Hati-Hati Memposting Tentang Agama!

Pemimpin Bayangan III
Karya Pemimpin Bayangan III Kategori Agama
dipublikasikan 14 Februari 2016
Hati-Hati Memposting Tentang Agama!

Setelah memposting artikel yang berjudul ?Ustadz yang Lebih Hina dari Bangkai Anjing?, saya sempat vakum menulis. Bukan karena ada beberapa pihak yang merasa keberatan hingga mensomasi saya untuk berhenti menulis, melainkan lebih kepada perenungan pribadi mengenai efek buruk dari tulisan yang sebenarnya ditujukan demi kebaikan, yang pernah saya kupas dalam artikel ?Niat baik (yang Pada Akhirnya) Menyesatkan? di entah laman media yang mana. Langsung meluncur ke tema utama pagi ini, Kawan?^_

***

?Gue pengen audiens gue merasa tenang dan adem, Bay, makanya gue lebih banyak memakai tema-tema sufi dalam setiap khutbah jum?at. Toh hidup udah terlalu berat dan penuh karat, dan ga mungkinlah mereka disuruh memperbaikinya...?

Tahu-tahu kalimat itu yang keluar dari khotib muda di depan saya, yang membuat saya sontak menenggak kopi di cangkir. Dengan tegukan besar, yang sayangnya tetap tak mampu menyembunyikan kerut di jidat lebar saya.

?Trus.. Lu juga mengakhiri khutbah dengan ngomong ?Jika ada kata yang benar semata dari Allah dan yang salah dari gue, gitu...??

?Ya iyalah, Bay. Itukan adab wajib. Toh kita memang cuma wayang, yang sekadar memainkan peran dari Sang Dalang.?

Kembali saya hirup kopi dengan lebih kerap, sekerap kejadian seperti di atas yang anehnya terus berulang menghampiri saya, dengan riwayat, setting serta pelaku yang berbeda tapi tetap dengan isi yang sama, hingga akhirnya melahirkan ?Dialog Jiwa? di ruang komen fesbuk seorang teman.

?


Apa tujuan utamamu khutbah Jum'at ini, hai debu?


"insya allah saya ingin audiens lebih tercerahkan

menjadi lebih tenang dan bersyukur dalam menjalani kehidupan

yang kini kian penuh tantangan zaman, aamiin"


putar langkahmu

kembalilah ke rumah, dan salin ulang niatmu

sebab kau mencoba mengambil alih posisi -Ku

setelah itu, melangkahlah lagi dengan lebih bening dan syahdu

?

langkah awalmu menuju rumah -Ku kau tertipu

mencoba kangkangi hidayah sebagai buah khutbahmu,

apakah kau ilah manusia atau Aku Tuhan Semesta?

?

tapi getar ruhmu yang terus bergeliat di sudut hati,

memaksa -Ku untuk mengecupmu berulang kali,

lagi dan lagi,

memberimu paham apa itu delusi ikhlas dan apa itu lillah sejati.

?

mendekatlah kepada -Ku, dan jangan pernah terjerat menggantikan Aku

karena hidayah hanya milik -Ku, dengan kuasa penuh di tangan -Ku saat ingin Kubagi ke siapapun, dengan atau tanpa perantara siapapun

?

dalam hening sosok yang memang cuma debu ini kembali melangkah,

senyap sekaligus riuh,


"Allah Sang Terbesar, dan aku memang cuma debu

yang benarkah masih genap sebutir?"


"Bismillah..." ucap sosok debu dengan nada yang lebih ringan

kembali melangkah menuju rumah Tuhan

dengan hati yang tak lagi rawan

dengan jiwa yang lebih gagah, dengan asa yang lebih rupawan


"tiada daya dan upaya hanya Engkau,

duhai Telaga Segala Rindu

kau saksikan si bodoh ini mengucap asma -Mu

mencoba melakukan yang terbaik sekuat mampu

mengajak sebanyak mungkin manusia: menuju -Mu

dan setelahnya

biarlah cukup hanya Engkau sebaik pengakhir perkara

sedang hamba, tak lebih, hanya setitik perantara

bagi muara kesegalaan -Mu"

?

(?Delusi? dalam Di Bawah Kibaran Dosa)

Jawadwipa-Andalas, 2015-2016.

?

***

Ending yang menawan. Setidaknya cukup mencerahkan, jika saja suatu kejadian tak membuat semuanya menguap, mencair bersama pekik kecil istighfar yang terlontar dengan sangat spontan. Menyisakan cuma diam. Cuma hening yang dalam serta renung panjang yang menenung. Juga hela nafas, yang kian lama terasa kian sendat dan semakin getas.

Dan kejadian itu amatlah remeh. Amat biasa. Cuma sebuah postingan teman, yang sayangnya terasa amat menampar di kedalaman hati.

?Hari ini giliran tugas... Setelah kurenungkan, rasanya aku ingin mengundurkan diri jadi khotib?

Saya tidak tahu apa penyebab sang kawan menulis postingan tersebut. Barangkali ia tengah bergumul dengan dirinya sendiri, mencoba memaknai semuanya lagi -dengan pergulatan bathin di wilayah yang penuh dengan aroma Ketuhanan- atau entah apa, saya tak tahu pasti. Tapi sekiranya posting sang kawan ini terlahir buah rangkaian otokritik pengalaman beragama yang kerap saya posting akhir-akhir ini, alangkah mengerikannya saya?!!!

Dengan leverage sederhana saya coba untuk menghitung, berapa kira-kira potensi hilangnya kebaikan efek mundurnya sang kawan.

Jika beliau menyampaikan sedikitnya sepuluh kebaikan dalam setiap khutbah, yang barangkali hanya bisa dipetik sebanyak tiga kebaikan oleh semasing jama?ah, dikalikan dengan jumlah jama?ah jum?at yang hadir di masjid, yang kemudian dikalikan lagi dengan anggota keluarga plus tetangga kiri-kanan depan dan belakang karena mungkin si jama?ah menceritakan ulang kebaikan tersebut di ranah interaksi keseharian, semuanya dapat mencapai hitungan 10.800 kebaikan yang hilang?!!!

Itu baru jama?ah khutbah Jum?at, belum ceramah kajian bulanan, belum pengajian mingguan, dan lain sebagainya yang semakin membuat saya amat rajin menghela napas.

Sungguh amat tak terduga, bahwa keburukan sedahsyat itu: Terjadi? justru karena keinginan kita yang niat awalnya adalah baik, membaginya juga baik, serta tujuan akhirnya yang terus kita upayakan untuk baik juga.

Saya tak bisa membayangkan, entah akan seperti apa pula akibatnya, jika kita sangat bersemangat menghujat semua kekeliruan dengan amat sarkas, mencari kutu-kutu kesalahan pada diri setiap teman (dan juga yang belum dan bukan teman) yang memang akan terus dapat kita temukan karena siapakah di antara kita yang bisa untuk benar-benar terhindar dari dosa dan kesalahan??

?

Allah, ampuni hamba

?

yang tak juga paham cara: mencintai -Mu
dengan cinta yang harusnya cuma cinta saja

?

dengan cinta
yang benarkah itu semua adalah cinta?

(?Benarkah Cinta?? dalam Di Bawah Kibaran Dosa)

?

Secangkir Kopi Kehati-hatian dalam beragama, ThornVille-inspirasi.co, 1516.

  • view 157