Ketika Kita Lari Telanjang...

Pemimpin Bayangan III
Karya Pemimpin Bayangan III Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 19 Februari 2016
Ketika Kita Lari Telanjang...

Bagaimana aku tidak mencintai-Mu?
Sedang diriku adalah milik-Mu yang utuh...
Bagaimana tidak kuhambakan diriku?
Sedang hadirku menjelma wujud karena cinta-Mu...
(#DP Anggi II, with permit)

 

Ketika kita lari telanjang atau mengencingi sumur zam-zam, coba lihat bagaimana sosok-sosok yang kita sebut sahabat bereaksi. Apakah mereka mencaci, atau menghampiri lalu mengulurkan pakaian seraya membasuh kegilaan kita, yang lalu tanpa berkata-kata membimbing bahu kita untuk kembali mengembara bersama melalui jalan yang seharusnya, atau justru malah bersembunyi -serta menyembunyikan apapun yang berhubungan dengan kita- seakan kita tak lebih dari kotoran zaman yang mutlak tak pernah mereka kenal dan singgahi....?

Di situ kadang saya merasa gagal paham, karena teman memang seringkali cuma teman. Juga sahabat,yang adakah bedanya dengan tukang sayur langganan di perempatan jalan atau orang-orang yang kita temui saat lalu-lalang? Karena memang, sekali lagi, teman memang cuma sekedar teman. Bukan malaikat. Bukan dewa. Juga bukan Tuhan.

Semoga Allah tidak menghadirkan kebencian ke diri kita, terhadap teman, yang memang terlalu kerap tak pernah bisa untuk selalu sejalan. Juga kepada orang-orang hebat yang kemarin kita puja habis-habisan sebagai soko guru lalu hari ini kita caci setengah mati dengan penuh bully. Karena bagaimanapun juga, kebencian tak akan pernah membuat kita mampu untuk berlaku adil, selain 'mengadili' mereka dengan penuh dalil yang berakar dari nafsu pribadi, yang kemudian kita buat seolah-olah sangat suci.

Kalian adalah temanku. Juga orang yang lalu-lalang itu. Juga ayam di samping rumah. Juga rumput di bawah pagar beton kerasnya hati. Tapi kehidupan sekali lagi mengukuhkan taringnya, tatkala dia pergi lalu berakhir, berganti dengan hari dimana tak ada lagi satupun teman tersisa, saat penuh keringat takut menghisab amal serta dosa, yang benarkah telah penuh di sebelah yang bukan kiri…?

Benarkah kalian temanku..? Benarkah saya temanmu..? Hanya hari itu yang paling jujur menjawab semua, setelah deretan kemunafikan yang entah mengapa seperti tak habis-habisnya kita tuangkan dalam keseharian, di shelter persinggahan yang memang amat fana ini…

 

Tak cukupkah hanya Aku untukmu?


Hingga kau tak perlu lagi terus berlari
Hingga kau tak perlu lagi terus mencari

Hingga kau, pada putaran yang terakhir kali

Tak sanggup lagi untuk kembali, menuju-Ku

('Tak Cukupkah Hanya Aku Untukmu?' dalam Di Bawah Kibaran Dosa)


  • Dinan 
    Dinan 
    1 tahun yang lalu.
    Arusnya pelan tapi membuatku tenggelam.

    Sederhana itu indah. Sebenarnya di situlah letak kompleksnya. Pada tulisan ini tak terlalu banyak menggunakan bahasa 'tinggi' bahasanya 'rendah' tapi kok, mengguncang 'Arsy'?

    Hari ini teman atau guru, besok mungkin akan kuadili. Di pengadilan yang paling adil maka semua akan terbuka, siapa teman atau musuh...

    Salam Suhu

    • Lihat 5 Respon

  • Bina Raharja
    Bina Raharja
    1 tahun yang lalu.
    suka sekali dengan gaya bahasa Kaka, olahan kata di kalimat-kalimatnya bisa indah dan bermakna. kadang kita lihat yang indah, tapi kosong saja. atau yang langsung bermakna, tapi tiada keindahan darinya. semoga di sini bisa ambil inspirasi dan belajar bersama. salam Ka

    • Lihat 7 Respon