Kita Diajari untuk Bersuci, dan Bukannya untuk Merasa Suci

Pemimpin Bayangan III
Karya Pemimpin Bayangan III Kategori Inspiratif
dipublikasikan 19 Februari 2016
Kita Diajari untuk Bersuci, dan Bukannya untuk Merasa Suci

Kehidupan hanyalah skenario, indah dan tidaknya amat bergantung pada bagaimana kita beradegan di dalamnya. Tak jauh berbeda dengan seorang koki yang tengah menyiapkan perjamuan akbar, butuh lebih dari sekedar memasukan bumbu dan menambahkan garam untuk membuat hidup mendekati sempurna.

Kita melihat sejarah harus seperti berkunjung ke tempat ibadah, ambil yang baik dan hapuskan segala keburukan yang meresahkan. Begitu juga dengan sejarah hidup kita sendiri. Hanya saja lebih banyak dari kita yang memilih menjadi sinis dan pesimis, dengan selalu menyoroti hanya segala yang terburuk di dalamnya, walau untuk itu kita mesti berlelah-lelah 'mencari kutu' untuk setiap kesalahannya.

Kita diajari untuk bersuci, dan bukannya untuk merasa suci. Mari terus berfokus hanya kepada proses, dan biarlah Allah yang menetapkan hasilnya. Sebab agama adalah perjalanan spiritual masing-masing, yang bukan hanya katanya.

Barangkali telah tiba saatnya kita menjadikan agama untuk lebih sungguh-sunguh dilaksanakan, dan bukannya melulu diperbincangkan. Terutama saat kita menyadari bahwa level ketakutan akan hilangnya sandal ketika melaksanakan Shalat Jum?at, jauh lebih tinggi jika dibandingkan level keimanan kita saat penghambaan total kepada Tuhan.

Jika rasa lapar menempa kita untuk menjadi kuat, maka marilah kita lapar, dan marilah menjadi kuat, hingga kita memiliki keberanian untuk berpikir dan bertindak.

Risiko terbesar dari berpikir hanyalah dicemooh oleh teman sendiri. Terutama ketika kita hanya berpikir tanpa sekalipun berkeinginan untuk melakukan tindakan. Sementara resiko dari melakukan sebuah tindakan adalah mati, sesuatu yang tetap akan kita alami meskipun tidak melakukan tindakan apapun.

Kemauan yang besar melebihi kemampuan, jauh lebih baik dari kemampuan tinggi yang tidak disertai dengan kemauan. Karena jika kita hanya melakukan apa-apa yang telah mampu dilakukan, maka kita tak akan pernah bisa untuk tumbuh dan berkembang.

Tanpa kita sadari, betapa amat seringnya kita memposisikan orang yang paling disayangi, untuk menjadi 'batu kunci' dalam bangunan candi megah yang tengah coba kita susun dalam sejarah kegemilangan kehidupan pribadi. Lalu setelahnya kita berpura-pura lupa, bahwa ketika batu kunci itu dicopot atau pergi, maka candi indah-megah itu akan hancur kembali seketika itu juga, menyisakan hanya puing kenangan, dengan terlalu banyak jejak kesedihan yang terekam di dalamnya.

Benar bahwa pengalaman adalah guru terbaik. Hanya saja hal itu tak akan banyak berguna jika kita adalah murid yang enggan belajar.

Beberapa orang sangatlah miskin, karena yang mereka miliki hanyalah uang.?Sementara beberapa yang lainnya lagi justru amat kaya. Mereka memiliki ratusan keberanian, ribuan harapan, serta jutaan kasih sayang serta kepedulian terhadap sesama.

Jika hidup hanyalah tentang merasakan, kita akan memahami hidup seperti apa yang tengah kita jalani. Dengan merasakan kita mempelajari. Dengan mempelajari kita memahami. Dan dengan memahami kita kembali ke siklus awal, untuk mulai mempelajari bagaimana cara mensyukuri lalu membagikannya kepada sekitar dengan penuh perasaan.

Kecintaan terhadap sesuatu niscaya akan melahirkan kebencian terhadap sesuatu yang lainnya. Ketika kita mencintai seseorang, maka akan hadir kebencian terhadap siapapun yang berminat untuk mencintai sosok yang sama, dengan cinta yang serupa atau justru melebihi dari yang kita miliki.

Dan kecintaan yang seperti itu adalah sebuah kecintaan yang amat prematur, karena kecintaan yang paling hakiki bukanlah mengangkangi ataupun menyerakahi, melainkan ketika kita dapat turut merasa bahagia, sekalipun sosok yang dicintai memperoleh kebahagiaan bukan dari diri pribadi.

Saat kita mencintai seseorang, kita tidak pernah diberitahu bagaimana cara mencintai yang sebenarnya cinta. Karena cinta memang tidak pernah mengajari apapun tentang cinta itu sendiri. Karena cinta hanyalah menginspirasi.

Mengajari terbatas hanya memberi kita penunjuk arah, menunjukan sesuatu, yang kemudian mengarahkannya sesuai peta tujuan yang diinginkan. Sementara menginspirasi menjadikan kita seorang petualang, yang seringkali membuat tersesat tapi selalu berhasil menemukan sesuatu yang baru. Kadang membuat kita merasa gila, tapi seringkali menjadikan kita mampu untuk melakukan hal-hal yang bahkan tak pernah kita bayangkan sebelumnya. Membuat kita mampu untuk melakukan begitu banyak kehebatan jauh melebihi perkiraan, dan menjadikan kita terdongkrak menuju level di atas normal.

Semoga bermanfaat, salam hangat persahabatan?^_

?

Secangkir Kopi Refleksi Menulis Beberapa Tahun di Dunia Maya.

Courtesy:

  • Mike Reyssent, atas perbincangan yang bersahabat tentang makna keberanian dalam menulis, melalui ruang komentar di artikel beliau.
  • AS Laksana, atas wejangannya melalui posting pendek tentang rasa lapar yang amat mencerdaskan beberapa Ramadhan yang lalu, yang kebetulan masih saya simpan dan terus gali.
  • ESKW, Sobat maya yang ?tak lagi sepaham namun tetap berteman? buah konsekuensi pilihan profesi yang dijalani, thank?s atas segala pencerahan kecil yang pernah disematkan ke artikel saya?^_
  • Arni Mawarni, Sobat maya yang mengaku giat men-stalking posting saya dengan penuh semangat, yang sekarang bermetamorfosa menjadi penyair cinta.

  • view 156