Karena Setiap Penyerang, Akan Berbalik Menjadi yang Diserang

Pemimpin Bayangan III
Karya Pemimpin Bayangan III Kategori Agama
dipublikasikan 14 Februari 2016
Karena Setiap Penyerang, Akan Berbalik Menjadi yang Diserang

"Karena setiap penyerang, akan berbalik menjadi yang diserang.
Aku suka memperhatikan cara orang balik menyerang, lalu di situ aku bertemu nilai"
(?#?BeningEmbun, dengan sedikit perubahan).

?

Postingan milik teman di atas mengingatkan saya pada selembar komik buatan??#?KharismaJati, si komikus hitam-putih, yang saat hitamnya muncul begitu membuat bergidik, namun ketika putihnya yang hadir benar-benar membuat saya geleng-geleng kepala sendiri buah keilmuannya.

Apakah ini bentuk 'kepribadian yang pecah' versi terkini? Mmmh... saya menduga ini cuma tentang ma'isyah, Kawan, walau tak menutup kemungkinan semua cuma tentang hasrat berkesenian yang barangkali ingin tetap bebas, walau entah kebebasan yang seperti apa...^_

Dari sumber gambar yang sama pula sama terpikat dengan teori 'Disonansi Sistem Nilai' yang... begini kutipan ceritanya...^_

?

(Gambar 'guru spiritual'): "saya dulu juga pernah liberal seperti anda! Tapi kemudian di usia senja, saya baru sadar... bahwa kembali kepada jalan Tuhan adalah yang terbaik. Rekan-rekan seangkatan saya juga mengalami proses spiritual yang sama.?

(Gambar tokoh gigi dua): "Berarti, jadi liberal itu bagian dari proses?"

(Gambar 'guru spiritual'): "... Gimana, ya??"

(Gambar tokoh gigi dua): "Bukan berarti memahami yang tidak agamis itu tidak ada gunanya, kan?"

(Gambar 'guru spiritual'): "Memang! Asal jangan terjebak terus di situ..."

(Gambar tokoh gigi dua): "Bisakah Anda menentukan solusi agar tiap generasi tidak harus mengalami disonansi sistem nilai seperti itu?"

(Gambar 'guru spiritual'): "... Cafek, ah! Saya udah terlalu tua untuk memikirkannya."

?

Yang menjadi greget kemudian adalah pertanyaan kita terhadap diri sendiri:

"Apakah memang kita 'wajib' untuk melakukan semua itu? Harus selalu salah untuk kemudian baru memperoleh hikmah kebenaran? Musti menjadi penyerang terlebih dahulu, hanya demi memahami betapa serangan itu cuma akan kembali melahirkan serangan baru, serangan balik, dengan putaran yang terus berpusar saling pantul-memantul... hanya demi menemukan sebongkah 'nilai' yang benarkah itu adalah nilai? Dan mengapa kita tidak langsung saja menuju substansi isi, dan bukannya malah sekedar putar-memutar di ranah tepi?"

Pertanyaan greget, yang anehnya sudah dijawab oleh komen di sebuah postingan tadi malam, jauh waktu sebelum posting saya ini dibuat:

"Ternyata seorang Bayangan pun butuh waktu untuk memahami ?waktu? itu sendiri. Walau mungkin kesadaran yang terlambat, namun benarkah bila itu kita sadari sebelumnya, akan memberi lebih banyak kesempatan untuk mengeja maknanya? Ataukah malah sebaliknya?! Ah, memang godaan manusia adalah suka berandai-andai. Semoga ke depannya, kita lebih bisa bersikap arif dalam memanfaatkan waktu (dan juga semua hal dalam hidup). Insya Allah, aamiin yaa Robb." (#Nisrina, Tetesan Darah Pengingat).

Hufh... Ternyata cerita silat yang menjadi perantara hikmah hari ini. Betapa amat berlikunya Musashi dalam menyusuri 'Jalan Pedang' yang ia yakini, atau seperti kata Ibu waktu saya masih sekolah dulu, saat serial silat mandarin trilogi SinTiaw Enghiong lagi ramai-ramainya diputar di salah satu tv swasta yang sekarang cukup banyak memproduksi sampah.

?

(Ibu): "Orang Chinesse mah gitu, yah..."

(Saya): Mengernyit sebentar sebelum bertanya, "Memangnya kenapa, Bu..?"

(Ibu): "Hidupnya berliku-liku..." kata beliau dengan mimik yang kelam dramatis, sesuai dengan ampas cerita yang agaknya cukup kuat nyantol di benak beliau.

(Saya): Nyengir sendiri tanpa mampu bicara sepatahpun, karena beliau tentu saja tidak tahu betapa amat berlikunya peran yang berseliweran dalam cersil terkini semisal Rahasia Mokaw Kawcu, Hina Kelana atau bahkan yang paling romantis sekalipun seperti Pendekar Binal (Tenang, Sob, isinya bebas dari unsur pornografi, yang anehnya tetap bisa menarik tanpa harus membeber aib juga aurat..^_), yang tentu saja tidak saya sarankan untuk beliau membacanya karena bukankah tak semua orang mampu menyantap hidangan yang sama? ^_

?

Dan kehidupan asli kemudian menyadarkan saya bertahun kemudian, betapa boan pwe (saya-Red) ?tak lebih dari seorang murid Partai Hidayah atau Pang CarutMarut yang amat tidak berbakat, yang dengan amat heran mengetahui bahwa kehidupan nyata, sesederhana apapun rangkaian kejadian kesehariannya, anehnya tetap lebih berliku dari cerita buatan yang paling penuh intrik sekalipun...!!!

Sementara tokoh silat yang paling berdarah-darah tetap mampu melewati ?Jalan Al Faruq?, saya tetap sering tergagap menelan kebenaran, sambil terus terkungkung dalam pertarungan keburukan yang terasa seperti nyaris tanpa ending.

Dan saat sang tokoh utama kemudian berhasil meyakini jurus-jurus tercanggih yang amat mengagumkan pasca latihan dan pengembaraannya, saya tetap selalu mengelus dada karena telah berlatih sejak usia amat mentah namun tetap saja tak pernah bisa mematangkan jurus Sholat, dan kembali harus banyak bersyukur ketika ada satu-dua roka'at yang benar-benar khusu' tanpa sedikitpun kehadiran hadats pikiran, yang ketika iseng saya kalkulasi sendiri, alangkah merahnya raport ibadah saya, yang jelas saja menjadikan saya tak pernah naik tingkat di 'Perguruan Hidup' milik-Nya ini. Hiks? T_

Postingan ini kemudian menjadi anti klimaks saat saya memutuskan untuk tak menyelipkan pesan apapun sebagai pesan moral di dalamnya.

"Apakah ini tentang negara, Bay?"
Bukan, jawab saya.
?Tentang orang-orang yang kebetulan mendiami suatu negara dengan cara yang ajaib??

Bukan, jawab saya lagi.
?Atau tentang bagaimana cara terbaik untuk menjalani hid...?
"Bukan...!!!" Kali ini saya berteriak. Karena tulisan ini memang sekedar sambung rasa di suatu kopi di senja hari, dengan kepulan asapnya yang entah mengapa terlihat begitu sepa di pucuk mata saya, yang akhirnya saya akhiri dengan sebuah gambar yang tak kurang sepa-nya.

Gambar dunia versi??#?KharismaJati, yang belum tentu saya amini. Walau kenyataan sering kali menyadarkan saya betapa amat taiknya dunia, dan -terutama sekali- betapa amat taiknya saya, yang terus saja berkubang di dalamnya tanpa mampu merubah taik tersebut menjadi pupuk: Bagi dunia saya di masa setelah dunia taik ini. Bukan begitu, Kawan?? T_


(Sebuah postingan yang saya buat khusus untuk diri sendiri, yang entah mengapa akhirnya justru saya posting di akun ini...).

?

Secangkir Kopi Tanpa Eek, ThornVile, 2501516.

*Sumber gambar: KharismaJati.

*Sambungan dari link postingan sebelumnya: Sebenarnya Kita Mengajak Mereka Menuju Allah, Atau Justru Mencoba Menjadi Allah?

?

  • view 144

  • Den Bhaghoese
    Den Bhaghoese
    1 tahun yang lalu.
    Bay, daku selalu terkesima setiap membaca tulisanmu diantara betapa lemotnya otak untuk merangkak merayap mengais yang sanggup kuserap demi suatu pintu menuju ke pintu lainnya. Lagi-lagi daku harus membacanya berulang kali...edaann. T_ Salam kopi malam Sobat

    • Lihat 2 Respon