Ahok: Berkelindan Diantara Keberagaman

Pemimpin Bayangan III
Karya Pemimpin Bayangan III Kategori Tokoh
dipublikasikan 19 Februari 2016
Ahok: Berkelindan Diantara Keberagaman

?Tapi saya tidak peduli siapa anda, karena sekali lagi saya bukan orang Kristen. Saya hanya orang Indonesia yang beriman pada Kristus tapi saya tidak akan memilih Bapak-Ibu hanya karena punya iman yang sama seperti saya kalo memang kerjanya tidak benar. Saya bukan orang beragama. Saya hanya ikut Tuhan Yesus. Agama membuat kita berantem.?

Kalimat itu yang tertera di salah satu gambar Bapak Gubernur DKI Jakarta yang banyak berseliweran di ruang maya.

Sekilas kesimpulan pada postingan gambar tersebut amat mengguntur kebenarannya. Hanya saja jika kita mau jujur pada diri sendiri, atau barangkali sedikit mengutip kata-kata Pramoedya Ananta Tur, yang mengatakan bahwa kita harus adil bahkan sejak masih dalam pikiran, maka gambar ini langsung terlihat sangat tidak adil.

Benar bahwa kesimpulan tersebut biasanya berdasarkan realitas yang terlihat. Tapi... realitas yang yang mana? Yang seperti apa? Dan benarkah itu semua adalah realitas yang benar-benar nyata, dan bukannya sekedar 'kenyataan palsu' yang kebetulan banyak digembar-gemborkan oleh oknum pelaku agama yang... benarkah mereka pantas untuk ditasbihkan sebagai perwakilan agama tertentu??

Sudah sejak ratusan tahun yang lalu Ibnu Sina menggambarkan tentang hal ini, dalam kesimpulan skizofrenia para pelaku agama di mana mereka menjadi hamba Tuhan 'yang sangat total' pada Hari Minggu, dengan enam hari sisanya yang tak mencerminkan sedikitpun 'kehamba Tuhanan'nya tersebut.

Dan hal ini tidak hanya berlaku pada agama Kristen semata, melainkan juga pada Islam dan agama-agama yang lainnya.

Lantas apakah karena itu kemudian kita perlu untuk menajiskan agama...?

Bukan agamanya yang salah, karena jika kita mau untuk sedikit jujur dan mengedepankan sikap obyektif, setiap agama insya Allah selalu berusaha membawa kepada kebaikan, yang tidak sekedar untuk dunia saja.

Masalah yang paling utama justru adalah: Karena kita hidup, dan terus berusaha menyelesaikan masalah kehidupan, hanya berdasarkan kepentingan hidup itu sendiri, dan bukannya mempersiapkan bagaimana seharusnya mati yang terbaik, setelah sebelumnya kita menyelesaikan begitu banyak masalah hidup, dengan orientasi kepada kebaikan untuk masa 'hidup sesudah hidup' nanti. Wallahu a'lam?^_

?

Secangkir Kopi Tentang Beragama, ThornVille.

  • view 269