Renungan Menghilangnya Artikel “Ustadz yang Lebih Hina dari Bangkai Anjing”

Pemimpin Bayangan III
Karya Pemimpin Bayangan III Kategori Kisah Inspiratif
dipublikasikan 12 Februari 2016
Renungan Menghilangnya Artikel “Ustadz yang Lebih Hina dari Bangkai Anjing”

Setelah beberapa kali akun media sosial pribadi saya dibreidel entah siapa karena konsisten memposting tema yang berhubungan dengan agama ?termasuk otokritik tentang agama itu sendiri- kembali salah satu tulisan saya di akun terbaru raib secara amat ghoib di medsos.

Mungkin dihapus orang, bisa jadi dibuang oleh saya sendiri, walau untuk yang terakhir saya amat tak yakin mengingat betapa bodohnya menghapus karya sendiri yang telah susah payah dikulik-kulik setengah hidup, agar dapat menjadi suplemen tambahan bagi jiwa yang telah amat malnutrisi akhir-akhir ini.

Tapi saya bersyukur masih memiliki back up di ?mesin ketik tenteng? saya yang sudah agak renta usianya, hingga dapat kembali diposting di inspirasi.co, yang semoga ada seketip hikmah yang dapat kita sesap bersama. Langsung menuju tema utama, Kawan?^_

***

Beberapa waktu yang lalu saya belajar mengaji kepada teman baru di medsos, gegara posting beliau ?mengundang air mengambang di pelupuk sipit mata saya, yang memang gampang kriyip-kriyik ini.

To the point aja ke kisah yang pernah ditulis Rumi, oke..ke..ke..ke.. (dengan latar suara sedikit echo bin gema..^_).

?

Musa berjumpa dengan seorang penggembala di tengah jalan, yang tengah berteriak, ?Wahai Tuhan yang memutuskan sebagaimana yang Engkau kehendaki,

Di manakah Engkau, supaya aku dapat mengabdi kepada-Mu dan menjahit sepatu-Mu dan menyisir rambut-Mu?
Agar aku dapat mencuci pakaian-Mu dan membunuh kutu-kutu-Mu dan menyediakan susu untuk-Mu, O pujaanku.
Supaya aku dapat mencium tangan-Mu yang mungil dan mencuci kaki-Mu yang kecil dan membersihkan kamar-Mu yang mungil di saat tidur.?


Mendengar kata-kata dungu ini, Musa berseru, ?Hai, kepada siapakah engkau berteriak?
Ocehan apa ini! Fitnah dan ngawur! Sumbatlah mulutmu dengan kapas!
Sesungguhnya persahabatan dari seorang yang bodoh itu permusuhan: Tuhan Yang Maha Luhur tidak menghendaki pelayanan seperti itu.?

Pengembala itu menyobek pakaiannya, menghela nafasnya, lalu melanjutkan perjalanan menuju hutan belantara.


Kemudian turunlah wahyu kepada Musa: ?Engkau telah memisahkan hamba-ku dari-ku.?
Apakah engkau diutus sebagai seorang Nabi untuk menyatukan, atau untuk memisahkan?
Aku telah memberikan kepada setiap orang gaya pemujaan yang khusus, Aku telah melimpahkan pada setiap manusia bentuk pengungkapan yang khas.

Ungkapan Hindustan adalah yang terbaik bagi orang Hindustan; bahasa Sind adalah yang terbaik bagi masyarakat Sind.

Aku tidak memandang pada lidah dan ucapan, Aku memandang pada jiwa dan perasaan batin.
Aku memandang ke hati untuk mengetahui apakah ia rendah, walau kata-kata yang terucap tidak rendah.

Cukup dengan ucapan-ucapan dan kesombongan serta kiasan-kiasan! Aku ingin terbakar, terbakar dan terbiasa dengan keterbakaran!

Nyalakanlah bara cinta di dalam jiwamu, biarkanlah seluruh pikiran dan ungkapan.
Wahai Musa, mereka yang paham ketentuan-ketentuan adalah satu macam, mereka yang jiwanya terbakar adalah macam yang lain.?

Agama cinta lepas dari segala agama. Para pencinta Tuhan tidak mempunyai agama melainkan Tuhan itu sendiri.

?

Tentu tak semua kata harus kita cerna secara harfiah melalui konteks kata semata, terutama karena dunia sufinya Rumi, belumlah menjadi dunia sehari-hari kita, sehingga kita tak lantas harus melepaskan semua syari?at agama beserta seluruh regulasi fiqih di dalamnya. Tapi ada sentilan halus di situ?^_

Bahkan Musa pun, yang 'belajar langsung' dari Tuhannya, mengalami pula 'kebodohan putih' dari ghiroh (semangat) yang tinggi akan pemurnian bentuk serta cara berinteraksi dengan Allah, yang harus dengan pakem-pakem tertentu, yang akhirnya menjadikan kita lebih fokus terhadap regulasi religi tersebut alih-alih menjiwai ke siapa tujuan pakem itu. Hal itu mengingatkan kita pada apa yang saya pribadi menyebutnya sebagai Falak Gate.

Dalam Islam, mempelajari ilmu perbintangan (ilmu falak) hukumnya terlarang, terutama yang termasuk dalam kategori?tanjimi?(ramalan perbin-tangan/astrologi) dan bukannya ilmu?Tasyir?(astronomi). Landasan yang paling utama dari pelarangan tersebut adalah adanya kekhawatiran manusia lebih cenderung untuk gandrung alias lebih menyukai serta takjub kepada perbintangan itu sendiri alih-alih mengagumi PENCIPTA perbintangannya.

Kesalahan itu pulalah yang tanpa sadar dilakukan oleh Musa AS, yang sayangnya hingga kini masih gemar pula untuk dilakukan oleh orang-orang suci yang banyak bertebaran di negeri ini, karena menurut mereka, agama yang murni dengan regulasi aturan fiqih yang pyur saklek jelas lebih penting dari tujuan agama dan regulasi itu sendiri: Penghambaan yang murni dan sepenuh jiwa terhadap yang disembah ?Allah SWT- sesuai dengan kemampuan serta pemahaman masing-masing selama MASIH MELAKUKAN PROSES meningkatkan keilmuan spiritual.

Besar dugaan saya betapa akan meradangnya mereka yang terkaing-kaing akibat ?pembacaan Alqur?an dengan langgam Jawa? yang sempat membuat heboh Negeri Bayangan ini, jika diberitahu ibroh dari ?kejadian kecil nan sepele? masa kenabian dulu, melalui percakapan antara Muhammad SAW dengan sahabat.

Kira-kira kisah bebasnya seperti ini:

Sahabat: ?Ya Rasulullah, Bilal adzannya ga bener, mengucapkan lafadz Asyhadu? dengan Ashadu??

Muhammad SAW: ?Apakah kau tahu, Bilal bermaksud mengucapkan apa???

Sahabat: ?Tahu, Ya Rasulullah??

Muhammad SAW: ?Ya sudah??

Mungkin redaksi kejadiannya tak sama persis, namun sari pati kisah tersebut tak ada yang saya reduksi hanya demi kepentingan tertentu. Dan tak perlulah kita menyikapi semua hal berdasarkan teori konspirasi, walau memang ada cukup banyak kejadian yang mengarah kesana, namun, sekali lagi: Tidak semuanya?^_

Sentilan halus tersebut menyentil saya untuk menyentil lagi dengan sebuah kisah sentilan yang lainnya, yang memang cukup sakti untuk menggetarkan ?urat-urat sentil? kita yang gemar kita gunakan untuk menyentil orang lain? Halaaah?! Ini paragraf kenapa jadi keriting pake bingit begini sih, Bay? Ssst! Yang penting kan sentilannya, Sob. So? Mari kita sentil bersama-sama dengan penuh kalem?^_

?

Syahdan di Yaman, seorang pemuda yang bersambung silsilahnya hingga Rosulullah, merasa cukup mempelajari ilmu-ilmu syariah, dan bertekad bulat untuk berdakwah di wilayah ?Aden. Pemuda tersebut kemudian sowan ke hadapan ayahandanya untuk meminta restu.

Tapi bukannya merestui dengan sangat bangga ?bahkan kalau perlu mengadakan syukuran dan selamatan besar-besaran, sang ayah justru tidak seketika itu juga mengizinkan, malah mensyaratkan satu ujian lagi untuk dilalui si pemuda.

?Boleh saja? Namun sebelumnya, tolong bawakan dulu ke hadapan ayah hal yang lebih hina dari kamu, Nak..?, ujar sang ayah tenang. Arif.

Langsung si pemuda berkeliling. Kesana-kemari. Kesono juga kesitu. Seharian penuh ia mencari ?pesanan? sang ayah, hingga akhirnya menjelang petang ia pulang dengan tangan hampa.

?Mengapa kau tidak membawa apa-apa, Nak??? tanya sang ayah, dengan tenang yang masih seperti sebelumnya.

?Maaf, Ayah...?

?Apa yang kau temui di luar sana???

?Ananda bertemu anak-anak kecil? Ananda pikir mereka tidak lebih hina dari ananda. Mereka tentu tidak banyak berdosa seperti ananda ini?? si pemuda diam sejenak, menarik nafas.

?Lalu ananda bertemu orang tua yang jelek perangainya?? lanjut si pemuda, ?Namun ananda juga merasa tidak lebih mulia darinya... karena bisa saja dia bertaubat lalu mendapat derajat yang mulia buah kesungguhan pertobatannya... Lalu ananda melihat seonggok bangkai anjing di sudut kota...?

?Lalu??? tanya sang ayah lagi, masih dengan tenang serupa juga.

?Masya Allah?! Bangkai itu kelak tidak akan dihisab sebagaimana manusia ini! Duhai Ayah? Ananda rasa, bahkan bangkai anjing itupun ? tidaklah lebih hina dari ananda?? si pemuda menunduk. Diam. Terpekur memandangi lantai yang saat itu seakan-akan mengatakan pada dirinya bahwa ia bahkan jauh lebih bermnfaat serta lebih mulia dibandingkan si pemuda.

?Sepertinya tidak ada yang lebih hina dari diri ini, Ayah.. Maafkan ananda jika tak bisa memenuhi perintahmu, Ayah?? sedikit sedih menggores di wajah si pemuda, menyisakan murung yang membayang di keseluruhan diri dan jiwa si pemuda.

Sang Ayah tersenyum, sambil berujar,

?Anakku?Sekarang Ayah izinkan kau berdakwah, Nak? Kau sudah siap kini...?

?

Sentilan yang cukup menyebalkan, yang membuat kita terpaksa mesti merekonstruksi ulang lagi semua yang telah kita lalui, dalam konteks hubungan dengan orang lain.

Apakah keilmuan kita sudah cukup untuk menjadi seorang sahabat yang baik? Menjadi seorang ibu, ayah, bos bisnis, khotib, kakak, adik, anak? juga menjadi seorang guru dan pendakwah? Yang baik?? Entah itu di lingkup keluarga, maupun juga dikalangan teman-teman dan yang lebih luas lagi??

Ah, bahkan seringkali kita lupa menafsirkan bahwa dakwah cuma sekedar menyuarakan kebenaran, tanpa peduli cara atau gaya yang kita punya, dan bukannya menyampaikan kebenaran dengan cara mengajak, dengan cara yang semoga tetap dan terus mengedepankan sifat mengajak yang sejuk, sesuai dengan arti dari dakwah itu sendiri?

Betapa kita sering lebih sibuk untuk mengukur jam terbang tampil di atas podium dan mimbar juga ruang kelas, atau selalu repot dengan perolehan polling like n comment di layar maya juga nyata. Lupa bahwa isi dari materi yang kita sampaikanpun tak lagi jelas, tak lagi bernas, tak lagi memiliki sanad serta asal riwayat yang kuat. Lupa bahwa itupun, bahkan, baru saja kita dapatkan. Baru kita baca satu kali, dengan cukup terburu-buru, yang kita dapat dari sumber atau postingan entah mana milik akun entah siapa, yang ternyata adalah akun Islam-Islaman yang bodong serta anonim belaka.

Semoga Allah mengampuni kita semua, dan terus menjauhkan kita dari yang itu, aamiin?

Saya adalah Ahmad ?Bay? Maulana S, salah satu pemilik akun bodong anonim yang: Entah. Selamat menikmati artikel yang pernah hilang, semoga bermanfaat, salam hangat persahabatan?^_


ThornVile-inspirasi.co.

Link terkait: Haji Bangsat


  • Alldie 
    Alldie 
    2 tahun yang lalu.
    Sebagai web baru, sesuatu yang wajar mas, perlu perjuangan lebih, sama juga saya masih berjuang bagaimana bisa menulis disini.

  • Alldie 
    Alldie 
    2 tahun yang lalu.
    Judul menggigit...

    • Lihat 1 Respon

  • Umi Setyowati
    Umi Setyowati
    2 tahun yang lalu.
    Menyimak Bay. . . bekal renunganku menjelang kantuk datang nih, sdh tengah malam. Sampai besok yaaa. .

  • Den Bhaghoese
    Den Bhaghoese
    2 tahun yang lalu.
    Terima kasih untuk sarapan paginya Bay...

    • Lihat 8 Respon