Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Cerpen 18 Februari 2016   18:38 WIB
Ketika Maut Tetap Mencinta

Aku tak tahu apa salahku. Sudah beberapa waktu ini suamiku mengacuhkanku.

Pagi hari saat akan berangkat bekerja, biasanya dia mengucap salam dan mencium keningku. Tapi kali ini? Memandangku saja tidak.

Menjelang senja, kunanti kepulangannya di teras rumah. Setiap kali dia tiba, langsung kupasang senyum paling manis yang aku bisa. Namun entah mengapa, tetap saja dia mengabaikanku, membuatku merasa kian larut dalam bingung yang menjelma luapan tanya tanpa jeda, sebenarnya apa salahku?

Kuamati cinta yang tengah membuka pintu itu dengan tatap nanar, berharap setidaknya kutemukan jejak kemarahan di rahang angkuhnya. Memang bukan itu yang kuinginkan, tapi setidaknya semua akan menjadi jauh lebih jelas dibandingkan keadaan yang sekarang ini.

Tapi alih-alih kemarahan, justru gurat kesedihan yang kutemui pantul-memantul di matanya, mendongkrak bingungku hingga titik yang paling peak hingga akhirnya lebur dalam kubangan tanya yang masih itu-itu juga.

Berbagai macam cara telah kulakukan untuk membuatnya bicara. Namun hasilnya nol besar. Apakah aku telah melakukan kesalahan yang begitu besarnya, hingga tak boleh lagi diberi kesempatan, bahkan walau sekedar mengetahui kesalahan apa yang pernah kuperbuat?

Bukan sekali dua kali kupergoki suamiku menangis. Kadang di beranda rumah saat waktu baru saja lewat tengah malam. Tak jarang pula di depan laptop, saat asyik mengetik entah apa dengan penuh cinta? sambil menangis!

Barangkali dia tengah menulis kisah yang berurai air mata, tebakku dengan agak ragu. Sebab setahuku, dia hanya menggarap kisah-kisah manis nan romantis khas cinta remaja belia. Atau paling banter yah? cerita silat semau gue yang usil dan gemar menyentil ke sana-kemari. Tapi cerita sedih?

Rasa penasaran karena kesedihan suamiku, berbaur dengan kekecewaan karena merasa diabaikan, membuatku diam-diam mencuri lihat laptopnya saat dia tak ada di rumah. Mungkin dengan membaca beberapa karya dan catatannya, dapat membuatku mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Aku tahu ini salah, namun aku benar-benar tak paham lagi langkah apa yang harus kutempuh guna membongkar semua kebisuan ini. Jadilah sekarang aku di sini, di depan laptop suamiku.

Kutelusuri tulisan demi tulisan dengan perasaan campur-aduk. Banyak kisah cinta yang aneh tercatat di sana. Cinta yang lucu, yang kadang memberi bonus haru serta mengandung pukulan terakhir yang kelam khas pergumulan bathin si pendosa meraih surga, hanya dengan berbekal kebodohan yang dimiliki. Dan semua itu mengingatkanku pada menu gado-gado buatan Mbak Inem, yang terlihat enak dan ramah namun siapa sangka menyembunyikan pedas yang sangat di setiap gigitannya?

Akhirnya kutemukan juga tanggal penulisan terbaru. Mmh? cerpen rumah tangga. Sejak kapan suamiku berganti aliran menggarap cinta yang dewasa?

Tapi baru saja aku membaca prolognya, ketika aku merasa seperti mengalami d?j? vu berkepanjangan. Kenapa tokoh dan rangkaian mirip dengan kehidupanku?

Dengan perasaan tak karuan kubaca cerpen tersebut dengan agak bergegas. Pernikahannya mirip dengan pernikahanku. Suaminya juga mirip dengan suamiku. Bahkan penggarapan adegan kesehariannyapun tak lebih dari catatan peristiwa yang pernah terjadi antara aku dengan suamiku. Tentang sukanya. Dukanya. Juga tentang pahit dan getirnya biduk rumah tangga kami selama beberapa tahun ini. Hingga pada suatu paragraf tanpa sadar aku menjerit.

Dalam cerpen itu kulihat sang suami yang menangis histeris, ketika mendapati istrinya tewas dalam kecelakaan lalu lintas sepulangnya mereka setelah memberi penyuluhan trafficking anak-anak di pinggiran kota.

Tanpa sadar aku mundur dari laptop. Dan aku kembali menjerit ketika teringat kejadian yang sama persis dengan adegan di cerpen itu. Tentang obrolan hangat antara aku dengan suamiku dibangku bus, sesaat sebelum aku pulas kelelahan buah perjalanan jauh.

?Kau adalah sosok terbaik yang pernah kumiliki, Ning,? gumamku mengulang percakapan cinta terakhir yang dibisikannya ke telingaku, yang sama persis dengan percakapan yang ada di laptop.

Hingga pada bagian titimangsa aku membaca kalimat yang seperti meledak di bola mataku.

ThornVille, Mengenang Seratus Hari Berpulangnya Cinta kepada Sang Maha Cinta.

Jadi.. aku?? Jadi? alasan suamiku mengabaikanku??

Tangisku meledak, bertepatan dengan terbukanya pintu kamar. Suamiku agak tertegun melihat laptopnya menyala.

?Ah? Ning?! Ning?! Apakah kau telah membaca kisah terakhir kita di laptop??? seru suamiku sambil matanya mencari-cari ke setiap sudut kamar. Tapi ia tak melihatku yang berdiri tepat di sampingnya.

?Ning?! Keluarlah? Temui aku sekali lagi, Ning?!!!? kembali suamiku berteriak-teriak. Kedua matanya telah penuh air mata.

?Ning? keluarlah, Ning? Temui aku sekali lagi? Ning? huhuhu? Aku rindu kepadamu, Ning? huuu? Ning?? ratap suamiku memilukan. Tubuh menjulangnya menggelosoh di atas lantai dengan amat mengenaskan, dengan ratap serta sedu-sedan yang seperti tak ada habis-habisnya.

Kutinggalkan suamiku dengan perasaan yang penuh duka. Pergi, menanggalkan semua cinta yang kusadari tak akan pernah menjadi milikku lagi?

?

ThornVille, Ketika Ilusi dan Kenyataan Berbaur Menyedih, Ketika Cinta Tak Lagi Sekedar Peluk dan Cium, 1516.

Karya : Pemimpin Bayangan III