‘Itu’ Ku Terjawab Sudah, Ternyata Memang Cinta

Pemimpin Bayangan III
Karya Pemimpin Bayangan III Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 14 Februari 2016
‘Itu’ Ku Terjawab Sudah, Ternyata Memang Cinta

Kutemukan lagi sebuah catatan di atas meja. Tak ada nama, juga tak ada identitas lainnya. Hanya tulisan. Hanya sederet pendek kata yang kebetulan memiliki makna.

Sudah yang kesekian kalinya aku menemukan ?mereka?. Entah dari mana dan bagaimana prosesnya, aku tak tahu. Barangkali diterbangkan angin, mungkin juga disusupkan masa lewat waktu. Entah. Tapi yang jelas, catatan-catatan itu selalu mampir di atas mejaku bersama setumpuk sunyi yang dikandungnya. Sunyi yang riuh, yang penuh dengan gejolak pemikiran yang dalam. Juga sunyi yang selalu memberiku getar usai membacanya.

?

barangkali serangga, tetumbuhan juga udara

tak pernah memiliki nama, atau usia

tapi semesta yang terus bernyanyi

seketika menggeliatkan tanya di hati

apakah mereka juga bertasbih, sebab manusia

bentuk tertinggi dari seekor makhluk

pun, sering lupa bertasbih

?

Kalimat sederhana itu yang tertera di sana, pada lembar yang kini tergeletak pasrah di atas meja. Setelah sebelumnya kudapati pula sebuah bentuk yang serupa: Sederhana, namun pekat dengan aroma yang sarat religi.

?

jika hati bicara, kata-katanya

tergantung si pemilik jiwa

apakah ia

terus mensucikan jiwa

lagi dan lagi

ataukah ia, selalu

menyiksa jiwa

selalu kotor dan terkotori

?

Dengan perasaan yang penuh kutaruh lembar itu ke dalam kardus bekas sepatu, bergabung bersama lembar-lembar yang ?terkirim? sebelumnya. Tapi kebijakan memang tak pernah bisa ditutupi oleh apapun, apalagi sekedar kotak rapuh yang hanya terbuat dari kardus. Seketika ia keluar dari sana dan merayapi setiap sel yang ada di otakku dengan sifatnya yang amat kritis. ?Masihkah kau bertasbih? atau ?Apakah kau seorang penyiksa jiwa juga? lantas saja begitu karib menyalamiku, memaksa anganku untuk pulang ke masa lalu.

Tapi masa lalu memang tak sekedar sepotong-dua kenangan, melainkan kumpulan-kumpulan waktu yang masih terus meneteskan hikmah. Entah lewat kebaikannya, entah pula kecerobohan. Dan tanpa dikomando, segala peristiwa yang lalu-lalu itu langsung mengepungku. Erat, memaksaku untuk kembali bergerilya dengan benak sebagai media.

Dengan agak takut-takut kumasuki lagi masa laluku, setelah sekian lama terkubur waktu. Ketakutanku bukan tanpa alasan. Sebab, seperti orang-orang yang lain juga, manusia memang paling takut terhadap dirinya sendiri. Takut terlihat tak berharga, takut melihat segala yang buruk-buruk pada dirinya, juga takut jika ternyata, mendapati dirinya tak lebih dari sekedar hewan ternak.

Dan ketakutan itu agaknya akan cukup lama menghantuiku.

Dalam sebuah episode, kulihat aku kecil tengah melempari lalu mengoleksi jambu, mangga atau buah-buah lainnya milik tetangga, bersama teman- teman usai mengeja alif-ba-ta di surau desa. Dan pada episode berikutnya kulihat aku SMP berbohong. Berpura-pura les ini dan itu padahal nonton bioskop bersama teman. Tentu saja dengan memakai uang les pura-pura itu. Dan pulangnya, entah iseng entah apa, berlomba-lomba ?bonceng mobil? apa saja yang lewat. Be-em, menjelma cecak yang merayap dan bergelantungan di belakang mobil-mobil itu.

Tidak cukup hanya itu, kali ini aku SMU yang berulah. Cabut dari belajar hanya untuk belajar merokok secara sembunyi-sembunyi di WC sekolah. Dan ketika kepergok guru, serta-merta bibir dan mataku pedih sebab sebungkus kretek yang paling murah dan tidak enak harus kuhisap terus menerus dengan kedua tangan terikat di belakang punggung. Sungguh sebuah hukuman yang kurang mendidik yang pernah diberikan seorang pendidik kepada muridnya yang sukar dididik, sesalku waktu itu sambil berhik-hik dalam hati.

Hingga di sini pengembaraanku berhenti. Ada sedih ada geli aku mengingat semuanya.

?Alangkah badungnya kau dulu!? sebuah suara mengecamku.

?Biar,? suara yang lain menjawab. ?Tak apa-apa orang muda badung,? belanya lagi.

?Tapi itu adalah dosa?!? kecaman itu terdengar lagi, yang langsung dibalas oleh suara yang satunya.

?Ah? ?hanya dosa kecil!?

Sesaat pertarungan batin itu usai. Tapi dosa tetaplah dosa, sesuatu yang membuat gelisah pemiliknya ketika ingat. Dan kegelisahan itu kian bertambah-tambah ketika aku teringat kisah seorang kyai.

Kyai itu, walau mungkin hanya reka-reka seorang Cak Nun, meninggal dengan membawa kemasygulan yang besar. Bahkan ia sempat tertahan dari gerbang surga, hanya karena slilit yang menyelip di giginya. Hanya karena menyeset sedikit bilah dari pagar tetangga usai memimpin kendurian -untuk menyelisiki slilitnya- tanpa sempat meminta maaf kepada pemilik pagar yang di ?curi? nya itu.

?Setidaknya dosaku tak bersifat khifayah,? desisku tegas sambil berusaha menekan bayangan tetangga yang marah ketika pohon buahnya kulempari. Dan ketika bayangan orang tua dan guru yang menghukum juga hadir, seketika kalimat hiburan tadi musnah.

Tapi bagaimanapun juga aku merasa sangat bersyukur. Walau tidak terlahir sebagai orang yang berada, walau dengan segala ?petualangan aneh? yang sempat kulakukan, hidup di Jakarta telah menjadikanku seorang yang sugih sebelum ber-banda.

Agaknya gelar ?Ibu Kota Negara? memang tak sekedar julukan tanpa makna. Nyaris segalanya ada di sini. Dari terasi hingga teknologi tinggi, dari tren mode hingga tempe.

Dan itu adalah sesuatu yang sangat menyegarkan. Walau tak segalanya lantas bisa dinikmati. Tapi setidaknya, kesempatan untuk tahu dan mencicipinya lebih besar ketimbang jika hidup di desa nenekku, misalnya. Dan, yang terutama kusukai dari kota ini adalah pasokan bukunya yang berlimpah.

Aku suka membaca, walau teman-temanku banyak yang tak suka membaca. Dan kesukaanku membaca membuatku selangkah lebih maju dari mereka.

Hampir segala yang berbentuk buku kulalap habis. Komik, pasti. Bahkan rumus matematikapun kupelototi. Dan, terutama sekali? karya sastra! Bukan apa-apa. Mataku yang terbiasa berkutat dengan huruf memaksa komik untuk cepat habis, sementara rumus-rumus begitu sering membuat kepalaku pening. Jadi, kupilih saja karya sastra. Selain lebih ?awet?, juga banyak mengandung hikmah dan keindahan. Walau beberapa yang agak ?berat? sempat membuatku pusing juga.

?Mengapa kau begitu suka membaca?? tanya temanku yang tak suka membaca suatu kali tentang kesukaanku membaca ketika aku sedang duduk-duduk sambil membaca di perpus sekolah.

?Karena aku suka membaca,? jawabku polos. Serius. Tapi temanku itu menganggapku bergurau. Ditatapnya aku dengan pandang yang aneh, sebelum akhirnya ia pergi sambil menggumamkan nama sebuah hewan.

?Kau yang pembasmi kutu?!? desisku dengan sebal. Apa hubungannya kesenanganku dengan hewan kecil itu?

?Mengapa kau begitu suka membaca?? pertanyaan itu terulang lagi, tapi dengan seting ruang dan waktu yang berbeda sebab aku kini telah kuliah.

?Hmmm??? tanyanya lagi dengan berdehem.

Baru kusadari tatapan Renda, pemilik tanya itu, begitu lekat ke wajahku. Seketika kerikuhan menghujamku, membuat bangku di perpus kampus terasa tidak rata. Sedikit dingin mengalir tiba-tiba di keningku.

Selalu begitu. Selalu perasaan malu yang sangat menerpaku setiap berhadapan dengan jenis yang satu ini: Perempuan. Aku tak tahu kenapa. Juga tak tahu kenapa harus kenapa. Bukankah malu sebagian dari iman?

?Ah, Si Iman saja tak pernah merasa malu,? ledek teman SMPku dulu seraya menunjuk ke arah Iman yang tengah memamerkan giginya di depan Dewi dan Sandra.

Tetap saja aku seorang pemalu.? Juga terhadap Renda, adik kelasku di jurusan sastra, yang juga tetanggaku.

?Emmh? eh, karena aku suka membaca...? jawabku setengah bergurau, mencoba menetralisir kegelisahan yang entah dari mana datangnya. Sekilas kutatap wajah yang belum lama berjilbab itu. Sekilas.

?Mmmh? sederhana, tapi cukup jelas dan tegas.?

Lho? Giliran aku bergurau justru orang lain menganggapnya serius.

?Cool?!? dua jempol terpampang di depanku, sebelum akhirnya menghilang bersama kepergian pemiliknya.

Aku kembali melongo. Iseng ?kali bocah itu!

Tapi kemelongoanku semakin berkurang ketika gadis Betawi itu, semakin kerap menemuiku di perpus. Toh ia juga sama seperti aku, seorang yang tengah mencari jalannya sendiri, batinku membela beberapa kesradak-srudukan Renda. Dan dengan pemahamanku yang sedikit lebih, kucoba untuk menularkan apa-apa yang kuketahui itu kepadanya.

?Satu-satunya makhluk yang mampu meredam manusia adalah waktu,? ucapku suatu kali ketika Renda bertanya tentang waktu. ?Itulah sebabnya manusia begitu terikat dan mencoba untuk memanfaatkannya seefektif mungkin,? lanjutku lagi.

?Hingga waktu menjelma uang?? Renda antusias.

?Tak sekedar itu, Da,? senyumku.

?Apa lagi??? tanyanya polos.

?Ibadah.?

?Kok??

?Tak ada kok,? aku tertawa.

?Ah,? rengutnya lucu.

Esoknya, selembar penuh tulisan kuberikan kepada Renda. Membahas secara khusus tentang waktu dan pemanfaatannya. Dan beberapa hari setelah itu aku tidak bertemu-temu lagi dengannya.

Saat tidak bertemu-temu itulah aku baru paham ?budak kebiasaan? yang dimaksud Al Ghazali.

Sudah tiga belas hari aku tidak bertemu dengan Renda. Dan sudah selama itu pula aku merasa ada yang kurang, terutama ketika aku ke perpus usai dzuhur. Tak ada lagi gadis betawi yang berceloteh pelan mengajak diskusi. Tak ada lagi suara-suara ?Ssst!? yang menegur ketika diskusi kami semakin hangat. Juga tak ada lagi pertanyaan-pertanyaan polos yang kadang mengundang, emmh? entah apa namanya. Semuanya menjadi terlalu biasa bagiku. Terlalu? entah.

Inikah perasaan ?itu?, tanyaku pada hati. Dan hati menjawab tanpa jawaban sebab tak semua jawaban selalu menjawab. Dan sebuah pertanyaan kadang memang tak sekedar pertanyaan. Seringkali pertanyaan berbuntut pertanyaan, yang melahirkan lagi beberapa pertanyaan lanjutan. Kembali batinku bermonolog, mencoba menderaikan ikhwal dan musabab ?itu?ku yang mengganggu. Tapi hingga hari berganti pagi lagi, belum satupun penjelasan logis yang berhasil kurumuskan.

Barangkali itu cinta, tebakku. Tapi apa itu cinta belum pasti benar kuketahui. Memang sering kudengar orang-orang mengharamkannya. Tapi itupun bukan kepada cinta, melainkan kepada caranya yang salah. Dan sejauh kesadaranku, antara aku dan Renda tak pernah terjadi pacar-memacari.

Juga sempat kudengar bahwa cinta, seringkali dikait-kaitkan dengan zina.

Ah, apa pula zinaku dengan Renda? Belum pernah sekalipun aku bersepi-sepi dengannya, memegang tangannya, atau saling berkhayal tentang fisik masing-masing, misalnya.

Barangkali itu cinta, ujar hatiku lagi sambil terus mencari-cari hakikatnya. Dan dalam pencarianku itu, berkelebat-kelebat bayangan Renda yang pernah terekam oleh inderaku. Silih berganti antara wajah, senyum dan suaranya.

Ketika melihat rumput aku melihat Renda. Maka kutanyakan cinta kepada rumput. Tapi rumput menjawab dengan cinta yang beku. Sementara matahari menyengat tanyaku dengan cintanya yang terik. Hingga akhirnya, cinta berhasil kutemukan.

Saat itu, usai berwudhu dan dzuhur berjamaah di mushala kampus, tiba-tiba terbit pertanyaanku tentang shalat. Mengapa orang harus shalat? Mengapa aku harus shalat? Benarkah hanya sekedar kewajiban? Kebutuhan? Dan sunah ba?diyah serta dzikir yang terhampar di sekitarkulah yang menjawab.

Ini tentu karena cinta. Karena cinta makhluk kepada Khaliknya sebab telah diberi cinta yang begitu besar lewat hidup. Lewat segala yang menopang hidup. Dan sebuah jawaban serta-merta melahirkan jawaban lainnya sebab hidup memang penuh dengan kait dan rantai.

Mengapa harus cinta, tanyaku, yang juga kujawab sendiri: Hanya Allahlah yang tahu sebab konon, itu adalah panggilan sayang ?Nya. Bahkan jika 99 nama agung ?Nya dilebur, maka nama yang akan muncul hanya satu: Cinta, Sang Maha Cinta.

Lalu dengan cinta ?Nya, Ia percikkan segala simbol keilahian ?Nya keseluruh ruang dan waktu. Terciptalah semesta, termasuk manusia di dalamnya. Dan sunatullahpun berjalanlah. Simbol kasih sayang yang diperoleh wanita, serta keagungan dan keperkasaan bagi lelaki, terus bergerak dan mencari cara untuk menyatu sebab penyatuan dari keduanya akan menetaskan simbol baru buah ke-Maha Segalaan ?Nya, rahmat.

?Itu?ku terjawab sudah. Ternyata memang cinta. Tinggal sebuah pertanyaan lagi yang harus kujawab.

?Sudah hampir maghrib, Bang,? sebuah suara penuh cinta membuyarkan lamunanku tentang cinta. Suara itu milik Renda, sosok yang kini telah menjadi istriku. Agak tergeragap kuterima sarung yang disodorkannya.

?Da lihat Abang serius dari tadi. Mikir apa, sih?? tanyanya sambil memegang punggung tanganku. Srrr?! Sebuah getar halus merambati sekujur tubuhku, membuatku kembali tergeragap. Gugup tapi senang. Bahkan setelah enam bulan usia perkawinan kami, aku masih sering panas dingin jika berdekatan dengannya.

?Ah-eh?ini?mikir cinta. Eh? bukan!? jawabku kacau. Sebuah dingin kembali mengalir di keningku.Tapi kali ini ada tangan lembut yang mengusapnya.

Beberapa saat kemudian, setelah aku berhasil meredam sensasi getar yang tadi menjalar, kuceritakan semuanya kepada Renda seraya mengeluarkan semua catatan yang pernah kuperoleh itu.

?Lho? Bukannya ini catatan Abang sendiri? Tulisannya pun sama dengan tulisan Abang,? ucapnya kemudian, setengah menuduh.

?Ah, masa?? raguku sambil melihat kembali catatan-catatan itu.

?Benar, Bang. Lagi Abang kan biasa begitu.?

?Biasa apa, Da??

?Itu, tuh!? Renda menunjuk ke beberapa majalah dan surat kabar yang tertumpuk di sudut meja. Keningku sedikit berkerut. Apa hubungannya?

?Usai membaca sesuatu, Abang pasti menulis. Dan tulisan-tulisan Abang selalu bertolak belakang dengan tema yang dibaca,? kalimat Renda terdengar begitu yakin, seakan-akan ia sendirilah yang menjadi diriku.

Benarkah? Mengapa aku tak menyadarinya? Tapi akhir-akhir ini aku memang tengah mendalami segala yang berkenaan dengan Israel, Amerika, Singapura, Australia juga isu-isu tentang terorisme yang mereka gubah sendiri, yang semakin lama semakin terasa seperti kumpulan dongeng yang bodoh dan murahan.

?Tapi aku tak pernah menulis puisi, Da. Hanya cerpen dan esai,? sergahku mencoba berkeras.

?Lho? Yang waktu itu?? Renda juga berkeras sambil menyebutkan sebuah puisi yang pernah kuberikan.

?Ya, hanya itu yang pernah kubuat seumur-umur, khusus untuk?? kalimatku menggantung, terpenggal panas yang tiba-tiba meraja pada wajah dan hatiku. Jengah. Puisi itu memang kubuat khusus untuk Renda, beberapa saat setelah akad nikah. Isinya tentang cinta. Cinta dalam cinta. Cinta yang melahirkan cinta. Juga cinta yang membawa semua cinta keharibaan Sang Empu Cinta. Ah...

Kesenyapan menjelma di antara kami. Tapi kesenyapan yang indah, seindah mentari yang terbit di mata Renda. Aku menunduk. Renda juga menunduk. Tapi cinta tak menunduk. Cinta justru bangkit dan memasang tenda-tenda kebahagiaan di atas kami. Samar kudengar Renda berterima kasih, lalu senyap kembali.

?Barangkali itu catatan cinta, Bang,? ucap Renda pelan, beberapa jenak kemudian.

?Emmh?? suaraku juga pelan.

?Cinta sufi, Bang,? ucap Renda lagi.

?Emmh??

?Emmh???

?Emmh?!!!? kami tertawa bersama. Kuusap kepala Renda perlahan. Beberapa kali kami bertukar kata tentang sufi, tentang cinta. Tentang cinta terindah para penggila Allah itu.

?Jakarta indah ya, Bang?? Renda berkata lagi. Agaknya ia terkenang pada proses pernikahan kami. Tak ada adat yang bertele dan memberatkan, juga tak ada halangan dari keluarga. Padahal kami belum kelar kuliah.

?Bukan Jakartanya yang indah,? ucapku.

?Habis? apanya, Bang?? kebiasaan Renda datang lagi, polos.

?Islamnya?? sahutku sambil ikut mengenang juga.

?Tapi Jakarta lebih tenang, Bang, tidak seperti di Irak dan Palestina,? kepala Renda semakin rapat di bahuku.

?Di sana juga indah, Da,? sahutku. ?Di sana banyak sufi yang syahid,? ucapku lagi sambil menggoret-goret pena ke selembar kertas.

?Kalau di sini, Bang??

?Kalau di sini sufinya dianggap teroris,? suaraku sedikit kelam. ?Barangkali teroris yang penuh cinta ya, Da??

?Emmh??

Sejenak Renda terdiam. Tapi jenak berikutnya ia berbicara lagi.

?Abang juga sufi??

?Mudah-mudahan, Da,? aminku. Namaku memang diambil dari salah satu mereka.

?Tulis catatan, Bang,? Renda setengah meminta.

?Seperti ini??? kuberikan kertas yang tadi kucoret-coret.

?

ketika semua mimpi tak lagi angan

sepercik kata telah lagi termaknakan

terus, lewat tinta demi tinta

peluru

juga hujan batu-batu

dan? waktupun menjelma cinta

yang terus mengintan

?

lalu jagat raya melingkar

konsentrik, ilusif

nyata

sebab itu cara matahari bersedekah

?

bila bulan tersenyum

sebab hari ini

perang tak lagi dendang

sebab bumi, juga

cuma sebentuk lingkar

dari titik-titik kecil yang terus

terbentuk, dan berpusing

setiap detik

ke satu titik, dalam sujud

?

?Persis?!? Renda menanggapi. ?Persis catatan yang di kardus,? katanya lagi. Aku tersenyum-senyum saja. Bukan masalah lagi bagiku siapa yang menulis ?mereka?. Barangkali diriku. Barangkali juga orang lain.

?Apa judul yang bagus, Da??

?Emmh?sufi?catatan cinta? Bagaimana kalau catatan seorang sufi, Bang??

?Tapi aku belum sufi, Da, baru ingin?? sergahku.

?Catatannya dulu, Bang, yang sufi?? kembali tawa menyelubungi kami. Dan maghrib kali ini kusedekahkan kepada Renda, dengan surat An-Nisaa? sebagai pembuka?

?

ThornVille-inspirasi.co, 1408-2310, direpro ulang tahun 2016.

Link terkait?: Renungan Cinta di Malam Takbir

  • view 199

  • muftiyah azizah
    muftiyah azizah
    1 tahun yang lalu.
    kereeen , bacanya sampe terharu :') minta izin ngutip beberapa kalimatnya buat ditulis di status boleh kah?

    • Lihat 1 Respon

  • Den Bhaghoese
    Den Bhaghoese
    1 tahun yang lalu.
    Adem membaca tulisan ini..mana nih pemilik lapaknya? Matur nuwun Sob

    • Lihat 3 Respon