Beberapa Cara Agar Bisa Kuliah Gratis di Kampus Negeri Pilihan

Pemimpin Bayangan III
Karya Pemimpin Bayangan III Kategori Kisah Inspiratif
dipublikasikan 19 Februari 2016
Beberapa Cara Agar Bisa Kuliah Gratis di Kampus Negeri Pilihan

?Kamu mah gitu, Dek. Semua berita di internet kamu baca satu-satu. Kenapa tidak disekrening saja dulu selintas pandang, dan setelah yakin muatan isinya memang berharga, barulah dibaca dengan lebih intens, jadi bisa menghemat waktu,?

Sambil tersenyum istriku menjawab, ?Mungkin masih terbawa kebiasaan dulu, Kak. Sejak kelas 1 SD, aku sering terjebak macet dan terdiam di satu soal sulit, sementara teman-teman yang lain terus mengerjakan soal hingga selesai. Padahal soal yang lain lebih mudah pengerjaannya. Tapi rasanya ada yang mengganjal di hati jika harus melewati soal sulit tersebut lalu beralih ke soal selanjutnya, walau setelah mahasiswa semua perlahan berubah membaik.?

Itulah obrolan ringan saya bersama istri pagi ini, yang memang merupakan kebiasaan wajib bagi kami menghabiskan waktu bersama sebelum memulai rutinitas harian dengan penuh rasa sayang, yang kembali berulang saat semua aktivitas selesai malam harinya.

Sambil minum kopi, tentu saja, karena kami berharap dengan cara sederhana ini dapat meneguk semua manis dan nikmat hidup, dan menyisakan kepahitannya hanya di ampas kopi yang terakhir? *Eaaa?^_

Percakapan cinta tersebut langsung mengingatkan saya kepada kejadian di masa dulu, yang saya bagi dalam kisah singkat berikut, dengan harapan semoga ada satu-dua hal baik yang bisa kita seruput bersama. Langsung teguk di kopi kata yang pertama, Sobat?^_

***

?Sebagai remaja miskin yang ingin berkualitas, saya mencoba berkeras untuk bisa mencicipi ilmu melalui bangku kuliah. Tapi sebagai buruh pabrik gelas yang mempunya gaji Rp. 150.000,-/bulan, kuliah bukanlah perkara yang mudah mengingat lebih dari seperti gaji terampas oleh ongkos harian, dengan dua pertiga sisanya yang entah kenapa selalu tak bersisa ditelan kebutuhan harian.

Dengan gaya akuntan pro saya istimasi ulang semua peluang, berapa lama kira-kira yang saya butuhkan untuk mengumpulkan rupiah sebesar tiga juta setengah, hingga bisa mendaftar di kampus swasta murah-meriah. Yang penting kuliah. Dan bukankah ketika seseorang berusaha secara sungguh-sungguh, Allah tak akan berpangku tangan?

Alhamdulillah, pada detik itu pula karir akuntan saya langsung pupus. Karena dari data yang ada, sepertinya saya tak akan pernah bisa kuliah di kampus manapun, tak peduli berapa ratus tahunpun saya tekuni pekerjaan yang sekarang.

Pasti ada yang salah! Demikian pikir saya waktu itu. Bagaimana jika mencari pekerjaan tambahan, lalu sisa waktunya dapat saya pergunakan untuk mengambil kuliah malam atau kuliah sabtu-minggu khusus karyawan, misalnya?

Kembali alternatif menawan itu gugur. Sebab saya tak yakin kan benar-benar memperoleh hasil kuliah yang efektif jika hanya mengandalkan sisa waktu dan tenaga. Belum lagi bertambah dengan masalah ketidak fokusan yang lain seperti harus berlomba mengkreatifkan otak demi memenuhi kewajiban keuangan semester selanjutnya, yang kembali menimbulkan logical fallacy sebenarnya saya kuliah mengejar ilmu atau memburu apa?

Kenapa tidak kuliah di kampus negeri saja, Bay?

Ya, kenapa tidak? Toh UI waktu itu hanya menuntut enam ratus ribu per semester sebagai biaya belajarnya. IKIP malah lebih murah. Mungkin tiga ratus ribu. Tapi kampus keguruan itu entah mengapa membuat saya merinding, sebab menjadi guru jelas amat bertentangan dengan jiwa berandal saya di masa sekolah dulu. Menjadi guru? Emmmh? Bagus itu. Tapi bagus buat orang lain siapapun asal bukan saya?^_

Dimulailah pergeseran paradigma si norak yang lugu dan jago kandang ini. Alih-alih berfokus pada kelemahan finansial sebagai landasan pacu, saya bergeser kepada kekuatan yang dimiliki untuk mulai meniti masa depan. Bukankah saya termasuk orang yang cerdas? Dan bukankah kesulitan utama masuk universitas negeri adalah bobot test masuknya yang super sulit, dan bukannya biaya kuliah yang super tinggi? Klop. Cocok. Inilah saatnya saya membuktikan diri, benarkah memang pintar atau justru Cuma keminter?^_

Test masuk pertama berakhir dengan amat sukses? buat peserta lain. Karena saya gagal. Skor nilai terlalu rendah sementara pilihan jurusan terlalu tinggi.

Tahun berikutnya saya kembali bersemangat. Bukankah pengalaman adalah guru yang paling baik? Dan pengalaman kegagalan saya di tahun sebelumnya tentulah merubah saya dari hanya seorang jendral perang tercanggung menjadi jendral super canggih setelah perang yang amat buruk. Walau perang apapun alasannya tetap saja bukan pilihan yang paling bijak untuk menyelesaikan permasalahan.

Tahun kedua akhirnya saya berhasil. Maksud saya berhasil menjadi keledai yang terperosok dua kali pada lubang yang sama.

Kembali gagal. Dan kembali mengevaluasi. Hingga akhirnya di tahun ketiga yang sekaligus tahun terakhir kesempatan saya mengikuti test masuk perguruan tinggi, saya benar-benar berhasil menembusnya.

Dari keberhasilan itulah saya mendapat banyak pelajaran berharga, bahkan jauh waktu sebelum saya memulai OSPEK/MOS kampus.

?

Pertama, Beberapa kecerdasan dasar manusia memang akan melambat seiring berlalunya waktu.

Berdasarkan grafik yang pernah saya tekuni menggunakan rumus tertentu, skor test masuk saya selama tiga tahun hanya naik turun di kisaran angka 250 sampai dengan 300 tak peduli sekeras apapun persiapan belajar yang saya lakukan. Sementara skor yang disyaratkan untuk bisa masuk Fakultas Kedokteran atau Hubungan Internasional dan Akutansi UI berada pada grade 700 sampai dengan 900. Pantesan gagal, Bay?^_

Tapi tak perlu berkecil hati bagi yang tetap ingin kuliah di kampus negeri melalui jalur regular, karena grade berdasarkan skor test tersebut tak berlaku baku dan kaku di semua kampus negeri.

Pada masa saya, skor 300 memang tak bisa masuk fakultas unggulan di kampus UI, namun tetap bisa lolos untuk fakultas ?papan atas? di kampus negeri yang lainnya seperti Universitas Brawijaya-Malang dan Universitas Udayana-Bali atau Undip-Semarang.

Bukan karena kampus negeri daerah tersebut kualitasnya jauh lebih rendah dibandingkan UI, melainkan lebih kepada nilai jual merek dan gengsi masing-masing universitas diukur dari supply and demand minat calon mahasiswa se-Indonesia. Sekali lagi, bukan karena ?kualitasnya?, melainkan lebih kepada nilai ?mereknya?.

Kedua, ubah paradigama dari memulai semua dari kelemahan yang ada, menjadi memulai semua berdasarkan kelebihan yang dimiliki.

Jika saya tetap memulai semuanya dari persiapan menambal kelemahan finansial yang bobrok, saya yakin tak akan pernah bisa mencicipi kuliah di kampus unggulan dengan fasilitas privat dimana jumlah siswa satu angkatan di jurusan pilihan tak lebih dari 12 hingga 50 orang saja. Bandingkan dengan jumlah siswa per angkatan di kampus? swasta yang rata-rata mencapai 100-200 siswa perkelas.

Dan ketika saya rubah paradigmanya dengan logika terbalik, yaitu memulai semuanya berdasarkan ?potensi kelebihan? yang dimiliki, Alhamdulillah hasilnya keren dan sedap?^_

Ketiga, insya Allah selalu ada cara untuk menyiasati kendala yang ada, dengan atau tanpa perlu untuk menangis.

Dan untuk poin terakhir ini agaknya masih butuh saya berikan data tambahan penguat berupa tulisan, dan bukannya foto, mengingat di kehidupan sekeliling saya, adagium ?tanpa foto berarti hoax? adalah adagium yang amat banci kebenarannya. Percayalah, Sob, di dunia yang kini, bahkan bukti fotopun tak lebih dari sekedar hoax tingkat tinggi, baik itu dikalangan klien yang membutuhkan kucuran dana bank tertentu maupun hibah sosial atas uang negara, yang biasanya hanya akan berakhir sebagai lingkaran setan tanpa ujung. *Miris?T_T

Kembali ke poin yang ketiga, tentang insya Allah selalu ada cara untuk menyiasati kendala yang ada.

Ketika pengumuman penerimaan siswa baru terpampang di koran nasional, nama saya kebetulan terdaftar di Harian Kompas, sebagai peserta test yang lulus dan di terima di UI.

Bahagiakah saya? Jelas saya bersyukur, karena Allah mengabulkan segala doa juga upaya saya yang sungsang-sumbel, hanya demi bisa merasakan kuliah . Di kampus negeri pula. Lumayan buat kenangan masa tua?^_

Tapi bahagiakah keluarga saya? Emmmh? Ibu saya menangis. Mungkin bahagia juga. Tapi jelas bukan karena terharu atau bangga, melainkan lebih kepada merasa sedih. Lho? Memangnya kenapa?

Alasannya sepele saja, yaitu karena beliau yang janda miskin memang tak pernah mempunyai uang simpanan sepeserpun selain rejeki harian dari warung kecilnya. Cuma itu masalahnya, yang pernah saya rekam dalam cerpen yang ini?^_

Bersama Mulan kemudian saya berusaha mencari celah penambal masalah uang tersebut, karena kami memang tak pernah percaya uang penentu segalanya. Bukankah ada kekuatan lain yang lebih besar dari kekuatan uang?

Langkah pertama jelas ke kampus tujuan. Kami pecah perjalanan. Mulan mengumpulkan data melalui jaringan kampus IPB Darmaga-Bogornya, saya ke UI.

Dari UI tak banyak data yang saya peroleh. Bahkan nyaris nol. Mungkin memang seperti itu proseduralnya waktu itu, yaitu semua dibuat gelap untuk masyarakat marjinal. Bukankah hal sama pula terjadi juga pada hamper seluruh sektor? di negeri ini? Dari mulai pengajuan pinjaman ke perbankan hingga bantuan rakyat miskin yang lainnya. Walau terakhir saya ke UI semuanya amat berubah. Informasi beasiswa berlimpah dan di tempel pada banyak madding jurusan juga tempat strategis mahasiswa yang lainnya. Juga di sektor perbankan dan bantuan untuk masyarakat miskin, yang semoga tetap terus seperti itu baik di era pemerintahan Mas Joko ini maupun juga di era selanjutnya, aamiin..^_

Saya pulang dengan tangan hampa, menunggu Mulan di stasiun UI karena perjanjian rendezvous kami memang di sana.

Mulan datang, dengan segepok informasi yang cukup menyegarkan walau terasa amat getir kebenarannya.

?Kata teman anu, tetap bisa kuliah, Bay?? seruduk Mulan tanpa basa-basi, yang dilanjutkan lagi dengan tumbukan informasi lainnya tentang segala macam persyaratan mengurus kuliah demi biaya yang lebih murah lagi agar tak perlu pecah fokus mencari-cari biaya persemester, melainkan serius belajar demi mencapai impian?^_

Informasi yang benar-benar melucuti kesombongan saya sebagai remaja miskin, karena salah satunya adalah harus-kudu-wajib dan mesti mengurus surat keterangan miskin mulai tingkat RT hingga Kelurahan sebagai prasyarat utamanya.

?Kenapa tak mencari beasiswa prestasi saja?? enggan saya ke Mulan, karena walaupun miskin, saya tak pernah meminta kepada siapapun untuk memenuhi kebutuhan pribadi: Juga kepada negara sekalipun! Walau secara undang-undang memang ada hak kami si miskin yang diatur di dalamnya.

?Itu lain perkara, Bay. Beasiswa prestasi masih nanti setelah pembuktian sebagai mahasiswa, sementara jika kesempatan? beasiswa miskin ini tak dipergunakan, bahkan kau tak akan pernah sempat untuk membuktikan apakah memang benar mampu menjadi mahasiswa berprestasi atau tidak, karena tak pernah kuliah.? tandas Mulan.

Benar juga, pikir saya, yang dengan amat berat kemudian melepas seluruh cangkang gengsi saya dan mengurus surat keterangan miskin yang amat melukai harga diri dan kehormatan saya tersebut.

Ah, bagaimanapun juga, saya memang beneran miskin, kok, dan bukannya pura-pura miskin hanya demi turut merampok hak orang lain yang memang lebih membutuhkan, demikian akhirnya saya berdamai dengan diri sendiri, sambil terus bertekad semoga inilah pertama dan terakhir kalinya saya mengandalkan bantuan pihak lain untuk diri sendiri. Karena saya memang orang miskin, tapi bukan pengemis apalagi perampok hak rakyat.

Hari H pendaftaranpun tiba. Ternyata banyak juga yang mengurus jalur miskin tersebut, menjadikan saya merasa aneh sendiri mengapa waktu itu tak menemukan sedikitpun informasi tentangnya, sementara jika dilihat dari antrian yang mengular super? panjang ini, tentu informasinya bukanlah barang yang amat langka. Apakah informasi tentang kuliah jalur miskinpun hanya beredar di kalangan tertentu?

Antrian menyusut. Saya mulai masuk ke dalam gedung yang bertemu bagian penerimaan yang super jutek. Mungkin memang pembawaan karakternya, atau bisa jadi memang itulah tugas yang diberikan kepada beliau, agar calon mahasiswa yang meminta keringanan biaya belajar menjadi tak menuntut terlalu besar.

Dari balik pintu saya lihat mahasiswa yang diantar orang tuanya, tersedu-sedu dibentak sang penerima tersebut dengan cecaran kalimat tentang data kemiskinan yang mereka punya, yang berlanjut dengan tawar-menawar amat loyo karena sang calon mahasiswa baru terlanjur ciut mental sejak awal buah tekanan sang pewawancara, hingga akhirnya hanya bisa mengangguk lemah saat pewawancara galak tersebut hanya menawarkan potongan kecil dari total biaya belajar.

Hmmm? trik negosiasi jadul sekali, pikir saya, walau nyatanya memang tetap manjur untuk menekan jumlah digit beasiswa yang harus dikeluarkan negara untuk orang miskin.

Hingga akhirnya tiba giliran saya. Seremonial kembali berulang. Pertanyaan berintonasi suara tinggi, juga tekanan dan rangkaian pertanyaan yang benar-benar amat menyudutkan seperti, ?Masa belum ada persiapan dana untuk kuliah?! Mau niat kuliah atau tidak, sebenarnya??!? serta banyak lagi pertanyaan yang lebih bengis mengiris kelemahan diri, yang tak sedikitpun mengundang saya untuk menangis atau terdiam malu, melainkan justru saya balas dengan jawaban ngocol dengan beberapa cengar cengir agak bandel, ?Lho? Bu, saya ingin kuliah di UI sini karena memang ingin murah? Mana saya tahu biaya DPKP langsung naik menjadi satu juta dua ratus lima puluh ribu, karena tahun kemarin masih 600 ribu?^_?

Mungkin karena tahu gelagat bahwa saya termasuk remaja bandel yang keras kepala, akhirnya bu wawancara itu bilang, ?Ya sudah kamu potong jadi setengahnya saja!?

Saya maih ngeyel, ?Jika segitu persemester masih terlalu berat buat saya, Bu, lihat saja data saya, lagi pula biaya kuliah saya usaha sendiri dari bekerja serabutan? *Sambil nyengir lagi.?

?Ya sudah, nanti sisanya kamu dianggap hutang dari PPM saja?? ucap beliau tanpa basa-basi.

?Tapi, Bu, saya khawatir tidak sanggup membayar hutang? *Tetap sambil nyengir menyebalkan?

?Saya tahu, makanya saya masukkan kamu ke PPM. Sudah, gentian saya yang lain.? Ucap beliau dengan suara yang agak melunak, yang membuat saya tak tega untuk ngeyel lagi karena memang awalnya saya terus ngeyel karena tak puas dengan kekasaran beliau mewawancarai kami, dan ingin tahu apakah beliau kemudian akan menggebrak meja atau menampar saya, yang lalu akan saya perkarakan kelak ketika telah resmi menjadi mahasiswa. *Tersenyum licik?^_

Akhirnya saya pulang. Walau Ibu pewawancara tersebut tetap berlaku keras terhadap yang lain, yang kembali menampilkan adegan isak tertahan dari yang diwawancarai, saya tak lagi peduli. Karena inilah hidup, dengan masing-masing mendapatkan apa-apa yang diusahakan sesuai dengan bekal yang dimiliki. Dan Alhamdulillah saya kebetulan memiliki bekal ?tertindas? hidup yang cukup panjang dari kemiskinan asli, hingga berhasil memenangkan negosiasi, yang bukan sekedar pemotongan biaya kuliah saja melainkan juga pembebasan biaya seluruhnya melalui program beasiswa.

Semester selanjutnya saya hanya rutin membayar DPKP sebesar 100 ribu persemester, dengan beasiswa yang terus saya dapatkan sejak belum mulai kuliah, yang walaupun menjadikan saya surplus biaya belajar, tetap agak sulit untuk menyiasati kebutuhan yang lainnya seperti ongkos kereta api dan sepatu, menjadikan saya kadang hanya bersandal jepit ke kampus pura-pura bohemian padahal murni karena miskin. Walau demi kesopanan terhadap para dosen, selalu saya usahakan agar sandal jepit saya tak terlihat oleh mereka. Sebab mereka adalah sumber ilmu, yang jika penghargaan terhadap mereka saja tak lagi kita miliki, keberkahan apa pula yang kita harapkan untuk didapatkan dari beliau, menjadikan semua ilmu dan kecerdasan yang diperoleh kemudian meleset penggunaannya karena tidak berkah?^_

Barangkali tulisan ini memiliki sedikit manfaat untuk dibaca, terutama bagi adik-adik calon mahasiswa yang ingin kuliah tapi khawatir tak mampu membiayai sampai akhir, silakan petik pelajaran dari tulisan ini sebagai pembuka gerbang, yang jika Allah mengijinkan kelak akan kembali saya bagi tentang menyiasati biaya yang lainnya lagi selama kuliah, agar kemiskinan tak lagi alasan untuk seseorang meraih cita-citanya, karena Allah telah memberi kita begitu banyak modal selain uang, percayalah?^_

Mari sekolah, mari kuliah, mari mengopi, salam hangat?^_

?

Secangkir Kopi Cara Kuliah Gratis di Kampus Negeri, ThornVille, taoen jebot.


  • Isti Nazilah Hidayati
    Isti Nazilah Hidayati
    1 tahun yang lalu.
    Tulisan ini mengingatkan kepada diri saya sendiri mas, yang juga mendapat beasiswa kuliah di universitas negeri, jadi ingin bercerita juga bagaimana perjalanan saya.. Tulisan yang begitu menarik.

  • Ira Wahyu  Widya
    Ira Wahyu  Widya
    1 tahun yang lalu.
    Terimakasih untuk tulisan ini, semoga tahun ini saya bisa masuk universitas negeri impian saya, Aminn

    • Lihat 3 Respon

  • Den Bhaghoese
    Den Bhaghoese
    1 tahun yang lalu.
    Asem tenan. Tulisan ini berhasil membuatku malu dan marah mengutuk diri sendiri Bay. Akan tersita hari ini mengingat kesia-siaan, terpaksa pasrah daku nikmati sesal itu. Hormatku untukmu.

    • Lihat 3 Respon