Dongeng untuk Jokowi #7: Pendidikan yang Memang Amat Penting, Tapi untuk Siapa?

Pemimpin Bayangan III
Karya Pemimpin Bayangan III Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 09 Februari 2016
Dongeng untuk Jokowi #7: Pendidikan yang Memang Amat Penting, Tapi untuk Siapa?

Cerita sebelumnya:

Kugigit kadal bakar sebesar paha bayi tersebut dengan gigi gemeretak, membiarkan tekstur kasar dengan rasa agak manis bercampur kesat kembali memancing rasa mualku. Sepotong kaki kadal kembali kumasukkan ke dalam mulut. Dan ketika tinggal kepala kadal yang tersisa, saat itulah aku benar-benar merasakan, betapa amat sukarnya merealisasikan keinginan untuk memuliakan pihak lain? melalui tindakan nyata (Dongeng untuk Jokowi #6: Jamuan Penyambutan yang Amat Mendebarkan).

***

masih merah, ucapmu

pada bendera di halaman itu

walau lambungmu yang sekian hari tak bertemu isi

menghasut matamu hingga pekat

dan bersumpah bahwa itu serupa warna darah

?

agak ragu kau pandang lagi

kibar di tiang halaman

barangkali cuma lusuh, keluhmu

diam-diam melepas kacamata lalu menggosoknya

berharap debu di kaca penyebab semua

tapi merah itu justru kian pekat

senada dengan warna putihnya

yang kini tak lagi serupa putih

?

Pendidikan yang Memang Amat Penting, Tapi untuk Siapa?

Dua hari kemudian, helikopter membawaku pergi dari hutan, menuju komplek militer yang berada di lereng pegunungan. Dari sana, masih butuh beberapa jam perjalanan darat untuk aku mencapai Jayapura, dan menginap di salah satu hotelnya. Dan hal paling penting yang langsung kulakukan beberapa detik setelah menjejakkan kaki di hotel adalah: Memesan kopi.

Otakku berdentang keras, memikirkan tentang apa yang harus diberikan negara, agar suku tersebut dapat memahami bahwa mereka adalah warga Negara Indonesia.

Apakah mereka akan diberi rumah sakit, seperti yang telah lebih dahulu dilakukan kepada sanak mereka di Yaniruma, Mu, Basman, Manggel, Mabul dan lain-lain? Tapi efektifkah pemberian tersebut, mengingat daya tahan fisik mereka yang kuat luar biasa, hingga nyaris tak pernah mengenal apa itu sakit?

Terlintas juga dalam pikiranku untuk menyarankan kepada Presiden, agar membangun sekolah di atas tanah mereka. Setidaknya dengan cara tersebut, mereka perlahan akan mulai mengenal apa arti serta hubungan Indonesia dengan mereka yang sebenarnya.

Namun bayangan tentang ?sekolah? dengan segala tuntutan dan konsekuensinya, entah mengapa justru membuatku bergidik ngeri.

?

Alangkah membosankannya, menghabiskan begitu banyak waktu dalam ?penjara intelektualitas? dengan segala macam rumor tentang ?mencerdaskan? dan menjadikan ?lebih berkualitas?, yang begitu kental dengan aroma tahayul itu?! Mengutak-atik segala macam rumus dan angka, yang seringkali di kehidupan nyata tidak banyak berguna. Atau menghapalkan begitu banyak teori tingkat tinggi yang bukan milik sendiri, yang jelas-jelas sering enggan berpihak pada hidup itu sendiri.

Pendidikan tentu saja amatlah penting, bathinku sambil berusaha keras mengingat-ingat perusahaan dan tempat bekerja mana saja yang telah dimasuki oleh nyaris seluruh yang kukenal seusai mereka sekolah, yang membuatku semakin paham untuk siapa dan atau pihak mana sebenarnya pendidikan itu penting.

?

Dan ke-amat penting-an pendidikan itu semakin aku yakini, walau mungkin dengan cara dan sikap yang ?agak berbeda?. Terutama saat aku kerap melihat betapa dunia intelektual tersebut, telah menjadi begitu cerdasnya hingga tetap mampu menahan diri untuk tidak berbenturan dan membuat konflik kepentingan dengan para stakeholder-nya, dan memilih untuk tetap ?cuma? menjadi pabrik pencetak SDM. Menghasilkan out put yang 100% siap menjadi operator, mungkin juga analisator. Tergantung dari ?titip pesan? yang mereka terima. Tanpa pernah berkeinginan lebih untuk menjadikan lulusan yang mereka hasilkan sebagai creator, walau jelas atmosfir yang mereka miliki lebih dari cukup jika? sekedar untuk mencetak barisan creature yang serupa baut dalam mesin besar dunia.

?

Tapi aku tetap menganggap pendidikan amat penting, sambil diam-diam berharap ada ilmu khusus yang mereka terapkan, yang barangkali mampu menjadikan Si Ino yang tukang Es Kebo mem-franchise-kan resep minuman tersebut seperti yang dilakukan Kolonel Sanders.

Atau sekedar memberi sedikit angin kepada Mpok Ipeh hingga mampu mengekspor nasi uduknya ke manca negara.

Barangkali mengotomatisasi irigasi petani hingga tak perlu lagi rebutan air sampai dini hari ?yang kadang masih disertai pula dengan beberapa silat lidah dan tarian beladiri.

Juga menjadikan Si Eman yang tukang sampah: Naik status sebagai raja sampah, yang tentu saja dalam konotasi paling positif yang pernah ada!

Kuteguk cairan hitam kesat sepat di cangkir hingga tandas. Entah mengapa aku merasa separuh jiwaku tertinggal di Tanah Papua, membuatku memutuskan untuk mulai berhenti berlari, dari semua kenyataan menyebalkan yang ada di negeri ini.

Kuhirup napas dalam-dalam secara amat perlahan, sebelum akhirnya aku mulai mengetik laporan, ditujukan kepada Yang Terhormat Bapak Presiden. Sebuah laporan, yang benar-benar paling singkat yang pernah ada dalam sejarah.

?Tepat saat kaki mereka berhenti berlari, semesta hening.?

?

ini bendera rindu

dalam tembang tanah air yang penuh cinta

walau merah di kibar atasnya

pernah menghasut matamu hingga pekat

dan bersumpah bahwa itu serupa warna darah

?

perlahan kau gosok kembali

kali ini sudut? di mata dan hatimu

yang tergesa meneteskan gerimis

kepedihan, sebab warna putih itu

yang kini serupa abu-abu

mengingatkan pada warna nasibmu sendiri

?

lagi, kau pandangi kibar di halaman itu

kembali ngilu, kembali abu-abu

dan pada merah pekat yang kian berkibar itu

kau sisipkan sebaris nada, dengan bait dan kata-kata sendiri

tentang tanah air mata, dengan bendera

yang tidak lagi sama

(?Bendera Rindu Negara Cinta? dalam Di Bawah Kibaran Dosa)

?

(Bersambung ke episode berikutnya, ?Dongeng untuk Jokowi II: Bapak Berminat Membaca Kisah Asli Kami di Negeri Asing?? -Kisah inspiratif penuh tangis tentang TKI, yang dengan segala keterbatasan pendidikan dan sebagainya, tetap berusaha meraih ?Sejuta Mimpi? miliknya: Dengan amat terseok. Based on the True Story).

?

Secangkir Kopi Dongeng untuk Jokowi The Series, ThornVille-inspirasi.co, 09 Pebruari 2016.

*Tulisan ini merupakan calon naskah novel yang mengacu kepada pendapat pribadi penulis, dengan tidak bermaksud melakukan ujaran kebencian dan atau mendiskreditkan Negara, Presiden, seseorang atau sekelompok pihak tertentu.

*Beberapa data dalam tulisan ini diambil dari status serta artikel yang banyak beredar di media, ditambah dengan pengalaman pribadi dari penulis saat tinggal di tempat-tempat tertentu negeri ini.

*http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2014/06/02/1518008/Bulu.Mata.Purbalingga.Menyihir.Dunia

?

Link Sebelumnya:

- Dongeng untuk Jokowi #6: Jamuan Penyambutan yang Amat Mendebarkan

-?Dongeng untuk Jokowi #5: Ini Bukan Hanya Tentang Papua, Pak?

-?Dongeng untuk Jokowi #4: Cara Aneh Menjadi Staf Khusus Penasehat Kepresidenan

-?Dongeng untuk Jokowi #3: Tanah Air Mata (3)

-?Dongeng untuk Jokowi #2: Tanah Air Mata (2)

-?Dongeng untuk Jokowi #1: Tanah Air Mata

  • view 210