Jalan Menuju Surga

Pemimpin Bayangan III
Karya Pemimpin Bayangan III Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 11 Februari 2016
Jalan Menuju Surga

hembusan nafas pertama

mengguncang haru

hutan karet pusat geliat

walau baru harimau tercetak

?

injakan kaki pertama

membuncak dada

inilah hutan, tempat di mana manusia

dengan kekuatan tekadnya

disentuh, diwarnai

agar lebih manusia

agar manusia, lebih!

(?UI? dalam Di Bawah Kibaran Dosa)

?

Deja vu!

Akhirnya aku tiba juga di sini, setelah dua kali lulus seleksi. Kupandangi deretan bisu yang berjajar di kiri-kananku dengan perasaan penuh. Deretan yang semakin rimbun ke arah samping, membentuk sebuah hutan karet yang mungil.

Setelah melewati sebuah spanduk besar berlogo hewan purba ?Kala-Makara?, aku berhenti. Kulirik penunjuk waktuku. Pukul tujuh lewat sepuluh. Agaknya aku harus lebih bergegas. Tapi, dimanakah letaknya Balairung itu?

?Ooh? dari sini belok ke kiri, lalu lurus terus,? orang bertopi hitam yang kutanya menjawab.

?Kamu anak baru, ya??

Aku mengangguk.

?Baiknya naik bis kuning saja, biar lebih cepat dan tidak nyasar. Tuh, tunggu saja di halte itu?!? ucapnya lagi seraya menunjuk halte di seberang jalan.

Belum lagi aku sempat mengucapkan terima kasih ketika sosok bertopi hitam itu melakukan sesuatu yang janggal. Tiba-tiba saja ia bertakbir! Lantang, yang disusul dengan kalimat-kalimat kesaksian.

Adzan? Tapi, untuk apa? Sejak kapan dhuha memakai adzan?

Kutinggalkan sosok itu dengan penuh tanya.

Tapi belum jauh kakiku melangkah ketika suara-suara itu semakin keras bergema. Bahkan kini bersahut-sahutan dari berbagai arah. Dan entah kenapa, mendadak saja tubuhku terasa sangat lemas. Lututku bergetar, begitu juga seluruh persendianku. Samar masih kulihat sosok bertopi hitam itu berlari ke arahku, sebelum semuanya berubah gelap.

Ketika sadar, kutemukan diriku terbaring di atas sebuah kasur. Lagi-lagi aku hanya bermimpi! Cepat-cepat aku bangun dan meraih sarung. Dengan tergesa-gesa kuburu sumber suara yang bersahutan itu, mengejar subuhku yang nyaris terpenggal mimpi.

***

Pagi kembali menjelang membawa cemas bercampur harapan sebab hari ini pengumuman SMMPTN. Tapi kecemasanku tak berlangsung lama. Begitu juga harapan: Tak tersisa! Luruh bersama lembar-lembar koran yang kini teronggok lusuh di atas lantai.

Tiga kali sudah kuperiksa deretan nama dan kode nomor yang tercetak di kertas itu. Tetap, namaku tak tercantum di dalamnya. Dan itu artinya aku tak jadi kuliah lagi.

Terlalu bodohkah aku? Tapi, bukankah aku telah menurunkan pilihanku? Tak lagi HI atau Akutansi seperti dulu? Apakah aku terlalu ceroboh ketika ujian? Lupa menulis kode soal? Kotor? Terlipat? Jutaan introspeksi bergaung di kepalaku, membentuk kalimat-kalimat senada yang menjelma jaksa bagi kegagalanku.

Teringat kembali bulan-bulan terakhir menjelang SPMB, ketika aku begitu gencar menghafal pelajaran ini dan itu. Begadang bermalam-malam. Belajar dan belajar hingga otakku terasa sesak. Tapi? bahkan untuk pilihan papan bawahpun aku tak mampu menembusnya!

Dengan langkah gontai aku keluar dari rumah. Tak kupedulikan tatapan ibu yang menunggu. Tak kupedulikan wajah Kak Tulip yang penuh tanya. Tak kupedulikan?

***

?Aaa?h!!!?

Kembali laut Muara Baru menampung kekesalanku. Dan kembali makhluk super luas itu tak menjawab.

Alangkah kerasnya hidup! Bahkan untuk sesuatu yang sederhanapun, tetap? membutuhkan setumpuk kompensasi sebagai maharnya.

Angan yang mimpi, begitulah aku menyebutnya. Segenggam bulu kegairahan untukku. Dari mimpi-mimpi manusia, dalam muara yang hangat akan uap-uap kental memori hasrat. Sekolah, lulus, berburu nafkah serta hidup sesuai fitrah? alangkah indah kedengarannya!

Tapi keindahan memang tak mengalir begitu saja, seperti emas yang harus meminjam api hingga leleh? demi sebuah kilau. Seperti fajar yang terus menanti pekat sepanjang malam, juga demi sebuah kilau yang indah. Bahkan pelangipun harus bersabar dalam doa ketika gumpal-gumpal jernih itu, meluruh setetes demi setetes lalu hangat mentari melahirkannya lewat cahaya yang membias. Dan barangkali kesadaran itulah yang terus membuatku bertahan meraih semuanya. Semua mimpi, juga semua cita?

?Jadilah raja dengan selalu memohon keridhaan ?Nya, Nak. Sebab hanya Dialah Yang Maha Perkasa, Raja dari segala Raja??

Masih terngiang ucapan ibu ketika aku belum lagi genap berusia sepuluh tahun. Dan bagi seorang bocah seusia itu, sebuah doa yang tulus ditambah belaian halus di kepala, menjelma kebahagiaan yang tak pernah bisa ditukar oleh apapun. Dan kebahagiaan itu kubawa selalu. Setiap waktu, juga setiap tempat dan suasana.

?Aku adalah seorang raja?!!! Aku akan menjadi seorang raja?!!!? begitu selalu yang kugemuruhkan dalam hati. Juga ketika ada sosok-sosok besar yang bertanya tentangku, yang serta-merta akan kujawab dengan tegas? dengan jawaban yang sama persis!

?Tapi masa kerajaan sudah sangat lama berlalu, Ri?, ucap Susilo suatu kali ketika aku berkunjung ke rumahnya, ketika ?entah bagaimana mulanya- kuutarakan hasrat terbesarku, yang kian lama terasa kian pekat saja mengendap di rongga dada.

?Yah??, ucapku datar sambil menghirup teh manisku sedikit. Panas dan mengebul. Namun barangkali di situlah justru letak kenikmatan dan sensasinya. ?Tapi bukankah sejarah selalu berulang, Sobat??? ucapku kemudian. Sebuah jawaban yang sekaligus juga pertanyaan.

Sepoi angin laut menerpa wajahku dengan agak keras, memaksaku untuk serta-merta membuyarkan kenangan, dan kembali ke alam kesadaran yang utuh, yang pucat dan menangis? yang tak jauh beda dengan aroma senja yang terpancar dari langit serta deretan perahu nelayan di laut Muara Baru. Pucat sekaligus pilu sebab katanya tak ada lagi bensin yang dapat dipakai untuk sekedar berlayar demi sedikit ikan, demi sedikit rejeki guna mengasapi dapur anak-istri.

Dan sama datangnya seperti kesadaranku yang pertama, seperti tiba-tiba saja kesadaran yang benar-benar baru itu, kembali merangkulku dengan segala uap asin, bau amis sisa-sisa ikan tangkapan yang lalu serta debur ombak yang terasa kian keras dan kerap.

Ya. Bukankankah sejarah memang selalu berulang? Dan bukankah memang itulah watak terkeras dari sejarah? Berulang dan dipergilirkan! Berarti?

Seperti tiba-tiba saja lintasan pemikiran itu menyergapku. Mengepungku dengan segenap energi positif yang semakin kuat, menggeliat-geliat serta memacu otakku untuk menemukan sebuah pencerahan baru. Sebuah pencapaian harapan yang dengan sangat lekas meremas satu demi satu keresahanku lalu memilinnya menjadi sebuah senyum yang penuh. Tentang sebuah cita, juga tentang jalan menuju ke sana.

Dengan langkah ringan kutinggalkan laut Muara Baru, menuju muara segala keinginanku? rumah.

***

Azdan Maghrib belum lagi usai ketika aku tiba di rumah. Setelah menunaikan kewajiban hakiki manusia itu, kembali aku bersanding dengan hening, dengan sosok renta yang mulai memasuki usia kepala enam di hadapanku.

?Kamu sudah yakin dengan pilihanmu itu, Nak?? suara ibu terdengar pelan dan sedikit bergetar.

Keheningan kembali menyinggasana. Keheningan yang sama yang menyelimuti kami beberapa saat yang lalu ketika kuutarakan niatku untuk tidak jadi kuliah, melainkan hanya ikut kursus Bahasa Inggris. Keheningan yang merayapi hampir seluruh ruang yang ada di antara kami, yang membawa serta berliter-liter uap ketidak setujuan ibu akan rencanaku. Keheningan yang benar-benar hening, yang barangkali hanya bisa terpecahkan oleh ramainya gejolak semangat yang ada di dalam dadaku. Semangat akan sebuah pengharapan, tentang sebuah perubahan yang niscaya, yang telah menghidupkan kembali jutaan kerlip mercusuar bagi perahu-perahu keinginanku yang terpendam dan sempat karam.

Namun keheningan itu memang benar-benar hening. Bahkan mungkin lebih hening dari semua hening yang pernah ada, yang pernah terjadi serta dibuat keadaan. Dan dalam keheningan itu seakan tergambar jelas peta keinginan ibu tentang masa depanku, tentang aku yang ?sebisa mungkin- harus tetap kuliah agar menjadi sarjana? agar dapat menjadi ?orang?.

Akhirnya hening itu pecah, berhamburan serta meluncur deras bersama senyum yang terpancar dari sosok renta di depanku itu, setelah berpuluh-puluh menit berlalu laksana bayi yang baru belajar merangkak, bersama lebih dari puluhan ekspresi yang tergambar di wajah Ibu, yang sebelumnya terus berubah-ubah.

Sebuah senyum yang tulus terpampang, yang berarti berdamai dengan kenyataan serta persetujuan yang melimpah akan keinginanku.

Cepat kuraih tangan yang kian hari kian menyiratkan usia itu, untuk kemudian kucium dengan penuh khidmat.

Esoknya, lima ratus ribu rupiah uangku berkurang untuk biaya kursus Bahasa Inggris, di tambah lagi dengan tiga ratus ribu rupiah untuk membuat tangga masuk di luar rumah, serta beberapa ratus ribu lagi yang kupergunakan untuk memperbaiki kamar, membuat beberapa lekar, papan tulis serta beberapa buku Bahasa Inggris tingkat SD dan SMP. Dan setelah satu bulan berlalu, tak kurang dari 15 anak belajar mengaji kepadaku, serta 5 orang di antaranya kursus Bahasa Inggris.

Dan waktu memang seperti berlari ketika kita melakukan sesuatu yang menyenangkan, yang kita sukai. Tak terasa enam bulan sudah berlalu, juga tak terasa sudah dua kali aku menjalani pendaftaran ulang pada sebuah tempat kursus Bahasa Inggris yang ?walaupun agak mahal- namun benar-benar sesuai dengan hasil yang didapatkan. Dan agaknya memang tak pernah ada sesuatu yang begitu saja jika dilakukan dengan penuh kesungguhan!

Seminggu setelah masa pembagian raport di sekolah-sekolah formal, atau tepatnya setelah enam bulan lebih sepuluh hari kegiatan kursus dan pengajianku berjalan, aku dikejutkan dengan begitu banyak tamu yang datang ke rumah? untuk mendaftarkan anaknya mengaji serta kursus Bahasa Inggris!

Tak kurang dari 40 orang yang mendaftarkan anaknya kepadaku, yang masih terus berlanjut hari-hari setelahnya selama tidak kurang dari dua bulan, dengan jumlah siswa yang nyaris 4 kali lipat dari jumlah peserta didikku waktu pertama kali terselenggara! Dan semuanya program ganda: Mengaji, juga kursus Bahasa Inggris. Sungguh sebuah kenyataan yang hingga kini masih agak sulit untuk kucerna!

Tapi barangkali rata-rata nilai Bahasa Inggris siswaku yang terpaut jauh di atas rata-rata kemampuan teman sekelasnyalah yang menjawab keherananku. Begitu pula dengan nilai pelajaran agama mereka. Dan perbincangan antar wali siswa sesaat sebelum dan sesudah pembagian raport ternyata lebih dari cukup untuk memancing ketertarikan mereka, yang berlanjut kemudian dengan bergulirnya alamat rumahku dari tangan ke tangan, sebagai tempat kursus yang tidak sekedar murah.

***

Nikmat Tuhanmu manakah yang dapat engkau dustakan?

Seratus siswa kali pendaftaran sepuluh ribu sama dengan satu juta rupiah, ditambah dengan iuran pengajian lima ribu perbulan dan iuran kursus Bahasa Inggris dua puluh lima ribu perbulan, total semuanya ada empat juta rupiah!

Kupandangi kertas ajaib yang tergeletak didepanku, kuhitung ulang. Tetap, hasilnya tak berubah. Syukurku melangit luas. Betapa mudahnya Allah berkehendak! Bahkan aku yang hanya seorang lulusan SMUpun mampu memperoleh rejeki sebesar ini? setiap bulan!

Terbayang hari-hari kemarin yang begitu penuh dengan rutinitas. Pergi kursus setiap pagi, membantu ibu, lalu sorenya menjelaskan segala macam tata bahasa Inggris, vocabulary serta bentuk-bentuk lain yang dibutuhkan agar mampu berwas-wes-wos dalam bahasa ?orang-orang bule? tersebut, yang disusul dengan mengajarkan Alif-Ba-Ta, Khot serta hitungan sederhana dalam Bahasa Arab selepas sholat Maghrib.

Alangkah indahnya hidup! Maha Suci Allah Zat Yang Maha Segalanya, yang dengan kekuasaan-Nya, Dia tempatkan aku kepada sebaik-baiknya tempat, sebagai pengajar? dengan kemampuan yang tentu saja jauh dari sempurna.

Tapi siapa sangka, bahkan dengan keadaan yang seperti inipun berkah Allah bagi mereka yang mengamalkan ilmu-Nya, begitu besar! Begitu tak terhingga! Bahkan begitu langit dan bumi jika dibandingkan dengan penghasilanku sebagai buruh pabrik gelas di masa kemarin!

Sepercik keinginan kembali menjelma. Kembali hadir dengan gemuruh yang lebih menyegarkan nuansanya.

Kuliah?!!!

Bukankah aku sudah memiliki cukup dana untuk itu? Juga, kemampuan Bahasa Inggrisku yang semakin baik. Dan, tentu saja: Penghasilan tetap sebagai pengajar! Tunggu apa lagi?

?

Terbayang betapa akan sumringahnya wajah ibu menyaksikan aku menjadi mahasiswa. Yah, walaupun barangkali tidak berjaket kuning sebab agaknya kesempatanku untuk belajar di Universitas Negeri sudah kadaluwarsa. Namun kuliah adalah kuliah. Kapanpun, di manapun, tentu saja dengan lokasi belajar yang tidak terlalu rendah mutunya.

Namun ternyata memang tak ada yang begitu saja dalam hidup, dalam merencanakan sesuatu. Begitu juga dengan rencana kuliahku.

Biaya pendaftaran yang mahal, uang semesteran serta jadwal belajar yang tersedia di beberapa kampus yang menjadi incaranku menjadi sebuah pe-er tersendiri yang harus kupecahkan, yang harus kusiasati agar semuanya dapat berjalan lancar.

Dan setelah kuhitung-hitung dengan sangat teliti, seksama serta dengan segenap kemampuanku yang pas-pasan dalam mengelola keuangan, kuputuskan untuk menunda keinginanku itu hingga gelombang penerimaan mahasiswa baru yang terakhir. Tentunya setelah sebelumnya berunding terlebih dahulu dengan Ibu.

?Benarkah tidak akan terlambat, Nak??

??Insya Allah tidak, Bu.?

?Tapi kenapa harus mengambil yang paling akhir, Nak??

?Menurut perhitungan yang Ari buat, Bu, bahwa??

Diskusi terus berlanjut semakin hangat. Kujelaskan secara panjang lebar tentang jurusan yang ingin kuambil, lengkap dengan segala argumen yang mendukungnya, dan tentu saja rencana pembiayaannya!

?Itulah sebabnya kenapa Ari lebih memilih Teknik sipil dibandingkan Kedokteran atau Ekonomi. Dan dengan rejeki yang Ari dapat dari tempat kursus, insya Allah mengenai biaya bukan lagi masalah utama.? Terangku panjang kali lebar kali tinggi, yang agaknya sekaligus menutup diskusi kecil kami malam itu.

Dan sisa malam itu kuhabiskan dengan bersujud ke hadirat Pemilik Semesta, atas segala karunia yang Dia berikan sebab belum pernah kulihat wajah Ibu secerah ini sejak beberapa tahun terakhir, sebab belum pernah kulihat jalan yang begitu terang dalam pendakian keinginanku ini. Sebuah jalan yang begitu luas dan gemerlap, walau tentu saja masih sangat panjang serta mengandung kejutan demi kejutan pada setiap kelokannya. Sebuah jalan yang? barangkali belum bisa secara tuntas kugambarkan saat ini.

(Rencana) Kuliah lagi? Kenapa tidak??!

?

Secangkir Kopi Serial Si Ari: Simfoni yang Tak Pernah Usai, ThornVille-inspirasi.co, Tahun Jebot.

Link sebelumnya:

?

  • view 134