Dongeng untuk Jokowi #6: Jamuan Penyambutan yang Amat Mendebarkan

Pemimpin Bayangan III
Karya Pemimpin Bayangan III Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 09 Februari 2016
Dongeng untuk Jokowi #6: Jamuan Penyambutan yang Amat Mendebarkan

Cerita sebelumnya:

Kembali kureguk cangkir kopi yang ketiga dengan amat masygul. Entah apa yang salah dengan negeri ini. Atau benarkah kita semua memang telah terlalu bodoh hingga tak lagi mampu, walau untuk sekedar memaksimalkan potensi yang tersedia dengan begitu rayanya di sekitar kita? Tersedia dengan amat riuhnya dalam negeri, yang memang sejak dulu kita buai lewat segala macam nyanyi surgawi? Tentang negeri dimana tongkat dan kayu bahkan menjelma tanaman meski kita lempar secara asal sambil bersandar saking suburnya. Begitu juga dengan kekayaan lautnya. Atau migasnya. Udaranya. Dan sebagainya yang semakin membuatku habis daya logis buah kenyataan yang terasa amat mensterilkan semangat ini.

?Jika ada yang berminat untuk melumat masyarakat dengan cara yang amat cepat, pisahkan para ibu dari anak-anak mereka, niscaya tak akan butuh waktu lama untuk generasi penerus menjelma serigala, bagi sesama mereka?? (Dongeng untuk Jokowi #5: Ini Bukan Hanya Tentang Papua, Pak?).

***

tapi lidahmu yang kian terasa ngilu

tatkala mendendangkan lagi

nada-nada tinggi

yang pernah, amat kau yakini itu

memaksamu untuk menjelma puisi

coba menerjemahkan kembali: semua nada

dengan bait dan kata-kata sendiri

?

Jamuan Penyambutan yang Amat Mendebarkan?

?Nati mengundang Bapak Penasehat Kepresidenan untuk menghadiri pesta ?bakar batu? sebagai upacara penyambutan kedatangan Bapak,? lapor agen penghubungku, membuat keningku refleks mengernyit.

Bakar batu? Apakah batu bisa empuk dan berubah rasanya menjadi pulen jika dibakar? Sakti sekali Suku Papua ini!

Setelah mempersiapkan diri, dengan adrenalin bergejolak kutiti satu demi satu ?tangga? dari batang pohon yang diukir berlekuk dari rumah pohon tempatku menginap, yang sekilas mengingatkanku pada kegiatan panjat dinding masa sekolah dulu. Hanya saja kali ini jauh lebih tinggi? 50 meter, dan tanpa tali pengaman!

Bersama agen penghubungku, kuhampiri gundukan batu yang mengepulkan asap tersebut, bergabung bersama warga suku paling terpencil dari tak kurang lima puluh klan yang ada, yang telah terlebih dulu hadir melingkari gundukan ?batu berasap? tersebut. Dan bersamaan dengan kedatanganku, seseorang yang kuduga Nati (kepala suku) berkata di tengah lingkaran, menggunakan bahasa Awyu-Dumut?yang belum pernah kudengar sebelumnya. Sepertinya tengah memberi semacam ?pidato sambutan? atas kedatanganku.

?Apa yang beliau katakan?? bisikku pada agen penghubungku.

?Nati tengah menjelaskan kepada warganya tentang kehadiran Bapak, yang dikatakan datang dari Indonesia,? jawab agen penghubungku sambil berbisik pula.

Agak terperangah juga aku mendengar penjelasan dari agen penghubungku. Bukankah semua yang hadir dalam pesta bakar batu ini memang tengah berada di Indonesia?

Seperti memahami keherananku, agen penghubungku menggeleng prihatin, dan menjelaskan sambil tetap berbisik bahwa butuh waktu cukup lama untuk menjelaskan kepada mereka, bahkan hanya untuk menjelaskan bahwa Papuapun, masih merupakan bagian dari Indonesia juga.

?Mereka nyaris tak pernah keluar dari hutan tempat tinggal mereka, Pak. Dan di sini juga tak ada sekolah, yang mengajarkan beragam pengetahuan dasar seperti yang biasa dilakukan di tempat-tempat lain. Dan pengetahuan mereka tentang Indonesiapun hanya sebatas dari kami, yang dalam beberapa kali kunjungan selalu memperkenalkan diri sebagai utusan dari Presiden Indonesia.?

Aku mengangguk, dengan pikiran yang berkecamuk tentang tak adanya sekolah serta beberapa garis besar situasi serta kondisi yang berlaku di tempat ini.

Perjamuan kudus telah siap tersaji. Kue sagu bakar yang nyaris sekeras batu, bubur sagu yang mengingatkanku pada lem kertas seharga ?gocapan? waktu kecil dulu, beberapa jenis sayur, serta? ulat sagu bakar dibungkus daun sagu! Mengingatkan betapa tepatnya ketidak sukaanku sejak dulu terhadap apapun yang bernama: Pepes.

Agen penghubungku mengangguk mahfum melihat keraguanku, membuatku secepat kilat menyuapkan ulat sagu sebesar-besar jempol itu, langsung ke ujung terdekat tenggorokanku, dan menelannya kuat-kuat sambil merapal mantra, ?Ulat sagu adalah makanan penuh gizi yang mengandung saripati sagu!? secara berulang-ulang.

Tapi tetap saja perutku memberontak, membuatku harus diam membungkam beberapa lama tanpa gerakan apapun, hanya demi sang perut tak mengeluarkan ?entah apapun itu? yang baru saja kutelan.

Sekilas kulihat agen penghubungku tertawa miris, yang baru kuketahui arti tawanya beberapa saat kemudian, ketika kudapan terakhir kembali tersaji di hadapan kami? kadal bakar.

Kugigit kadal bakar sebesar paha bayi tersebut dengan gigi gemeretak, membiarkan tekstur kasar dengan rasa agak manis bercampur kesat kembali memancing rasa mualku. Sepotong kaki kadal kembali kumasukkan ke dalam mulut. Dan ketika tinggal kepala kadal yang tersisa, saat itulah aku benar-benar merasakan, betapa amat sukarnya merealisasikan keinginan untuk memuliakan pihak lain? melalui tindakan nyata.

(Bersambung ke episode berikutnya, ?Dongeng untuk Jokowi #7: Pendidikan yang Memang Amat Penting, Tapi untuk Siapa?)

?

Secangkir Kopi Dongeng untuk Jokowi The Series, ThornVille-inspirasi.co, 09 Pebruari 2016.

*Tulisan ini merupakan calon naskah novel yang mengacu kepada pendapat pribadi penulis, dengan tidak bermaksud melakukan ujaran kebencian dan atau mendiskreditkan Negara, Presiden, seseorang atau sekelompok pihak tertentu.

*Beberapa data dalam tulisan ini diambil dari status serta artikel yang banyak beredar di media, ditambah dengan pengalaman pribadi dari penulis saat tinggal di tempat-tempat tertentu negeri ini.

?

Link Sebelumnya:

- Dongeng untuk Jokowi #5: Ini Bukan Hanya Tentang Papua, Pak?

- Dongeng untuk Jokowi #4: Cara Aneh Menjadi Staf Khusus Penasehat Kepresidenan

- Dongeng untuk Jokowi #3: Tanah Air Mata (3)

- Dongeng untuk Jokowi #2: Tanah Air Mata (2)

- Dongeng untuk Jokowi #1: Tanah Air Mata

  • view 169