Episode Matari: Hebatnya Manusia

Pemimpin Bayangan III
Karya Pemimpin Bayangan III Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 10 Februari 2016
Episode Matari: Hebatnya Manusia

Namaku Matari, tapi orang-orang biasa memanggilku Ari. Seperti juga nama Tulip dan Perisai yang diberikan kepada kakak dan adikku, tak ada yang tahu kenapa aku diberi nama itu. Begitu juga Ibu. Tak ada alasan yang khusus ketika beliau menamaiku Matari. Beliau hanya merasa bahwa nama itu, amatlah bagus untukku.

?Matari itu rajanya planet, Nak. Tapi ia tidak pernah sombong dan menentang takdir. Ia bersinar ketika harus bersinar, dan ia tenggelam ketika masanya telah habis,? jelas Ibu suatu kali ketika kutanyakan tentang arti namaku.

Saat itu aku merasa sangat takjub mendengar jawaban Ibu. Lalu angan kekanakanku mulai mengembara, mencoba menggambarkan matahari sebagai raja.

?Matahari pasti raja yang hebat ya, Bu? Mahkotanya bessuaaar dan berkilau dengan langit sebagai kerajaannya. Waah? langit kan begitu luas ya, Bu? Pastilah matahari itu raja yang sangat hebat!? tanganku bergerak-gerak, mencoba menggambarkan kegagahan dari sang raja. Matahari. Matari. Sementara Ibu hanya tersenyum sambil mengusap lembut kepalaku.

Lalu seperti juga burung-burung, pohon dan makhluk hidup lainnya yang terus tumbuh, begitu juga aku. Tumbuh dan berkembang dengan segala kemampuan motorik yang dimiliki manusia. Hingga suatu saat, aku merasa sangat kecewa. Semua kebanggaanku luruh. Ternyata matahari bukan raja yang sangat hebat!

Pernah suatu kali, guru agama di SDku bercerita tentang Nabi Ibrahim. Kata beliau, Nabi Ibrahim sedang mencari Tuhan. Ketika melihat gunung, ia menyangka bahwa gunung itulah Tuhan. Tapi ia kecewa karena gunung tak bisa bergerak. Lalu ia mencari lagi dan bertemu dengan awan, bulan serta bentuk-bentuk lainnya yang indah dan menawan. Tapi Nabi Ibrahim selalu kecewa karena bentuk-bentuk itu selalu dikalahkan oleh bentuk-bentuk lainnya yang ia temukan, yang jauh lebih indah dan menakjubkan. Hingga suatu hari, kata beliau, Nabi Ibrahim melihat matahari. Ia begitu terpesona oleh keindahan yang terpancar dari matahari. Lalu berpikir bahwa?

?Matahari adalah Tuhan!? seruku dengan bersemangat, mengagetkan seisi kelas.

?Benar,? Pak Guru menjawab lembut.

Yes! Ternyata matahari memang hebat! Aku tersenyum-senyum sendiri, bangga. Tapi penjelasan Pak Guru selanjutnya mematahkan senyum kebanggaanku. Kata beliau, Nabi Ibrahim kembali kecewa ketika matahari akhirnya lenyap, digantikan oleh malam yang hitam dengan jutaan bintang. Dan?

?Pak!!? seruku tiba-tiba, lagi. Kali ini suaraku lebih keras. Marah. Seisi kelas kembali kaget. Terutama Pak Guru. Semua mata kini memandang ke arahku.

?Ada apa, Ari?? suara Pak Guru masih saja terdengar lembut.

?Matahari adalah raja, Pak! Tidak mungkin ia bisa digantikan oleh malam atau bintang!? nafasku agak tersengal sebelum kulanjutkan lagi kalimatku.

?Kata Ibuku, matahari adalah raja yang tidak sombong. Kerajaannya adalah langit yang sangat luas, dan semua planet yang ada di dalamnya adalah tentara-tentaranya. Juga bintang-bintang yang sangat banyak itu?? suaraku kembali normal, datar, berbanding terbalik dengan suara teman-temanku yang menjadi gaduh. Mereka menuntut penjelasan dari Pak Guru.

?Tenang anak-anak, tenang?!? lagi-lagi suara Pak Guru begitu tenang. Bahkan kulihat beliau tersenyum.

Wah? ternyata murid Bapak pintar-pintar dan bersemangat, ya??

?Teruskan dong, Pak?! Teruskan?!? teman-temanku kembali berteriak dengan semangat, sementara hatiku berdebar-debar menunggu penjelasan dari Pak Guru selanjutnya. Pasti Pak Guru salah. Matahari kan raja yang hebat!

Tapi dugaanku ternyata keliru.

Nabi Ibrahim tetap tidak menganggap matahari sebagai Tuhan. Bahkan kemudian ia bertemu dengan malaikat di atap rumahnya, sedang mencari keledai.

Aku terdiam, dalam kekecewaan yang besar dan menggumpal. Dalam hati aku sempat berpikir, jangan-jangan Pak Guru berbohong. Beliau pasti mengarang cerita itu dengan seenaknya sebab mana mungkin ada orang yang mencari keledai di atap rumah. Apalagi, kata beliau, orang itu adalah malaikat. Ah, tapi? masak sih Pak Guru berbohong?

Kekecewaanku semakin bertambah besar ketika dalam pelajaran IPA, guruku yang lain kembali menerangkan tentang matahari. Kata beliau, matahari adalah pusat planet. Dan semua planet yang ada berputar mengelilinginya, dengan putaran yang berbeda-beda.

Sampai di sini aku masih merasa tenang. Tapi penjelasan selanjutnya membuatku bingung sekaligus cemas. Beliau mengatakan bahwa matahari, ada di dalam sebuah rasi bintang yang bernama ?Bima Sakti? (Apakah ?rasi? serupa ?asi? atau ?taksi?, sebab kartun-kartun buatan luar negeri selalu bercerita tentang ?jalan susu??). Dan di dalam rasi Bima Sakti itu, terdapat banyak sekali matahari, yang juga dikelilingi oleh planet-planet. Bahkan, kata beliau lagi, jumlahnya sangat banyak. Barangkali milyaran.

Aku cuma bisa heran sendiri. Milyaran? Waah?! Jika memang matahari adalah raja, alangkah banyaknya raja-raja yang ada di langit! Jangan-jangan? raja-raja itu akan saling berperang, seperti dalam cerita wayang yang sering kubaca di komik. Bukankah nama rasinya juga mirip tokoh Pandawa? Emmh? Bima Sakti! Pasti disebelahnya ada rasi Puntadewa Sakti atau Arjuna Sakti?! Ah, keadaan di langit pasti sangat kacau!

***

Tapi namaku tetap Matari. Dan aku masih merasa bangga dengan namaku sebab belum pernah kudengar ada orang lain yang punya nama sepertiku. Dan kebanggaan itu kubawa terus sampai hari ini. Aku tak tahu mengapa. Tapi setidaknya ketika aku sedang merasa susah atau sedih, nama itulah satu-satunya yang mampu menghiburku. Karena aku akan segera masuk ke kamar, mengambil bantal untuk kemudian berteriak dengan sekeras-kerasnya, ?Aku adalah Matariii?!!!? Terus, berulang-ulang hingga perasaanku kembali lega. Sebab aku adalah Matari. Dan pada suatu titik di alam semesta, aku pastilah seorang raja. Tapi, adakah raja yang berteriak-teriak pada bantalnya?

***

Pukul empat sore. Udara sangat cerah. Lebih tepatnya terik sebab matahari begitu semangat menghamburkan cahaya panasnya ke bumi. Dari dalam bis kulihat pohon- pohon yang berfungsi sebagai paru-paru kota. Tegak, berjajar seperti sebuah antrian yang panjang. Pohon-pohon itu terlihat begitu rapi dan langsing, berderet-deret di sepanjang jalan Hayam Wuruk ? Kota. Keningku tiba-tiba saja berkerut. Mungkinkah pohon-pohon itu juga ikut senam kebugaran?

?Ongkos, Bang!? seseorang mencolek bahuku. Rupanya kenek. Kuberikan salah satu dari dua lembar lecek yang tersisa di dompetku kepadanya.

?Ah, kuurang, Baang! Ayolaah?bensin sudah pada naik, nih! Lagi pula, kau kan bukan mahasiswa!? kenek itu mencolekku lagi. Logatnya Batak.

?Aah? dekat, kok. Cuma sampe Kota doang,? aku mencoba bersikeras.

?Tetap saaja, Bang, kuurang iniii?!? si kenek tak mau kalah. Agaknya ia juga keras kepala. Mungkin terbiasa menghadapi penumpang yang membayar ongkos dibawah tarif.

Aku sedikit gusar. Kutatap wajahnya dengan agak galak.

?Lu reseh amat, sih! Gue tahu tarif bis ini sekian. Tapi inikan jaraknya dekat! Cuma dari Gajah Mada ke Kota doang! Kalo emang ongkos gue kurang, anggap aja itu ongkos campur, oke?!?

Wajah kenek itu melongo. Bengong. Bingung. Begitu juga wajah beberapa penumpang yang sempat memperhatikan keributan kami.

?Ongkos caampur? Ongkos campur aapa?? si kenek bertanya lagi. Logat Bataknya menjadi lucu, seperti orang Jawa yang bersuara parau.

?Campur nebeng!!!? sahutku ketus. Dari arah belakang terdengar beberapa penumpang tertawa tertahan. Cekikikan. Juga dari arah samping. Rasain! Siapa suruh tidak punya toleransi?

Kenek itu akhirnya pergi, setelah sebelumnya ia menggerutu panjang-lebar.

?Daasar orang sableng?! Emangnya bensin pake campur-campur segala??

Aku tertawa sendiri mendengarnya. Tapi aku menjadi terkejut ketika tiba-tiba kenek itu berbalik lagi dan menghampiriku. Ada apa lagi, nih?

?Eh, Kau? rasa-rasanya pernah kenal aku dengan orang seperti kau,? ujar kenek itu sambil menatapku dengan tajam.

Sekarang aku yang melongo. Bingung. Nih kenek kenapa jadi sok akrab begini? Masa, sih, hanya karena ongkos yang kurang sekian perak? Jika benar karena itu, alangkah gigihnya ia.

Sambil menggeleng-gelengkan kepala kuambil dompet di saku dan kukeluarkan lembar bernominal terakhirku dari sana. Namun niatku urung ketika kenek itu berkata lagi.

?Hey?! Kau? Kau si Ari, kan?! Si Matari yang anak tukang oncom goreng itu?! Yang rumahnya di Jalan Ketapang?!?

Kekagetan sejenak memasungku. Bukan karena tebakannya yang benar, melainkan lebih karena suaranya yang keras menggelegar di seantero bis. Makan apa sih nih kenek hingga ngomong aja harus teriak segala? Bikin kaget aja. Mana bawa-bawa profesi ibuku lagi. Malu, kan?

??Ah-eh? benar. Kok lu tahu? Ah, lu pasti baca biodata gue di majalah remaja, ya? Atau? Aha! Gue tahu sekarang. Lu pasti seorang peramal, kan? Wah? kalo begitu kebetulan. Nih, sekalian aja lu ramal nasib gue hari ini?!? ucapku seraya menyodorkan telapak tangan sebelah kiri.

?Aha? ha?ha? Masih saja kau sableng?! Aku bukan peramal, tahu! Coba kau tebak aku siapa?? ditepisnya tanganku keras-keras. Plak! Kontan saja tanganku oleng dan membentur bangku di depanku. Sakit, tapi tanganku tak mengaduh sebab tugas itu telah diambil alih oleh mulut.

?Lu? kenek bis, kan?? jawabku polos, ragu-ragu. Tiba-tiba saja aku teringat sebuah cerita. Jangan-jangan? orang ini adalah malaikat? Dan karena atap rumah sudah terlalu rapat, lapuk dan berdempetan di Jakarta, maka ia kemudian mencari keledainya di dalam bis kota. Tapi, adakah salah satu penumpang bis ini yang bernama Ibrahim? Dan jika memang ada, apakah ia juga seorang Nabi? Apakah ia juga sedang mencari Tuhan? Lho, tapi? bukankah Tuhan sudah ditemukan? Bahkan di Indonesia saja agama ada lima?

Kenek itu mendelik mendengar jawabanku. Tapi sedetik kemudian wajahnya kembali ramah, tersenyum.

?Aku? Igay, teman kau waktu di SMP dulu??

Deg. Igay? Teman SMPku? Igay yang itu?

?Lu? lu benar-benar Igay? Igay teman gue dulu?? seperti tak percaya kupandangi lagi wajah di depanku dengan lebih seksama. Dan? ternyata memang benar! Ia adalah Guinaldo, teman akrabku waktu di SMP.

?Ya Allah?! Igay! Gimana kabar lu sekarang?! Terus, ngapain lu sekarang ada di sini? Aha! Gue tahu, lu pasti jadi kenek bis ini, kan?!?

Derai tawa menyelimuti kami, membawa serta kenangan lama yang menggelembung tiba-tiba. Kenangan masa-masa di sekolah.

?Lu berubah sekarang, Gay.?

?Kau juga, Ri. Apalagi rambut kau yang gondrong itu. Hampir-hampir tak kenal aku sama kau.?

?Eh, tapi? ngomong-ngomong kenapa waktu itu lu pindah sekolah, Gay?? tahu-tahu saja kalimat itu lolos dari mulutku, seakan lidahku memiliki iradatnya sendiri. Dalam hati aku merutuki kecerobohanku. Tak adakah pertanyaan lain yang lebih segar?

?Oh, waktu itu?? sebuah mendung, seperti yang sudah kuduga, menggelayut tiba-tiba di wajah keras itu. ?Sebenarnya aku tak pernah pindah, Ri.?

Tak urung penjelasan itu membuatku terpana. Putus sekolahkah? Kenapa?

?Waktu itu keluargaku kena musibah, Ri. Bapakku kena PHK?? lanjutnya lagi.

?Terus, apa hubungannya ama lu?? tanyaku dengan agak heran.

?Ya jelas ada, dong. Aku kan anaknya,? Igay tertawa lucu. Aku juga tertawa. Bingung. Emang apa hubungannya putus sekolah dengan statusnya sebagai anak?

?Waktu itu keluargaku sempat kacau. Bapak memang mendapat pesangon, tapi berapalah besar pesangon seorang pegawai rendahan?? Igay terdiam sejenak.

?Oo??

?Lalu Bapak mengambil sebuah keputusan besar. Dijuallah rumah yang di Jakarta. Alhamdulillah, sekarang keluargaku sudah baik lagi perekonomiannya. Bahkan kemarin Ibu memberi kabar dari Medan bahwa Bapak, sudah mendapat pekerjaan lagi di sana.?

Medan? Mengabarkan? Apa lagi ini?

?Bingung kau pasti,? tebak Igay sebelum melanjutkan ceritanya.

?Waktu itu aku memang sempat tinggal di Medan. Tapi tidak lama, hingga akhirnya kuputuskan untuk kembali ke Jakarta. Yah, minimal aku bisa bantu-bantu keuangan sedikit. Dan ternyata? inilah profesi yang terbaik untukku, jadi menteri perhubungan darat ha? ha??

Mau tidak mau aku ikut tertawa mendengar guyonnya. Lucu, juga prihatin.

?Ssst! Satu lagi, Bung. Aku sekarang sudah menikah, lho?! Dan Insya Allah, tak lama lagi aku akan dihadiahi seorang anak oleh istriku?!???

?Hah?! Menikah?! Punya anak?! Ah, becanda lu??!? suaraku menyembur keras, kaget, sementara Igay hanya tertawa-tawa saja melihat ekspresiku.

Tapi sebelum aku bertanya lebih lanjut, bis telah sampai di Kota.

Baru saja aku turun dari bis ketika Igay menimpukku dengan sesuatu. Pluk! Tepat di keningku. Kuambil sesuatu itu. Aha! Ternyata uang lecekmilikku tadi, yang kini bertambal kumal karena dikepal-kepal.

Tapi itu artinya aku bisa pulang dengan damai nanti, tak perlu lagi tawar-menawar harga dengan kenek. Sementara di pintu bis Igay tertawa-tawa sambil melambaikan tangan kearahku. Cuma satu tangan, sebab jika tangan yang satunya ia lambaikan juga, ia pasti akan jatuh dari bis. Dan jika pun tidak jatuh, belum tentu ia mampu melakukannya sebab pintu bis begitu penuh dengan penumpang.

Bis kota merayap semakin jauh meninggalkanku, meninggalkan debu dan sepenggal kenangan tentang Igay. Tentang masa-masa indah kami di SMP. Juga tentang sejumput kegetiran yang sempat dirangkai hidup untuknya.

Tapi tak selamanya getir itu pahit atau duka sebab tak kutemukan rona itu sedikitpun di wajahnya yang cerah. Sumringah. Begitu tangguhkah ia? Atau memang itulah kehebatan manusia, mampu untuk menanak duka hingga menjadi sebuah hidangan yang empuk dan membahagiakan. Alangkah hebatnya makhluk-makhluk ciptaan ?Mu duhai Perupa Makhluk?

Matahari masih saja cerah dan bersemangat mengibas-ngibaskan cahayanya ke bumi. Juga pohon-pohon, masih tetap langsing dan berderet-deret. Tapi aku sudah tak mempedulikannya lagi sebab ada sesuatu yang lebih menarik dari mereka. Dan sesuatu itu adalah hidup. Andai manusia hanya terdiri dari darah dan daging, akankah ia mampu bertahan?

Dengan langkah dalam kubawa tubuhku berlalu, menuju laut Muara Baru.

?

Secangkir Kopi Serial Matari Episode Kedua, ThornVille-inspirasi.co, Tahun Jebot.

Link sebelumnya:

  • view 179