Hujan Dalam Kamar

Pemimpin Bayangan III
Karya Pemimpin Bayangan III Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 11 Februari 2016
Hujan Dalam Kamar

Hanya butuh hitungan bulan untuk merubah segala pijar hingga kembali gulita!

Satu semester sudah aku menjalani kehidupanku yang baru, setelah malam gerimis itu. Malam pasca pergulatanku sepanjang siang menyelusupi satu demi satu gedung tinggi yang ada di sepanjang jalan Salemba-Matraman, juga beberapa di bilangan Grogol dan Tanjung Duren.

Sepanjang malam gerimis itu kucoba membaui aroma demi aroma kenikmatan menuntut ilmu kelak, untuk setelahnya memutuskan dengan bangga kampus mana gerangan yang akan menjadi tempat persinggahanku nanti.

Namun belum lagi usai penat yang membalur di tubuhku, ketika mendadak kedatangan seseorang yang cukup lekat dalam kehidupan kami, memberikan sebuah kelokan baru atas nama hidup dan kenyataan. Bahkan beberapa formulir universitas yang kuperoleh buah perjalanananku siang tadi belum lagi sempat kubenahi!

Tamu itu bernama Teja, sosok berusia tidak kurang dari 55 tahun, pemilik rumah yang kami kontrak selama ini, yang biasa kami panggil dengan sebutan Pak Jaja. Namun selama lebih dari 20 tahun keluarga kami mengontrak di rumah beliau, hampir tidak pernah beliau datang berkunjung. Sebab memang nyaris tidak ada alasan ?jika bukan silaturahmi- untuk beliau mampir. Bahkan uang kontrak rumahpun biasanya kami antarkan secara rutin pertahun ke kediaman beliau.

Dan setelah beramah-tamah sejenak, tercetuslah segala yang memang seharusnya tercetus, tentang rumah yang kini tengah kami tempati.

?Apa benar-benar tidak dapat ditunda, Pak Jaja, barangkali untuk satu tahun lagi. Setidaknya kami memiliki persiapan yang cukup untuk mencari lokasi baru,? suara ibu terdengar sedikit bergetar. Ada begitu banyak ketidak nyamanan yang terkandung dalam kalimatnya, yang juga turut bergetar bahkan barangkali sumber getar itu sendiri. Ketidak nyamanan yang ladzim berlaku ketika sebuah perubahan sudah begitu dekat saatnya, sementara persiapan tidak ada sama sekali.

?Sekali lagi saya minta maaf, Bu,? ucap Pak Jaja pelan, datar, yang disambung dengan penjelasan ulang tentang alasan beliau untuk tidak melanjutkan kontrak rumah kami.

?Seperti yang Ibu ketahui bahwa Si Andi, putra tertua saya, sudah lulus kuliah dan hendak menikah. Jadi, dengan sangat terpaksa kami tidak dapat mengabulkan permohonan Ibu. Sebab rumah ini memang sudah saya rencanakan sebagai tempat tinggal mereka,? lagi-lagi suara Pak Jaja terdengar datar. Bahkan terlalu datar hingga tak terdeteksi sedikitpun ekspresi di dalamnya.

Segaris cemas terpahat jelas di wajah Ibu saat itu, yang diiringi dengan tekstur dan bayang yang tidak jauh berbeda dalam sorot mata Kak Tulip, sesaat ketika kami sempat bertukar pandang.

Dan setelah seratus hari berlalu, mulai tersingkap segala rahasia yang tersembunyi di balik kenyataan malam itu.

Tempat kursus diambil alih oleh Andi, yang tidak lama kemudian bubar akibat pendekatan pengelolaan yang sangat jauh berbeda, bersamaan dengan rubuhnya kerajaan anganku yang seharusnya meng-imperium.

Dan di sinilah kami terdampar, pada salah satu sudut paling terpencil kota Tangerang. Dan garis serta gores kesedihan yang kian hari kian terpahat jelas di wajah ibu, memaksa Kak Tulip untuk memendam kepedihan guna memompakan kembali kesehatan ibu, yang akhir-akhir ini secara anomaly menjadi cepat sekali terpuruk.

Ibu terlalu syok, kata Kak Tulip yang sebenarnya juga cukup pantas ditujukan untukku. Tapi, siapa yang tidak? Adakah alasan yang lebih dahsyat untuk menghakimi kenyamanan seseorang, selain dicabut dari akar kesehariannya? Dipindahkan dari lingkungan yang telah meresap begitu dalam hingga lebih lekat, bahkan dari tanah kelahiran sendiri?

Hanya saja faktor usia barangkali cukup memegang kendali. Usia ibu memang sudah cukup tua untuk mampu menerima perubahan yang gegar. Untunglah masih tersisa ketegaran di balik jubah pengabdian Kak Tulip, yang sebenarnya sudah cukup koyak ditelan takdir. Sementara aku sudah lebih dulu menjelma seorang raja. Seorang raja yang telah dilengserkan dengan sangat paksa? dari tahta mimpinya yang begitu berkilau. Emas.

Dan gerimis malam ini, sekali lagi, kembali meninggalkan hanya sepi.

***

Watak sejarah kembali mencuat. Menghampiriku dengan bentuk dan rupa yang harusnya telah kuendus sejak dulu. Betapa ironisnya! Bahkan kini aku adalah tokoh dari episode Igay di masa lalu, masa ketika ia harus pontang-panting mencari hidup.

Dan untuk melengkapi kegetiranku ?setelah berhasil menepis segala ragu dan perasaan kalah yang ditawarkan waktu kepadaku- kuputuskan untuk bertandang kerumah Igay. Barangkali saja dia dapat membantuku, walaupun barangkali yang lebih besar peluangnya adalah dia tidak dapat membantuku.

Tapi, siapa tahu? Setidaknya aku masih ingin terus berusaha walau hanya berkunjung ke rumah seorang kenek bus kota, dan bukannya menempel kepada seorang direktur, misalnya.

Sebabnya sangat jelas: Relasiku yang terlalu terbatas tidak memungkinkan aku untuk memiliki ?link? dan akses ke jaringan para kampiun bisnis tersebut, meski kabarnya hanya butuh kenalan satu orang yang tepat untuk menginjakkan kaki ke sana, ke jajaran papan atas negeri yang kental dengan kolusi dan konglomerasi-monopolistik ini.

Tapi setidaknya aku kenal Igay. Kenal seseorang yang memiliki jam terbang yang cukup tinggi di dunia perkenekan. Kenal seseorang yang terus saja menganggapku Ari SMPnya pada beberapa kali kedatanganku, ketika masih membuka kursus dulu. Kenal seseorang yang begitu mencintai pekerjaannya hingga pertemuan-pertemuan kami lebih sering dihabiskan oleh ceritanya mengenai jaringan supir dan kenek, pool, tempat mangkal hingga trayek mana yang emas dan trayek mana yang sepi penumpang.

Bahkan dia juga mampu untuk menjelaskan beragam ?model? dan ?gaya? yang dimiliki oleh para ?kliennya? secara detil layaknya seorang pakar kepribadian. Tentang penumpang mana yang membayar penuh dan penumpang seperti apa pula yang biasanya ?campur nebeng?.

Tapi, barangkali jika ingin berkata jujur, keinginanku bertemu Igay hanya disebabkan oleh dua alasan yang sederhana. Pertama, dia sudah pernah mengalami keadaan yang kini menyinggahiku (sambil berharap barangkali ada pencerahan baru yang dapat diberikan Igay kepadaku). Dan yang kedua sekaligus yang paling penting: Satu-satunya alamat yang ada di dompetku dari ?sekian banyak? teman yang kumiliki, adalah alamatnya!

Sorenya, Igay menjelma patung ketika deras ceritaku mengalir membanjiri rumah kontrakannya. Dan sikap itu terus ia pertahankan hingga deretan-deretan getir yang memenuhi rongga mulutku terkuras habis. Tentang usaha kursusku yang gulung tikar, tentang aku yang tidak jadi (lagi) kuliah, tentang keluarga kami yang terpaksa ?berlibur? ke rumah nenek di desa sebab Tangerang bukanlah tempat yang ?cukup hidup? guna mencukupi kebutuhan sehari-hari kami. Juga tentang kekalahanku tatkala bersinggungan langsung dengan makhluk yang bernama: Kenyataan.

?Bersabarlah, Ri.? Hanya kata-kata itu yang keluar dari bibir kenek berdarah Batak ini, yang dilanjutkan dengan sebuah anggukan tulus sebagai tanda kesanggupannya mengurangi bebanku. Selebihnya kembali patung. Patung dengan sorot mata yang menyiratkan pengembaraan angan ke masa lalu, masa di mana segalanya tak terlihat memiliki ujung dan pangkal kala belia, yang kembali tercermin dari nada demi nada satir yang dipetik dengan ritme yang amat sempurna oleh sosok di hadapannya, yang juga menjelma patung. Aku.

Esoknya, pagi-pagi benar aku sudah malang-melintang di jalanan antara Blok M-Kota. Menjadi kenek yang membantu Igay. Menjadi kenek dari seorang kenek. Menjadi debu yang meluruh bersama waktu yang terus saja melaju, untuk kemudian terjatuh pada kesadaran yang penuh dengan nuansa ketidak berdayaan. Bahkan tak jarang aku merasa bahwa nasib yang menuntunku keliru menafsirkan, goresan takdir di telapak hidupku.

Tapi adakah yang keliru jika itu menyangkut hidup? Menyangkut sunatullah yang telah sedemikian tegasnya Dia tancapkan ke segenap semesta?

Entahlah. Barangkali aku hanya merasa lelah saja. Lelah menapaki jalan hidupku yang seakan kian tak berujung. Lelah, bahkan untuk sekedar menyadari bahwa aku tengah merasa lelah.

***

Pagi memang terlalu kerap memberikan yang terbaik kepadaku. Karena pagi selalu membawa serta kesegaran yang nikmat dalam setiap pergeseran udaranya, yang memang mengandung polusi yang lebih sedikit.

Dan tidak hanya itu, barangkali hanya dalam pagi saja dapat kulihat suasana yang rileks pada wajah-wajah penumpang, jalan bebas hambatan, serta ? tentu saja ongkos yang sesuai yang diberikan oleh para pengguna jasa kami!

Lain halnya jika waktu sudah mendorong matahari semakin tinggi ke langit. Bahkan hanya dalam hitungan setengah jam dari waktu yang kini, sudah dapat dipastikan besarnya perubahan suasana yang terjadi di dalam bus kota ini: Penumpang yang berjubel, wajah-wajah gelisah yang melulu melirik jam kantor lewat arloji, sederetan pengamen serta pedagang asongan yang kian menambah semarak suasana kepengapan di atas bus.

Dan seperti belum lengkap, ribuan kendaraan seperti muncul secara gaib hingga seakan-akan menciutkan jalan raya menjadi hanya seluas jalan kecil di gang kampungku dulu.

Kemacetan tentu saja tercipta, bahkan terlalu sempurna! Tapi bukankah Jakarta adalah nama lain dari kemacetan?

Agak siang barulah aku kembali dapat bernapas lega, walaupun dengan pemandangan yang tak jauh berbeda.? Jalan raya tetap macet. Bus kotapun masih saja ?tanpa ruang kosong?, walau sebagian besarnya dipenuhi oleh sosok-sosok yang masih mengenakan seragam sekolah (yang itu artinya peolehanku menjadi lebih sedikit, terutama ketika wajah-wajah belia itu masih saja ada yang nekad untuk hanya membayar ongkos di bawah tarif. Tentunya dengan wajah yang dibuat sememelas mungkin lengkap dengan alasan moralnya yang amat sakti mengundang pemakluman: ?Sedang banyak ulangan, Bang!?).

Tapi siang tetaplah siang. Nyaris tak ada wajah yang gelisah dan terburu-buru. Walaupun beberapa memang masih ada yang terlalu kerap melirik arloji di pergelangan mereka, sambil kemudian kembali membenamkan mata mereka kepada buku dan diktat yang mereka genggam.

Kadang sambil memandang sempat terbersit dibenakku, jika saja tak ada ?Mr. Jaja situation? dulu, barangkali aku sudah bergabung dan menjadi salah satu dari mereka.

Tapi cepat-cepat kutepiskan pemikiran itu, walaupun ajaibnya setiap hari masih ada saja pemumpang bus kota yang menganggap aku ?mahasiswa yang sedang menyambi?. Terutama dari mereka yang ?sudah berusia ?sebaya Ibuku?.

?Ongkos, Bang!? seseorang kucolek bahunya. Sebuah colekan yang agaknya membuyarkan lamunannya seketika itu juga. Diberikannya lembar lusuh bernominal kecil kepadaku.

?Ah, kurang, Bang. Ayolaah?bensin sudah pada naik, nih! Lagi pula, kaukan bukan mahasisw?? belum lagi kalimatku selesai ketika seakan-akan ada kekuatan gaib yang menyeruak tiba-tiba ke dalam benakku, memaksa pikiranku untuk kembali ke masa lalu. Masa-masa ketika aku tidak jadi kuliah untuk yang pertama kalinya.

Kupandangi wajah penumpang di depanku, sambil mencoba menaksir usia serta kegiatan apa kira-kira yang tengah dilakoninya. Dan ketika wajah itu terlihat grogi serta agak tergeragap berusaha mengeluarkan lembar lainnya dari dalam dompet, yang agaknya rupiah terakhir yang dimilikinya, serta merta kutinggalkan dia.

Alangkah ajaibnya waktu! Tak habis pikir aku memaknai kejadian tadi, yang bahkan lebih d?j? vu dari segala d?j? vu yang pernah terjadi, yang pernah dilukiskan oleh sejarah kepadaku. Bahkan aku berani bertaruh bahwa penumpang tadi baru akan menjawab ?Ah? dekat, kok. Cuma sampe Kota doing?? sebelum akhirnya kebingungan karena kalimatku tak selesai, yang justru berlanjut dengan tatapanku yang begitu lekat ke wajahnya.

Dasar kenek sableng! Barangkali itu yang terbersit di dalam benaknya, yang semakin menyeretku kepada kenyataan dua tahun yang lalu, ketika aku masih sering pergi ke Muara Baru? untuk berteriak-teriak kepada laut.

Alangkah ajaibnya hidup! Bahkan dalam keadaan yang seterpuruk inipun kehidupan masih saja memberiku lelucon, dengan prototif penumpang yang mirip nasibnya denganku di masa lalu!

Dan seperti memiliki keinginan sendiri, masa-masa itu seakan kembali hadir di hadapanku, lengkap dengan sensasi beserta jutaan semangat yang melingkupinya. Semangat untuk menggapai cita-cita, yang kian hari terasa kian samar dan menguap dari diriku.

Setelah kejadian itu, kuhabiskan sepanjang sisa hari yang ada dengan diam. Diam, tak peduli pertanyaan Igay. Tak peduli dengan penumpang yang hilir mudik tanpa tertagih bayarannya oleh Igay. Juga tak kupedulikan gerutuan Pak Supir yang merasa terganggu oleh keadaanku, yang memaksa Igay untuk berulang kali meminta maaf kepadanya.

***

?Lu kenapa tadi di mobil, Ri??? sudah untuk yang kesekian kalinya Igay bertanya, yang untuk kesekian kalinya pula kujawab dengan diam.

?Lu sakit, Ri? Atau ?? Igay kembali bertanya, yang tetap kujawab dengan diam. Diam yang kian memantapkan kebingungan Igay. Sebuah kebingungan yang murni 97%, dengan tambahan persen-persen sisanya untuk kekhawatiran.

Dan malam itu kuhabiskan dengan diam yang panjang, yang penuh dengan jutaan pemikiran serta milyaran uap-uap kegelisahan. Diam, hingga adzan subuh bergema bersahut-sahutan.

***

Pagi baru menjelang membawa serta keterkejutan di wajah Igay. Sebuah keterkejutan yang besar. (Bersambung?)

?

Secangkir Kopi Serial Si Ari: Simfoni yang Tak Pernah Usai, ThornVille-inspirasi.co, Tahun Jebot.

Link sebelumnya:

  • view 205