Renungan Cinta di Malam Takbir

Pemimpin Bayangan III
Karya Pemimpin Bayangan III Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 12 Februari 2016
Renungan Cinta di Malam Takbir

?Alhamdulillah tahun ini kita bisa puasa bersama yah, Kak. Rasanya seperti mimpi??

Aku hanya tersenyum mendengar ucapan istriku. Sesekali lintasan kenangan berkedip di benakku. Tentang proses pernikahan kami yang nyaris tanpa kendala sedikitpun,walaupun kami berdua masih kuliah.

?Oh, iya, Kakak ingat tidak dengan kuesioner yang kemarin Riri buat untuk bahan skripsi? Untung sudah selesai Riri ketik, jadi besok kita bisa silaturahmi ke handai-taulan dengan tenang. ? lanjut istriku. Sementara di luar sana gema takbir bersahut-sahutan tanpa jeda.

Aku kembali tersenyum. Kadang aku merasa aneh sendiri, mengapa bisa menikah dengan Riri. Padahal watak kami amat bertolak belakang. Riri yang super. Riri yang cerdas dan banyak bicara. Riri yang ekspresif. Sementara aku? Jika saja aku tak banyak tersenyum, barangkali orang-orang akan menyangka bahwa aku patung batu karena amat jarang bersuara. Tapi jangan bertanya jika soal menulis puisi atau membuat karangan. Panjang kali lebar?^_

?Mmmhh? kita ikutan mengisinya, Kak, buat bahan renungan pribadi kita berdua? ? ajak istriku tiba-tiba. Iseng sekali si cantik ini, bathinku.

Sekali lagi aku tersenyum, sementara Riri mulai membagi kertas yang berisi pertanyaan-pertanyaan.

?Kakak mengisinya di sana saja, ya? dan tak boleh saling mengintip?? tunjuk istriku pada meja dekat jendela, sementara dia sendiri langsung bergegas mengisi kuesioner itu di meja yang satunya lagi.

Aku menurut. Tapi pertanyaan pertama yang kubaca, langsung membuatku tertegun. Hingga lima belas menit kemudian, masih saja aku tetap tak bisa menjawab satupun pertanyaan yang tertera di kertas itu.

Agak gelisah, kulirik istriku, yang terlihat tekun serta lancar mengisinya hingga lembar yang keempat.

Cepat sekali! Kembali kubaca pertanyaan di kertas, tapi tetap saja aku tak berhasil menuliskan satupun kalimat di bawahnya, dan justru malah melamun.

?Kakak sudah selesai?? suara Riri membuyarkan rangkaian anganku. Buru-buru kusembunyikan kuesioner itu di belakang punggung.

Tapi sepertinya Riri tak menyadari tindakanku, karena dia langsung melanjutkan lagi kalimatnya.

?Nih Riri bacakan ya, Kak? Pertanyaan yang pertama, apa yang paling tidak kamu sukai dari pasanganmu? Yang pertama, malas merapikan buku bekas belajar, terus gemar menonton film kartun, lalu sangat ?lupa waktu jika sudah membaca cerita fiksi dan puisi, kemudian jarang mengumbar ayam bangkok peliharaan, lantas terus-terusan memandangi Riri tanpa sebab hingga bikin rikuh walau senang, setelah itu??

Aku terhenyak mendengar rentetan kalimat yang memitraliur dari istriku. Dan wajahku semakin memucat ketika sambil mendengarkan, kuhitung-hitung sudah lebih dari seratus tiga puluh sembilan kekuranganku yang di sebutkan olehnya, termasuk juga kebiasaanku yang kadang tidur lagi setelah shalat subuh jika sedang libur bekerja dan kuliah.

?Dan pertanyaan yang kedua adalah, apa yang kamu ingin pasanganmu melakukannya? Waah? Yang ini daftarnya lebih panjang lagi, Kak. Pertama? Lho? Kakak kenapa???

Agak tergeragap kuusap bening yang sempat mengalir di pipiku. Alangkah cengengnya! Tapi? Siapakah yang tidak, jika ditempatkan pada posisi yang sama denganku? Yang bahkan hanya dalam waktu dua bulan pernikahan saja, telah ditemukan begitu banyak kekurangan oleh istrinya? Alangkah buruknya aku?

Agak takut-takut Riri menghampiriku. Dengan sedikit merasa bersalah ia genggam tanganku.

?Maafkan Riri, Kak? Riri tak bermaksud membuat Kakak sedih? Riri hanya ingin kita bisa saling introspeksi untuk ke depannya?? sambil bicara Riri menggenggam tanganku dengan penuh kelembutan.

?Ya, sudah. Jika begitu, sekarang giliran Kakak saja? Sini Riri yang membacakannya?? ucapnya, seraya mengambil kuesioner yang kupegang sebelum aku sempat menyembunyikannya lagi.

?Lho? Kok masih kosong, Kak? Kenapa Kakak tak mengisinya langsung seperti Riri? Riri tak akan marah, kok. Inikan untuk kebaikan kita juga?? Kembali rentetan kalimat menggelincir lincah dari bibir mungil istriku, yang justru semakin membuatku merasa sedih.

Dan ketika Riri terus mendesak, dengan suara yang agak serak kujawab.

?Karena Kakak tak bisa menemukan kekuranganmu, atau hal-hal tentang dirimu yang tidak Kakak sukai, Dek? Karena di mata Kakak? Kamu adalah sosok wanita yang paling sempurna? yang jikapun ada beberapa kekurangan yang kamu punya? tetap tak mengurangi kesempurnaanmu di hati Kakak?? ucapku dengan agak tersendat.

Tapi entah kenapa, tiba-tiba saja Riri memelukku sambil sesenggukan, membuatku bingung dan hanya bisa mengelus pundaknya dengan penuh rasa sayang, sementara di luar sana, gema takbir masih juga bersahut-sahutan tanpa jeda.

***

?

Kenangan Sepenggal kisah dari Negeri Bayangan, Bay, Dunia Maya-inspirasi.co

Link pinky islami terkait: Love in Dumay: Pernikahan yang Aneh


  • Den Bhaghoese
    Den Bhaghoese
    1 tahun yang lalu.
    Berbahagialah cinta seperti ini, berbahagialah pembaca yang budiman...

    • Lihat 5 Respon