memeluk erat kesederhanaan kata sebagai gerbong utamanya.

Jika boleh mentadaburkan, saya melihat penyair ingin menghibur tokoh puisinya, yang terpasung suram buah kekotoran zaman yang terus menerpa tokoh puisi melalui hidup. Penyair ingin memberi? sebentuk penghargaan tertinggi (puisi-prasasti-mengawetkan dalam puisi) kepada sang tokoh, sambil mencari cara menembus ?titik bahagia? dalam hidup sang tokoh, yang terbenam dalam belenggu kenangan masa terindah waktu dulu, saat semuanya masih merah jambu penuh cinta yang menggebu dengan amat halus dan penuh perasaan khas saat tokoh puisi (dan penulis?) masih berusia belia.

Tapi bait terakhir agaknya yang tersulit, karena ada kodok di sana, yang melompat sambil menghasut saya untuk menjadi seorang penjudi makna yang bertaruh bahwa bait itu, jika bukan tentang puncak ekstase kebahagiaan hubungan penyair dengan sang tokoh puisi, tentulah tentang titik peak ?Ibadah Keluarga Samara? yang mengantar mereka menuju maqom tertentu di keabadian pasca kematian. Sebuah majas sinisme yang cukup manis (dipenuhi jemari kita yang terpingkal pingkal)? saat menyindir betapa banyak orang yang ingin meraih surga (bulan) dengan ibadah yang gagap, yang justru hanya sekedar? tipuan menuju surga tersebut (ilusi ibadah).

Tak usah kau repot bertanya kepada penyairnya tentang tujuan serta proses kreatif hingga puisi itu terlahir, karena watak terkeras dari puisi adalah multi tafsir. Dan bukankah puisi ?atau apapun juga, kemudian telah menjadi milik umum setelah dilahirkan? Menyadarkan kita bahwa berpuisi (dan juga melakukan kebaikan), tak lebih dari sekedar buang hajat alias (maaf) berak atawa e?ek, yang setelah melakukannya bukan kita gadang-gadang bahwa itu adalah perbuatan terbaik yang telah pernah kita lakukan, melainkan justru harus secepat mungkin kita lupakan sebab apa enaknya, mengingat lonjoran-lonjoran kuning hasil tapa kita di WC itu?? :P

Terus, gue ga boleh berindah-indah dalam membuat kata, Bay..? Kan biar bisa rada sok puitis gimanaa, gitu??

Di situ kadang saya merasa gagal paham. Sama gagal pahamnya kenapa teman-teman yang dulu adem tapi setelah dapat ?wangsit keilahian? malah justru agak brutal mencari kutu apa saja tentang siapa saja, lalu teriak lantang ini salah itu tak boleh.

Atau gagal paham kenapa ketika kita semakin cerdas justru kian ahli melihat hitam seseorang. Bahwa Si lulung ludahnya mengandung narkotika makanya bisa jadi duit, atau Si Felix Siaw cuma muallaf oportunis yang qodho sholat aja belum lunas dah berani-beraninya jadi ustadz. Atau gagal paham kenapa kita harus mendelik saat ada yang belajar ngaji kehidupan dari orang-orang di luar ?klan Muhammad?, tanpa peduli wajah pewaris beliau amatlah tak sedap bahkan kala mengajarkan tentang iman dan kebaikan sekalipun. Atau dan atau dan atau lainnya yang membuat saya teringat bisikan si I.A.D, sobat fesbuk yang lainnya, saat melaporkan pandangan mata dari pengajian Cak Nun di UII Taman Siswa-jogja,

"Jangan merasa paling benar. Yang bisa kita lakukan hanyalah terus-menerus berusaha menuju kebenaran."

Tapi Cak Nun seorang pluralis, Bay, sama seperti Kyai Anu, Ustadz Anu, dan Si Anu yang suka nganu- anu itu??

?Udahlah, Sob..? tukas saya sabar, terharu, sebab agama yang memiliki slogan ?Rohmatan lil ?Aalamiin? ini entah mengapa masih saja untuk dipenuhi ?nabi-nabi baru? yang ?lagi-lagi, masih gemar bersabda (atau berfirman?) bahwa isi merekalah yang terbaik, yang terbenar, karena dalam dunia isi mereka adalah tuhan, tak seperti kita yang cuma sekedar insan. Hikz? T_

Mari kita belajar dari mereka yang menginginkan kejujuran. Bukan untuk sekedar bergaya ketika seorang menejer pembelian, justru belajar tentang pemasaran, yang ketika ditanya beliau menjawab: ?Biar ga dibo?ongin ma seles yang ahli ngibul en suka lebay??.

Atau Kiyosaki yang alih-alih memakai bahasa ekonomi dalam bukunya seperti yang biasa kita temukan pada karya Rhenald Kasali, justru malah menggunakan narasi fiksi layaknya sebuah cerpen bersambung.

Atau tersangka komunis abadi Pramoedya Ananta Tour yang di cap anti kebangsaan, yang saya pikir justru sangat nasionalis membela (sekaligus mengkritik) Indonesia dari cengkeram penjajah lintas waktu dan generasi dalam buku tetralogi ?Bumi Manusia?nya, bahkan jika dibandingkan dengan sosok-sosok patriotis di negeri ini sekalipun, yang gemar bermain sinetron kemewahan dan eksistensi diri yang cukup menyebalkan.

Tapi tak arif juga bila kita membabi buta menggunakan ?logika terbalik? pada semua hal.

Jelas pencarian Tuhan di dunia atheis akan memberimu kejujuran atas apa atau siapa itu Tuhan, yang benarkah harus ada atau justru musti tiada?

Atau fragmen ajaran Syekh Siti Jenar yang menyodorkan alternatif lain cara memahami kesempurnaan hidup, dengan memahami kesempurnaan mati.

Tapi tetap akan ada multi effect yang menampar kita dari proses itu, yang? siapkah kita menerimanya? Hingga tetap istiqomah menuju-Nya? Dan bukannya malah berbalik menjauhi-Nya??

Kenapa tak langsung saja kita belajar dari orang suci terdahulu, Bay...?

Itupun baik, terutama bila kita memang punya akses untuk mendapatkannya.

Memang ada beberapa cacat waktu yang kita dapatkan dari mereka, yang semoga bisa bisa kita imbangi dengan mencari lagi fiqih kontemporernya, agar bisa menghisap hikmah yang terkini juga.

Dan, satu lagi, Sob. Efek terjelas yang akan kita peroleh dengan belajar dari sisi yang ini, adalah muka kita akan terlihat mengeras. Lalu menara gading. Lalu ekslusif. Lalu terasing yang bukan versi Rasululloh, melainkan terasing versi alienasi. Barangkali dengan lebih cermat memahami unsur ekstrinsik pelahiran karya mereka, akan membantu kita untuk terhindar dari efek tersebut, wallahu a?lam.

Tapi, apapun itu, saya cuma ingin bilang, cara tercepat untuk pandai mengutak-atik kata adalah: Jangan pernah menanam kebencian kepada siapapun, sebesar apapun ketidak sukaan kita kepada mereka. Karena seringkali justru dari mereka-mereka yang dibenci itulah kita terpaksa belajar. Terutama sekali belajar dari perspektif yang tidak hanya satu kotak mainstream saja.

"Kata-kata" sesungguhnya tak berdaya. Dari semula ia sudah menyerah pada makna yang kau mau. Betapa perkasanya dirimu. Tidakkah kau tahu itu? Ucap almarhum Alex Komang, yang semakin menyadarkan saya tentang hakikat kata-kata, tentang kedzoliman kita terhadap apapun juga saat begitu kental kita bungkus pamrih atas semua yang kita lakukan. Kadang demi Tuhan. Tak jarang demi diri kita sendiri.

Semoga ada saatnya kita benar-benar bisa menjadi cahaya, bersama, tanpa harus membuat pihak lain kehilangan cahaya, Menjalani hidup yang murup, yang memancarkan langsung cahaya bahkan jauh waktu sebelum kita melakukannya. Dalam bentuk teladan, bil ma?ruf, bil hikmah, bil?lahit taufiq wal hidayah, aamiin..aamiin tsumma aamiin?^_

Hikmah jelas milik setiap muslim, hanya sayangnya sebagian besar hikmah telah 'dicuri' oleh mereka yang entah non muslim ataupun setengah muslim, menjadikan kita kebingungan saat ingin mencari di mana ujung simpul tali yang menujunya itu? T_

?kau kata aku ku kata kau lalu kau aku jadi kita dalam kata?
(?Kita? dalam Di Bawah Kibaran Dosa)

Secangkir Kopi Mencoba Memaknai Karya Puisi Teman Maya, Kamar Pribadi, Waktu yang lalu.

*A tribute to: Nisrina, Ilyas Novita dan Resvathi Sang?^_