Sebuah Kado Untuk Rasulullah

Pemimpin Bayangan III
Karya Pemimpin Bayangan III Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 10 Februari 2016
Sebuah Kado Untuk Rasulullah

?Subhanallaah?!?

Aku terlonjak bangun. Nafasku tersengal-sengal. Peluh menderas dari dahi dan wajahku.

Kuucap istighfar perlahan. Rupanya aku hanya bermimpi.

?Mimpi yang aneh?? aku bergumam sendiri. Terbayang kembali segala peristiwa yang kualami di alam kematian sesaat itu.

?Assalaamu?alaikum?? sebuah suara memecah lamunanku tiba-tiba. Kutengokkan kepala ke kiri dan ke kanan, mencari sumber suara yang tadi menyapa. Tapi tak kutemukan siapapun di sana. Begitu juga ketika kupalingkan pandangan ke arah belakang. Hasilnya tetap sama.

Barangkali hanya angin, batinku. Bukankah seluruh makhluk bertasbih kepada ?Nya? Dan barangkali saja, sambil bertasbih salah satu makhluk itu menyapaku? dengan salam.

Tapi suara itu terdengar lagi, masih dengan salam. Lalu entah dari mana datangnya, di hadapanku kini telah berdiri seorang pria setengah baya. Tubuhnya tinggi besar, dengan gamis hijau yang terasa begitu janggal bagi geliat mode kota ini. Geliat yang kadang meminggirkan aurat hingga teronggok di pojok moral. Sementara wajahnya? terlihat begitu bersih dan terang. Seperti memancarkan sebuah cahaya.

Wajah itu! Tiba-tiba saja aku teringat sesuatu. Al Banna! Ya, wajah di depanku ini begitu mirip dengan Hasan Al Banna! Ah, tapi? bukankah ia telah lama wafat? Dan lagi, ini kan Jakarta? Lalu siapa orang ini?

Belum lagi keherananku surut ketika sosok yang begitu mirip Al Banna itu menyentuh pundakku. Mendadak semuanya berubah menjadi putih.

Ada apa ini? Apakah mataku telah menjadi rabun? Tapi? bukankah setiap hari aku makan pakai wortel?

Entah berapa lama keadaan itu berlangsung, aku tak tahu pasti. Hingga perlahan pijar-pijar putih itu meredup. Semuanya menjadi normal kembali. Tapi hal itu justru memperparah keterkejutanku. Betapa tidak! Di hadapanku kini telah berdiri sebuah bangunan berbentuk kubus.

Apakah itu Ka?bah? Kukucek-kucek kedua mataku. Tapi bangunan itu tak hilang. Bahkan kini bertambah jelas.

Kuamati lagi bangunan itu dengan lebih seksama. Ya, bangunan itu memang Ka?bah, kiblat tersuci para hamba Allah. Walau ada beberapa kejanggalan yang terlihat di sana. Tak ada bangunan pendukung yang luas dan megah, juga tak ada sentuhan peradaban lainnya. Bahkan masih terdapat pecahan-pecahan patung batu di sekitarnya. Lalu? siapakah orang-orang berambut gondrong itu? Yang tengah berbincang-bincang di samping pintu masuk? Tiba-tiba saja aku merasa cemas. Jangan-jangan, mereka?

?Tak usah khawatir, mereka bukan orang-orang jahat,? sosok bergamis hijau di sampingku berkata teduh, menangkap geliat cemas di hatiku lalu memitasnya hingga uap.

?Maaf, Ustadz? bukan maksudku untuk bersu?udzon,? ucapku malu. Ya, Ka?bah adalah rumah Allah. Tak akan pernah Ia biarkan seorangpun mengotorinya. Dan Allah adalah sebaik-baiknya pelindung.

?Hanya saja di negeriku, Ustadz,? lanjutku. ?Terlalu banyak orang-orang yang melecehkan masjid dan mengotori kesuciannya. Bahkan tak jarang mereka juga menghancurkannya?? tak terasa kesedihan mengguyurku. Pilu, teringat peristiwa pembakaran dan penghancuran masjid yang begitu kerap terjadi beberapa waktu yang lalu.

Sosok bergamis hijau itu tersenyum arif. Diusapnya bahuku dengan perlahan, membuat haruku menjadi semakin tergugu. Beriringan kami berjalan, menuju sosok-sosok berambut sebahu itu.

Belum lagi kami benar-benar sampai ketika sosok-sosok itu bangkit dari duduk? dan menyambut kami dengan hangat.

?Al Banna?! Angin apa gerangan yang telah membawamu kemari???

Ternyata beliau benar-benar Al Banna!

?Hanya kemurahan dari Allah sajalah yang mampu menjadikan semua,? balas Al Banna sambil bergantian memeluk mereka.

?Mari? kuperkenalkan pada seseorang,? lanjutnya seraya melambai kearahku.

Kujabat tangan mereka satu persatu. Kerikuhan menerpaku ketika sosok-sosok itu membalas dengan pelukan. Erat dan hangat. Sekilas kulihat kesamaan di antara mereka. Wajahnya! Betapa wajah-wajah itu juga terlihat begitu bersih dan bercahaya, sama seperti wajah Ustadz Al Banna. Siapakah mereka sebenarnya?

?Inikah salah satu dari mereka?? seseorang dari mereka berkata sambil memandang ke arahku. Kulihat Ustadz Al Banna mengangguk.

?Siapa namamu tadi, Nak?? tanya orang itu lagi.

?Ari? Matari,? jawabku pelan, masih sungkan pada wajah yang memancarkan? wibawa itu.

?Asy-Syamsu,? Ustadz Al Banna menjelaskan ketika kening orang itu sedikit berkerut.

?Oh?? ucapnya sebelum melanjutkan lagi kalimatnya. ?Afwan? baru sekali ini kudengar orang memakai nama itu. Biasanya Abdullah, Abdurrahman. Dari manakah asalmu? Ari??

?Ja-Jakarta? Eh, Indonesia,? sedikit gugup kusebutkan nama negeriku. Negeri yang kini tengah bergulat melawan angkara.

?Subhanallah?! Betapa besarnya kekuasaan Allah! Bahkan dalam negeri yang belum pernah kudengar inilah Allah melimpahkan karunia ?Nya, menjadikan mereka sebagai saudara bagi Al Maksum? Allahu Akbar!?

Saudara? Al Maksum? Apa maksud orang-orang ini? apakah mereka menganggapku sebagai saudara Rasulullah? Ya, Allah? Siapa mereka sebenarnya, dan mengapa mereka memberi penghormatan yang setinggi itu padaku?

Agaknya keherananku tak ingin bertepi hari ini. Terus berlanjut bersama rajut kata-kata yang terucap dari orang itu, yang agaknya paling tua di antara mereka. Barangkali juga pemimpin mereka.

?Mari kuperkenalkan satu-satu? Yang sebelah kiri adalah Umar. Di sebelahnya??

?Umar?! Umar Bin Khaththab maksud Bapak?! Khalifah yang memanggul sendiri kantung gandum untuk rakyatnya?! Umar yang itu??!? puluhan kata berdesakkan keluar dari lidahku. Riuh, mencoba mencari muara bagi kebingunganku yang tegang. Tapi sejurus kemudian kusadari kekhilafanku.

?Maafkan aku, Bapak. Bukan maksudku bersikap tidak sopan,? sesalku karena telah memotong kalimat orang berwajah bersih itu. Kulihat orang itu hanya tersenyum. Kepalanya mengangguk mahfum.

?Itu sebuah kesalahan?? seseorang yang di sebut Umar tadi berbicara dengan masygul. ?Bahkan kesalahan itu begitu besar hingga terdengar sampai ke negerimu, Nak,? wajahnya terlihat semakin sedih.

?Bu-bukan itu?? ucapku tak enak hati sebab telah menyinggungnya dengan aib. ?Justru Allah menjadikannya sebagai ibroh bagi kami, sebagai sebuah hikmah,? lanjutku.

Tetap saja wajah itu keruh sedih.

?Di sebelahnya adalah Utsman, lalu di sebelahnya lagi Ali, lalu??

Orang berwajah bersih itu terus berbicara. Tentang kegundahan mereka. Tentang Ka?bah. Juga tentang patung-patung yang berserakan di sekeliling Ka?bah.

?Begitu banyak patung yang terus dibuat, sebagai berhala baru untuk mereka sembah. Dan tidak hanya dari batu atau kayu??

Suaranya semakin samar terdengar.

?Bahwa kebaikan yang terserak tak beraturan, akan tergilas oleh kejahatan yang tersketsa dengan sangat menawan,? kali ini Sayyidina Ali yang berbicara.

Semakin samar dan samar. Hingga mataku tiba-tiba menjadi rabun kembali. Semuanya kembali memutih.

Ketika kesadaranku pulih, kutemukan diriku berada di sebuah negeri yang lain. Pemandangannya tak jauh berbeda, hamparan pasir di mana-mana. Tapi aku tahu bahwa ini bukan lagi kota Mekah.

Kutengok sekelilingku. Tak ada siapapun. Juga tak ada Ustadz Al Banna. Di manakah beliau berada? Di manakah aku saat ini?

Mataku kembali menyelusur, meniti setiap sisi yang tertangkap oleh jarak pandangku yang berbatas. Hingga pada sebuah rumah kutemukan lagi beliau. Agaknya tengah memberikan tausiyah kepada kumpulan yang duduk takzim di sana.?

?Dar El ?Ulm,? kubaca tulisan yang terpampang pada pintu rumah itu. Memoriku kembali berdentang, mencoba mencerna informasi yang baru saja masuk.

Dar El ?Ulm? Apakah ini tempat pengajaran itu? Apakah ini Mesir?

Belum lagi benak selesai menebak-nebak ketika kulihat Ustadz Al Banna keluar dari sana. Langkahnya tegap, gagah menyusuri jalan raya.

Tiba-tiba saja aku teringat sesuatu. Sesuatu yang kontan membuatku berkeringat dingin. Kepanikan melanda, membawa ketegangan pada jutaan adrenalin yang berlomba untuk secepatnya mengalir.

?Jangan ke sana, Ustaaa? dz!!!? aku berseru dengan sangat keras. Tapi terlambat. Dari arah tikungan kulihat sebuah jip, dengan serombongan tentara, melaju dengan kecepatan tinggi.

?USTAAA? DZ!!!? aku berteriak lagi dengan lebih panik. Puluhan senjata terlihat dikokang, siap untuk menyarangkan berbutir-butir peluru dengan sekali serang.

Kupacu langkahku agar semakin memburu. Tapi baru puluhan meter kakiku berlari ketika kulihat tubuh itu tersungkur. Gamisnya tak lagi hijau, juga jalan raya itu. Merah. Merah di mana-mana.

?Ustadz?? ucapku perih. Masih puluhan langkah jarak yang membentang di antara kami.

?TIDAAA?K!!!? teriakku mengoyak angkasa. Tapi semuanya tak berubah. Tubuh itu tetap tergeletak di sana. Gamis itu tetap merah. Begitu juga jalan raya, hamparan pasir, rumah dan pepohonan. Semuanya tetap merah. Merah yang membawaku ke alam kesadaran.

Kuusap peluh yang membanjir di kening. Nafasku masih memburu. Masih terbayang semuanya dengan sangat jelas. Bahkan masih kudengar tentara-tentara itu, yang tertawa dengan amat pongahnya. Juga sayup-sayup ucapan Ustadz Al Banna, sesaat sebelum ia menggapai syahid.

?N-nak? ja-jangan biarkan mereka kembali? membangun patung-patung itu??

Sekali lagi kuusap peluh di dahi, yang terus saja mengucur deras.

***

Pukul enam pagi. Jalan Jembatan Lima masih tampak lengang. Belum terlihat aktivitas yang berat di sana, yang biasanya selalu menyuguhkan kemacetan. Agaknya pagi memang melulu menghidangkan segala yang terbaik; polusi yang lebih sedikit, kesegaran yang sangat, juga jalan bebas hambatan.

Dari atas metromini 80 kuresapi pemandangan itu. Tak ada hamparan pasir. Tak ada jip-jip tentara. Juga tak ada merah di atas jalan raya. Semuanya terlihat begitu tenang dan damai. Walau kadang tersembul bangunan-bangunan kumuh di sisi jalan. Tapi setidaknya di sini aman, batinku. Tidak seperti di?

?Ongkos, Bang!? seseorang mencolek bahuku. Sebuah colekan yang seketika membuyarkan lamunanku.

Kuberikan selembar ribuan kepadanya, sambil menyebutkan tempat yang kutuju. Melihat kenek itu aku jadi teringat Igay. Apakah ia juga sudah mulai ber?operasi??

Setelah beberapa kali ngetem, akhirnya metromini melaju dengan normal. Setengah jam kemudian kulihat beberapa cerobong pabrik menyembul ke udara.

?Jembatan Genit, kiri?? ucapku sambil mengetuk atap metromini.

?Lu enggak malu kerja di pabrik, Ri?? tanya Susilo suatu kali ketika aku meminta informasi tempatnya bekerja.

?Memangnya kenapa? Bukankah gue di sana bekerja?? aku balas bertanya.

?Bukan begitu, Ri?? ucap Susilo lagi. ?Tapi setidaknya banyak pekerjaan yang lebih baik buat lu, lain halnya ama gue.?

Aku tersenyum sendiri mendengar ucapan alumni STM paling ?nakal? di Jakarta ini. sebuah STM yang punya julukan ?raja tawuran?, yang nama institusinya saja cukup membuat gentar sejenisnya.

?Lu kan lulusan SMU itu. Gue dengar nilai lu juga tinggi, tentu tak sukar buat lu mencari kerja.?

Aku tersenyum lagi. Harusnya memang seperti itu. Nilai-nilaiku cukup tinggi, begitu juga dengan keterampilan pendukung lainnya. Kalu cuma Bahasa Inggris dan office standar saja sih tak masalah bagiku. Tapi agaknya Jakarta memang sebuah kota tanpa pakem yang jelas. Ketrampilan dan nilai bagus saja belumlah cukup untuk mencari kerja? jika dia hanya lulusan SMU! Lain ceritanya jika ia termasuk dalam ?trah bermata sipit?.

Dan setelah menjalani tes masuk yang hanya berkesan formalitas, satu minggu kemudian aku bekerja di sana. Entah apa pertimbangan mereka, tapi yang jelas aku merasa bersyukur ketika ditempatkan di bagian bengkel. Bahkan satu bagian dengan Susilo.

?Hey?! Ada orang baru yang nyasar ke sini?!? dengan sedikit kocak Susilo mengenalkan aku pada pekerja yang lain.

Tapi ucapan Susilo memang ada benarnya. Di antara mereka, hanya akulah satu-satunya yang lulusan SMU. Semuanya STM. Entah bagian mesin, entah elektro. Bahkan mereka tak percaya ketika kukatakan bahwa aku bukan dari jurusan IPA.

?Lu anak SOS, Ri? Ah, bo?ong lu? Kalo emang SOS, lu pasti masuk bagian packing, bareng sama anak-anak SMP itu??

Dan mereka tetap tak percaya, bahkan ketika Susilo sendiri yang menjelaskannya.

Begitulah, akhirnya aku bekerja di pabrik itu. Sebuah pabrik penghasil gelas yang berlokasi di Jalan Kedaung Kali Angke Raya?

***

Apa arti mimpiku semalam?

Kupandangi lagi buku bercover putih itu dengan lebih teliti. Ya, gambar di sampul itu memang persis dengan sosok bergamis dalam mimpiku semalam. Imam Syahid Hasan Al Banna.

Kuambil cermin kecil yang tergeletak di sudut lemari. Setelah kubersihkan debu yang menempel, benda bening itu langsung memantulkan tiruan wajahku dengan ajaib. Sama persis seperti aslinya. Hanya tertukar bagian kiri dengan kanan.

Kembali rasa itu yang hadir. Rasa syukur yang teramat besar sebab Allah telah menganugerahiku wajah yang, walaupun tidak sangat tampan, tetapi sangat sempurna dalam pandanganku. Mata yang agak sipit, hidung yang mancung, juga garis rahang yang memberi aksen ?keras?. Ditambah lagi dengan kulitku yang putih kekuningan serta rambut yang lurus tergerai. Tergerai? Serta-merta kuralat kalimat terakhir itu. Sudah tiga bulan ini rambutku tak lagi gondrong, sejak aku melamar kerja di pabrik.

?Tidak menyesal rambut seperti ini dipotong?? tukang cukur itu bertanya sambil memegang rambutku yang tebal dan terawat.

?Yah, mau gimana lagi, Pak. Biasa? demi cita-cita?? jawabku setengah berseloroh.

?Memangnya Ospek kampus sudah dimulai, ya?? tanyanya lagi seraya mulai memotong.

Ya, Ospek kampus memang telah dimulai tiga bulan yang lalu. Dan harusnya aku termasuk salah satu dari mereka.

?Anak sekarang memang enak? bisa sekolah dengan setinggi-tingginya. Tidak seperti Bapak dulu??

Aku tersenyum sendiri mengingat ?insiden rambut?ku tiga bulan yang lalu itu. Dengan postur dan wajah yang seperti ini, siapapun akan mengira kalau aku adalah mahasiswa. Minimal calon mahasisiwa.

Kupandangi lagi pantulan wajahku pada cermin. Sejenak aku sempat berkhayal. Jika saja rambutku masih gondrong seperti dulu, lalu ditambah dengan brewok yang lebat, apakah wajahku akan seperti mereka? Bercahaya seperti orang-orang yang kutemui dalam mimpi semalam?

Tapi sebelum anganku berkelanjutan, cepat-cepat aku mengakhirinya. Bukankah dari gerbang itu setan menyelinap? Lewat andai. Kadang-kadang lewat mimpi.

Lewat mimpi! Apakah mimpiku semalam juga serupa itu? Hanya semacam tipu daya yang direkayasa oleh la?natullah ?alaih itu? Bukankah ia mampu menjelma dan menyerupai hampir segala bentuk? Lagi-lagi otakku berdentang keras, mencoba memaknai lagi peristiwa itu.

Ya, dalam mimpi itu aku memang melihat setan. Sekumpulan setan yang -dengan senjata dan tawa angkuhnya- telah membuat Ustadz Al Banna rebah bersimbah darah. Bahkan ketika mimpi itu usai, masih kurasai gerilya setan-setan itu yang kian hari kian mengganas. Di Checnya, Bosnia, Palestina, Afghanistan, Irak, juga dalam negeriku sendiri. Mereka terus saja membuat persembahan air mata dari darah para muslim. Tak peduli tua, muda, wanita, pun anak-anak. Demi berhala-berhala pemujaan mereka!

?Inikah maksud ucapan terakhir Ustadz? Tapi, adakah yang mampu untuk kuperbuat?? Aku mengeluh sendiri. Pilu. Sedih.

Tiba-tiba saja aku teringat Rasulullah. Bagaimanakah perasaan Beliau bila menyaksikan keadaan umatnya sekarang? Menyaksikan anak-anaknya berkubang darah? Bersimbah pedih yang tak berhingga? Juga, bagaimanakah perasaan Beliau mendapati jutaan ladang kebaikan warisannya? diobrak-abrik oleh angkara?

Sebuah kerinduan yang gegar menyesapiku, menelikung seduku dengan jutaan haru yang semakin padu. Sebuah kerinduan yang besar, pada Bapak umat muslim itu. Pada Bapak kami, yang telah jauh waktu mendahului kami?

?

tapi kini bapak tiada

meninggalkan beribu ladang

dan

berjuta haru dalam kalbu

sebab tugas, katanya

telah usai

?

dalam gemuruh akan

rindu, yang terus saja

menggebu waktu ke waktu

tubuh kami meluruh, dalam simpuh

dinisanmu: Dalam janji

?

??????????? ?Bapak, doakan kami

??????????? sebab ingin kami

??????????? sepertimu, walau hanya petani

?

Bapak

hari ini kami berduka

sebab tunas belum lagi usai

tertanam

sebab kami, hanya seorang muallaf

?

Entah kapan masanya, aku tak tahu pasti. Tapi yang jelas, suatu hari nanti akan kubuat tunas-tunas itu kekar mengakar. Menjadi sesuatu yang indah dan membanggakan. Bagi saudaraku sesama muslim, sebagai sebuah kado? untuk Rasulullah!

Barangkali baru ini janji terluhurku, walau baru untukku. Walau baru sebentuk janji, yang kelak akan kutagih sendiri?

?

Secangkir Kopi Serial Si Ari: Simfoni yang Tak Pernah Usai, ThornVille-inspirasi.co, Tahun Jebot.

Link sebelumnya:

  • view 170