Susahnya Pacaran dalam Islam (Edisi Lengkap Non Edit)

Pemimpin Bayangan III
Karya Pemimpin Bayangan III Kategori Kisah Inspiratif
dipublikasikan 25 Februari 2016
Susahnya Pacaran dalam Islam (Edisi Lengkap Non Edit)

dalam perbedaan kita membesar

mengantongi tanpa sadar

hak mereka tentang hidup

seakan hikmah

hanya tersimpan di pundi?pundi

dalam ransel yang selalu kita bawa...

(Abasa? dalam Di Bawah Kibaran Dosa}

?

Jika di Tempat Saya, Berkulit Putih Sangatlah Tidak Menguntungkan!

Tubuh yang aneh.

Pernahkah kau merasa ada beberapa bagian tubuhmu yang cukup menonjol perbedaannya di antara temanmu, dan barangkali juga di lingkunganmu?

Saya pernah. Dan rasanya, jelas amat menyebalkan! Bertambah menyebalkan ketika ternyata saya masih harus ekstra hati-hati saat mencoba untuk menuliskannya dalam bagian ini, dengan sebisa mungkin menyamarkan begitu banyak nama dan menyembunyikan begitu banyak data dan fakta karena dalam bagian inilah mungkin satu-satunya tulisan saya yang paling erat dengan unsur sara dan kontroversi, agar tidak terjadi hal-hal yang berpotensi buruk bagi semua yang pernah terlibat di dalamnya.

Dan dengan segala ketidak nyamanan itu saya merasa berkeharusan untuk tetap menuliskannya, sebagai pelengkap cerita dalam Dunia Aneh Si Bay. Begini ceritanya... Preeett!!!

Sampai sekarang saya masih suka tertawa sendiri bila melihat begitu gencarnya iklan? pemutih kulit ditayangkan, seakan-akan dengan berkulit putih maka hilanglah semua masalah dan datanglah segala peluang atau sesuatu yang indah dengan bertubi-tubi.

Tentu tak ada salahnya berkulit putih. Terutama mengingat kesepakatan umum bahwa berkulit putih adalah simbol dari orang-orang yang lebih terawat, dan dalam pendapat yang lebih luas lagi: Menunjukkan status sosial yang lebih tinggi.

Benar atau tidaknya pendapat tersebut tidak menjadi masalah besar buat saya. Hanya saja saya masih suka berpikir sambil terus tersenyum, dan membayangkan apakah mereka masih tetap mau memiliki kulit yang lebih putih jika hidup dan beraktivitas dalam dunia Ben?

Saya tidak pernah sadar seputih apa kulit saya, hingga suatu hari saya berpapasan dengan salah satu teman ?mata sipit? saya. Dan setelah lempar-lemparan senyum juga bertukar sedikit canda, sebagai pamungkas teman dengan mata yang cuma segaris tersebut berkata, ?Gue ga mo ama lo ah, Bay, abis lo item, sih...?

Canda itu seketika membuat Ve si teman pribumi saya terkaget-kaget. ?Hah... Lo segini di bilang item, Bay...?! Padahal lo udeh yang paling putih di antara kita...!?

Saat kuliah di UI tentu saya lebih putih lagi. Mungkin karena sudah jarang naik gunung atau ?main matahari? sambil kelayapan dan naik motor ke sana-sini. Dian (Bukan Dian Sastro si kecil mungil yang pernah nangkring di jurusan filsafat UI pada tahun yang relatif sama ?Red? ^_) satu dari sekian banyak teman kampus yang cukup rajin mengomentari betapa putihnya kulit saya, saat kami masih sering naik angkot menuju rumah. Bersama Gimbal, tentunya. Dan saya yakin mereka akan lebih ribut lagi jika melihat seputih apa kulit saya waktu SD.

Tapi percayalah bahwa berkulit putih sangat tidak menguntungkan? jika hidup di lingkungan saya? !!!

Dalam radius 500 meter dan ke seluruh penjuru mata angin dari tempat tinggal saya, nyaris setiap hari ada saja etnis kulit putih yang ditodong atau bahkan dibacok tangan dan lehernya, sekedar untuk dirampas kalung emas dan atau barang berharga lainnya. Sehingga seperti ada kesepakatan tak tertulis bahwa lingkungan saya sudah tidak boleh lagi dilewati oleh para etnis tersebut, sejak hilang matahari hingga pagi lagi. Di beberapa tempat bahkan sejak sore baru hendak menjelang. Dan pada beberapa tempat yang lainnya lagi benar-benar total tak boleh mereka lewati sama sekali, tanpa batas waktu.

Lantas, bagaimana dengan saya? Sama juga apesnya!

Saat sepeda yang saya kendarai ditabrak taksi hingga ban depannya membentuk huruf X yang abstrak, tak ada yang menolong. Padahal jaraknya cuma dua menit kurang berjalan kaki dari rumah.

Dan ketika orang tua saya mampir ke lokasi kejadian beberapa waktu setelahnya, pemilik warung dekat sana langsung berkata, ?Ooh... Itu anak Si Mba, thoo... Saya pikir anak ciina... Makanya engga saya tolongin...? membuat nalar saya kelak berpikir, apakah untuk menolong, kita harus terlebih dahulu mengecek suku dan latar belakang yang butuh ditolong? Alangkah amat picik dan tak praktisnya?

Begitu juga saat saya bermain bareng teman-teman ke stasiun dekat rumah, yang ketika saya menyingkir sedikit dan terlihat sendiri, langsung disamper beberapa anak yang lebih besar.

Dipalakkah? Memangnya apa lagi yang mereka inginkan selain itu! Walau mendadak salah satu dari mereka berteriak, ?Udah, jangan... Dia temen madrasah gua...!? katanya sambil menghampiri saya.

Dan tahukah kau apa kata si pemalak tadi? ?Ooh, sori... Kirain anak cina dari sekolah itu...? katanya sembari menunjuk ke lokasi sekolah etnis yang terkenal borju di seberang stasiun tersebut.

Mungkin karena telah terlalu keki, saya langsung teriak dengan kencang, ?Lo liat donk bed sekolah gue...!? sambil menunjukkan badge bertuliskan arab di saku kiri karena kebetulan saat itu saya masih mengenakan seragam madrasah.

Dan masih banyak lagi kejadian-kejadian sejenis yang menyebalkan, hingga saya sering merasa tidak pede jika hendak bepergian sendirian kemanapun waktu kecil, cuma karena saya berkulit relatif agak putih.

Waktu SMU lebih parah lagi. Walau premanisme di lingkungan telah jauh berkurang, namun bukan berarti saya terbebas dari segala hal yang membuat sebal tadi, melainkan justru bertambah sial. Dan itu semua benar-benar cuma karena kulit putih saya!

Walaupun nyali saya sudah sebesar gunung, yang tentu saja tak lagi mengenal rasa takut? berkat ?latihan? yang panjang dan berulang-ulang sejak kecil, tetap saja saya masih harus sering menahan keki setengah hidup.

Kali ini narkoba. Begitu banyaknya lokasi di wilyah saya yang menjadi basis peredarannya, membuat saya terpaksa harus menelan bentakan berkali-kali saat terpaksa melewati tempat tersebut.

?Lagi banyak razia, jangan ke situ, bego...!!!? ucapan-ucapan sejenis itu yang beberapa kali saya terima karena -sekali lagi- mereka mengira bahwa saya adalah salah satu pasien etnis mereka yang tengah butuh ?barang?. Kadang disertai panggilan ?Ssst...!? atau ?Eh, Cim...! Cim...!? tapi lebih sering lagi yang langsung dibentak. Bahkan setelah saya cukup berhasil dalam bisnispun masih saja tetap mengalaminya, tentu dengan tema dan cerita yang amat berbeda.

Beberapa kali saat saya tengah punya urusan dan membonceng motor salah satu dari sekian polisi yang saya kenal, setelahnya selalu ada saja yang berkata, ?Kirain lo ketangkep kasus narkoba, Bay...? Nasiib...! Nasib...!

Beranjak dewasa agaknya tubuh mengerti kekesalan bathin saya. Kulit saya mulai terlihat agak gelap, walau tentu tetap saja berbeda. Tapi satu yang pasti, yaitu wajah saya yang mengeras. Mungkin karena terbawa lingkungan yang cukup keras. Namun yang jelas, hal itu cukup membantu dalam menjalani rutinitas keseharian yang saya miliki.

Mau tahu sekeras apa wajah saya saat itu? Pernah suatu hari saya janjian sama Si Tege (lelaki peranakan Arab- Red? ^_) untuk meng-angker-kan wajah saat naik metromini, hanya untuk mengetes apakah kondekturnya berani minta ongkos atau tidak kepada kami.

Hasilnya...? Bahkan kondektur yang sudah terbiasa dengan wajah-wajah di jalananpun tak berani, walau untuk sekedar menggemerincingkan uang receh di depan kami sebagai tanda minta ongkos...! Melainkan hanya beberapa kali memandang sekilas dengan curi-curi lalu pergi begitu saja tanpa berani melihat lagi, yang setelahnya kontan membuat kami haha-hehe berdua.

Sayangnya ternyata bukan hanya kulit putih yang membuat hidup saya repot. Setelah beres dengan urusan kulit, kali ini giliran hidung saya yang membuat ulah.

Saya tidak pernah mengukur seberapa panjang hidung saya, namun yang jelas hal itu kembali menyebalkan, terutama saat tengah maraknya para dedengkot suku berebut ?wilayah? di terminal, atau juga di biskota. Dan kembali saya mengalaminya. Lengkap dengan rasa syukur yang tak terukur karena saat itu saya masih diberi umur.

Saya lupa kejadiannya apakah ketika pulang dari kuliah, atau justru pada masa-masa pengangguran saat sering mengantar Mulan ke kampus kedokterannya. Yang jelas waktu itu ada yang menghampiri saya dari belakang, dan meminta dompet saya untuk diperiksa KTP dan sebagainya karena katanya dia tengah bermasalah dengan etnis Padang.

Kontan saja saya langsung menolak, karena saya pikir ini paling hanya modus baru dari perampokan di biskota. Dan hampir saja saya bangun untuk ?mencolek? orang rese? tersebut dengan bogem, sebelum tahu-tahu ada seorang lagi yang menghampiri saya dari belakang sambil berkata dengan berangasan, ?Ini ya, orangnya...!!!?.

Serta-merta saya menengok ke belakang, dan sadarlah saya bahwa ini memang murni perebutan wilayah. Jelas sekali terlihat gerombolan mereka yang beramai-ramai memandang saya dari beberapa deret kursi belakang yang dipenuhi kambrat mereka, yang saya yakin tentu membawa senjata tajam pula.

Saya masih melawan dengan membentak, ?Jangan asal tuduh dulu, woi...!!!? walau tentu saja bentakan tersebut sekedar gertak, demi menjelaskan kepada ?gerombolan di belakang? bahwa saya bukanlah yang mereka cari.

Dompet saya tetap diperiksa, dan setelah diyakini tidak terlibat, selamatlah saya dari maut tak terhormat tersebut.

Yang paling membuat saya heran barangkali adalah tangan saya. Terutama tangan kiri saya yang bahkan jauh lebih halus dan lentik jika dibandingkan dengan tangan perempuan sekalipun.

Dan hal itu cukup sering membuat saya risih, terutama saat banyak dari mereka yang menyejajarkan tangan dan membanding-bandingkannya.

Awalnya saya berpikir mungkin karena kulit yang pucat serta tubuh yang ?langsing? hingga membuat tangan dan jari saya menjadi seperti itu. Tapi jelas hal itu langsung terbantah saat tahu banyak teman yang kurus-putih namun tetap memiliki bentuk tangan berbeda dengan yang saya punya.

Jarang kerja keraskah? Hampir saya tertipu oleh kesimpulan itu. Sebab pernah dalam petualangan saya ke luar ibukota, saya sengaja ikut ?pegang pacul? selama tiga bulan lebih dari pagi hingga magrib, dengan harapan tangan saya jadi sedikit mirip tangan lelaki.

Hasilnya...? Tetap saja tak berubah. Bahkan telapaknyapun tak mengeras atau kapalan seperti umumnya para penggemar pacul tersebut. Hanya otot pangkal lengan saya yang menjadi sangat berisi, yang seringkali sambil berkaca dan bertelanjang dada di lemari kamar saya mengira bahwa saya pasti telah kebanyakan makan bayam seperti? Popeye Si Pelaut, atau baru saja sukses ikut program fitness. Walau sering juga saya melihatnya justru lebih mirip kuli angkut. Dan masih banyak lagi yang lainnya, yang sayangnya saya sudah merasa cukup bosan untuk menuliskannya.

?

?Makhluk-Makhluk Lembut? yang Amat Merepotkan? :P

Tapi dengan segudang keanehan yang ada pada diri tersebut, saya benar-benar tak menyangka bahwa saya akan begitu sering direpotkan oleh makhluk yang bernama: Wanita.

Dan kerepotan itu telah berlangsung, bahkan sejak saya masih duduk di kelas 1 SD?!!!

Tampankah saya? Bwahahahohohohuekhzzcuihh...! Itu pasti suara tawa teman-teman saya bila mereka mendengar pertanyaan tersebut. Sebab walaupun ketampanan seringkali menjadi sesuatu yang sangat relatif sifatnya, namun semua tahu bahwa saya jelas tidak memilikinya. Mungkin secuil. Atau secuil yang masih harus dipetil-petil hingga menjadi cuilan yang lebih kecil dan lebih kecil lagi.

Pernah suatu kali saat saya sedang nongkrong di Lamceng, salah seorang dari sekian banyak grup pertemanan yang saya punya berkata sambil tertawa, ?Lo jangan lewat sekolah Anu, Bay... kos muke lo ngeselin, kaya cina benteng...!!!?

Dan sambil nyengir sendiri saya tetap pulang lewat sana, walaupun saya tahu sekolah tersebut sedang tidak akur dengan sekolah saya. Enggak gue pikirin...

Hanya saja hingga kini saya tetap tak habis pikir dengan tingkah dan polah dari makhluk-makhluk yang lembut itu. Mungkin karena lingkungan yang keras menjadikan saya sosok yang tidak peka, terutama terhadap hal-hal yang berhubungan dengan hati. Teramat sering saya sikapi mereka dengan cara yang cukup kasar, atau paling mudah dengan menghindari mereka sebisa saya. Bersikap tak acuh, dan menganggap seakan-akan mereka tak ada.

Tapi bahkan dengan semua sikap konyol saya tersebut, dan juga dengan tampang saya yang ngekiin dan -katanya- terlihat seram saat sedang diam, tetap saja saya masih banyak direpotkan oleh wanita, juga makhluk yang setengah wanita!

Saya masih ingat betapa saya cuma nyengir bego dan berdiri canggung di samping ranjang saat teman SMP telah siap di tempat tidur, yang sambil tersenyum agak malu-malu berbisik, ?Hayyuu...?.

Atau dengan situasi yang agak berbeda istri teman saya menunjukkan ajakan yang sama, bertahun-tahun setelah saya lulus sekolah.

Juga pengakuan ekslusif dari junior cewek yang liar dan tak terkendali dengan isi kebun binatang dari mulutnya pada saat inisiasi, yang katanya mendadak sejinak bayi merpati saat melihat saya.

Atau betapa pucat dan panas dinginnya saya saat pipi dielus dengan tiba-tiba oleh setengah cewek separuh cowok ketika melenggang di Blok M kala ABG.

Jelas saya tak lupa ketika dengan terpaksa harus ?sempat? melesat sangat cepat setelah sebelumnya tak berhasil meyakinkan si cantik penjaga wartel yang kesambet setan bengong, dan terus menatap saya tanpa berkedip selama bermenit-menit karena terlalu pede memfitnah saya sebagai vokalis Five Minutes. Walau saya tentu saja tak pernah megang mic sambil berkain sarung seperti yang dulu heboh dalam video klip grup band tersebut...!

Atau tatkala saya agak pusing dan terbengong-bengong dibangunkan tidur pagi buta dari lincak ruang tamu dengan kata-kata, ?Mas...! Mas...! Kawin, yu...? di sebuah daerah. Juga ketika ada ibu yang menawarkan perawan cantiknya untuk saya nikahi, padahal jelas-jelas perawan tersebut belum lagi lepas SMP, seakan-akan saya adalah pengagum berat Syeh Puji.

Tak berhenti sampai di situ, di sebuah daerah yang lainnya lagi saat bertualang menjadi ?juragan pemulung? di lapak kumuh tanah Banten, saya kembali -lagi-lagi- diberi lampu hijau untuk menjadi ulat bulu yang disodorkan daun muda anak pemasok limbah pabrik yang baru lulus sekolah, yang setelahnya membuat saya kelimpungan menyikapinya dengan sebijak mungkin. Tentu saja bijak sesuai versi saya sendiri... :P

Yang paling aneh dan mungkin tak akan pernah bisa membuat saya mengerti barangkali cuma Si Putri Kunang-kunang. Wanita dengan prototive yang cukup dekat dengan Arumi Bachin dan Shireen Sungkar ini kembali membuat saya bingung dan kejeglung, karena katanya dia tak mencintai saya: Namun melakukan segalanya buat saya! Sementara pada sebuah resepsi, mempelai wanita teman begitu mesranya menatap dan menggelitik tangan saat saya beri ucapan selamat, yang setelahnya lantas saja memaksa saya banyak menghindarinya sebab menjadi teman selingkuh jelas bukan cita-cita tertinggi saya, walau saya akui pengantin itu cukup cantik dan menggoda. Dan masih beberapa kali lagi berlanjut di lokasi, waktu serta dengan sosok yang berbeda.

Tergiurkah saya? Jelas beberapa kali giur itu menghampiri saya saat terjadi.

Mengapa tidak? Mereka terlihat cukup menarik bagi saya. Namun logika dan terutama sekali dogma seringkali menjadi penyelamat saya. Penyelamat yang menyeret dengan amat enggan dan lamban untuk saya keluar dan meninggalkan mereka, setelah tak lupa sebelumnya saya beri mereka sesuatu yang khas: Nyengir bego saya? :P

Dan saya semakin tidak habis pikir lagi saat mengetahui betapa lamanya mereka menyimpan perasaan. Karena entah kenapa selalu saja saya bertemu lagi dengan mereka bertahun-tahun setelahnya, dan tetap merasa gugup juga risih dengan perasaan yang mereka refleksikan tersebut. Bahkan saya pernah sangat tercengang mendengar dari seseorang yang mengaku telah menyimpan perasaan itu, selama lebih dari 40 kali umur jagung kepada saya, sejak pertama kali bertemu, tanpa saya sedikitpun mengetahuinya. Alangkah aneh dan amat tidak praktisnya...!!!

?

Cuma Teman, yang? Benarkah Sekedar Teman?

Tapi dengan semua ?keajaiban? tersebut, bukan berarti saya tak pernah tertarik pada wanita. Beberapa dari mereka justru meninggalkan kesan yang teramat mendalam di hati saya, yang jelas tak akan pernah dapat saya abaikan begitu saja seumur hidup.

Mereka pacar-pacar lo, Bay...?

Dengan tegas saya menjawab: Bukan. Dan dengan ketegasan yang sama pula saya yakinkan bahwa mereka sekedar teman buat saya. Hanya saja sebuah dialog yang diucapkan cewek cepak bergaya imo dalam FTV ?I Know What You Did Last Summer on Facebook? menggoyahkan ketegasan saya tadi.

?Teman ga ciuman... Teman ga ML, Jing...!? begitu dialog si rambut cepak tadi, yang langsung membuat saya mutung dan menjadi banyak termenung-menung.

Beberapa murid besar saya jelas tak masuk hitungan, walau dengan semua gaya kenes yang memang milik dunia mereka. Juga L?es dari peternakan IPB, karena saya cuma pernah ?kagum sekilas? dengan kemanisan wajah yang dia punya. Atau beberapa cewek manis UI dari tingkat yang berbeda dengan saya, yang saya benar-benar engga ngeh banget akan respect mereka yang begitu tinggi terhadap saya waktu itu. Juga teman-teman cantik dari LP3I, Al-Azhar dan Gunadarma, yang masih suka membuat saya tersenyum sendiri saat tengah mengingat mereka.

Tapi teman wanita yang paling saya hormati melebihi siapapun mungkin cuma Wida, Si Borju dari kedokteran Yarsi, dengan berbagai hal dan alasan yang sayangnya tidak bisa saya kemukakan dalam tulisan ini.

Yang jelas, itulah pertama kalinya saya begitu minder dan sangat mindik-mindik dalam pergaulan dengan wanita. Mungkin karena status saya yang saat itu pengangguran tidak jelas, atau bisa juga efek aura yang dia punya, yang seringkali membuat saya jadi sekecil kutu saat berinteraksi dengannya.

Terakhir saya hubungi Wida tengah co-asst/PTT di entah pedalaman mana. Sikapnya tetap saja masih sama seperti dulu, dengan saya yang tetap juga masih merasa sebagai kutu, walau telah memiliki status yang? jauh lebih bermutu dari pertemuan pertama dulu.

Yang paling membuat saya nyaman jelas Si Na dari peternakan IPB. Dan mungkin dia adalah satu-satunya teman wanita saya yang memiliki kontak bathin, selain dengan Mulan, tentunya? ^_

Saat itu HP belum se-familier sekarang di kalangan urban dan kelas marjinal, dan masih amat sulit untuk kita janji bertemu dan memantau sudah di mana masing-masing berada. Namun terhadap Na, saya mampu memiliki perasaan bahwa dia sedang berada di suatu tempat. Dan saat saya menuju tempat tersebut... dia memang ada!

Beberapa kali pertemuan saat saya masih menjadi gasing yang terus berputar antara Jakarta-UI-IPB, yang berlanjut dengan saling komunikasi interlokal setelahnya, benar-benar membuat saya serasa tengah ngopi di pinggir surga saking nyamannya.

Tahukah kau apa yang membuat saya begitu nyaman?

Kesederhanaannya, yang merupakan gabungan dari semua sikap lugu, polos, naif, dan apa-adanya yang sangat berbanding terbalik 180 derajat dengan Mulan.

Entah mengapa justru hal itu membuat saya begitu merasakan kenyamanan yang belum pernah saya nikmati sebelumnya. Seakan-akan saya adalah seekor kuda yang baru terbebas dari tali kekang yang seumur hidup membelenggu.

Dan saya benar-benar merasa bebas. Bebas sebebas-bebasnya bebas. Bebas untuk menjadi apa saja, untuk berbicara dan bersikap seperti apa saja, juga bebas untuk melakukan apa saja tanpa perlu merasa terbebani dengan tenggat serta target yang berat. Juga bebas, bahkan walau sekedar untuk melakukan kesalahan dan atau hal-hal remeh lainnya yang umum dilakukan remaja biasa. What a beautiful life!

Tapi saya dan Na murni cuma berteman. Saat itu era baru saya ?udahan? dengan Mulan. Cuma berteman yang memang kebetulan memiliki interaksi yang cukup tak biasa setidaknya pada masa-masa itu. Cuma berteman, yang bersama Na tanpa sadar saya merasa ada begitu banyak jelaga dalam hidup saya buah proses pematangan dari didikan Mulan selama bertahun-tahun.

Dan bersama Na pula saya lepaskan jelaga tersebut, dalam sebuah proses detoksifikasi yang paling menyenangkan dalam hidup saya. Cuma berteman, yang saya juga tidak bodoh untuk mengetahui bahwa Na tidak menganggapnya sekedar itu.

?

Apa Susahnya Menarik Hati Seorang Wanita?

Apa susahnya menarik hati seorang wanita? Salah Mulan kenapa mengajari saya terlalu banyak, dan menjadikan saya seakan-akan praktisi wanita paling expert di kelasnya. Bahkan terhadap cewek yang paling jutek dan paling ogah sekalipun!

Tak perlu beribu kuntum bunga atau hadiah romantis lainnya yang tak pernah absen untuk kau memenangkan hati seorang wanita, walau hal itu memang seringkali sangat membantu dalam memudahkan prosesnya. Namun yang paling utama justru adalah yang paling sederhana: ... dan sebagainya seperti yang tertera dalam episode selanjutnya tentang ?Tips n Trik Menyulap Jomblo Akut Menjadi Idola Wanita ala Si Bay?, yang masih saya timbang ulang pemostingannya di media manapun karena khawatir lebih banyak mudharatnya dibandingkan manfaatnya? :P

Tapi saya dan Na tetap saja cuma berteman, walaupun segala yang dia punya ?juga wajah dan posturnya yang ?sangat mengena? bagi saya- menjadikan ?cuma? tersebut sering goyah dan meleyot ke mana-mana. Karena, bagaimanapun juga, Na adalah sisi lain. Sisi lain yang tak pernah saya temukan dalam diri Mulan. Sisi lain yang begitu saya suka dan amat saya inginkan.

Dan saya sangat yakin bahwa saya tentu dapat memenangkan hati Na. Bukan karena saya adalah pengumpul terbesar dari ?Tips n Trik Menyulap Jomblo Akut Menjadi Idola Wanita ala Si Bay? tadi, yang tentu jauh lebih mumpuni serta paham harus bagaimana bereaksi saat terjadi paradoks dan anomali. Melainkan karena saya melakukan semuanya: Dari hati, dan bukan sekedar mempraktekkan sebuah teori secara basi serta dengan keyakinan yang amat mini!

?

Susahnya Pacaran dalam Islam

Seperti yang telah saya perkirakan sebelumnya, saya telah sangat memenangkan hati Na, bahkan jauh-jauh waktu sebelum timbul minat saya untuk menjadikannya orang terdekat saya!

Mulan yang cerita. Karena tempat kost mereka tak berjarak lama. Dan jejaring antar kampus memang ladzimnya menjadikan informasi dengan sendirinya berhembus ke mana-mana seakan angin meniupnya begitu saja ke setiap telinga yang masih punya rantai yang sama.

Dan wajah serta suara Mulan yang begitu tak ceria, juga proyeksi-proyeksi lainnya dari keseluruhan diri Mulan yang saya maknai sebagai sebuah kesedihan, memaksa saya untuk terus saja mengulangi kebodohan saya, seperti yang pernah Mulan lakukan sebelum ini, yang juga masih akan terus Mulan lakukan setelahnya, dan menjadikan saya seperti seekor keledai dungu yang tak pernah mampu untuk melanjutkan hidup, jika itu tentang urusan ?rasa?.

Mulan yang seakan baru menemukan ajaran Muhammad, begitu ramai dan riuhnya dengan segala macam teori tentang haramnya berpacaran, yang cuma saya maknai dengan tak pernah mendengar cambuk atau rajam dijatuhkan, kecuali terhadap mereka yang melakukan ?masuknya timba ke dalam sumur?.

Mulan yang terus berkeras bahwa itu adalah ?larangan mutlak?, membuat saya yang tetap menganggap ?cuma pencegahan yang paling bijak? menjadi mengalah. Sebab jika buat Mulan, apa sih yang tidak pernah saya beri dan lakukan? T_

Saya yang mengalah, turut mengamini keharaman pacaran. Imbasnya? Hubungan kami harus dilegalkan, atau jika tidak bisa: Dibubarkan! Dan saat kakak tertuanya yang borju tak setuju, dengan alasan ?masih terlalu muda? dan ?tak boleh nikah ala koboi?, maka selesailah semua: Dengan sangat berdarah-darah, tentu saja? :?(

Sebulan lebih kesehatan saya terganggu, dengan sakit pikiran yang berbulan-bulan setelahnya. Karena cinta tak terhingga yang ada dan telah menetap dengan amat mantap serta cukup lama memang acapkali menjadi bumerang saat dipaksa untuk hilang secara tiba-tiba.

Walau saya? mendengar bahwa Mulanpun mengalami hal yang serupa juga, hanya saja hingga kisah ini dibuat saya masih suka bertanya-tanya sendiri, akankah persoalannya menjadi lain sama sekali jika saja saat itu Mulan telah lebih dulu bunting dan membesarkan anak saya dalam rahimnya? Karena yang saya tahu, seringkali zina lebih terhargai dan lebih ?terpilih? menjadi solusi, dari sekedar mati-matian memegang erat dogma, yang entah kenapa dengan susah payah terus saja kita upayakan kesakralan dan keagungannya, dengan janji dunia utopia abadi setelah kita tak lagi ada di dunia yang ini...

Pernah Mulan meminta untuk kami menikah tanpa catatan sipil, hanya demi legal di mata Tuhannya.

Namun saya tak melakukannya. Karena selain masalah hukum, saya lebih ingin memiliki Mulan secara sempurna. Tanpa sedikitpun kesan ?pencurian? serta siasat-siasat agama yang lainnya. Hingga akhirnya, dengan sangat tidak bahagia saya beri Mulan kado ultah terindah yang paling membuatnya bahagia: Ketidak bersamaan kami. Hanya demi menghilangkan ?dosa? yang Mulan derita jika kami terus bersama, yang tak lama setelahnya saya tinggalkan semua ?cetak biru? yang pernah kami rangkai berdua.

Demi hidup yang lebih baik, kata Mulan dulu. Demi hidup yang terus bisa bersama Mulan, ucap saya dalam waktu yang senada. Karena saya memang tidak pernah peduli harus seperti apa hidup yang lebih baik itu. Karena saya memang cuma tahu satu hal, bahwa hidup yang lebih baik, adalah semua jenis kehidupan apapun di manapun dan bagaimanapun: Selama ada Mulan di samping saya. Titik.

Setelah itu, Mulan pergi. Dia bilang, dia sedang mencari Tuhan (Situasi yang lebih nyata dan lengkap saya tulis dalam bentuk ?cerpen liris?dengan kata-kata ini sebagai judulnya, yang telah saya posting di media bersama ini beberapa waktu yang lalu), yang tanpa dia sadari bahwa Tuhan yang saya punya turut pergi bersamanya.

Tapi bahkan dengan segala ?tragedi? itu, Mulan tetap saja tak pernah melepas saya, dan menciptakan bingung yang terus menggunung tanpa ujung waktu ke waktu.

Mulan menghindari hubungan dengan saya, namun dia juga tak rela jika saya tak lagi cinta kepadanya. Dan tak pernah bisa untuk membiarkan saya mengalihkan perasaan tersebut kepada yang lain. Juga kepada Na, atau Na-Na yang lain setelah Na.

?Benar-benar sebuah pengharaman yang amat shahih...!!!? rutuk saya dengan kebencian yang melangit, terutama setelah mengetahui alangkah lamanya saya terkubur dalam ilusi ?mempunyai tapi tak memiliki? tersebut, yang tidak hanya membuat agama dan keimanan saya centang-perenang, melainkan juga menjadikan hidup yang saya jalani jauh lebih berkelok serta memiliki begitu banyak simpangan, yang bahkan mungkin lebih berbelit dari labirin atau ular tangga: Dengan setan yang menjadi dadunya... setelah sebelumnya berpura-pura menjelma malaikat atau nabi juga dewa!

?

Pertemanan, Benar-Benar Sebuah Petualangan yang Amat Menyenangkan!

Setelah ?Na yang nyaman?, saya masih punya Na yang lainnya lagi. Dan ini mungkin satu-satunya wanita yang bukan ?orang dekat? saya namun berani nyasar ke kolom ini, yang membuktikan bahwa dia memang punya ?kelas?, atau setidaknya memiliki sesuatu yang barangkali pantas untuk dicermati.

Seperti Wida, remaja energik ini berpenampilan eksentrik. Atau mungkin memang semua anak borju memiliki ciri dan ke-khas-an yang sama. Walau Si Eksentrik ini jelas jauh lebih ?mentah? dari Wida.

Dan steorotipe umum yang saya pahami tentang mereka yang berasal dari kelas sosial yang lebih tinggi, entah mengapa begitu saja memancing saya untuk langsung bersikap sinis dan kasar kepadanya, sejak pertama bertemu, yang saya ingat langsung dibalasnya dengan sikap asem dan bentuk mulut yang mirip Tukul!

Tapi pertemanan memang benar-benar sebuah petualangan yang amat menyenangkan! Tak peduli meski dalam pertemanan itu kita cuma mengisinya dengan kekonyolan buah segala tingkah yang noraks, atau sekedar menukar sebal dengan keki, yang lantas menjadi kebencian yang terus singgah berkali-kali, yang secara diam-diam dan tanpa disadari sering kita harapkan kedatangannya lagi.

Saya masih ingat betapa kerasnya tawa saya melihat muka si bocah eksentrik itu, yang dengan takut-takut terpaksa meminum air kemasan yang keruh putih seperti tercampur sesendok bubur lalu di aduk, saat kehausan dalam inisiasi jurusan di daerah Pangguyangan-Jawa Barat.

Dan tawa saya lebih keras lagi mengingat sebelumnya Si Eksentrik menolak untuk meneguk air kemasan milik saya -yang jelas-jelas lebih jernih dan tentu lebih terkesan higinis- dan memilih untuk ?terjebak? menenggak air bubur Si Bomel dengan wajah amat tak nyaman, setelah sebelumnya berkali-kali melirik kecut ke botol air tersebut, seakan-akan dengan banyak memandangnya dia berharap segala kuman dan kotoran dapat langsung lenyap secara ghaib.

Tapi kebersamaan yang panjang agaknya menjadi satu-satunya rumus tersederhana buat menciptakan keakraban. Bahkan untuk orang-orang yang selalu terlihat tidak pernah sepaham sekalipun!

Dan dengan Si Eksentrik yang tidak sepaham itulah saya pernah menghabiskan cukup banyak waktu bersama, meski hanya dengan membuang-buang waktu berdua dalam kegiatan yang remeh dan biasa, misalnya.

Sekedar makan-makan di foodcourt sebuah Mall yang pernah di klaim sebagai yang terbesar se-Asia Tenggara, yang berlanjut dengan memilih bareng warna lipstik yang dirasa sesuai dengan keinginan. Sebuah lipstik pucat terang dan agak eksentrik, yang walaupun sedikit aneh namun tak terlihat janggal saat menempel di bibirnya. Dan setelahnya, mencobai berbagai jenis parfum, yang setelah di endus-endus tetap tak ketemu harum yang sesuai selera.

Sebagai penutup, XXI menjadi alternatif utama. Walau saya lupa judul filmnya, namun saya masih ingat betapa bawelnya Si Eksentrik bertanya, tentang apa yang saya inginkan dari dia setelah menemaninya dalam ?petualangan kecil? yang walaupun sangat aneh namun terasa cukup menyegarkan itu.

Pertanyaan yang terus saja dia kemukakan dengan nyinyirnya, seakan-akan dalam dunia dia tak ada yang terjadi begitu saja. Selalu harus ada pembayar, atau setidak-tidaknya penukar seperti jika kita pergi ke pasar loak.

Sambil memain-mainkan anak rambutnya sepanjang perjalanan pulang, saya cuma menjawab singkat: ML satu kali.

Tentu saja tidak dengan serius karena pertama, saya cuma merasa risih dengan ucapannya yang seperti pedagang itu, dan ingin cepat membuatnya diam. Dan kedua, saat itu dia memang tengah berminat untuk membahas ?sex after lunch? yang kebetulan tengah nge-trend di kalangan menengah.

Tapi bukan itu yang membuat Si Eksentrik terlihat begitu berharga di mata saya. Karena jika untuk sekedar itu, jelas saya tak perlu repot-repot bertelepon ria dengan begitu intens-nya. Karena dalam dunia Bay, terlalu banyak petualangan yang sama dan sebangun, yang bahkan mungkin lebih hidup atau lebih bernyali dari sekedar yang dialami bersama Si Nona Eksentrik ini, dengan kelas yang jauh lebih tinggi, atau justru dengan orang yang tak bisa masuk kategori kelas sama sekali!

Dari Si Eksentriklah saya justru mendapatkan begitu banyak pencerahan yang berharga. Dari dia saya jadi tahu bahwa ternyata tak semua borju tergabung dalam kelompok orang yang cuma ?kebetulan berada dalam bank sperma yang beruntung?, yang hanya mampu petantang-petenteng dengan segala fasilitas bawaan, dan setelahnya sekedar menjelma wayang yang harus menurut ke manapun sang ortu mengarahkannya.

Dari dia pula saya menyadari tentang pentingnya untuk selalu berpikir secara logis: Tentang semua hal. Bahwa harus selalu ada alasan juga jawaban untuk setiap kejadian -juga tindakan- bahkan walau mungkin cuma sekedar keinginan sekalipun.

Dan itu jelas amat berpengaruh buat saya, terutama saat bertahun-tahun setelahnya dimulailah agresi bisnis saya secara total. Walau lucunya logika template yang dia punya seringkali saya rasakan terlalu luas hingga meleber dan tumpah ruah ke mana-mana.

Hampir setiap apapun dia tanya, dia bahas, dia kemukakan, dan tentunya dia diskusikan hingga ke detil yang paling mungil. Mulai dari masalah kantung mata, hingga (maaf) posisi yang kira-kira paling nge-klik saat ML. Juga tentang bagaimana seharusnya menyikapi dan atau bertindak secara pribadi guna mengurangi cacat negara yang melahirkan begitu banyak komunitas dhuafa.

Bahkan tentang masalah hati dan cintanyapun ia kupas tuntas, yang walaupun tak pernah memusingkan saya mengingat stok kekayaan bathin yang ada dalam Dunia Ben ternyata cukup mumpuni untuk menuntaskan nyaris semua hal, namun sering membuat saya bingung dan terkeder-keder tentang cara menyampaikannya, tanpa saya harus bersikap sarkas, monoton atau sangat menyebalkan.

Begitu riuhnya logika template yang dia sodorkan kepada saya, yang membuat saya memberinya sebutan kesayangan khusus, ?Bocah...? karena memang dia persis bocah yang terus saja kehausan tentang apapun, dan menjadikan saya seperti ?Emak-Emak? berbibir keriting karena terus me-wasweswos-kan apapun demi buah hati itu nyaman dan terlelap dalam buaian.

Mungkin karena hal itu pula yang menghasut dia untuk sambil bercanda memanggil saya: ?Emaa...k...? Tentu tanpa huruf ?k?, dan tentu juga dengan intonasi serta warna suara terindah yang pernah saya terima? :P

Dari Si Eksentrik ini saya belajar, betapa pentingnya memiliki karakter diri yang amat kuat, yang dalam banyak deal yang saya lakukan dalam bisnis, menjadikan saya sebagai orang yang pantas dipercaya, bahkan saat saya baru mulai bersalaman dan membicarakan prakata!

Dari Si Eksentrik ini pula saya belajar bahwa bersikap tegas bukan berarti melepaskan kontrol sama sekali. Juga inspirasi untuk jangan pernah merasa berpuas diri dengan apapun yang telah dimiliki. Walau tentu bukan berarti tidak mensyukuri.

Dari Si Eksentrik ini saya mulai memahami, tentang apa itu stamina tinggi saat hendak meraih sesuatu yang membentangkan track yang seringkali begitu panjang dan melelahkan, dan terutama sekali: Membosankan! Yang tetap harus ?terpaksa atau tidak- terus kita lalui hingga yang diingini menjadi.

Dan dari Si Eksentrik ini pulalah saya mengetahui, bahwa setangguh apapun wanita, tetap saja ia adalah makhluk yang paling senang untuk dibohongi. Juga makhluk dengan benda kecil di hatinya yang jika sekali saja kita merusaknya, maka akan amat sukar jalan untuk kembali.

Saya yakin bahwa tulisan tentang Si Eksentrik ini akan banyak mengundang kerutan kecil di dahi teman saya yang lain. Bahkan mungkin juga di dahi Si Eksentrik itu sendiri, yang dengan koor menyebalkan akan langsung ramai-ramai berbisik, ?Kok gue ga tau, Bay...? Kayanya Na biasa aja deh...? Walau jelas mereka mengerti bahwa saya tidak pernah berbohong atau sekedar iseng jika menyangkut sesuatu yang cukup penting.

Si Eksentrik memang tak pernah mengajari saya apapun. Bahkan dalam banyak hal mungkin dia yang lebih banyak belajar dari saya. Tentunya belajar dengan begitu banyak tanda kutif di kiri dan kanannya? :P

Tapi pernahkah kau mengajari bayi berjalan, atau sekedar merangkak dan mengucapkan kata-kata biasa yang lantas menjadi terdengar begitu rancu dan cukup sulit dimengerti, lalu setelahnya kau merasa bahwa sebagai pengajar dari bayi tersebut, secara tak sadar kau justru banyak belajar tentang kasih sayang dan kegembiraan darinya, cuma dengan dia tersenyum?

Itulah dunia Bay, yang seringkali mampu untuk melihat yang kerap terlewat, dari sudut pandang yang tidak itu-itu saja.

Masih dengan sudut pandang yang sama pula saya berani bertaruh, bahwa saya adalah orang pertama yang membuat Si Eksentrik bebas berkata atau bertanya tentang apa saja. Bahkan juga untuk tema yang hitam, putih, atau abu-abu muda, yang seringkali terkesan begitu panas, tabu, juga mungkin suam-suam kuku.

Dan saya pula orang pertama dalam hidupnya selain keluarga dan teman perempuan, yang tanpa ragu dia kemukakan segala mimpi dan rahasia diri, juga hasrat paling liar yang dia punya tanpa khawatir saya jengah atau tertawa.

Atau yang membuat dia harus secepat gabungan The Flash dan Gundala saat mengangkat telepon rumah dari saya di tengah malam buta seperti yang dia pinta -karena agaknya ingin kebersamaan jangan dulu terpenggal waktu- sebab tak hendak ?tertangkap basah? oleh keluarga. Juga satu-satunya orang yang tanpa malu dan ragu dia akui tengah menangis efek ucapan saya pada salah satu ?kunjungan jarak jauh? itu.

Tahukah kau bahwa saya masih saja gemar tertawa sendiri jika mengingat ucapan dan bahasa tubuh Si Eksentrik saat bertanya, kenapa saya tidak merasa minder ketika melakukan ?petualangan segar? bersama dia dulu, dan tidak seperti Si G atau entah siapa lagi yang jelas-jelas begitu ciut saat berjalan di sampingnya. Dan semakin tertawa lagi jika mengingat bahwa dibalik segala kemandirian dan jangkauan yang dia punya, betapa saat itu dia benar-benar cuma seorang bocah kecil yang masih amat naif, yang masih menyikapi segala sesuatu hanya dari yang terlihat secara kasat mata.

Jelas dunia yang dimiliki Si Eksentrik sangat berbeda. Dan hal tersebut jelas sah-sah saja, karena siapa pula yang dapat memiliki dunia yang sama dalam hidup yang lebih dari satu warna ini?

Dan dalam dunianya yang berbeda itu saya berani menjamin bahwa saat itu Si Eksentrik belum pernah melihat betapa banyak orang-orang kere yang berjiwa bangsawan, atau alangkah banyaknya bangsawan, yang bahkan memiliki mental jauh lebih kerdil dari si kere!

Juga betapa anehnya saat melihat ada sosok yang jelas-jelas kere namun tak terlihat njomplang saat meriung bareng para bangsawan, dan atau sebaliknya.

Dan semakin aneh lagi saat sosok-sosok yang berasal dari dunia yang amat berbeda tersebut, sering bertukar-tukar peranannya dalam pergaulan dan juga hidup. Kadang dengan sengaja, sering juga karena ingin bercanda dan memoles hidup agar tak sekedar memiliki rasa yang itu-itu saja.

Atau betapa tetap saja ada orang-orang yang selalu terkesan ?tak pantas? untuk berada di posisi manapun, terlepas dari sisi mana dia berasal. Dan begitu juga sebaliknya. Walau yang teraneh tentu saja mereka-mereka yang memang ?seperti sudah takdirnya? menempati posisi yang amat syubhat, yang bahkan orang seperti Bay pun seringkali tak mampu mengkategorikan siapa dan dari mana asal dunia mereka, karena fakta yang mereka punya jelas tak pernah berhasil mendefinisikan dan atau menegaskan dengan tepat dari sisi mana mereka datang dan berada!

Saya bersyukur Si Eksentrik tak pernah bertemu dengan Wida. Dan lebih bersyukur lagi karena dia juga tak mengenal Mulan. Karena saya sadar bahwa usia, bagaimanapun juga, dalam hal ini jelas sekali memegang peranannya.

Dan kerumitan peranan usia itu pulalah yang agaknya membuat keakraban kami tersebut harus berakhir, dengan amat singkat. Karena usia memang seringkali membuat kita kejeglung dalam sikap dan kata-kata. Walau lama waktu setelahnya saya masih suka bertanya-tanya sendiri, sudahkah Si Eksentrik berhasil memiliki jaguar impiannya, yang dulu begitu ingin dia miliki, murni dari hasil keringat yang dia dapatkan sendiri? Ataukah justru dia telah menjualnya kembali sebagai alat yang dapat membuatnya menjadi lebih berharga bagi orang-orang, yang bukan sekedar kalangannya saja...?

Petualangan segar itu kami akhiri dengan penutup? yang cukup manis. Makan malam terakhir di sebuah kafe bilangan Senayan, dengan penerangan yang hanya mengandalkan sebuah lilin yang tergeletak di tengah meja dengan lugunya.

Ada pertanyaan terakhir yang diucapkan Si Eksentrik saat itu kepada saya, ?Menurut lo, gue cantik ga, Bay...?? yang setelah saya pandangi wajahnya dengan beberapa jeda, dengan ucapan dan sorot mata yang tegas juga tanpa senyum langsung saya jawab, ?Engga, lo ga cantik...? yang saya lanjutkan lagi dengan ucapan, ?Tapi lo cewek yang menarik, Na...? Dan setelahnya kami berdua lebih banyak terdiam.

Si Eksentrik tidak pernah tahu bahwa setelah jawaban terakhir tersebut, saya masih melanjutkannya dengan beberapa kalimat lagi, walau cuma dalam hati dan cuma buat saya sendiri.

Dalam diam kami menelusuri jalan.

Pulang.

?

?Wanita yang menarik, Na...

Yang amat tangguh dan banyak menginspirasi

Satu-satunya wanita yang tanpa rasa cinta

Telah begitu membuat gue kagum,

Walau lo cuma seorang bocah ingusan...!!!?

(?Na? dalam Di Bawah Kibaran Dosa)

?

(Bersambung?).

?

Dunia Aneh Si Bay, ThornVille-inspirasi.co.

*Disclaimer: Tulisan ini merupakan pendapat pribadi, dengan tidak bermaksud untuk melakukan ujaran kebencian/ hate speech terhadap seseorang, sekelompok orang, suku, agama, juga badan hukum dan pemerintah serta yang lainnya.

?

* Cerita sebelumnya: Kebutuhan Akan Uang Membuat Saya Meninggalkan Jabatan Terhormat

  • view 383