Beban yang Tersibak

Pemimpin Bayangan III
Karya Pemimpin Bayangan III Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 10 Februari 2016
Beban yang Tersibak

?Sunatullah terbesar pada setiap kesulitan, selalu bermuara menuju kemudahan. Semakin besar cobaan yang menimpa, semakin besar pula peluang yang tersedia? bagi mereka yang tak pernah lerai dalam ikhtiar.?

?Bagi seorang muslim, tak pernah ada istilah keterpurukan. Selalu, rasa syukur yang melangit tatkala kesenangan mengapit. Selalu hanya ketabahan yang membuanalah yang mereka hadirkan ketika kesukaran? mewarna. Semuanya hanya dianggap sebagai ujian, yang harus terus terselesaikan? dengan sebaik-baiknya. Adakah kita juga menjelma muslim yang seperti itu? Wallahu a?lam??

Itulah awal pertemuanku dengan Abah Rahman, pada sebuah kajian Minggu pagi di daerah Kwitang. Entah berapa lama aku terpekur setelahnya, aku tak tahu pasti. Hingga tiba-tiba sebuah tepukan hangat di pundak menyadarkanku.

Agak tergeragap aku bercerai dari pikiranku yang membadai. Dan aku kembali tergeragap ketika mengetahui sosok yang menepuk pundakku: Abah Rahman! Serta-merta kusambut tangan keriput itu dengan khidmat.

?Semoga Allah merahmatimu, Nak,? sosok bersurban itu kembali menepuk pundakku. Wajah teduhnya menggambar senyum. Sebuah senyum yang tulus, yang kelak menjadi begitu sering menziarahiku bersama kerapnya interaksi kami.

***

?Mengapa saya selalu merasa gelisah, Bah?? suaraku agak bergetar ketika bertanya. Sebuah perasaan yang asing meniti-niti di dalam dada. Entahlah. Barangkali aku tak terbiasa berbagi rasa.

?Mungkin ada yang mengganjal dalam hati Anak,? jawab Abah Rahman perlahan. ?Barangkali Anak pernah berbuat dosa??? lanjutnya lagi dengan tetap tersenyum. Tak ada sedikitpun tergambar raut penghakiman di wajahnya yang teduh. Justru wajah itu seperti menawarkan telaga kesejukan yang bening untuk membasuh segala gundahku.

Dosa? Ya, barangkali memang itu penyebabnya. Bukankah manusia memang tak pernah luput darinya? Tapi dosakah aku karena terlalu gelisah memetakan cita-cita? Karena ingin lebih bermanfaat bagi sesama? Membuat bangga keluarga?

?Begitulah, Bah. Saya hanya ingin mampu berbuat lebih, hanya ingin menghapus sedih hingga bersih????

Abah Rahman terlihat manggut-manggut mendengar curahan kataku. Janggutnya yang panjang naik turun seiring gerak kepalanya.

?Bersabarlah, Nak. Perbanyaklah ibadah kepada ?Nya. Tidak ada dosa bagi seorang hamba dalam bercita-cita, selama ia tidak melampaui batas.?

?Sayakah melampaui batas, Bah?? tanyaku coba menepiskan segala ragu.

?Hanya Allah Yang Maha Segala? Jika memang Anak sudah mengeratkan tekad, bertawakallah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal??

Ucapan Abah Rahman yang arif mengakhiri pertemuan kami. Setelah mencium tangannya, kutinggalkan pemimpin Majelis Hikmah itu. Pulang.

***

Alangkah menggigitnya kemiskinan!

Pagi belum lagi sempurna ketika kulihat figur yang mulai renta itu memulai rutinitas kesehariannya. Setelah shalat subuh dan bertadarus dua-tiga juz, sosok paruh baya itu pergi ke pasar. Membeli ini dan itu untuk kemudian dijual kembali. Dan setelah selesai menata dagangannya, iapun membuka warung. Lalu kembali sibuk menggoreng penganan kecil sebagai pelengkap dagangannya.

?Sarapan dulu, Nak,? disodorkannya piring kecil berisi tempe dan oncom goreng. ?Jangan pergi dengan perut kosong,? lanjutnya lagi sambil sesekali terbatuk.

Masih segar dalam ingatanku penolakan perempuan yang telah melahirkanku itu, ketika kutawarkan ?pensiun? kepadanya.

?Tak apa-apa, Nak. Insya Allah Ibu masih kuat berdagang,? ucapnya waktu itu. ?Lagipula uang itu bisa kamu pergunakan untuk kuliahmu nanti.?

Aku tersenyum miris mendengar alasan itu. Jika hanya untuk makan dan memetik beberapa keinginan kecil, Insya Allah gajiku lebih dari sekedar cukup. Tapi jika untuk kuliah juga?

Kuhabiskan sarapanku dengan diam.

***

Satu juta seratus lima puluh ribu! Kuteliti lagi hitunganku satu persatu. Training tiga bulan kali seratus delapan puluh, ditambah lima bulan kali dua ratus tiga puluh. Dipotong ongkos enam puluh kali delapan bulan ditambah pengeluaran ekstra sebanyak enam puluh ribu. Total semuanya satu juta seratus lima puluh ribu rupiah. Klop!

Kupandangi lagi tumpukan kertas penawar keringat itu dengan getir. Uang sejumlah ini memang cukup besar jika hanya untuk membeli kerupuk, juga bisa membuatku dua puluh kali mendaki Gede-Pangrango. Tapi untuk kuliah? Cukupkah jumlah yang se?banyak? ini? Kuhembuskan nafas kuat-kuat. Barangkali memang inilah gaji seorang pekerja pabrik, selama delapan bulan.

?Ambil kuliah malam saja, Ri,? usul Susilo siang tadi di kantin pabrik. ?Toh banyak juga yang seperti itu,? lanjutnya lagi sambil sesekali menyuap nasi.

Kuliah malam? Sambil bekerja? Cepat-cepat kupapas pemikiran itu. Bukan apa-apa. Bekerja di pabrik saja sudah cukup menyita waktu dan -terutama sekali- energiku. Apa jadinya nanti kuliahku, jika hanya mengandalkan energi sisaan. Bisa-bisa aku hanya mendapat status dan gelar saja nantinya, tanpa ilmu yang memadai.

Kupandangi lagi buku panduan SMMPTN tahun lalu itu dengan lebih seksama. Beberapa universitas yang tadi kulingkari, kucoret kembali. Tinggal empat yang tersisa; UGM, UNJ, IPB dan UI. Tapi tiga yang pertamapun akhirnya kucoret juga. UGM terlalu jauh, sementara UNJ dan IPB aku kurang tertarik. UI lagikah? Sebuah bayangan kembali hadir di ruang kepala.

***

?Bagaimanakah caranya agar kami selalu mampu untuk mensyukuri nikmat, Bah?? tanya seorang jamaah ketika aku tiba di kediaman Abah Rahman. Kuurungkan niatku untuk masuk.

?Perbanyaklah mentadaburkan Al Qur-an. Telah jelas di sana buah bagi mereka yang ingkar atau bersyukur terhadap karunia ?Nya. Tundukkan hati dan pandangan, serta resapi kembali keadaan mereka yang lebih papa. Niscaya nikmat Allah akan lebih menggema,? suara Abah terdengar cukup jelas dari teras tempatku duduk, menghasut pikiranku untuk turut mengamini kebijakan pandangannya.

?Berdosakah kami jika merasa kurang dalam rejeki, Bah?? seseorang bertanya lagi.

?Perbanyaklah sedekah. Sesungguhnya sedekah menjauhkan manusia dari bencana dan kekurangan,?

Sekali lagi aku menyetujui ucapan Abah.

?Bukan besar atau kecilnya rejeki yang harus kita desahi, melainkan bagaimana cara kita mensikapinya. Allah Maha Pemurah, dan Ia Maha Tahu yang terbaik bagi makhluk ?Nya.?

Sesaat aku merasa seperti tertohok. Bukan jumlahnya kata Abah, melainkan cara mensikapinya! Apakah Abah tengah menyindirku? Tapi? bahkan beliau belum lagi menjejaki kedatanganku!

Setelah jamaah itu bubar, kuucapkan salam kepada sosok bersurban itu. Beliau menjawab salamku dengan bersanding heran.

?Tidak biasanya Anak datang hari Senin. Apakah Anak sedang libur?? ucap Abah seraya menyilakanku untuk masuk.

?Saya sudah keluar dari pabrik, Bah,? jawabku lirih. ?Saya ingin sekolah lagi? ingin kuliah.?

?Alhamdulillaah??

?Tapi, Bah?? sesaat aku merasa ragu, teringat lagi tausiyah beliau tentang syukur nikmat tadi. Tapi akhirnya aku bercerita juga. Semuanya.

?Begitulah, Bah. Saya merasa ragu akan mampu menjalani semuanya dengan sempurna.?

?Kesempurnaan hanyalah milik Allah,? ucap Abah lembut. ?Sudahkah anak beristikharah??

?Lho? Tapi saya bukan sedang mencari jodoh, Bah,? ucapku serta-merta, bingung. Tapi Abah justru tertawa melihat kebingunganku.

?Istikharah bukan hanya untuk itu, Nak, melainkan juga berlaku untuk semua urusan yang memerlukan pertimbangan.?

?Oo?? sahutku ber o-oh panjang. ?Kalau sudah seperti ini bagaimana, Bah??

?Perbanyaklah istighfar. Mohonlah keridhaan ?Nya atas semua??

Sesaat aku terdiam.

?Anak masih khawatir??

Kuanggukkan kepalaku dengan perlahan.

?Anak tidak percaya sama Allah??

?Bukan begitu, Bah,? sahutku cepat. ?Saya hanya merasa terlalu berspekulasi. Menurut hitungan yang saya buat??

?Hitungan matematis bukanlah Tuhan, Nak?? Tiba-tiba saja Abah memotong kalimatku. Sesaat aku terperangah. Apa maksud beliau?

?Anak pasti tahu Rasulullah??

?Ya.? Tentu saja aku tahu!

?Anak juga pasti tahu bahwa Rasulullah adalah seorang yang miskin, yatim piatu,? juga tak pernah mengenal jenjang sekolah??

?Ya,? jawabku lagi dengan tegas.

?Anak juga pasti pernah berpikir bahwa dengan keadaan yang seperti itu, sangat mustahil bagi beliau untuk menjadi yang utama dalam sejarah peradaban manusia??

?Y-ya?? kali ini jawabanku agak ragu.

?Tapi seperti yang Anak ketahui bahwa sampai hari ini, belum ada seorangpun yang mampu? bahkan untuk sekedar menyamai prestasi beliau.?

?Tapi beliau seorang Rasul, Bah.? Dan aku hanya Matari, bisikku lirih.

?Benar. Tapi Allah tidak pernah mengirim utusan ?Nya kepada manusia, melainkan dari golongan manusia juga.?

Keraguan masih menggumpal di hatiku ketika sosok bersurban itu berbicara lagi.

?Anak masih ingat kisah para salafusshalih??

?Y-ya??

?Pernahkah Anak dengar mereka pergi ke tempat-tempat yang lebih sunyi, untuk berkhalwat dengan Rabbnya? dengan membawa-bawa kompor dan panci? Atau mie instan, misalnya???

Tanpa sadar aku tertawa. Kalimat Abah terdengar lucu di telingaku. Sesaat aku membayangkan para sufi itu menenteng segala tikar dan perabot masak dalam ransel mereka? mirip pendaki gunung!

Aku tertawa lagi. Abah hanya tersenyum saja melihat polahku.

***

Betapa bersyukurnya aku telah dipertemukan dengan orang seperti Abah Rahman. Sosok teduhnya, keluasan ilmunya, juga tutur katanya yang teduh dan jauh dari penghakiman, telah begitu banyak memberiku pencerahan

Kadang aku merasa bahwa Abah adalah sebuah cahaya, yang menerangi dan menuntunku ?juga banyak orang yang lainnya- menuju sumber dari segala cahaya, Allah.

?Mereka bersyukur ketika hari ini hanya beroleh lumut sebagai rejeki, atau ketika hari yang lainnya hanya mendapat setetes air. Dan sampai hari ini, belum pernah terdengar ada salah satu dari mereka yang meninggal akibat kelaparan. Wallahu a? lam. Allah Maha Besar...? ucap Abah Rahman mengakhiri kisah orang-orang suci itu.

Tapi tak semua kalimat Abah bernada serius. Seperti tadi, ketika beliau menangkap keraguanku untuk berpuasa sunah.

?Takut jadi lebih jangkis??

Kontan saja aku tertawa mendengar sosok teduh itu berbahasa gaul.

?Rasulullah sebaik-baiknya ahli ibadah. Sering ketika berbuka, beliau hanya memakan beberapa butir kurma. Bahkan perut beliau kerap di ganjal batu sebagai penahan lapar. Tapi sampai berabad-abad setelah kepergian beliau, belum pernah ada yang meriwayatkan bahwa tubuh beliau kurus seperti orang yang cacingan!?

Lagi-lagi aku tertawa. Ah, Abah ada-ada saja.

Tapi semua yang dikatakan Abah memang benar. Sangat sering kudengar kisah tukang becak yang anaknya banyak, bahkan ada juga yang beristri lebih dari satu, hidupnya baik-baik saja. Malah kudengar postur tukang becak itu hampir menyaingi Ade Rai, kekar juga sehat! Dan semuanya berjalan atas rejeki dari ?Nya, walau hanya melalui benda kecil dan remeh bernama: Becak!

Terima kasih, Abah, semoga Allah membalas semua kebaikanmu, doaku tulus dalam hati. Dengan perasaan yang lega kupacu langkah menuju rumah. Sebuah beban telah lagi tersibak.

Kuliah?? Siapa takut!

?

Secangkir Kopi Serial Si Ari: Simfoni yang Tak Pernah Usai, ThornVille-inspirasi.co, Tahun Jebot.

Link sebelumnya: