Dongeng untuk Jokowi II: Do Your Best, Lis. Tapi Tak Semua Harus Sempurna

Pemimpin Bayangan III
Karya Pemimpin Bayangan III Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 09 Februari 2016
Dongeng untuk Jokowi II: Do Your Best, Lis. Tapi Tak Semua Harus Sempurna

?Kamu punya orangtua!? tegas sosok berusia lima puluh tahun di hadapanku ini, yang belum lagi kuketahui siapa beliau dan apa hubungannya dengan Mas Ikhsan, yang kembali melanjutkan ucapannya dengan nada yang amat janggal: Kasar namun mengandung rasa sayang yang meluap.

?Kalau Kamu memang cinta dengan gadis ini, Bapak akan menikahkan kalian. Gadis ini orang mana dan anak siapa?! Malam ini juga Bapak akan langsung ke rumahnya?!!!?

Hingga titik ini aku baru sadar, bahwa sosok berusia lima puluh tahun ini, tak lain dan tak bukan adalah calon mertuaku.

Tanpa sadar aku beristighfar. Tubuhku gemetar

Astagfirullah? nekad sekali.

***

Cerita sebelumnya:

Aku sempat berpikir untuk sebisa mungkin tidak kembali lagi ke Taiwan. Dan barangkali semua kapital yang kukumpulkan akan cukup untuk melunasi hutang keluarga, memperbaiki rumah tinggal serta membangun gerai usaha entah apapun. Hanya saja pikiran tersebut langsung pupus beberapa waktu setelah berada di Indonesia, ketika beberapa kejadian membuat tak hanya aku yang harus kembali bekerja di Taiwan. Dan kisah lengkapnya tentu saja akan kucatatkan dengan lebih terperinci, pada bab setelah yang ini?

See you Taiwan?!!! (Dongeng untuk Jokowi II: Bapak Berminat Membaca Kisah Asli Kami di Negeri Asing?)

***

?

Jika dari Kota Pati melanjutkan perjalanan menuju Utara, maka hanya butuh waktu kurang dari satu jam untuk tiba di komplek wisata Grenjengan Sewu yang tersohor indah itu, yang letak persisnya di kaki Gunung Muria, dua puluh menit berjalan kaki dari Desa Jrahi.

Di desa indah itulah aku lahir dua puluh tujuh tahun silam. Tepatnya pada tanggal dua puluh enam April seribu sembilan ratus delapan puluh delapan, dengan nama: Sulistiani.

?

Tak ada yang istimewa dari keluargaku. Profesi awal orang tuaku seniman ludruk, sebuah kesenian yang benar-benar terlahir dari rahim rakyat yang paling dalam. Namun entah mengapa profesi itu berakhir ketika usiaku menginjak lima tahun. Sejak saat itulah mereka mulai berdagang. Bangun dini hari lalu bergegas membawa segala palawija, sayur serta buah dan yang lainnya ke pasar, yang malam sebelumnya telah dipersiapkan terlebih dahulu.

Ayahku pandai berdagang. Melihat caranya berdagang, hatiku selalu memuji karena ayah piawai menawarkan barang dagangannya. Pun hebat dalam bersosialisasi, yang dibuktikan dengan banyaknya relasi serta pelanggan dagangannya. Bagiku, ayahlah yang terbaik di antara semua pedagang yang ada. Tidak heran jika banyak pula yang bersikap baik kepadaku. Mereka sering membelikanku agar-agar jelly beragam warna yang amat lucu.

Tapi watak ayahku memang agak keras. Sejak kecil aku telah digemblengnya dengan disiplin yang sangat ketat. Jika aku melakukan kesalahan, ayah tidak segan memberiku hukuman. Namun sebaliknya, ayah akan memberi hadiah jika aku mendapat nilai tinggi atau berhasil memperoleh? peringkat bagus di kelas.

Pernah suatu kali aku terlambat pulang dari sekolah. Hari itu hujan, aku bersama tujuh temanku berteduh di bawah pohon randu yang sangat rindang. Kami bermain ludruk-ludrukan. Bermain hingga puas membawakan tari Ngremo sebagai pembuka, yang dilanjutkan dengan adegan Pak Sakerah, tari perang, bernyanyi serta adegan-adegan yang lainnya, dengan tanah becek sebagai alas panggung serta derai hujan sebagai latar terkuatnya. Hasilnya? Baju seragam kami yang awalnya putih-merah langsung bersalin warna menjadi coklat-abu-abu bersimbah lumpur tanah, dengan luapan keceriaan yang akhirnya membuat kami lupa waktu.

Hari menjelang sore ketika kami akhirnya bubar ke rumah masing-masing. Dan sesampainya di rumah, ayah telah menanti di depan pintu dengan rentetan pertanyaan yang susul-menyusul.

?Kenapa hari ini pulangnya terlambat, Lis? Dan bajumu itu kenapa bisa kotor sekali??

?Iya, Yah. Tadi Lis ada pelajaran tambahan? tarik tambang. Lis lupa tak membawa baju olahraga, jadi terpaksa memakai baju seragam, jadinya kotor,? bohongku.

?Ooh? Ya sudah kamu lekas mandi, ganti pakaian lalu makan. Kamu sudah ditunggu ibumu sejak tadi di dapur,? ucap ayah sambil memberi isyarat dengan matanya ke arah yang ditunjuk.

?Njih, Yah,? sahutku seraya bergegas ke dapur menemui ibu, dan meminta air hangat untuk membasuh tubuh. Hatiku lega karena ayah tidak curiga dengan kebohonganku .

Namun tanpa diduga, malam harinya Pakde datang ke rumah. Beliau bercerita bahwa? kakak sepupuku yang ikut berhujan-hujan bersamaku, kini tergeletak di tempat tidur dihantam demam tinggi.

?Wahhhh, gawat? aku ketahuan bohong,? gumamku dengan agak panik. Dan? benar saja.

?"Lis...! Sini..!!!? panggil ayah dengan intonasi suara yang agak tinggi, membuatku kian menciut ketakutan. Sementara kedua mata ayah menatapku dengan? tajam.

?Njih, Yah,? jawabku dengan wajah gelisah.

?Pulang sekolah mampir kemana?? ayah memulai interogasi.

?Langsung pulang, Yah,? jawabku mencoba mempertahankan kebohongan, walau dengan tubuh yang mulai gemetar.

?Mampir kemana?!? mata ayah semakin tajam menatapku.

?Mmmmm....pulang terus mandi ganti baju...?

Wajah ayah agak memerah mendengar jawabanku. Matanya mendelik, membuat nyaliku semakin mengecil hingga menjadi amat kerdil.

??Jawab saja yang jujur, Lis? ibu turut membujuk. ?Kalau kamu jujur tak akan dihukum. Tapi jika tetap berbohong nanti dipukul pakai pecut? sambung ibu.

Bayangan ujung cambuk melanda kulit tubuh langsung membuyarkan pertahananku. Kengerian yang membayang memaksaku untuk menceritakan semua sejujur-jujurnya. Sejak hari itu, ayahku membuat peraturan baru. Pulang sekolah paling lambat pukul setengah satu sudah harus tiba di rumah terkecuali hari Jumat, karena hari tersebut sekolahku memang selesai satu jam lebih awal.

***

?

Menginjak usia tujuh belas tahun, sebatang panah Cupid menembus jantungku, membuat resah siangku serta memulas begitu banyak warna pelangi di setiap gurat mimpiku.

Pelontar panah tersebut Ikhsanudin, pemuda tetangga desa dengan kepribadian yang membuatku tertawan.

Tapi baru tiga bulan kami menjalin hubungan, ketika orang tuaku mengetahuinya, membuat mereka murka dan memberi dua pilihan yang sama membingungkannya, yaitu: Tidak pacaran, atau? menikah!

?

Menikah???

Oh My God

Usiaku baru 16 tahun 9 bulan.

?

Tidak!

Aku masih ingin mengejar impian-impianku.

Aku tidak akan menikah sedini ini.

?

Akhirnya hari yang kukhawatirkan datang juga. Ayah memanggil kami, dan kembali mengulangi ucapan sebelumnya dengan sedikit lebih terperinci. Dengan kata lain, ayah meminta orangtua Mas Ikhsan datang meminang, atau jika tidak, silakan putuskan hubungan saat itu juga.

Hal itu tentu saja membuat kami bingung. Kami jelas saling mencintai. Tapi umumnya cinta muda-mudi berusia remaja, kami selalu merasa butuh waktu, setidaknya untuk saling belajar memahami semasing kami.

Tak ada jawab terlontar dari bibir Mas Ikhsan. Tak lama berselang Mas Ikhsan merantau ke Jepara untuk menyelesaikan pekerjaannya yang sempat tertunda.

Satu minggu berlalu tanpa kabar. Dua minggu. Tiga minggu. Hingga pada minggu yang ke-empat barulah Mas Ikhsan kembali.

?Ibuku tak menyetujui hubungan kita, Lis. Aku malah dijodohkan dengan pilihan ibu. Bahkan ayah tiriku telah melamar wanita itu dan kami akan segera melangsungkan pernikahan?? dengan suara terbata-bata Mas Ikhsan menjelaskan, membuat otakku beku tanpa mampu mencerna sepenuhnya apa yang dia ucapkan barusan, walau anehnya perasaanku merespon dengan lebih cepat: Menangis. Pilu. Dalam diam yang amat tergugu. Dalam hening yang amat menyengat sebab kehilangan yang sosok yang dicinta, entah mengapa terasa jauh lebih buruk bahkan jika dibandingkan dengan kehilangan jiwa sendiri.

Aku bergeming tanpa respon apapun kecuali menangis. Aku sadar strata sosial keluargaku yang kelas bawah, berbanding terbalik dengan keluarga Mas Ikhsan, yang walaupun broken home namun berasal dari kalangan berada.

Aku pasrah. Jika memang Mas Ikhsan bukan jodohku, aku mencoba ikhlas.

Ayahku yang sejak awal memang kurang merestui hubungan kamipun menyarankan hal yang sama, agar mengikhlaskannya saja daripada kelak tersakiti.

***

Satu minggu berselang sejak perjumpaan terakhirku dengan Mas Ikhsan. Kami tak saling memberi kabar. Tak ada upayaku untuk mempertahankannya, karena aku cukup tahu diri mengingat yang kumiliki murni hanya cinta. Dan bukankah dunia telah menguji, bahwa cinta semata memang seringkali amat tak cukup?

Karena tak cukup itulah akhirnya memaksaku untuk mengembalikannya kepada Sang Maha Cinta, dan apapun yang terjadi biarlah menjadi cinta terbaik dari-Nya, sesedih atau sebahagia apapun itu.

Semua berjalan seperti biasa hingga pada suatu sore, tiba-tiba Mas Ikhsan datang dan mengajakku pergi. Entah kemana, karena Mas Ikhsan hanya mengatakan ingin mengajakku main ke rumah salah satu sahabatnya.

Tibalah kami di sebuah rumah yang? alangkah asingnya!

Seorang diri aku terpekur di ruang tamu, sementara Mas Ikhsan masuk ke salah satu kamar.

?Untuk apa kamu kemari?? kudengar suara seorang wanita paruh baya menegur mas Ikhsan dari arah dapur, yang memang letaknya bersebelahan dengan kamar yang dimasuki Mas Ikhsan.

?Ambil baju,? jawab Mas Ikhsan singkat sambil bergegas keluar membawa satu ransel penuh yang kuduga berisi baju.

Sambil menggembol ransel penuh tersebut, Mas Ikhsan menghampiriku lalu mengajak pergi, membuatku bertanya-tanya sendiri.

Katanya mengajak main ke rumah teman, kenapa aku tak melihat yang punya rumah? Sebenarnya rumah tadi tempat siapa?

?

Karena penasaran, kutanya Mas Ikhsan akan kejadian barusan.

?Tadi itu rumah siapa sih? Kok aku tak melihat teman kamu? Terus sekarang kita mau kemana??

?Nanti juga kamu akan tahu sendiri,? jawab Mas Ikhsan singkat, sambil memacu laju motor lebih bergegas.

Setelah menempuh perjalanan sekitar tiga puluh menit, kami kembali tiba pada sebuah rumah yang lainnya, membuatku yang ingin bertanya langsung diam teringat kejadian yang sebelumnya.

Dalam hati aku sibuk menebak-nebak, kali ini rumah siapa lagi? Dan apa lagi yang kelak akan terjadi?

Turun dari sadel kulihat pemandangan yang amat menarik. Sebuah rumah kuno yang penuh karikatur khas Jawa, yang kesemuanya serba terbuat dari kayu. Tak seperti rumah sebelumnya yang lengang, di rumah ini kutemui pasangan kakek dan nenek yang usianya kutaksir mencapai delapan puluh tahunan. Juga ada seorang bapak berusia sekitar lima puluh tahunan. Selebihnya, aku tak paham. Bahkan selama tujuh belas tahun kuran tiga bulan hidupku, aku sama sekali belum pernah menginjakkan kaki ke desa ini.

?Assalamu ?alaikum?? salam Mas Ikhsan, yang langsung bersambut jawab dengan salam bapak paruh baya tersebut.

Kami masuk dan dipersilakan duduk.

?Pak, ini pacar Ikhsan. Ikhsan ingin menikah dengannya, tapi ibu tidak merestui. Makanya Ikhsan datang ke sini. Dan kalaupun Bapak tidak merestui juga, kami mohon pamit untuk pergi melanjutkan kehidupan dengan cara kami sendiri,? Mas Ikhsan membuka pembicaraan langsung tanpa unggah-ungguh, membuat wajahku agak memucat karena merasa ada sesuatu yang mulai kusadari tentang apa apa yang tengah terjadi.

Suasana mendadak menjadi amat hening. Tapi hening itu hanya sejenak, terobek oleh suara sosok di hadapanku itu.

?Kamu punya orangtua!? tegas sosok berusia lima puluh tahun di hadapanku ini, yang belum lagi kuketahui siapa beliau dan apa hubungannya dengan Mas Ikhsan, yang kembali melanjutkan ucapannya dengan nada yang amat janggal: Kasar namun mengandung rasa sayang yang meluap.

?Kalau Kamu memang cinta dengan gadis ini, Bapak akan menikahkan kalian. Gadis ini orang mana dan anak siapa?! Malam ini juga Bapak akan langsung ke rumahnya?!?

Hingga titik ini aku baru sadar, bahwa sosok berusia lima puluh tahun ini, tak lain dan tak bukan adalah calon mertuaku. Dan rumah yang sebelumnya kudatangi adalah rumah ibunya Mas Ikhsan.

Tanpa sadar aku beristighfar. Tubuhku gemetar

Astagfirullah? nekad sekali.

Kedua mataku langsung basah.

Oh, Tuhan?

Aku dihadapkan ke orangtuanya.

Aku? aku?

Aku tidak menyangka jika Mas Ikhsan benar-benar memperjuangkanku.

Aku menangis tanpa mampu kutahan, memuntahkan segenap jelaga jiwa yang sebelumnya merampas seluruh cahaya kehidupan yang kumiliki, dan menghasutku untuk sempat tak percaya, bahwa cinta sejati sebenarnya memang ada.

Aku menangis dan menangis, dan terus saja menangis tanpa henti?

(Bersambung ke episode berikutnya,??Dongeng untuk Jokowi II: Awal Sejuta Mimpi)

?

Secangkir Kopi Dongeng untuk Jokowi Jilid II: Sejuta Mimpi Melly, ThornVille-inspirasi.co, 09 Pebruari 2016.

  • view 221

  • Umi Setyowati
    Umi Setyowati
    1 tahun yang lalu.
    Kok mahal like di sini. Ini sdh di klik 29 kali tapi 0 like. Sudah kusemat tuh. . gantian yaaa. .

    • Lihat 1 Respon

  • Pemimpin Bayangan III
    Pemimpin Bayangan III
    1 tahun yang lalu.
    Tinggal postingan ini yang belum bisa di share ke fb sampai saat ini...^_