Maut untuk Anakku (Belenggu Angan Versi Puisi)

Pemimpin Bayangan III
Karya Pemimpin Bayangan III Kategori Kesusastraan
dipublikasikan 08 Februari 2016
Maut untuk Anakku (Belenggu Angan Versi Puisi)

setelah kepergianmu

yang tiba-tiba dan penuh gemuruh

aku terjebak kenangan

dalam lingkaran-lingkaran rasa yang membelenggu

hidup, tentang semua

?

sederet kisah telah lagi terangkai di sini

terus, tentang Mentari

hari ini usianya genap lima Agustus

?

empat puluh delapan purnama yang lalu, aku

dibuatnya terkejut

bukan karena pipisnya membasahi kemeja

ku, sebab

hampir setiap malam ia

memilirkannya

dipelukku, saat ia begitu lelap dan meresapi

lembut jari kurus kedua tanganku yang tak pernah

hendak: usai

dalam gelora mengukir cinta

atau ketika hangat

dekapku

begitu memberinya nyaman

sebab ia tahu

bahwa di balik raga yang getas dan kering milikku

ada cinta yang penuh, untuknya

dan ia, selalu membalasnya

walau hanya dengan pipis

sebab ia butuh

lebih, dari sekedar kasur

?

tapi bukan itu yang membuatku

terkejut

melainkan ia, mentariku

mulai berbicara

ludahnya menyembur kemana-mana

sementara dari bibir kecilnya

terdengar suara: efps? efps?

?

hampir lepas kontrol tubuh lembut itu

kuraih

wajah kami tak berjarak

dan aku, kembali takjub

bahkan terharu

sebab ia begitu cadel

dan sengau mengucapkan: fpa? pfa? pha?

pa-pa

sambil jari-jari kecilnya

menggapai-gapai di hidungku

sementara tangan yang lain, terperangkap

dalam belukar gondrong rambutku

?

lantas saja wajah cahaya itu

membasah, sebab kecup sayangku

begitu hujan menerpanya

lalu gelak terangkai

dalam tarian gerak yang menendang-tendang

?

harusnya bahagia usah pernah dicerna

atau dibagi

?

tapi aku cuma si senga?

yang rapuh, yang terus saja berlari tanpa ingin usai

yang hanya dibentuk oleh waktu

yang kini, terbelenggu...

?

dan waktu terus berlari sebab bahagia

memacunya untuk lebih

bersegera

begitu juga ia, mentariku

walau

sebenarnya ia cuma fusi

dari segala ilusi

akan resah dan pedihnya sepi

hari ini usianya genap lima Agustus

?

dan waktu yang berlari seperti selalu harus

berlari

begitu juga hati, sebab jiwa

bukan baja

walau gaibnya: sanggup, melahirkan hidup

walau cuma semu

?

setelah pertarungan yang panjang

sebuah layar kututup lagi

?

: Mentariku tak pernah terlahir!

?

ThornVille-inspirasi.co, 1408-2310.216


  • Umi Setyowati
    Umi Setyowati
    1 tahun yang lalu.
    Like, kusematkan. Aku musti koment apa Bay. . ? Banyak hal ingin kukatakan. tapi kita seakan kehabisan waktu. Dan hari terus saja berlari. Ambil setoranku dg klik tautan di fb aja. Di rumah baru aku harus duper sabar ternyata, lola muluuu. . kkkkk

    • Lihat 1 Respon