Dongeng untuk Jokowi II: Bapak Berminat Membaca Kisah Asli Kami di Negeri Asing?

Pemimpin Bayangan III
Karya Pemimpin Bayangan III Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 09 Februari 2016
Dongeng untuk Jokowi II: Bapak Berminat Membaca Kisah Asli Kami di Negeri Asing?

Based on the true story. Sebuah karya kolaborasi. Pernah dicetak terbatas secara indie serta non ISBN pada hari Minggu 17 Januari 2016, bertempat di Boguan Parka, Taichung-Taiwan. Persembahan bagi seluruh TKI/BMI yang tengah berjuang mengais mimpi di negeri asing: Tangis kami untuk kalian? T_T

***
Cerita Sebelumnya:

Kuhirup napas dalam-dalam secara amat perlahan, sebelum akhirnya aku mulai mengetik laporan, ditujukan kepada Yang Terhormat Bapak Presiden. Sebuah laporan, yang benar-benar paling singkat yang pernah ada dalam sejarah.

?Tepat saat kaki mereka berhenti berlari, semesta hening.?

Tapi baru saja aku hendak memasukan laporan super ringkas tersebut ke dalam amplop resmi kenegaraan, ketika sebuah ingatan kembali merenggutku dari kesadaran akan kekinian, dan membawaku dalam kembara pada peristiwa sebelumnya.

Sebuah kisah tentang Melly di Taiwan sana, yang dengan segala suram yang dimilikinya, tetap berusaha sekuat daya, agar tetap mampu menjelma kuntum-kuntum cahaya bagi diri dan sesamanya.

Apakah hidup memang melulu terkesan tak adil? Atau justru di sanalah logika proses keadilan Tuhan menyinggasana, hingga Dia ciptakan setiap diri berbeda dengan yang lainnya, dengan tempaan pengalaman yang juga tak pernah sama, demi peran yang kelak juga berbeda, sesuai dengan gurat nasib serta gores takdir terbesar yang harus dijalani (?Dongeng untuk Jokowi #7:?Pendidikan yang Memang Amat Penting, Tapi untuk Siapa?).

***


Volume 01: Taiwan, I?m Coming!

Kehidupan hanyalah skenario. Indah dan tidaknya amat bergantung pada bagaimana kita beradegan di dalamnya.

***

Kulempar pandangku keluar jendela pesawat. Dari kejauhan, pemandangan di bawah sana amatlah indah. Lampu warna-warni, gedung pencakar langit, masih ditambah dengan pemandangan malam yang begitu memukau.

Aku terbang kian menjauh, meninggalkan sederet panjang nama orang-orang yang kusayangi, membuat air mataku menetes kembali tanpa kusadari.

Aku berada di Negara Taiwan. Sebuah tempat yang amat jauh dari kota asalku. Tapi aku sadar, di sinilah kelak aku akan menemukan jawaban? dari semua mimpi-mimpiku selama ini. Dan takdir apapun yang akan kutemui disana, aku pasrahkan seluruhnya kepada Sang Pencipta. Aku ikhlas?

***

untuk sebuah cita

kugadaikan masa muda

lengkap, dengan segala senangnya

kujual waktu senggang

dengan segala hasrat

tuk nikmati hidup

(?Untuk Sebuah Cita? dalam Di Bawah Kibaran Dosa)

?

Bandara International Taoyuan, Taiwan.

?Cepat bereskan barang-barang lalu keluarkan paspor kalian!? teriak salah satu agensi yang menjemput kedatangan kami.

Agak terhenyak aku melihat pemandangan yang terhampar di hadapanku. Betapa amat mencengangkannya, menyaksikan ribuan tenaga kerja asing antri menanti agensi yang akan menjemput mereka!

Mereka sama sepertiku. Mereka meninggalkan keluarga yang mereka cintai, berjuang di sini sambil diam-diam menyeka sedih yang menetes jauh di lubuk terdalam hati, hanya demi menapaki sejuta mimpi yang berusaha untuk mereka dapati.

?Aku tak perlu berkecil hati, aku mempunyai banyak teman seperjuangan di sini,? bathinku, mencoba untuk terus menguatkan perasaan.

Malam setelah tiba di Bandara Internasional Taoyuan, kami di bawa ke sebuah penampungan. Dan keesokan harinya, mulailah kami menjalankan berbagai prosedur yang dibutuhkan. Mulai dari laporan ke kantor imigrasi, medikal check up, mengisi berbagai formulir di kantor agensi, hingga akhirnya kami dipisahkan satu-persatu untuk diantar ke rumah majikan yang berbeda.

Hari kedua setelah aku melakukan cek kesehatan, aku dipindahkan ke kantor agensi yang berada di Hsinchu, melalui perjalanan darat yang sangat melelahkan. Hingga akhirnya pada hari ketiga barulah aku diantar ke sebuah rumah, yang sesuai perjanjian kontrak kerja akan kutinggali selama tiga tahun kedepan.

***

untuk sebuah cita

tak pernah kugentar

walau hanya ada

sesenduk ambisi

dan sejumput asa, yang kan

kutaruh

dalam gelas perjuangan

untuk kemudian, kutuangi

dengan air kesungguhan

dari kendi kesederhanaan hidup

?

Ketika tiba di rumah majikan, aku kembali tercengang. Alih-alih mendapatkan pekerjaan sesuai perjanjian, justru sebaliknya. Berdasarkan kontrak kerja yang telah kutanda tangani, pekerjaanku seharusnya menjaga dan merawat orang berusia lanjut. Tapi ini?

Kutatap restoran besar yang ada di hadapanku dengan senyum agak kecut. Sebuah bangunan berlantai lima yang amat luas. Telah terbayang betapa akan amat melelahkannya bekerja di sana.

Di gedung inilah aku akan menukar tenagaku dengan segala cita-cita sederhana yang kupunya, membeli mimpi, hanya demi dapat melakoni hidup yang kelak kuharap dapat lebih baik dari yang sekarang ini.

***

Hari pertama tak banyak yang bisa kulakukan. Beruntung ada dua teman Indonesia yang bekerja lebih dulu di sana, yang sangat membantu untuk aku berkomunikasi dengan seluruh penghuni restoran.

Pukul enam pagi aku sudah harus siap menyapu dan mengelap meja-kursi restoran. Entah berapa jumlah set meja-kursi yang ada, aku tak pernah menghitungnya. Yang jelas pekerjaan awal tersebut cukup sukses menjadikan punggungku terasa nyeri.

Urusan sapu-menyapu dan mengelap selesai sekitar pukul sebelas menjelang siang, dilanjutkan dengan membantu mencuci sayuran serta membuat susu kedelai untuk di jual hingga pukul dua sore. Setelahnya, mencuci mangkok kemudian menjadi rutinitasku. Mulai dari yang berukuran sebesar mata sapi hingga yang beratnya kutaksir tak kurang dari dua kilogram. Dan jumlah mangkuk yang harus kucuci kembali membuatku terharu, mengingat banyaknya yang sepertinya tak jauh dari bilangan ribuan.

Pukul setengah empat sore aku mendapat istirahat selama setengah jam, untuk kemudian melanjutkan pekerjaan hingga pukul sebelas malam, membuatku bertanya-tanya sendiri, akankah aku mampu bertahan menjalani beban kerja seperti ini selama tiga tahun?

Kembali aku menangis. Tangis seorang pekerja wanita di negeri asing, yang baru saja menginjak usia Sembilan belas tahun. Dorongan perasaan untuk menyerah dan pulang ke tanah air begitu menggebu, karena setidaknya di kampung halamanku, aku masih bisa menjadi orang bebas, walau mungkin dengan kehidupan pas-pasan khas orang desa. Tapi semua telah terlanjur, membuatku dengan amat terpaksa mencoba untuk tetap bertahan, dan membuktikan bahwa aku bukanlah wanita lemah.

***

Memasuki hari kedua, seluruh tubuhku sakit semua. Jangankan untuk bekerja, bangkit dari tempat tidurpun aku tak mampu.

Mengetahui keadaan sakitku, majikan langsung menelepon agensiku, yang datang tak lama kemudian: Hanya untuk memarahiku!

Dengan mimik penuh emosi, agensiku mengatakan bahwa jika aku sakit, maka mereka akan memulangkanku. Dan aku harus menanggung seluruh biaya operasional yang jumlah totalnya mencapai puluhan juta rupiah.

Tak ada yang dapat kulakukan saat itu selain meminta maaf kepada majikan dan agensiku, sambil diam-diam menahan perasaan pilu yang entah dari mana datangnya langsung menyelusup tiba-tiba ke pucuk hati terdalamku, dan berjanji akan bekerja sebaik mungkin di restoran ini.

Kupaksa badan untuk bergerak, serta kembali mengulangi ritme kerja yang kemarin dengan tubuh luluh-lantak. Tanganku terasa kebal, semua persendian yang ada di sekujur tubuhku amat ngilu. Tapi aku tetap menguatkan diri. Aku harus bisa, tekadku. Dan kembali butir-butir bening luruh di pipiku saat menyapu dan mengelap meja restoran, yang dengan amat segera kuseka ketika ada yang memergokinya.

***

juga, untuk sebuah cita

lakukan semua yang terbaik

yang dapat

yang harus dilakukan

apapun, di manapun

?

Alah bisa karena biasa, barangkali ujar-ujar kuno tersebut yang paling tepat menggambarkan pergulatan karirku di Taiwan.

Memasuki bulan yang kesepuluh barulah aku mulai merasakan manisnya buah ketabahanku selama ini. Terutama saat nyeri di sekujur tubuh efek bekerja terlalu diforsir telah banyak berkurang, yang ditambah dengan melonggarnya beberapa peraturan kerja bagi karyawan asing pemula, amat meringankan beban psikologis yang kuderita.

Bulan ini aku telah diperbolehkan untuk menggunakan ponsel secara bebas. Dan itu artinya aku tak perlu lagi menekan perasaan sungkan meminjam HP teman sejawatku saat ingin memberi kabar ke Indonesia, yang jika sungkan itu telah menggunung membuatku terpaksa hanya bisa mengirim kata penuh rindu serta cinta melalui sepotong surat. Dan berkomunikasi melalu lembar-lembar surat? tentu saja memerlukan waktu serta tenaga super ekstra saat melakukannya, mengingat waktu istirahatku yang amat terbatas sementara letak kantor pos lumayan jauh dari restoran tempat kerjaku.

Saat ini aku telah bebas untuk menghubungi sanak keluargaku di kampung halaman, sebanyak dan selama apapun yang kumau. Tentu saja selama hal itu tidak mengganggu pekerjaan utamaku.

Perlahan dunia kembali indah. Keputusanku untuk berjuang meraih sejuta mimpiku kini semakin kunikmati. Bangun pagi, bekerja tak kenal lelah lalu menerima sejumlah mata uang Taiwan setiap bulan sebagai pembayarnya, langsung saja menjelma kenikmatan tersendiri buatku.

Dan seiring dengan berlalunya waktu yang terasa lebih laju buah kesibukanku, dunia seakan mengajariku: Cara untuk mencintai diri sendiri dan menginvestasikan waktu. Mempersiapkan sebaik mungkin hari esok, yang kuyakin akan sangat indah. Karena aku telah menanam benih kebahagiaan untuk esok hari, sejak awal mula kedatanganku yang pertama kali ke negeri ini.

.Menginjak tahun kedua pekerjaanku dipindahkan, menjadi sesuai dengan kontrak kerja yang sebenarnya, yaitu menjadi pengasuh Ama, sebuatan bagi wanita usia renta di negeri ini.

Aku tersenyum ceria, membayangkan betapa akan jauh lebih banyak waktu istirahatku kelak. Toh tugasku hanyalah mengasuh Ama.

Ternyata dugaanku keliru. Benar bahwa pekerjaanku adalah mengasuh dan atau mendampingi Ama. Hanya saja aku tak tahu, bahwa di belakang Ama yang harus kubantu melaksanakan kegiatan sehari-harinya, ternyata masih ada anak, cucu serta sejumlah besar anggota keluarga yang lainnya, yang jumlahnya tak kurang dari empat belas jiwa!

Wow! Amaziiinggggg?!!!

Aku merasa tertantang dalam pekerjaan ini. Jika aku berhasil melewati dua tahun kedepan, sudah bisa dipastikan sebuah mimpiku akan langsung terwujud. Tapi bila tak berhasil, orang-orang akan langsung menertawai serta mencibirku.

Rumah besar berlantai empat dengan tiga belas kamar dan dua buah dapur harus aku bersihkan setiap hari. Setiap pagi dan sore, aku dan Ama harus ke kebun untuk menanam sayur, serta banyak lagi pekerjaan lainnya, yang syukurlah tak lagi membuat tubuh dan mentalku kaget.

Akhirnya tiga tahun berhasil kulewati. Kini tiba saatnya aku kembali ke tanah air. Pulang. Beristirahat serta menghabiskan waktu bersama keluarga tercinta, sambil menunggu proses untuk mencari pekerjaan yang lebih baik lagi pada masa kontrak kerja berikutnya.

Aku sempat berpikir untuk sebisa mungkin tidak kembali lagi ke Taiwan. Dan barangkali semua kapital yang kukumpulkan akan cukup untuk melunasi hutang keluarga, memperbaiki rumah tinggal serta membangun gerai usaha entah apapun. Hanya saja pikiran tersebut langsung pupus beberapa waktu setelah berada di Indonesia, ketika beberapa kejadian membuat tak hanya aku yang harus kembali bekerja di Taiwan. Dan kisah lengkapnya tentu saja akan kucatatkan dengan lebih terperinci, pada bab setelah yang ini?

See you Taiwan?!!!

?

dan untuk sebuah cita pula

mari, kita tanam benih keindahan

untuk kemudian kita tuai

bahagia

bersama dengan senyuman

kelak ketika fajar tiba

atau ketika fajar

tak akan pernah lagi tiba

(?Untuk Sebuah Cita? dalam ?Di Bawah Kibaran Dosa?)

?

(Bersambung ke episode berikutnya,??Do Your Best-Lis-Tapi tak Semua Harus Sempurna?)

?

Secangkir Kopi Dongeng untuk Jokowi Jilid II: Sejuta Mimpi Melly, ThornVille-inspirasi.co, 09 Pebruari 2016.

*?You may say ?I am a dreamer. But I am not the only one. I hope someday you join us. And the world will be is one,? begitulah John Lennon, vocalis band The Beatles, menyanyikan.mimpinya tentang dunia yang damai.

Lantas, apa mimpi kita?

Sekolah atau bekerja di negeri orang adalah mimpi kebanyakan orang Indonesia. Apalagi sampai menetap. Untuk mencapainya, tentu dengan kerja keras dan doa.

Kisah ini menceritakan, bagaimana mimpi bisa menghidupkan semangat kita, bahkan para TKI di Taiwan.

Mari, kita kejar mimpi kita hingga ke ujung dunia." (Gol A Gong, penulis dan pemimpi, penggagas Komunitas 'Rumah Dunia, Banten-Indonesia).

  • view 139