Dan Malam Ini, Rin Tak Lagi Tahajud Sendirian

Pemimpin Bayangan III
Karya Pemimpin Bayangan III Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 16 Februari 2016
Dan Malam Ini, Rin Tak Lagi Tahajud Sendirian

Ketika Cinta Tak Lagi Sekedar Peluk dan Cium,?Volume 05.

Kisah sebelumnya: Kisah yang Tak Pernah Ada

***

Bay merasa ada sesuatu yang menyentuh keningnya. Sesuatu yang begitu lembut, mengusap dan membelai kening serta anak rambutnya.

Barangkali serangga, pikir Bay.

Serangga? Secepat kilat Bay terjaga, bangun dari kenikmatan mati sementaranya. Tapi bukannya serangga yang ia dapatkan, melainkan sebuah tangan lembut milik Rin, sosok yang baru ia nikahi beberapa bulan yang lalu.

?Kakak kaget, ya?? ucap wajah segar itu sambil tersenyum.

?Bangun dong, Kak,? masih dengan kelembutan yang sama ia berkata lagi. Ditariknya lengan Bay perlahan.

?Mmmh? ada apa?? Bay bertanya enggan. Matanya kembali terpejam. Tapi bukan jawaban yang ia peroleh, melainkan sebuah tarikan lagi pada tangannya.

Masih dengan mengantuk Bay bangkit dari tempat tidur, mengikuti arah tarikan istrinya. Rupanya ke kamar mandi.

Setelah beberapa saat terdengar gemericik air, Rin keluar dari dalam kamar mandi. Wajahnya penuh dengan bekas wudhu.

?Rin ingin tahajud,? ucapnya.

?Lalu??? suara Bay terdengar bingung.

??Temani Riiinnn?? ucapnya lagi setengah merajuk.

***

Bay menggeleng-gelengkan kepalanya sendiri. Ia tak habis pikir. Bagaimana mungkin Rin begitu penakut? Bahkan untuk ke kamar mandi dan shalat tahajudpun minta ditemani.

Yang ia tahu, walau terkesan agak manja dan kekanak-kanakan, Rin adalah sosok perempuan yang taat beribadah. Bahkan alasan itulah yang membuatnya memilih Rin sebagai pendamping hidup. Tapi kini, ternyata?

Lagi-lagi Bay menggelengkan kepalanya. Sementara pada sudut yang lain Rin tersenyum kecil, tanpa sepengetahuan Bay.

***

Malam ini Bay kembali terbangun, lebih tepatnya dibangunkan. Sementara Rin, sosok yang selalu membangunkannya itu, terlihat senyum-senyum sendiri.

Sering Bay bertanya-tanya sendiri tentang perilaku Rin. Mengapa ia selalu dibangunkan setiap malam, hanya untuk menemani tahajud? Dan, anehnya lagi, Rin selalu membangunkannya dengan cara-cara yang, entahlah?agak unik mungkin.

Kadang mengusap rambutnya, memainkan jemari tangannya, menepuk-nepuk pipinya secara perlahan, atau menyentuh-nyentuh dan melangkahkan jari pada hidungnya. Dan, seperti biasa, Rin akan serta-merta menyiapkan sebuah senyum yang paling manis saat ia terjaga. Kalau sudah begitu, bagaimana mungkin ia bisa marah?

?Kenapa Nina selalu minta ditemani?? akhirnya Bay bertanya juga. ?Rin takut hantu, ya??

Bukannya menjawab, Rin justru tertawa kecil. Tapi tak lama tawanya menghilang, berganti dengan sedikit mendung yang menggelayut di wajahnya.

?Kakak bosan menemani Rin ??? tanyanya dengan menunduk.

?Bukan itu?? cepat-cepat Bay menyanggah. Ia agak menyesal ketika menyadari bahwa pertanyaannya, telah menebas senyum pada wajah itu. Bahkan kini sosok itu terlihat sedih.

?Rin minta ditemani, bukan karena ingin merepotkan Kakak... juga bukan karena takut hantu. Bukan itu??

?Lalu? karena apa?? tanpa sadar Bay bertanya lagi.

?Rin hanya ingin ditemani? Rin hanya ingin ketika mengadu sama Allah, Rin ditemani oleh orang yang Rin sayangi. Dan Rin tak punya siapapun? lagi selain Kakak. Tak ada ayah dan ibu, juga tak ada Wak Haji. Makanya Rin selalu mengajak Kakak. Biar Allah juga tahu bahwa Rin sangat bersyukur atas segala karunia ?Nya. Biar Allah juga tahu bahwa Rin ? begitu bersyukur mendapatkan Kakak. Biar Rin ??

Tiba-tiba Rin memberi sesuatu kepada Bay. Satu setel pakaian takwa? lengkap dengan peci dan tasbih! Agaknya benda-benda tersebut telah jauh waktu ia siapkan.

?Rin sayang sama Kakak,? suaranya terdengar dalam. ?Rin ingin masuk surga. Rin ingin menjadi bidadari di sana? Lalu Rin akan mencari Kakak, agar kita bisa bersama? Itulah sebabnya Rin selalu minta ditemani Kakak. Agar Allah tahu orang yang Rin inginkan. Sebab Rin, ingin menempati surga? bersama Kakak...?

Tak habis-habisnya Bay memandangi istrinya. Rasa haru yang terbangun sejak tadi, menggumpal, melahirkan jutaan perasaan yang tak bisa ia terakan lewat kata. Inikah keindahan dari? sebuah pernikahan?

?Rin sayang sama Kakak?? ucapnya lagi sambil memainkan ujung kerudung ungunya.

Dan malam ini, Rin tak lagi tahajud sendirian.

?

Secangkir Kopi Masih Tentang Cinta dan Kasih Sayang,?Ketika Cinta Tak Lagi Sekedar Peluk dan Cium, ThornVille-inspirasi.co, 16 Pebruari 2016.

?

Kisah sebelumnya:

#3:?Malam Ini Aku Kembali Menghitung Kenangan

#4: Kisah yang Tak Pernah Ada

  • view 230