Malam Ini Aku Kembali Menghitung Kenangan

Pemimpin Bayangan III
Karya Pemimpin Bayangan III Kategori Kesusastraan
dipublikasikan 06 Februari 2016
Malam Ini Aku Kembali Menghitung Kenangan

Ketika Cinta Tak Lagi Sekedar Peluk dan Cium, Volume 03.

?

Cerita sebelumnya:

Tapi Rin tak akan pernah mendengarnya, karena hujan telah mengiringi kepergiannya bersama derai yang kini memercik sunyi. Rin yang tak ubahnya langit tempatku diam-diam menggantung awan kenangan. Rin yang serupa mimpi buah jutaan pendar indah yang terus mengerlip di kesendirianku. Rin yang serupa api unggun tempatku membakar seluruh keluh dan membiarkannya membumbung menjadi asap harapan. Rin? yang kini kembali berlalu ditelan hujan, tanpa aku pernah menyatakan apapun.

Saat kita mencintai seseorang, kita tidak pernah diberitahu bagaimana cara mencintai yang sebenarnya cinta. Karena cinta memang tidak pernah mengajari apapun tentang cinta itu sendiri.

Jika ada yang tahu cara memahami wanita ataupun cinta, tolong hubungi aku (Cinta dalam Secangkir Hujan).

***

Malam ini aku kembali menghitung hujan, membilang entah berapa sajak yang terserak di sisa jejak kenangannya.

?Kau tahu apa yang paling kuyup dari hujan?? tanyamu tiba-tiba, membuatku merasa d?j? vu dari puisi yang kutulis waktu itu.

?Kenangannya?,? jawabku dengan agak ragu.

Rin menggeleng, sebelum kembali menghilang perlahan ditelan hujan.

Tak ingin terjerembab ke sesal yang sama, kukuntit butir hujan yang paling kilau, berharap dengan cara itu dapat menuntunku menuju Rin.

?Mampukah kau mengikutiku?? butir kilau bertanya, yang hanya kujawab dengan turut bersamanya merebah di tanah, mengayun di daun atau sekedar menggertap sekejap di tratap atap, hingga akhirnya aku berhasil menyelinap di sela begitu banyak isi benak yang tak henti memercik.

Dan itu amatlah mengherankan. Memberiku sadar bahwa ternyata telah sejauh ini aku pergi.

Dan waktu yang mengerut memberiku begitu banyak tahu-tahu. Tak henti kutiti jalin kenangan yang kulintasi, hingga akhirnya aku tiba di posisi yang entah.

Sepercik ingatan menari dan berlarian di sekujur jejak waktu.

?Kita telah sampai? ucap si butir kilau, merenggutku dari pusat pusaran angan. Sesosok bayangan berdiri di samping dengan tebar senyum setengah khas miliknya. Senyum yang terkesan amat patah buah hantaman dunia.

?Rin!?

Aku terguguk di dekap hangat jemarinya. Dadaku gemuruh penuh festival rindu

?Jangan pergi, Rin??

?Aku memang tak pernah beranjak kemana-mana.?

?Jangan pernah lagi ada perpisahan untukku, Rin??

Rin memetik ujung butiran hujan yang terpantul di kedua mata kecilku, mengusap kristal cair tersebut dengan punggung jemarinya sebelum jatuh dan bergelayut di selasar hidung.

?Aslinya perpisahan tak pernah ada. Semuanya tak lebih sekedar serangkai tunggu, yang menyelusup di antara jarak dan waktu, memberi kita perjumpaan sesekali di kini serta nanti??

Belum lagi aku berhasil mencerna untai kata yang disusupkan Rin ke telingaku dengan amat dekat, ketika sebuah gapura tertangkap sudut mataku.

Mataku kembali memburam. Aku benar-benar butuh sesuatu, yang mampu untuk menuntunku mengurai setiap helai rindu, dan menjadikanku terjebak selamanya di sini.

***

Selamat Datang di Negeri Angan

***

(Bersambung ke volume 04: Kisah yang Tak Pernah Ada).

?

Secangkir Kopi Masih Tentang Cinta, ThornVille-inspirasi.co, 06 Pebruari 2016.

Kisah sebelumnya:

#1 : Apa yang Lebih Kuyup dari Hujan?

#2 : Cinta dalam Secangkir Hujan

  • view 313

  • Umi Setyowati
    Umi Setyowati
    1 tahun yang lalu.
    Benar sekali Bay, perpisahan tak pernah ada. Namun seringkali, perjumpaan kembali menyisakan perih. Bay, hari ini setor lagi, tapi kok ga bisa ku share ke fb? baper dech. . !

    • Lihat 1 Respon

  • Umi Setyowati
    Umi Setyowati
    1 tahun yang lalu.
    Benar sekali Bay, perpisahan tak pernah ada. Namun seringkali, perjumpaan kembali menyisakan perih. Bay, hari ini setor lagi, tapi kok ga bisa ku share ke fb? baper dech. . !

  • Mas Yunus
    Mas Yunus
    1 tahun yang lalu.
    Menarik... meski tak pernah ada kata perpisahan... kenangan itu... bikin merindu... met Malming Mas A. Maulana S.