Cara Menghormati Presiden yang Paling Brutal -Edisi Ternodanya Cinta Supir Truk

Pemimpin Bayangan III
Karya Pemimpin Bayangan III Kategori Politik
dipublikasikan 27 Februari 2016
Cara Menghormati Presiden yang Paling Brutal -Edisi Ternodanya Cinta Supir Truk

?Mencari nafkah, demi memburu desah.?

Kalimat menggelitik Itu yang nongkrong dengan amat nyaman di pantat belakang sebuah truk, yang entah mengapa amat pintar membuat resah sekaligus giat menghasut kita untuk tertawa.

Bagi yang lelah terpapar iklan politik, mengamati bagaimana awak truk mengekspresikan diri adalah salah satu alternatif pencerahan. Kadang bikin trenyuh. Kadang memancing tawa. Seringkali amat religius, walau tak jarang penuh nuansa asusila. Tapi yang jelas, tetap menyihir kita untuk banyak terkesima. Mengingatkan kita pada ruang riuh yang tak jauh berbeda buah karya ?jurnalisme rakyat? di cantelan maya tulisan ini.

Tapi sayangnya, kesucian itu akhirnya tergores juga. Terkotori. Tak lagi lugu, dan ?terutama sekali- tak lagi murni. Penyebabnya tak lain dan tak bukan adalah: Keluarga Bandana.

Masih ingat dengan slogan, ?Iseh penak zamanku? ? yang amat fenomenal itu? Yang redaksi awalnya terpampang di ruang kosong penutup bagian belakang bak truk dengan amat manisnya, lengkap dengan senyum teduh nan arif dari gambar sosok presiden RI ke-dua, yang tak lama setelahnya cukup mengejutkan penyebarannya sebagai viral politik?? Baru beberapa waktu yang lalu semua terjawab, tersingkap, langsung melalui ucapan salah satu anggota ?Keluarga Bandara? liga yang paling utama.

"Kalau kita ke daerah itu selalu banyak yang mengeluhkan kondisi sekarang. Sampai ada stiker 'enak zaman Pak Harto'. Nah ada kayak gitu. Itu bukan kami yang buat. Itu keluar dari masyarakat."

Demikian ucapan salah satu ?pusat pusaran? keluarga nan sakti tersebut di Kompleks Parlemen Senayan Jakarta pada tanggal 05 Mei kemarin, mengingatkan saya betapa amat rakusnya dunia politik, yang bahkan tanpa sedikitpun merasa berdosa merampas satu-satunya ?ruang kebebasan berpikir? para supir truk yang memang tak banyak pilihan itu.

Masih jelas membayang di pelupuk mata keluguan awal para supir truk tersebut, tatkala kehidupan yang melelahkan memberi mereka ?surga pengalihan?melalui? logika sederhana tentang wanita idaman, misalnya, dalam bentuk gambar dan pose wanita cantik setengah bersimpuh yang mereka beri tag, ?Gadis Jujur,? sebelum mereka ganti secara berkala dengan tag yang lebih keren menurut keyakinan berwanita mereka: Gadis Setia. Dara Setia, hingga konon melahirkan pedangdut ngebor kelas nasional Inul Daratista, buah kegagapan intelektual mereka menyebut cepat ?Inul Dara Setia?.

Masih dengan keluguan yang sama mereka sematkan lagi banyak kalimat yang ngeri-ngeri syahdu, seperti:

?Beratnya rindumu, tak seberat muatanku,?

Atau,

?Cintamu tak semurni bensinku,?

Atau yang agak ngengres karena mungkin khawatir dicekal UU anti pornografi.

?Pra one are you the end tought so peer.?

Serta banyak lagi deretan keren bernuansa sederhana lainnya yang bisa dinikmati dengan hanya nongkrong dipinggir Pantura sambil menghirup satu-dua teguk kopi, sambil diam-diam menghembuskan kepulan berbentuk lingkaran ? atau berbentuk segitiga juga kerucut jika memang telah ahli efek kelamaan menganggur- dari tembakau entah merek apa lalu berharap semua beban jiwa musnah seiring membumbungnya asap yang penuh dengan kontroversi kesehatan tersebut.

Tapi itu semuanya terjadi kemarin. Sehelai waktu yang entah mengapa tiba-tiba menjadi amat basi. Terutama setelah Rabu yang haru membawa pilu membacai lagi deret demi rentet olah lidah ?si Mbak ?yang silsilahnya bersambung langsung ke ?trah sakti?- yang amat melecehkan itu, yang mencoba menganasir sindiran serta lamunan liar para supir truk terhadap kerasnya hidup menjadi hanya sebagai tafsir tunggal percaturan politik pencitraan.

Saya termasuk yang sungkan memahami politik. Mungkin karena logical fallacy yang terus diselipkan masa lalu tentang betapa amat khayalinya realita bernegara yang saya dapati dari Negeri Semar ini. Kata ?Presiden? tak pernah berhasil saya maknai sesuai selera guru Tata Negara di SMU, atau setidaknya sesuai dengan penjabaran yang tertera di KBBI, hingga akhirnya menjadikan kata yang konon berarti sebagai pemimpin dari rakyatnya itu, tak lebih dari sekedar kosa kata biasa tanpa arti.

Bagaimana dengan Jokowi sebagai presiden di era yang kini?

Buat saya sama saja. Sama-sama tak memiliki imbas sedikitpun bagi kehidupan pribadi saya. Yang membedakan mungkin cuma satu, ?yaitu bahwa beliau bisa dipanggil langsung dengan nama saja tanpa perlu banyak rikuh atau takut, yang saya pikir agak mustahil terjadi di era sakti jauh waktu sebelum ini.

Bagaimana dengan perkembangan di kepemimpinan Jokowi?

Belum banyak imbas nyatanya. Mungkin karena efek detoksifikasi, atau barangkali memang buah ketidak becusan beliau dalam mengelola Negara. Tapi setidaknya ada perkembangan yang terus bisa kita cermati dengan banyak rasa dan keingin tahuan. Dan itu tetap lebih baik ketimbang di era yang dulu ketika tahayul kemajuan begitu cetar membahana namun tak sedikitpun menarik minat.

Balik lagi ke leptop. Senyeleneh-nyelenehnya Mbak Mega, saya belum pernah memergoki beliau berusaha menghormati bapaknya, melalui kata juga gambar yang dicomot dari sumber asal, sehebat dan semutiara apapun kata dan gambar tersebut!

Sementara hari ini kita (lagi-lagi) dipaksa untuk menghormati bapak seseorang ?yang kebetulan sama mantan presidennya dengan bapaknya Mbak Mega, yang kebetulan lagi adalah mantan presiden paling lama di negeri ini- dengan kalimat yang dicungkil dari begitu banyak deret kesenian berbasis sinisme tingkat dewa. Merubah kalimat yang awalnya berbentuk sindiran menjadi fakta (yang katanya) menggambarkan keadaan paling up to date hari ini. Meminggirkan makna kata di keranjang kalimat yang sama, yang tadinya hanya berkisar tentang betapa kerinduan terberat dari sosok tersayangpun nyatanya cuma sekedar begitu saja, yang ?tak bisa mengalahkan beratnya muatan pada truk (dan beban kesukaran hidup) mereka.

Atau betapa amat tak berartinya cinta, ketika berhadapan dengan ?cinta di persinggahan rute jalanan?, yang beberapa tahun setelah pemuatan perdananya kemudian diadopsi oleh para eksekutif dengan slogan yang lebih keren: Sex after lunch!. Juga logika sederhana yang bermuara dari betapa amat membosankannya kehidupan, yang terus saja habis di jalanan laiknya penjudi yang selalu kalah di meja pertaruhan, menyisakan kesimpulan liar sebagai penghibur bahwa tetap ada sepotong ?desah? yang dengan amat setia menanti kepulangan mereka. Walaupun hanya sepenggal desah, yang itupun cukuplah sudah membayar semua ngilu juga penat perjalanan. ?Mencari nafkah, demi memburu desah.? Sebuah harga yang dirasa cukup pantas dan menggairahkan bagi mereka yang memang seringkali tak lagi mampu untuk memahami tentang apa sebenarnya hidup yang selalu dipenuhi hiruk-pikuk ini.

Saya khawatir, setelah hari ini, kita kembali dipaksa untuk menghormati mantan presiden entah yang mana lagi, dengan cara yang paling brutal tersebut. Sebuah cara yang semakin bertambah rasa kebrutalannya saat terdengar selentingan tentang ngambeknya awak truk karena sastra bak belakang mereka kini agak sulit untuk bebas nilai serta bebas kepentingan, hingga akhirnya memaksa mereka untuk ?dengan amat terpaksa- menitipkan catatan keluguan melalui bagian belakang kendaraan yang lain: Truk tangki tinja!

Sebuah solusi yang ?terkesan? amat alami kecerdasannya, pikir saya. Hanya saja keshahihan peredarannya saya duga akan langsung merosot drastis mengingat truk tinja perlintasannya amat jarang di jalur Pantura.

Mungkin juga hal ini hanya bentuk lain dari perluasan ?pasar pembaca?. Tapi tetap, hanya akan mengulangi sejarah yang sama dan itu-itu juga. Karena saya yakin, tak lama lagi akan ada sosok-sosok absurd lainnya yang kembali mengutif kalimat bau dari tangki tinja seperti yang tertera pada gambar di tulisan ini, yang awalnya mungkin hanya sebagai humor sarkas tentang hidup dan cara memenuhi tuntutan hidup, yang akankah kemudian berubah tafsir makna menjadi amat digjaya, terutama bagi generasi yang memang tengah berpusing di era informasi ini, yang memaknai semuanya hanya melalui dua pendekatan yang paling hakiki: Mulut dan bokong.

?Rejekiku soko silitmu?

Benar-benar ?sastra jalanan? yang suram masa depannya, yang kelak mungkin cuma akan terdampar sebagai deretan tarian kalimat yang peletat-peletot karena ditarik sana dan sini oleh segerombolan lalat-lalat politik yang rakus iklan namun miskin kreatifitas itu.

Tapi segala kekhawatiran tersebut terbayar sudah. Menguap. Musnah. Menghilang bersama sebuah postingan yang tak sengaja saya ciduk dari akun yang kabarnya termasuk dalam kategori selebfesbuk: Iqbal Aji Daryono.

Dari akun supir truk di Perth tersebut saya temui sebuah status modus yang berisi gambar cover buku yang tengah dirilis, dengan subtitle: Petualangan Seorang TKI Supir Truk di Australia dan Lamunan-lamunan Liarnya.

?

Supir Truk.

?

Lamunan liar.

?

Klop. Cocok. Apa lagi yang bisa untuk lebih mewakili dibandingkan dengan dua hal itu?

?

Dari kabar ghoib yang amat sulit dibuktikan keilmiahannya, kabarnya Iqbal adalah salah satu anggota geng awak truk Pantura yang pertama kali move on dengan slogan ?Aku tak lagi menunggu jandamu,? sebagai penentangan terhadap dominasi rezim ?Kutunggu jandamu,? yang memang memiliki banyak follower waktu itu.

Tak cukup sampai di situ, Iqbal yang katanya lebih dulu kecewa dengan prediksi muramnya perkembangan ?sastra curhat supir truk?, kabur ke luar negeri dan mulai mencatatkan pikiran-pikiran liarnya tidak lagi di belakang truk, melainkan dituangkan ke buku.

Mungkin agar terlihat semakin keren dan bergaya. Bisa juga sebagai bagian dari kewelas asihan Iqbal dalam mempermudah penggemar yang berminat untuk mengkoleksi, karena memang cukup repot bila menyimpan Truk di selipan rak baca atau perpustakaan pribadi juga golongan.

Jika boleh bersandar kepada deretan status gado-gado yang terasa sedap di laman fesbuk Iqbal, juga nama Phutut EA sebagai pengantarnya, besar dugaan saya bahwa buku tersebut tak sekedar berisi curhatan mainstream supir truk seperti yang umum menempel di belakang bak truk. Tapi setidaknya, dari judulnya saja saya optimis Iqbal akan sanggup menjanjikan kepada pembaca curhatan pemikiran yang jauh lebih ngehek lagi. Bahkan kata ngehek mungkin akan langsung terasa amat sopan dan terlalu kemayu pasca membaca buku tersebut.

Akankah iqbal secara aklamasi kemudian terpilih sebagai Presiden Para supir Truk? Agaknya masih terlalu pagi untuk memprediksi itu. Tapi setidak-tidaknya jabatan Watimpres-Truk alias Dewan Pertimbangan Presidium Para Supir Truk sudah langsung berada di kantungnya, terutama ketika lamunan-lamunan liarnya, memang dirasa amat mewakili keresah-liaran para awak truk ?dan juga awak truk media dan entah awak apalagi- yang kini gundah akibat penyerobotan makna.

Sebagai penutup, saya mengutip adagium syahdu yang masih gemar menggigit nurani ini, ?Orang baik cepat mati, barangkali itulah sebabnya kebaikan amat sulit untuk kita temui.?

Apakah supir truk adalah orang baik? Apakah Iqbal juga orang baik? Puthut EA? Bagaimana dengan diri kita sendiri?

Semoga Tuhan melindungi kita dari semua keburukan, aamiin.

?

Secangkir Kopi tentang Curhat Supir Truk, ThornVille-Inspirasi.co.

*Makasih, Ran, atas izinnya menggarap status super pendek tapi asyik milikmu waktu itu hingga jadi seruwet ini? ^_

  • view 303