Mengenang Tulisan ‘Malaikat Pencuri’ Buatan Seorang Tukang Becak

Pemimpin Bayangan III
Karya Pemimpin Bayangan III Kategori Kisah Inspiratif
dipublikasikan 28 Februari 2016
Mengenang Tulisan ‘Malaikat Pencuri’ Buatan Seorang Tukang Becak

Beberapa hari ini absen gentayangan di media sosial karena merasa agak lelah, membuat saya bertanya apakah usia memang selalu hakim bagi seseorang, hingga memaksanya untuk tak lagi mampu seproduktivitas dulu, dengan alasan kesibukan menggali periuk nasi, membuat karya yang lebih memprovokasi kemajuan diri, serta entah bualan keren apalagi yang akhirnya mendamparkan ingatan saya kepada seorang tukang becak yang beralih profesi menjadi penulis.

Masih terekam kuat dalam ingatan, betapa amat nyengirnya otak saya ketika membaca cerpen Malaikat Pencuri tersebut waktu masih jomblo dulu.

Substansi ceritanya amat sederhana. Pertentangan antara Kelompok munafik agama yang diwakili oleh Haji Anu yang memiliki kedudukan suci di masyarakat ?yang tetap akan terus suci dan disucikan tak peduli betapa timpangnya gaya hidup juga gaya beragama yang dilakukannya, dengan sosok yang mewakili dunia sekuler melalui karakter tokoh pemilik bisnis anu, yang biasanya akan langsung mendapat gelar: Pecinta dunia, anti sosial, pelit-medit, dan entah keburukan apa lagi yang perlu kita tandaskan di atas status ke-bos-annya.

Seingat saya, cerpen itu dibuka dengan protes anak Si Bos yang merasa malu akibat berkembangnya sindiran penuh kecaman dari Pak Haji terhadap kepelitan bapaknya yang enggan menyumbang pembangunan masjid yang diketuai oleh Pak Haji tersebut.

Protes kasar dari si anak itulah yang mengantarkan konflik yang sebenarnya, melalui dialog ketidak puasan istri Si Bos akan tingkah-polah suaminya tentang rumor buruk efek sindiran Pak Haji terhadap Si Bos, dengan cara menyerang tokoh Pak Haji melalui dialog yang amat mencerahkan, yang kira-kira dialognya seperti ini karena saya tak hafal persis muatan aslinya.

?Mengapa ayah tetap bungkam, dan mengapa tidak memberikan sumbangan kemarin secara terang-terangan saja, tanpa perlu menyembunyikan tangan kiri di belakang tangan kanan tatkala memberi, dengan mencantumkan ?Hamba Allah? di atas amplop? Kenapa tidak langsung menulisakan nama ayah saja di sumbangan tersebut? Dan lagi, sumbangan kemarin harusnya sudah lebih dari cukup untuk menuntaskan pembangunan masjid tersebut tanpa perlu lagi meminta sumbangan dari yang lain, tapi mengapa hingga kini tak juga kunjung selesai? Dan mengapa pula di halaman rumah Pak Haji kini terparkir mobil baru seharga sumbangan ayah? Apakah???

Tapi bukannya menuruti keinginan istrinya, Si Bos tersebut justru mengingatkan agar istrinya tak mengumbar buruk sangka terhadap ?rejeki mobil baru? Pak Haji, dan menyerahkan semua kejadian tersebut mutlak hanya kepada Allah, dengan tetap bertahan bahwa tindakan menyumbangnya yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi itulah yang terbaik nilainya dalam pandangan Allah, tanpa perlu meributkan apapun pandangan ?dan juga kecaman- dari manusia.

Cerita kemudian ditutup dengan gemparnya masyarakat akan berita kecelakaan Pak Haji saat mengendarai mobil barunya tersebut, yang ketika kabarnya sampai kepada keluarga Si Bos, membuat istrinya agak sungkan untuk menjenguk Pak Haji.

Tapi dengan penuh keteduhan, Si Bos kembali menasehati sang istri untuk tidak memutuskan kewajiban sosial menjenguk Pak Haji, hanya karena ketidak sukaan terhadap sesuatu hal yang terkait dengan Pak Haji, yang bahkan belum tentu kebenarannya itu.

Bergegaslah Si Bos menjenguk Pak Haji, yang saat itu tengah sakaratul maut sambil tak henti-hentinya memanggil nama Si Bos, seakan dengan cara tersebut Pak Haji ingin meminta maaf kepada Si Bos akan sesuatu hal?

Tulisan ini menjadi amat menarik bagi jiwa muda saya yang masih ababil, mengingat versi aslinya yang ternyata mampu membuat pembacanya terharu, tanpa perlu menyudutkan tokoh tertentu ataupun juga keyakinan beragama kelompok tertentu.

Dan menjadi lebih menarik lagi ketika mengetahui penulisnya adalah seorang tukang becak!

Bukankah tukang becak adalah stereotif paling umum dari kelompok masyarakat yang miskin nyaris segalanya? Miskin harta, pendidikan, pengalaman, dan terutama sekali: Miskin pengolahan perbendaharaan kata akan rekaman peristiwa apapun yang menimpanya, sepahit atau semakin apapun pengalaman tersebut.

Saya pikir satu-satunya kekayaan tukang becak adalah kebahagian tanpa batas, yang itupun mereka raih dengan amat payah buah keikhlasan mereka menerima takdir yang serba kekurangan. Tapi ini?

Dan sebagai tukang korek hikmah yang gemar berdialog sendiri di balik bilik benak, langsung saja saya bersolilokui.

Apakah dia adalah seorang tukang becak ajaib berkemampuan tak lazim? Atau justru seorang pengembara jiwa yang tengah menyamar menjadi kawula? Atau seseorang yang cuma beruntung, yang lalu buah keberuntungan karya pertamanya, akan langsung mengantarkannya menuju jalan sukses yang amat singkat? Atau?

Hanya saja, sayangnya internet di era tersebut bahkan belum pernah sekalipun terbayang, hingga saya tak bisa menelusurinya dengan gagah hanya berbekal beberapa kata kunci di mesin pencari.

Akhirnya hanya menunggu, yang tak lama kemudian dugaan saya menjadi kenyataan.

Nama tukang becak itu langsung meroket. Dalam pembahasan kolom khusus di sebuah Majalah Islami Remaja yang waktu itu masih amat ecek-ecek serta buruk karya kontributornya, tersibaklah beberapa rahasia si tukang becak, yang ternyata tetap tak mengurangi kemisteriusan dan ketertarikan terhadap sosok dan kegiatan yang dilakukannya.

Tukang becak itu kini tak lagi menjadi seorang penarik becak. Dia adalah Joni Ariadinata, yang kini tercatat sebagai salah satu redaktur di bulletin sastra bergengsi kelas nasional negeri ini: Horison.

Begitu juga dengan majalah remaja islami yang dulu ecek-ecek tersebut, yang kabar terakhirnya memiliki jumlah tiras di atas 13.000 eksemplar untuk setiap penerbitannya. Sebuah jumlah yang cukup menakjubkan jika mengingat bentuk awal serta kandungan isinya di masa-masa perdana, dengan salah satu pendirinya yang telah merilis film ?Ketika Mas Gagah Pergi?, setelah sebelumnya sukses merubah AWC yang hanya underbow majalah menjadi sebuah organisasi kepenulisan terstuktur yang banyak melahirkan penulis muda berbakat: Forum Lingkar Pena.

Kembali kepada Joni si mas becak tadi. Sebelum kisah dongengnya menjadi kenyataan, beliau beberapa kali menceritakan tentang suka-dukanya terjun di dunia kepenulisan.

Ada kegigihan dan mental baja yang terpancar dari kisahnya. Terutama ketika beliau dengan amat uletnya terus saja menulis, tak peduli entah berapa ratus karyanya yang ditolak mentah-mentah oleh media manapun yang dia kirimi, mengingatkan betapa amat lucunya nyali serta keberanian diri, yang seringkali menghela napas ketika karya buatannya hanya memperoleh hit terbesar 300-an di media yang jumlah membernya mencapai angka lima ribu belum lama berselang ini, yang terasa amat njomplang dibandingkan memposting di lapak sebelah yang menangguk hit ribuan serta mendulang share bahkan hingga puluhan ribu. *Kenapa malah curhat, Mblo? :P

Saya sempat berpikir, jika saja Joni putus asa pada penulisan karyanya yang keseratus sekian, Indonesia akan kehilangan sosok ajaib dengan karya aneh berlatar yang amat nyeleneh, hingga akhirnya kita hanya akan menemukan beliau asyik mangkal bersama rekan sejawat penarik becaknya di emper jalanan kota Jogja.

Tak berhenti sampai di situ, setelah mencapai maqomnya di dunia sastra Indonesia, Joni ternyata masih peduli dengan jaringan perbecakan yang pernah digelutinya, dengan cara mengajari mereka baca dan tulis, yang lalu amat berbahagia ketika beberapa waktu kemudian melihat mereka asyik tertawa membaca komik ringan sambil menunggu penumpang.

Terima kasih Bung Joni, karena anda pernah menginspirasi orang-orang seperti kami untuk mau ?menembus batas? tanpa perlu disesaki dengan segala macam kesalahan membaca takdir tanpa berusaha merubahnya menjadi lebih baik. Walau memang ada beberapa pertanyaan yang kembali menggelayuti angan tentang ?Dunia Intelektual? tersebut, tentang benarkah kegiatan menulis, pada akhirnya harus menjadi amat kapitalis??

Tapi itu akan saya tulis dalam artikel yang selanjutnya, karena sekarang saya hanya ingin menepi sejenak, dan mencoba untuk kembali mengais-ngais kata merenda cerita yang lebih serius serta dewasa, mungkin, demi melakukan sesuatu yang telah amat lama tak saya lakukan: Menantang diri sendiri untuk terus menjadi lebih baik dan lebih baik lagi.

Salam inspiratif, semoga bermanfaat?^_

?

Secangkir Kopi Tukang Becak yang Menginspirasi, ThornVille, Tahun Jebot.

  • view 341