Elegi Buat RI (Pulanglah, Bay...)

Pemimpin Bayangan III
Karya Pemimpin Bayangan III Kategori Puisi
dipublikasikan 18 Februari 2016
Elegi Buat RI (Pulanglah, Bay...)

pulanglah Bay, dan jadilah mentari lagi
bagi orang-orang yang pernah kau sayangi
sebab kembara memang tak akan pernah bisa membasuh luka hati
bisikmu dari tempat yang jauh sekali
membuatku tergugu dalam haru yang sunyi
sebab siapa engkau belum lagi jelas kuketahui
atau apa artimu di hidupku yang riuh ini

pulanglah Bay, ucapmu lagi dan selalu lagi
memaksaku terdiam dalam bingung yang pasti
sebab aku tak tahu lagi jalan kembali
atau sebab apa berada di sini
dan harus kemana setelah ini
seakan waktu memerangkap lalu melontarkanku ke sunyi ini
dan tak pernah menarikku kembali

aku ada, tapi siapakah aku dalam hidupku ini
bisikku sedih tanpa pernah mengerti
tentang apa sebenarnya semua ini
sebab aku tanpa aku tak lagi aku
melainkan kumpulan busuk dari meracau, mengacau
yang lalu dengan kesombongan yang masih seperti dulu
bersembunyi, dalam lubang bayang-bayang yang semakin terbang dan meng-abu

pulanglah Bay, katamu lagi
masih dengan lembut yang seperti tadi
dan memberiku kerlip serta kilau yang menyejukkan hati
lewat pendar demi pendar jalinan pelangi
yang terus saja kau rangkai untukku selama ini

tapi aku benar-benar tak tahu siapa aku ini
dan sebab apa terus saja di sini
berlompatan dari satu sunyi ke lain sepi
tak peduli berapa banyak waktu yang sempat menjadi guru
atau berapa sering kugores kertas hidup dengan warna yang bukan satu
sebab aku memang cuma aku yang selalu aku
yang rindu untuk berkata dengan amat lugu
"aku adalah aku saat maut menjemput," tekadku
mati-matian memahat baik menjadi akhir hidupku yang riuh itu

pulanglah Bay, masih saja kau berkata itu-itu lagi
tak peduli betapa bingungku saat memaknai
kemana aku harus kembali
bahkan hingga kini aku tak pernah mengerti
sebab apa terdampar di sini
atau menuju ke mana setelah ini
dan mengapa selalu saja kumaknai hari dengan terus berlari

pulanglah Bay, ada kisah lain yang menantimu di sini
bisikmu lagi menghasutku untuk bertanya-tanya sendiri
tidakkah kau lihat hitam di tubuh ini
atau luka yang menganga di sekujur diri
juga hati yang koyak dan berisi hanya nyeri
atau barangkali memang wanita selalu saja seperti ini
menjelma makhluk teraneh yang tak akan pernah bisa untuk kupahami

diam-diam kupandangi dirimu dengan lebih teliti
berharap dengan itu ku dapat memaknai lebih baik lagi
tapi tetap saja wanita selalu wanita, yang bahkan hingga hari ini
tetap tak pernah bisa untuk kumengerti

kau anugerah terindah untukku, Bay
ucapmu seringkali, lagi dan lagi
kembali memboyong bingung lalu mengurugnya ke diri ini
yang harusnya dimaknai cuma pantas sebagai sampah atau bangkai
atau mungkin seonggok kotoran tak berarti
dan bukannya larik-larik cahaya yang berwarna-warni
seperti pelangi yang terus kau rangkai dalam kata dan puisi
penafsir riuh hari-hari yang terpaksa kulewati
sambil terus berlari tanpa henti
tanpa tahu kemana arahku pergi
tanpa paham kemana arahku kembali
tanpa peduli kemana hari ini kemarin atau nanti
selain berlari dan terus berlari, lagi dan lagi
kemarin, kini, nanti: berlari

pulanglah Bay, temani aku meniti pelangi
dan bersama kita reka dan rupa warna yang lebih suci
dalam mahligai yang lebih teridhoi
dari segala yangpernah kau lalui selama ini
ucapmu kali ini cuma dalam hati
membuatku kembali terdiam dalam tegun yang tanpa seni
serta sepucuk luka yang terus terendap di sudut hati ini

sungguh inginku, batinku, tapi benar-benar ku tak mampu, sedihku lagi
sambil diam-diam hanya berani melukis wajahmu dengan mentari pagi
atau merupanya dengan semilir angin yang berhembus kesana- kemari
hingga bayangmu menjelma, bersama ribuan kunang yang berpijar mengundang decak iri
dan memberiku sebuah nyaman yang sunyi

pulanglah Bay, dan kembali ke jalanmu yang dulu lagi
bisikmu masih lewat kata dan puisi
yang masih saja ku jawab dengan sedih yang dulu lagi

aku benar-benar tak tahu jalan pulang, RI!

aku benar-benar tak mengerti kemana mesti kembali
dan aku benar-benar tak paham setitikpun lagi
ke siapa aku harus pulang, ke siapa mesti kembali
selain cuma memaknai hari
dengan sedih di dada sendiri

?

Jawadwipa with tears, 11, Dongeng Tentang Negeri Bayangan.