Seonggok Tanya Tentang Cinta

Pemimpin Bayangan III
Karya Pemimpin Bayangan III Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 13 Februari 2016
Seonggok Tanya Tentang Cinta

Love in Dumay Volume 04.

?

Tiba-tiba saja Sa terdiam. Wajahnya terlihat berubah pucat dengan amat cepat, dengan sorot mata yang seperti sangat mendadak menjadi kosong yang cuma berisi berlaksa kesedihan. Ah, ada apa lagi, sih? Adakah yang terlewat oleh Ben?

?

Dengan agak bingung Ben menengok ke arah Ci, dan bertanya lewat sorot mata, apakah tulisan ini masih butuh dilanjutkan lagi? (Sebuah Cinta Bernama: Sa).

***

Kali ini keadaan bingung yang banyak mendominasi ben. Kebingungan yang semakin dalam dan bertambah bingung saat begitu banyak situasi, yang entah mengapa mengepung Ben dari bingung yang satu ke bingung yang lain, hingga menjadi tumpukan-tumpukan bingung yang terus menggunung tanpa ujung.

?

?Sa ga pernah menikah dengan Iin, Ben...? ucap Sa pelan, yang justru terdengar seperti ledakan jutaan nuklir di telinga Ben.

?

Bagaimana mungkin? Bukankah waktu itu Ben sendiri yang menjadi penghulunya? Atau... apakah semuanya tidak benar-benar terjadi, melainkan hanya sebuah rangkaian panjang memori yang meminjam asa menghendak nyata, yang akhirnya hanya mampu menjelma kejadian semu, dalam ruang kepala Ben yang terlalu liar akan mimpi? Atau... ah, alangkah membingungkannya keadaan ini!

?

Seperti orang linglung Ben menengok ke arah Ci, berharap dari sosok lembut ini Ben dapat mendengar kenyataan yang lebih ramah dan mendekati akal sehat.

?

Tapi Ci menjawab tanpa jawaban. Bukan karena pertanyaan Ben yang terlontar tanpa pertanyaan, melainkan memang lazimnya semua kosong harus menjelma hening. Yang sunyi, atau barangkali juga suci seperti yang biasa diucap oleh para sufi.

?

?Mengapa...??

?

Hanya itu kata yang berhasil Ben rupa. Entah ditujukan kepada siapa. Sebab sejatinya tak semua tanya mesti berakhir dengan jawaban atau tujuan

?

***

?

?Bukankah kalian saling mencintai, Sa?? Ben bertanya agak keras. Mungkin karena masih menganggap semua yang terjadi waktu itu adalah kenyataan.

?

?Terlalu dini untuk mengatakan itu, Ben,? jawab Sa sambil melirik sekilas ke arah Ci yang terus saja diam dan menunduk.

?

?Lho...? Tapi...?? Ben tak dapat menyelesaikan pertanyaannya. Bingung. Heran.

?

?Tanyakan pada dunia, apa itu cinta...? ucap Sa pelan, mengutip kata-kata yang katanya diklaim paling populer tentang cinta.

?

***

?

?Sa suka sama Iin, Ben...?

?

?Maksud Sa? Sa cinta dia??

?

?Ah, Sa ga paham apa itu cinta, Ben...?

?

Sa memang pernah mencintai seseorang, dalam sebuah marathon yang amat panjang! Tapi sekarang Sa merasa ragu, benarkah dulu itu cinta? Dan bukannya kebodohan bertabur sedih yang konyol dan penuh luka? Lantas bagaimana mungkin seseorang yang tidak paham tentang cinta dapat mencintai...?

?

***

?

Jika ada makhluk paling aneh dan kontroversial di dunia ini, makhluk itu tentulah bernama: Cinta.

?

?Ah, barangkali memang cinta mesti dibaca noda, Ben...?

?

?Tapi cinta yang mana dulu, Sa...?! Jika cinta yang membawa kepada zina, jelas benar adanya. Lantas bagaimana dengan cinta yang lain? Yang tak berhenti menerbitkan cinta kepada Sang Maha Cinta...?!?

?

?Cinta yang cuma berdasarkan perasaan, hanya akan berakhir dengan kesedihan...? tiba-tiba saja Ci ikut bicara, yang seketika membuat Ben dan Sa memandang kepadanya dengan putus asa.

?

?Tahu apa kau tentang cinta, Ci...?!? bantah Ben berbarengan dengan ketidak setujuan Sa, yang langsung memahat cemberut hingga carut-marut di bibir Ci.

?

?Bahkan dalam pertemuan ta?aruf sekalipun, perasaanlah yang seringkali menjadi alasan terkuat untuk melanjutkannya... Lantas apakah kemudian mereka berakhir dengan kesedihan, Ci...?? ucap Sa dengan sedikit bergetar.

?

?Atau cinta Maria kepada mahasiswa Mesir itu...? lanjut Ben sambil menyebut tokoh sentral Ayat-Ayat Cinta-nya Kang Abik.

?

?Tapi itu fiksi, Ben...? kelit Ci dengan cepat.

?

?Adakah yang mengkritisinya sebagai sebuah kesalahan, Ci...? ucap Ben lagi masih dengan putus asa yang sama.

?

Kesunyian kembali singgah, dan memberi mereka masing-masing sepuisi tentang sepi.

?

Setelah agak lama, kembali Ci berkata, yang lebih terasa sebagai sebuah pertanyaan bagi dirinya sendiri.

?

?Barangkali caranya yang salah...?

?

Pernyataan yang serta-merta menyeret benak untuk kembali bertanya, salahkah cara Mulan dan mahasiswa muda itu? Atau cara Sa dengan In? Atau...?

?

Pernyataan yang terus saja menyelusup ke setiap benak dan ruang hati terdalam, yang seketika melahirkan goresan kecil dalam posting ini, yang ternyata tak merubah suasana jiwa menjadi lebih kaya.

?

jika cinta adalah tuhan

dia pasti memiliki nabi

dan kita sebagai makhluk yang memujanya

tak akan pernah lagi gagap

dalam ritual kebodohan yang sedih...

?

Diam-diam Ben pandangi wajah Sa dan Ci yang kosong, sambil bersiap melanjutkan lagi tulisan ini dengan lebih berisi. (Bersambung ke episode 5: Monolog Luka).

?

Dumay, Februari 1216.

  • view 169

  • Den Bhaghoese
    Den Bhaghoese
    1 tahun yang lalu.
    Beuh, baru online daku langsung terkejut dengan produktifitas tulisanmu...maaf Sobat, kubaca satu persatu dahulu...akan memakan waktu yang lama untuk mencerna....harap maklum (*keterbatasan otot)

    • Lihat 2 Respon