Kebutuhan Akan Uang Membuat Saya Meninggalkan Jabatan Terhormat (Edisi Satir)

Pemimpin Bayangan III
Karya Pemimpin Bayangan III Kategori Kisah Inspiratif
dipublikasikan 23 Februari 2016
Kebutuhan Akan Uang Membuat Saya Meninggalkan Jabatan Terhormat (Edisi Satir)

harusnya bahagia usah pernah dicerna

atau dibagi

tapi aku cuma si senga?

yang rapuh, yang terus saja berlari tanpa ingin usai

yang hanya dibentuk oleh waktu

yang kini, terbelenggu...

(?Belenggu Angan (versi Puisi)? dalam Di Bawah Kibaran Dosa}

?

Profesi yang aneh.

Seringkali saya merasa bahwa manusia memang tidak akan pernah bisa lari dari masa lalunya. Lengkap dengan segala macam belenggu dan telikungan keras yang membuat dia mau tidak mau mengepel lantai yang bertahun-tahun lampau pernah dikencinginya saat masih belia. Atau sambil menggerutu tapi terus saja coba membangun kembali ?atau setidaknya memperbaiki- ?terowongan besar? dari masa lalunya yang kebetulan runtuh, dengan atau tanpa kesengajaan.

Dan saat dia merasa tidak lagi punya daya untuk melakukan semua, tanpa segan ditariknya panah yang tengah meluncur hingga terpaksa bergerak mundur, yang seketika memposisikan anak-anaknya cuma sebagai perpanjangan tangan bagi banyak mimpi serta dunia utopia yang dulu tak pernah bisa dicapainya.

Pada ritual itulah saya terdampar. Menjadi guru, setelah bertahun-tahun lamanya saya habiskan waktu sebagai murid yang menyusahkan semasa sekolah.

Dan segeralah hari pembalasan yang dijanjikan itu terjadi pada saya: Bahkan jauh-jauh hari sebelum saya mati?!!!

Saya masih ingat saat harus rutin berlarian menangkapi murid yang enggan belajar, atau menemukan mereka di kolong meja, di balik pintu, juga di belakang lemari buku, dan mendudukkan mereka di tempat belajar yang semestinya. Bahkan saya juga pernah diludahi oleh seorang murid yang paling kasar dan berwajah angker! Sementara memanggil wali siswa tentu saja kemudian menjadi rutinitas yang biasa bagi saya.

Tapi siapa sangka menjadi guru pada akhirnya memang terasa amat menyenangkan? Terutama saat saya telah terlepas dari masa-masa ?penyiksaan dan penebusan dosa? dalam periode awal kepengajaran saya.

Saya yakin bahwa tak semua memiliki pendapat yang sama, namun saya pribadi sangat tak ingin menukar pengalaman ini dengan apapun. Terutama saat setiap hari saya melihat ada begitu banyak mata yang polos dan bercahaya yang begitu mengharap untuk diberi pengetahuan yang berguna, yang walaupun sekedar ketrampilan membaca atau menghitung angka-angka, namun tetap saja membuat mereka sangat gembira seakan-akan dengan keahlian tersebut mereka mampu untuk menjebol gudang uang negara atau menjadi lebih terkenal dari Lady Gaga.

Sering saya terkagum-kagum dan menjadi tidak habis pikir sendiri saat mengetahui betapa banyak yang mampu mereka perbuat: Hanya dengan tersenyum! Atau saat wajah-wajah lugu ini berubah sumringah tatkala nilai terbaik telah tertera di kertas mereka, yang membuat mereka spontan bertingkah seolah-olah baru saja berhasil menaklukkan jagad raya!

Tak ketinggalan pula momen indah saat mereka ?entah mengapa- duduk di pangkuan kiri dan kanan saya sambil memegang-megang rambut saya yang kala itu masih gondrong sebahu, mengingatkan saya pada ?Si Eksentrik? yang dulu sering sambil bercanda memanggil saya ?Emaaa...k...? saat kami masih aktif bertelepon ria.

Juga ketika begitu banyaknya testimonial yang disampaikan wali siswa, yang begitu bahagia karena merasa telah mengambil keputusan terbaik untuk ?menitipkan? pendidikan buah hati mereka yang memang terbukti mampu menjadi from zero to hero. Setidaknya menjadi hero di keluarga mereka, atau di lingkungan dan jenjang sekolah bocah kesayangan mereka selanjutnya. Dan semua itu terlalu berharga buat saya, yang tak akan pernah mau untuk saya tukar dengan uang ataupun benda bernilai lainnya.

Tapi uang memang seringkali mampu untuk menyelenehkan segalanya. Begitu pula hidup saya, yang terpaksa harus menjadi tak biasa: Cuma gara-gara uang?!!!

Uang... Uang...! Uang!!! Alangkah besarnya pengaruh ?fosil penukar? tersebut. Bahkan juga terhadap seorang guru seperti saya, yang telah begitu terbiasa menjalani hidup dalam kesederhanaan, sebuah penghalusan kata dari keadaan yang bernama: Miskin.

Uang bukanlah segalanya, itu tentu pendapat para ahli filosofi tingkat tinggi, yang jika kita iseng dan rajin menelusuri riwayat mereka, niscaya akan kita dapati bahwa mereka memang tak pernah benar-benar kekurangan benda tersebut dalam hidupnya.

Namun dalam pendapat paling profesional yang saya punya, saya paham bahwa uang -bagaimanapun juga- memang mampu untuk memudahkan segalanya. Walau saya masih suka mendengar ada saja orang yang tetap mampu menciptakan karya besar, setelah bertahun-tahun lamanya melakukan penelitian mandiri dengan dana yang bersumber dari sebagian biaya hidupnya sendiri yang sudah amat minim. Tapi saya masih amat yakin bahwa, jika misalnya orang tersebut memiliki uang, tentu karya yang diciptakan akan jauh lebih besar dan mendunia, atau minimal akan menjadi lebih cepat dalam proses dan terutama sekali waktunya. Adakah yang berminat untuk menyangkalnya? ^_

Kebutuhan akan uang itulah yang membuat saya dengan amat terpaksa ??mengusir diri sendiri?. Meninggalkan jabatan terhormat saya sebagai guru dengan segala pendapatan immaterialnya yang menakjubkan, dan memilih untuk hanya menjadi sekedar pengelola.

Watak sejarah kembali datang, berulang, bahkan mungkin telah bermetamorfosa begitu rupa hingga menjadi sebuah pola yang secara abadi terus saja ada dan terjadi. Kembali saya tahu harus menghubungi ?teman tim yang tepat? mana guna dimintai bantuan mengisi posisi saya sebelumnya.

Tentu dengan salary amat longgar yang kami sepakati karena teman seringkali tetap saja teman. Walau setelahnya selalu saja ada kendala yang singgah.

Domisili terlalu jauh yang paling banyak terjadi, yang biasanya berlanjut dengan kian banyaknya kesibukan pribadi yang menuntut alokasi waktu yang lebih ?bijak?. Namun dalam waktu yang tak lama hal-hal tersebut telah sanggup teratasi, melalui jejaring ?teman tim? baru dari berbagai kampus serta rekomendasi khusus dari orang-orang lama, dengan kuantitas dan kualitas yang saat itu mungkin cukup untuk mengelola sebuah kampus mini.

Saat itulah saya merasa perlu untuk memiliki komputer, sebuah benda berdenging yang pernah begitu asing dalam dunia saya sebelumnya.

Lagi-lagi saya paham harus ke siapa bicara, hingga tak menunggu waktu lama untuk benda asing tersebut ngejogrok di tempat saya, tanpa saya perlu mengeluarkan sepeserpun rupiah dari saku saya yang saat itu memang tengah bolong di sana-sini. Cukup dengan sedikit percakapan dan beberapa deal, maka bereslah semua.

Dan saya tentu saja amat berterima kasih pada Mulan, karena dari Mulanlah saya dapat pengetahuan itu. Seni berbicara, seni menyiasati dan menyikapi kebutuhan diri, dan terutama sekali seni untuk dapat selalu tak minder atau ragu ketika ingin menyampaikan sesuatu yang hendak dituju, sesulit dan semustahil apapun itu!

Tapi setelah komputer saya memang masih perlu yang lainnya lagi untuk berkarya, atau setidaknya membuat dan menghasilkan sesuatu. Dan berbeda dengan jawaban lucu mahasiswa muda dari Jogja pemenang lomba membuat film kartun pada sebuah talkshow di ?TV swasta saat ditanya apa lagi selain komputer yang dia butuhkan untuk membuat karya, saya tak menjawab: Meja komputer. Karena memang saya punya jawaban yang lebih sederhana dan lebih memalukan lagi, yaitu... mengoperasikannya! Karena saya memang tidak bisa menggunakan komputer. Bahkan buta sama sekali tentang benda itu.

Tahukah kau bagaimana cara saya belajar komputer, hanya dengan 2 kali melihat...? Sangat aneh! Dan saya berharap agar tak ada lagi yang mengalaminya selain saya.

Saya jelas tidak termasuk dari golongan mereka-mereka yang cerdas atau memiliki daya ingat yang super kuat. Hanya saja ada beberapa alasan yang membuat saya enggan untuk belajar di lembaga formal, atau mengundang profesional di bidang tersebut untuk memberikan In House Training kepada saya.

Tak punya uang tentu salah satu alasan terkuatnya, yang kian diperketat dengan perasaan malu karena di usia yang sudah bau tanah masih saja belum genah dan bahkan nol sama sekali, tak cukup waktu karena dalam hitungan tertentu saya sudah harus membuat ini dan itu yang dibutuhkan, serta alasan-alasan pemberat lainnya yang membuat saya terpaksa datang ke teman lama, cuma untuk minta diajari bagaimana cara tercepat untuk bisa mengetik huruf dan menaruh gambar.

Dan setelah dua kali pertemuan yang saya tidak yakin apakah mencapai setengah jam, dimulailah masa petualangan saya pada mesin berdenging tersebut. Petualangan yang seringkali penuh kebingungan tanpa tahu bentuk dan fungsi dari segala macam shortcut, toolbar atau bahkan file folder, selain hanya mengandalkan ingatan tentang letak tangan teman tersebut waktu meng-klik cursor yang kira-kira di deret tertentu sebelah atas layar komputer, dan atau sebagian kecil di bagian bawahnya.

Untuk gambar, tentu saja program paint adalah yang paling mudah! Itupun jelas bukan mudah bagi saya mengingat betapa ribetnya memperbaiki gambar yang warnanya keterlanjuran saya klik tanpa rem kaki dan sebagainya, yang harusnya dengan undo tentu selesailah masalah itu. Hanya saja saya lebih ingat ?onde-mande? ketimbang undo atau redo.

Tak berselang lama komputer telah menjadi seperti tangan bagi saya. Walau mungkin cuma jempol atau kelingking saja mengingat saya hanya mampu memanfaatkan word dan paint. Agaknya tekanan kebutuhan untuk mampu sesegera mungkin mempergunakannya, serta dorongan keinginan untuk tidak berlama-lama tertinggal jauh dari teman, menjadi semacam perpaduan metode yang hasilnya cukup mencengangkan. Setidaknya mencengangkan buat saya sendiri, karena setelah itu dimulailah era baru saya sebagai dalang, dengan layar komputer sebagai panggungnya.

Tinta Kepedihan adalah buku pertama saya yang terbit dan beredar dengan bantuan teman kampus dan teman sekolah saya. Berbentuk kumpulan puisi, dengan tag kecil: ?Ketika Cinta Tak Lagi sekedar Peluk dan Cium? yang cukup menggelitik serta amat menggoda pada masanya.

Seringkali setelahnya saya merasa malu sendiri mengingat betapa sarkas dan blak-blakannya karya saya dalam buku itu, yang dengan sangat sopan ditolak oleh teman yang terlihat agamis, walau saya merasa tak secuilpun kata-kata tak senonoh ada di dalamnya. Sementara teman yang lain justru menganggapnya sebagai puisi-puisi yang sarat religi. Halaaahhh...!

Tapi tahukah kau, apa saja yang bisa saya lakukan saat mampu mengoperasikan komputer, walau cuma dengan 2 program dasar yang amat sederhana?

Nyaris segalanya!

Sebuah jawaban yang terkesan begitu provokatif ?dan amat menyebalkan. Namun memang itulah jawaban terjujur yang saya punya.

Pembuatan logo, gambar, dan iklan yang lazimnya perlu program bantu adobe atau minimal corel, tetap saja saya memakai word. Bahkan laporan pendidikan, cashflow dan beberapa jenis tulisan yang harusnya menggunakan excel, tetap saja saya memakai word. Menampilkan foto kegiatanpun saya tetap menggunakan word.

Sempurnakah hasilnya, Bay? ?Ouwh, tidak bisa...!!!? ucap Sule mem-blocking jawaban saya, seperti yang biasa ia lakukan terhadap teman-teman wayangnya di OVJ.

Tapi yang jelas, dengan komputer plus 2 program ?mainan bocah? tersebut, saya ternyata cukup berhasil mengembangkan usaha di bidang pendidikan, yang nyata-nyata memang tanpa modal uang dan teknologi yang njlimet sama sekali, menjadi sebuah institusi yang paling tangguh dan disegani di tingkat lokal, dengan 2 buah sekolah formal yang saya miliki, plus beberapa lembaga kursus, usaha sembako, kantin dan gerai alat tulis kantor serta usaha pengelolaan dana masyarakat dengan perputaran uang yang tidak begitu jauh dari angka sekian digit yang cukup fantastis.

Dan hal itug seketika merubah saya dari seorang bocah besar yang berani-beraninya menerbitkan buku puisi tanpa malu, setelah sebelumnya ?ditolak dengan sangat hormat dan sopan? oleh keluarga direktur sebuah bank karena nekat meminta Mulan untuk menjadi istri, hanya dengan alasan ?cuma mahasiswa muda? dan ?tak pantas menikah ala koboi?, menjadi seorang anak muda yang disegani di wilayah saya.

Siapa yang tidak kenal Bay pada saat itu...?! Kalau hanya siswa kecil hingga gadis muda yang entah kenapa selalu mencium tangan saya setiap bertemu di lokasi manapun mungkin sudah biasa bagi saya, walau untuk yang terakhir dengan amat terpaksa saya buat penolakannya. Karena usia yang tak terpaut jauh di antara saya dengan mereka, memicu kekhawatiran saya akan potensi jebakan affair yang mungkin timbul dan mengotori ketakdziman dari ritual cium tangan tersebut.

Bisa jadi saya yang mendapat getar-getar itu dari mereka, atau mungkin juga merekalah yang tercipret debar-debar tersebut dari saya. Karena bagaimanapun juga saya hanya seorang anak muda biasa jika soal urusan rasa. Hanya seorang anak muda biasa, yang saat itu belum lama melewati usia dua puluhan. Walau kerikuhan tetap saja menimbun saya setiap kali ?petinggi lokal? di wilayah-wilayah yang menjadi tempat bisnis saya, selalu menyapa saya dengan sebutan ?Pak...? saat bersua, yang menjadikan saya seolah-olah telah amat tua bangka dengan seketika mengingat usia para petinggi tersebut yang sering kali mendekati tiga kali umur saya sendiri, yang setelah berkali-kali saya protes dengan jengah, tetap saja mereka memanggil dengan sebutan yang sama, yang juga tetap saya terima dengan hati ?gerah? dan perasaan ?tua renta? yang bertambah-tambah.

Bagaimanakah cara saya melakukannya? Akan saya coba bahas dalam tulisan berikutnya, karena saat ini saya tengah memikirkan dengan amat serius, bahwa dengan segala situasi dan interaksi terhadap semua teman yang pernah saya kenal, apakah saya termasuk dalam kelompok orang yang suka memanfaatkan mereka...? Menjadi Si Matre yang gemar comot sana-ambil sini sesuai dengan keinginan atau kebutuhan saya sendiri...? Atau justru itulah semua fungsi dari teman. Saling berbagi, dan bukannya memiliki. Saling memberi, dan bukannya menyerakahi ataupun mengangkangi dan mengkhianati. Tukar guling. Mungkin dengan kasur atau sekedar sapu lidi. Walau sering juga tanpa bantal guling sama sekali!

Namun telah sepadankah segala yang mereka lakukan untuk saya, dengan semua yang saya perbuat untuk mereka?

Benar-benar sebuah pemikiran yang rumit dan menggangu nurani, yang seringkali tanpa saya sadari betapa inginnya saya agar Mulan ada di dekat saya. Karena saya amat yakin bahwa Mulan pastilah tahu jawaban terbaik dari semua. Atau setidaknya saya dapat sekedar menyandarkan kepala saya yang penuh ini ke dalam dada Mulan, dan berjanji untuk selalu saling menguatkan... seperti dulu.

Dan kehidupan yang semakin kompleks dan rumit yang saya jalani setelah masa-masa ini, seringkali begitu saja menerbitkan pertanyaan dalam benak saya.

Tahukah Mulan betapa saya begitu sering membutuhkannya, yang tidak sekedar saat saya tersesat dalam bisnis dan pergaulan sosial saja, melainkan juga dalam seluruh detak kehidupan saya...?!

Dan tahukah Mulan, bahwa saya terus saja berteriak tanpa kata dan suara, bahwa saya tak pernah segan untuk menukar semua yang telah saya punya itu, cuma demi keberadaan dia di samping saya, selamanya...?!

Sebuah pertanyaan yang anehnya tak pernah saya kemukakan pada Mulan. Juga saat berkali-kali Mulan datang untuk menolong ini dan itu yang saya minta. Sebuah pertanyaan, yang saya tahu tak akan pernah mendapatkan jawaban. Karena seringkali jawaban memang tak pernah mampu untuk menjawab. Seperti pertanyaan yang selalu saja melahirkan pertanyaan-pertanyaan baru yang lainnya, yang sama pelik dan rumitnya dengan hidup itu sendiri?

?

setelah pertarungan yang panjang

sebuah layar kututup lagi

?

Dan gerimis malam ini, kembali menyisakan hanya sepi...

(?Belenggu Angan (versi Cerpen)? dalam Di Bawah Kibaran Dosa}

?

?

(Bersambung?).

?

Dunia Aneh Si Bay, ThornVille-inspirasi.co.

* Pesan moral dalam cerita ini adalah:

- Tak peduli siapapun kita serta apapun latar belakang keluarga, sosial, keuangan serta pendidikan yang kita miliki, jangan pernah berhenti untuk bermimpi dan terus berusaha meraihnya.

- Makna keberuntungan yang selalu saya temui dalam setiap kesempatan hidup di dunia yang penuh bayang-bayang ini,? hanyalah sekedar BERTEMUNYA ?kesiapan? yang terus kita asah dan kumpulkan dari setiap setiap ajang pelatihan termahal yang pernah diberikan hidup kepada kita, dengan ?kesempatan?. Sementara bakat dan pendidikan, tak lebih? hanya sekedar kumpulan kegigihan menaklukkan hidup yang memang acapkali terkesan amat tak adil. Tentu saja setelah sebelumnya kita terlebih dahulu menaklukkan diri sendiri.

- Bagaimana jika kesempatan tak pernah singgah sementara kesiapan telah habis-habisan kita latih dan pelajari? Ya sudah kita buat saja kesempatan sendiri. Toh memang ada cukup banyak jalan yang bisa menuntun kita menuju Roma. Atau jika dirasa terlalu jauh, tinggal berputar sedikit menuju Mekah atau mampir sejenak ke desa nenekmu, misalnya? dengan tetap berkarya, tentu saja?^_

Salam hangat persahabatan, salam dunia maya, salam inspiratif?^_

?

* Cerita sebelumnya sila klik tautan yang ini

?

  • view 219

  • Bina Raharja
    Bina Raharja
    1 tahun yang lalu.
    sebuah tulisan tentang kejujuran cinta pada (manfaat immaterial) suatu profesi, sekaligus tentang ungkapan keterdesakan karena kondisi. Tetapi tidak ada kata berhenti, dan membuat kita (lebih tepatnya saya), ingin belajar lebih lagi. Tentang perjuangan yang dimulai dari NOL! bukan, bukan soal nominal modal usaha. tapi dari setiap aspek kehidupan kita. bagaimana seorang manusia lahir dengan nol dan tangan hampa, kemudian begitu kaya dan pandai me'manfaat'kan karunia. sahabat, niat, bakat, dan nekat. empat karunia yang juga dimulai dari nol, bahkan sebelum sebuah ide usaha bisnis dimulai. sahabat, awalnya bukan siapa-siapa. butuh waktu untuk membangun saling percaya. niat, yang tadinya tak ada, menjadi harus diluruskan dan dikuatkan dengan berbagai cara. bakat, bisa dibawa sejak ada, tapi hanya kesungguhan dan kemauan yang akan menampilkannya. dan, nekat. ah sudahlah, pokoknya kalau kepepet, harus bisa!! hehehe tulisan yang sarat akan nilai dan pelajaran kehidupan, dan sepertinya ini baru permulaan (?) karena ada karunia lain yang mengikat : persaaan dan keinginan tersirat. entah, tapi saya ingin tahu (dan belajar) bagaimana kemudian semua karunia ini dimanfaatkan oleh Kaka, dan tanpa disadari, kekuatan karunia2 ini pun bisa me'manfaat'kan Kaka. (read: menjadikan Kaka bermanfaat juga). Bravo! Lanjutkan Ka! *maksa

    • Lihat 4 Respon

  • Bina Raharja
    Bina Raharja
    1 tahun yang lalu.
    T_T bikin komen panjang, kehapus... nanti balik lagi deh... *curhat..

    • Lihat 1 Respon

  • novita susilaningrum
    novita susilaningrum
    1 tahun yang lalu.
    Wahhh.. kakak ternyata adalah seorang guru , dan meskipun tidak lagi secara langsung bersinggungan dengan anak - anak kakak tetaplah seorang guru, emmmm beberapa kisah aku alami seperti ditulisan kaka... #sedih.

    • Lihat 2 Respon

  • Den Bhaghoese
    Den Bhaghoese
    1 tahun yang lalu.
    Keren banget Bro, semakin menarik dibaca. Komplitt, daku menunggu kisah lanjutannya

    • Lihat 1 Respon