Tentang Mulan dan Tingkatan Tertinggi dalam Pertemanan

Pemimpin Bayangan III
Karya Pemimpin Bayangan III Kategori Kisah Inspiratif
dipublikasikan 23 Februari 2016
Tentang Mulan dan Tingkatan Tertinggi dalam Pertemanan

Pada titik itulah untuk pertama kalinya saya merasa sudah tidak lagi menjadi teman bagi mereka. Tak ada sikap saling menghargai apalagi saling memahami. Saya benar-benar bebas untuk berlaku dan bersikap apa saja yang saya mau terhadap mereka, tanpa perlu direpoti dengan segala macam adat-istiadat yang terkesan amat kaku dan menjemukan.

Lantas berakhirkah hubungan pertemanan saya?

Justru sebaliknya. Sebab saling pengertian yang terjalin telah membuat mereka melakukan hal yang sama pula terhadap saya!

Dari teman tim yang baik tersebut saya banyak belajar. Tentang kehidupan, juga tentang cara memaknai hidup itu sendiri. Walau saya tahu banyak dari pelajaran tersebut yang tak saya selesaikan dengan sempurna.

Dari mereka pula saya terus banyak belajar, bahkan setelah sekian waktu lamanya kami sudah tidak lagi bersama. Tentang ketulusan. Juga tentang cinta, yang tentu saja dalam perspektif dan sudut pandang yang amat berbeda.

Masih terasa segar dalam ingatan saya tentang Aris yang gemar menggedor kamar dan mengganggu tidur saya, cuma untuk mengajak makan enak bareng. Walau dia juga tidak pernah mengembalikan kaset Dewa 19 milik saya yang merupakan hadiah sakral dari seseorang.

Atau tentang Jati yang berkali-kali ?terlibat secara kebetulan? dalam momen-momen penting hidup saya, membantu meminjami biaya kursus, dan menemani saya naik taksi itu.

Tege dan juga Gimbal yang walaupun seringkali menjadi teman yang sangat abnormal, namun jelas pernah membuat hidup saya amat berwarna.

Chia sempat memegang rekor sebagai teman terhebat yang saya kenal, juga Selvi yang pernah memberi ?pertolongan kecil tak terlupakan? kepada saya, yang kabarnya kini tengah sibuk jadi Bu Dosen di Universitas Pelita Harapan. Sementara Dian sering membuat saya menghindar karena memiliki jenis mata yang mampu membaca ?atau mungkin juga cuma menduga- orang hanya dengan melihat, dengan capcai lezatnya yang saya cicipi waktu OSPEK/MOS kampus.

Tari yang entah kenapa memberi sepatu buat saya, yang jelas lebih saya hargai karena tulusnya dan bukan harganya.

Dijey yang begitu repot membantu mencetak buku puisi pertama saya dengan sumringah, dan membuat saya menikmati juga sayur asem di rumahnya, walau saya jelas tidak pernah suka jenis sayur kecut tersebut.

Bintang yang dengan entengnya langsung membeli buku tersebut, yang setelahnya saya sering berpikir bahwa dia membelinya hanya karena menghargai saya, walau sebuah foto kecil di sudut facebooknya sempat membuat saya bingung yang mana wajah bintang dan yang mana muka kucingnya :P

Berbeda dengan Oenk yang berkali-kali membeli untuk dijadikan kado ulang tahun teman-temannya, atau Mulan yang justru menangisinya saat masih menjadi draft, dan beberapa cewek sastra yang berebut minta buku tersebut ditanda tangani saya di stasiun UI seakan-akan saya adalah penjelmaan absurd dari Sutardji Calzoem Bahri!

Effa-Mama Ella-Rudi-Ulfa dan keluarga yang menyambut dengan sangat ?hingar? kabar tentang penerimaan saya di UI jauh melebihi keluarga saya sendiri, seakan-akan saya adalah salah satu bagian terpenting dari keluarga mereka. Juga Ivan yang tak pernah memperlihatkan kecemburuannya atas keamat dekatan saya dengan Effa -yang juga sering saya jadikan parameter dan sparing partner dalam bisnis saya tanpa sepengetahuannya- yang saya amat berterima kasih kepadanya karena terus membuat saya percaya bahwa Effa mampu dia jadikan amanah.

Barry yang tanpa berpikir panjang sontak bersedia menyisihkan rupiahnya untuk saya hingga mencapai digit juta tertentu, yang tentu saja langsung saya tolak karena memang saya hanya ingin mengetahui ketulusan dia dan bukan ketulusan uangnya.

Sementara Oenk dan Firman jelas bukan teman bagi saya. Mungkin sedikit mirip dewa, yang tentu saja bukan dewa babi!

Semua ketulusan itulah yang membuat mereka tetap hidup dan berkelebat-kelebat dalam hati saya, yang kerap membuat saya tersenyum sendiri selama menjalani ritual insomnia abadi.

Dan untuk merekalah saya tulis puisi ?Hidupmukah Hidupku?? di awal bab pertemanan kisah ini, dengan begitu banyak kata-kata ?hidup? yang membuat lidah saya terpelintir-pelintir serta ?korsleting kecil? akan makna kata tersebut pada saat proses kreatifnya. Walau seringkali diri saya yang lain juga berkata bahwa puisi itu sebenarnya cuma buat Mulan.

Tak pernah kikir saya untuk berpikir, nikmat Tuhan manakah yang bisa untuk saya dustakan? Hidup yang lebih baik, kuliah di kampus yang lumayan punya nama, serta begitu banyak ?Teman Tim yang Tepat? yang saya miliki, ditambah lagi dengan streetsmart yang saya dapat dari Mulan, yang seringkali mampu membuat saya bergerak lebih cepat dan lebih luas dari yang lain, tentu tak sulit buat saya untuk memilih masa depan yang paling keren kelak yang saya inginkan.

Semua terlihat begitu sempurna. Hanya saja sayangnya ada cacat kecil yang menjadikan segalanya tak berjalan dengan semestinya. Dan cacat kecil tersebut adalah: Saya tak menginginkannya...!!!

Mungkin banyak yang mengira saya dungu, neurotik atau sekedar orang yang senang membuat sensasi saat memutuskan untuk meninggalkan semua yang telah saya peroleh dengan susah payah itu.

Mengapa tidak? Bahkan diri saya sendiripun seringkali menghardik dan menyudutkan saya dengan segala macam falsafah dan dogma. Bahwa belajar adalah ibadah. Dan bahwa dengan menyia-nyiakan yang saya punya berarti saya telah mengkhianati seseorang yang ?kursinya? telah saya ambil, karena bila saya tak mendudukinya, tentu orang lain itulah yang menempati posisi saya ini, dan sebagainya-dan sebagainya yang tetap saja tak mampu untuk merubah sedikitpun pendirian saya.

Tapi saya memang benar-benar tak pernah menginginkan semuanya! Tak pernah berminat untuk menjadi orang yang lebih ?terhormat?, atau barangkali menjadi seseorang yang memiliki nilai dan harga lebih dengan gelar akademik di belakang nama, serta pekerjaan dan status sosial yang mewah dan mentereng lainnya.

Dan semua yang telah saya upayakan dengan begitu njelimet dan payah-payah itu, memang cuma karena Mulan. Cuma untuk Mulan. Dan cuma demi Mulan. Karena buat Mulan, apa sih yang tidak saya beri dan lakukan? Bahkan jika Mulan meminta hidup saya sekalipun, tentu tak perlu hitungan detik buat saya menyerahkannya... dengan bahagia! Karena cinta memang seringkali tak pernah bisa untuk punya logika, bahkan untuk orang-orang yang ?sekaliber? saya sekalipun, yang katanya memiliki pemahaman dan pengalaman yang jauh melebihi usia.

Beberapa saat setelah saya masuk UI, saya beri Mulan ?Kado Ulang Tahun Terindah? yang dia pinta. Dan beberapa semester setelahnya, saya tinggalkan UI, dan mengakhiri metamorfosa saya dari sampah menjelma emas, untuk kembali menyerupa debu yang tak berharga.

Saya cuma ingin Mulan.

?

cinta adalah ilusi

yang terus saja kembali

datang dan datang lagi...

(?Cinta adalah Ilusi? dalam Di Bawah Kibaran Dosa}

?

(Bersambung?).

?

Dunia Aneh Si Bay, ThornVille-inspirasi.co.

* Cerita sebelumnya di link yang ini