Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Kisah Inspiratif 28 Februari 2016   02:49 WIB
Jika Kita Jeli, Melihat Rumputpun Kita Mengaji

Jauh waktu ketika saya masih super aktif di fesbuk dan mendulang ratusan hit juga share, seringkali dini hari saya keliling ke lapak maya teman-teman secara diam-diam, hanya demi lebih khusuk mengkontemplasi postingan mereka yang penuh cahaya ibroh tanpa saya perlu terlibat percakapan di kolom komen. Walau tetap saja masih ada beberapa yang memergoki saya dan terjadilah tukar-menukar kata di kolom komen.

Isi percakapannya ringan saja. Bertukar halo, tanya kabar serta hal kecil lainnya yang -saya pikir- lebih menunjukan sisi kemanusiaan dalam bersilaturahmi dibandingkan jika saya sekedar nge-like statusnya, misalnya. Walau saya akui tak semua posting teman mampu untuk diberi jejak komen.

Bukan karena tak punya waktu, melainkan lebih karena isi postingannya yang seringkali terlalu ?ajaib?. Kadang terlalu tinggi nilai keilmuan di dalamnya, tak jarang amat sampah lengkap dengan kalimat kasar serta muatan tak senonoh pada hampir seluruh deret kalimatnya. Dan untuk yang kedua biasanya saya langsung meng-unfriend. Atau jika memang terlalu parah, ya udah blokir saja. Toh hidup memang terlalu singkat, yang jelas tak perlu kita perpendek lagi dengan segala macam persoalan yang menyebalkan?^_

?Tumben postingan lo akhir-akhir ini sekuler, Bay, biasanya ada aja hikmah yang terselip di dalamnya...?

Sekuler? Hikmah?

???

Tapi alih-alih merutuki solilokui di atas, ingatan saya justru melompat cetas pada sebuah kisah yang pernah dicelotehkan oleh Raedu Basha ?penyair muda Jogja yang terlihat cukup aktif mengangkat nama- yang walaupun sekedar celoteh kecil namun enggan menyembunyikan tawa moralnya yang mencetar. Barangkali inilah efek kopi yang paling berbahaya, yaitu mampu mericiskan makna kata hingga menjadi begitu ceriwis, bahkan jauh waktu setelah kata-kata tersebut tak lagi riuh dalam perbincangan sesama hurufnya. Begini ceritanya?^_

Waktunya tidak jelas, akan tetapi tempat kejadian perkara diketahui berlokasi di dalam pesawat terbang yang sudah siap diterbangkan dari Bandar Udara Sultan Hasanuddin Makassar dengan tujuan penerbangan Surabaya dan Jakarta.

Terlihat seorang bapak-bapak bermuka dingin dan kumis tebal mengenakan pakaian rapi duduk di kursi penumpang paling muka, tepatnya di kursi nomor 3.

Seorang pramugari cantik kemudian menghampirinya.

?Permisi, maaf mengganggu. Bapak, kalau boleh saya tahu mohon diperlihatkan tiketnya Bapak?? sapa pramugari itu dengan ramah.

Tanpa respon kata-kata, si bapak menyerahkan tiket itu.

Pramugari itu tersenyum ayu, ?Di tiket ini Bapak duduk di kursi nomor 50. Di belakang,? ujarnya.

Si bapak itu kemudian merengut. ?Mbak, sampean ini siapa kok tiba-tiba nyuruh saya duduk di belakang?!? sergah bapak itu menunjukkan logat Madura.

?Saya pramugari, Pak?? jawabnya, dengan senyum ramah.

?Lah! Pramugari itu kan tugasnya seperti pembantu rumah tangga. Asal Mbak tahu ya, saya punya banyak pembantu. Saya punya dua rumah, satu di Madura dan satu lagi di Surabaya, nggak ada tuh yang nyuruh-nyuruh saya harus duduk di sebelah mana. Ingat ya Mbak, tugas pembantu itu adalah melayani, bukan nyuruh-nyuruh?.?

Si bapak yang diketahui orang kaya dari Madura itu, membuat geger suasana dalam pesawat.

Si pramugari cantik merasa kewalahan hadapi si bapak yang ngeyel itu. Dia lantas pergi ke ruang pilot dan meminta sang pilot membantunya untuk meladeni penumpang ngeyel yang satu ini.

Pilot itu kemudian menghampiri Si bapak yang masih duduk santai di kursi nomor 3.

?Maaf, bapak duduk di kursi nomor 50, bukan di sini?? Ujar sang pilot dengan halus kepada si bapak.

?Sampean ini siapa, Mas?? urus si bapak.

?Saya ini pilot pesawat ini, Bapak?.? jawab sang pilot.

?Lah! pilot itu kan tugasnya nyopirin pesawat terbang ya semacam sopir mobil. Asal Sampean tahu ya. Saya punya banyak sopir di rumah Madura maupun di Surabaya, mulai sopir pribadi sampai sopir truk perusahaan besi tua millik saya. Nggak ada tuh sopir yang berani nyuruh-nyuruh saya harus duduk di sebelah mana. Saya kan sudah bayar ongkos pesawat ini, berarti saya sudah bebas duduk dimana saja?.?

Lagi-lagi si bapak ngeyel dan membuat geger. Kini giliran pilotnya yang diceramahi. Sama halnya dengan pramugari. Pilot pesawat itu juga kewalahan menghadapinya. "Orang ini susah diajak bicara," keluh si pilot dalam hati.

Di kursi nomor 2 seorang lelaki berkaos hijau dari tadi ikut menyimak kejadian ini, dia merasa terpanggil untuk membantu pilot itu yang tak berhasil membujuk si bapak ngeyel supaya duduk sesuai nomor kursi yang tertera di tiketnya. Nomor 50.

Lelaki berkaos hijau itu teringat pengalaman dirinya menggunakan kendaraan umum sewaktu berkunjung ke Madura, sehingga dia merasa paham bagaimana cara menghadapi bapak yang satu ini.

?Bapak mau turun mana?? tanya lelaki berkaos hijau lembut.

?Saya turun Surabaya.? si bapak itu ketus, jengkel karena sering ditanya-tanya.

?Oh, kalau penumpang yang turun di Surabaya duduknya di kursi nomor 50, Pak? Kalau di deretan kursi depan khusus penumpang yang turun di Jakarta.? Jawab? lelaki berkaos hijau.

?Oooo? begitu ya? Oke oke? Untung sampeyan memberitahu saya, kalau tidak saya bisa kelewatan sampai Jakarta?? tanpa basa basi lagi, si bapak ngeyel itu langsung pindah ke kursi nomor 50.

***

Berakar dari kejadian diatas, betapa amat diperlukannya ?kearifan lokal? dalam menghadapi persoalan sosial.

Peristiwa ?Bapak Penumpang?yang ngeyel di kisah atas, bagaimanapun juga belumlah cukup berhasil disikapi oleh pramugari serta pilot, yang cuma mengandalkan cara berkomunikasi berdasarkan SOP yang kaku itu. Lain halnya dengan lelaki berkaos hijau yang duduk di kursi nomor 2, yang sepertinya lebih memahami budaya lokal asal daerah si bapak, yang kebetulan memiliki tabiat ngeyel itu.

Lelaki berkaos hijau tersebut memiliki pengalaman ?dan juga pemahaman- tentang budaya tempat duduk penumpang dalam angkutan umum jurusan Surabaya-Madura. Orang yang pernah naik angkot dari Surabaya akan tahu kebiasaan kenek yang suka menjajarkan posisi duduk orang yang punya tujuan sama, dengan penataan kursi penumpang yang disesuaikan dengan tujuan singgahnya, hingga penumpang yang akan turun di Bangkalan biasanya akan dijajarkan dengan penumpang lain yang juga akan turun di Bangkalan. Dan dengan berbekal pemahaman situasi sosial-budaya lokal yang terjadi dalam angkutan umum di Madura itulah lelaki berkaus hijau akhirnya mampu meredam ?kegaduhan? yang terjadi dalam pesawat.

Kisah itu banyak mengandung muatan ibroh. Barangkali seperti itulah seharusnya kita. Tak lagi ngotot menjabarkan Keilahian melulu hanya dalam bahasa agama. Bukankah ?Bahasa Allah? amat universal, yang memenuhi seluruh ruang yang ada pada diri dan sekeliling kita??

?Islam itu begini-begitu, dengan aturan seperti ini dan itu?? membuat kita seringkali terlihat sangat kaku, asing serta menara gading di ketinggian fiqih syariat sebagai regulasi, lupa bahwa mereka jauh lebih butuh ?bagaimana adab bertani yang ber-Tuhan?, dan bukannya dicekoki dengan segala macam kaidah penciptaan tetumbuhan sebagai hamba Tuhan.

Tak semua orang mampu berbicara (dan atau memahaminya) dalam bahasa agama, memaksa kita untuk lebih cerdas dan kreatif menegaskan kehadiran Allah dalam setiap bahasa yang pernah dikenalkan hidup kepada kita. Tentu saja setelah sebelumnya kita optimalkan mata sebagai salah satu alat utamanya.

Mata begitu vital, Bay, ucap Raedu pada kesempatan yang lain melalui ruang maya, membuat saya sontak ?bersuillan? demi bisa menangkup saripatinya, memamah lagi baris demi baris kalimat lanjutannya.

Berbeda orang yang melihat sekilas dan melihat secara serius, membaca juga begitu. Menangkap makna tak segampang menangkap ikan di kolam ikan. Apalagi jika hanya melihat atau membaca sekilas. Apa yang ditangkap? Hanya suatu omong kosong dan makna yang sesat.

Dalam peristiwa sekilas, kaget/gumun/kagum/ejek bisa saja terjadi. Hal itu tak ubahnya seperti anggapan hiburan dan atau cemooh orang pesimis. Sedangkan pandangan yang serius tak melahirkan kagum/ejek/kaget, juga tak merasa ada hiburan. Melainkan berpikir untuk memaknai lebih dari sekedar memandang, menatap, lekat dan lebih dekat.

Akan tetapi setiap mata memang ladzimnya selalu memiliki fokus lensa berbeda...!!!

Saya pribadi hanya berharap, semoga kelak ada masanya kita bisa menjadi lebih jeli, hingga saat melihat rumputpun kita mengaji. Mengagumi betapa eratnya ukhuwah para rumput hingga tetap saling bertautan erat dengan salaman rizhomanya. Atau betapa tawadhu?nya rumput, yang tetap memilih untuk menunduk, tak peduli seberapa rimbun keilmuan mereka. Juga tetap memilih untuk menjadi cuma rumput, tak peduli apakah mereka tinggal di pinggir kali, kebun kumuh atau nangkring dengan amat mentereng sebagai ikon ?rumah hijau?di atap dan teras apartemen mewah. Semoga, aamiin?^_

?

Secangkir Kopi Turbulensi tanpa Sekulerisasi, ThornVille, Tahun Muhasabah.

*Beberapa data penguat artikel diambil dari akun #Raedu Basha di grahapos.com, yang kini tak ada lagi, mungkin karena kontrak habis atau buah sebab-sebab yang entah apa.

Karya : Pemimpin Bayangan III