Polemik Jilbab Halal: Susahnya Masuk Surga Sendirian

Pemimpin Bayangan III
Karya Pemimpin Bayangan III Kategori Agama
dipublikasikan 06 Februari 2016
Polemik Jilbab Halal: Susahnya Masuk Surga Sendirian

Membaca tulisan ?Istriku, Maafkan Jika Jilbabmu Tidak Halal? karya Inspirator Fahd Pahdepie, membuat saya teringat tulisan sebelumnya yang lahir ketika ada keriuhan sejenis tentang iklan makanan kucing halal di medsos, yang entah mengapa semakin menegaskan pemahaman saya akan susahnya masuk surga sendirian. Langsung simak ke kisah utamanya, Kawan?^_

***

Waktu masih menjomblo, bayangan indah membangun mahligai rumah tangga bersama yang tercinta terasa amat menggiurkan. Betapa tidak, kau bersanding dengan pujaan hatimu, mengucapkan ijab-kabul, lalu setelahnya melakukan begitu banyak hal yang sebelumnya dianggap zina juga hina menjadi langsung mulia dan memiliki nilai ibadah. Dan selanjutnya, menjadi tua tanpa rasa bosan -setelah sebelumnya beranak pinak seperti marmut- jelas merupakan pilihan hidup yang amat meyakinkan untuk dijalankan.

Tapi bayangan indah tersebut sontak buyar, ketika ada yang mendengingkan kalimat yang ?menurut saya- amat menyeramkan. Karena katanya, makna yang tersirat dalam mitsaqon ghaliza tersebut tak sekedar mengucapkan ?Saya terima nikahnya Si Anu binti Ono dan sebagainya-dan sebagainya?, melainkan juga mengandung janji bahwa ?Saya akan menanggung dosa-dosa istri saya dari ayah dan ibunya, dari dosa tidak menutup aurat hingga meninggalkan sholat, juga dosa calon anak-anak saya kelak.?

Tak berhenti sampai di situ, pada kesempatan yang lain kalimat ?tanggungan dosa? tersebut kembali berkembang serta memanjang layaknya ular tangga, hingga menjadikan saya menanggung juga dosa saudara perempuannya, adiknya dan entah siapa lagi. Benar-benar sebuah ?Perjanjian yang Berat? yang amat menakutkan! Terutama jika mengingat bahkan untuk menanggung dosa sendiri saja ribetnya bukan main, lha? Ini masih pula ditambah dengan menanggung dosa rombongan. Hufh? :(

Tapi hidup tentu saja harus tetap berjalan. Pertunjukan mesti juga terus berlanjut, yang jika meminjam gaya ngenggres bunyinya jadi ?the show must go on?. Bukan jomblo perjuangan namanya jika langsung mundur hanya karena satu-dua potong kalimat yang mengganjal.

Dimulailah perjuangan memprospek calon idaman.

Syarat utamanya sederhana saja. Yang pertama ?dan buat saya ini juga yang paling utama- dia haruslah seorang wanita.

Mengapa harus wanita? Karena saya laki-laki. Yang normal serta ogah jeruk makan jeruk. Jadi sebaik apapun si calon, jika dia laki-laki juga maka akan langsung gugurlah semuanya?^_

Adapun prasyarat yang lainnya sederhana saja. Gak neko-neko juga gak lebay jijay atau berkesan meribet-ruwetkan rukun nikah seperti yang sekarang ini entah kenapa ngetren banget di kalangan orang tua, seakan-akan menikah itu jauh lebih rumit dari ?Membangun Negara Madani? atau ?Mempersiapkan perjalanan ke luar jagad raya?. Karena menurut pendapat paling dangkal namun tetap professional yang saya punya, adalah bullshit tingkat tinggi jika kita meraung-raung tentang buruknya zina namun secara amat ajaib begitu kukuh mempersulit pernikahan. Gendheng tingkat dewa itu mah? :(

Prasyarat selanjutnya kembali hanya dua saja, yaitu sholehah dan ?jika bisa- tak memiliki phobia terhadap hantu nusantara, karena bagaimanapun akan cukup menjengkelkan jika setiap kali harus dibangunkan tengah malam hanya demi mengantar istri pipis atau e?ek.

Lho? Bukannya jika sudah sholehah otomatis tak akan takut hantu?

Sayangnya tidak, Sobat. Kenyataan membuktikan begitu banyak figur wanita yang ?jika dilihat secara kasat mata- amat giat beribadat namun tetap takut setan.

Kenyataan yang mana, nih? Tentu saja kenyataan yang pernah saya temui dalam keseharian hidup saya. Adapun kenyataan di belahan ruang dan waktu yang berbeda otomatis bukan kesalahan saya karena tak menjadikannya sebagai referensi.

Tapi jika boleh jujur, inilah masa dimana saya merasa begitu suram menjadi jomblo. Bukan apa-apa. Dari sekian banyak calon yang ?lulus sensor?, tetap saja bayangan mengerikan itu yang kembali hadir. Karena selain calon tersebut yang menurut taksiran saya telah sesuai dengan fit n propert test, entah kenapa semua rombongan dibelakangnya terasa amat berpotensi memberikan ?beban tanggungan dosa? kepada saya sebagai calon suaminya. Bahkan sampai calon yang nyata-nyata ?katanya- anggota jamaah religius tertentupun sama juga penyakitnya!

Memang akhirnya saya menikah juga, tapi kerepotan masa pencariannya waktu itu sempat menorehkan pertanyaan yang cukup menggejolak. Serepot inikah Islam? Lantas, dimana letak keindahannya?

Dan pertanyaan itu kembali meletup waktu baru-baru ini di medsos saya temukan status modus tentang iklan makanan kucing halal.

Tapi sayangnya, alih-alih mengapresiasikan iklan makanan kucing halal tersebut dengan sumringah, benak saya justru riuh dengan meang-meong pertanyaan jahil.

Makanan kucing halal?

Buat kucing muallaf?

Apakah setelah ini kucing juga harus puasa dan melakukan ibadah yang lainnya?

Dan sebelum kejahilannya melebar, langsung saja saya stop gemuruh pertanyaan yang masih ramai mengeong di benak saya tersebut, walau beberapa miaw kecil masih saja melenting kesana-kemari dengan lincahnya.

Apakah setelah ini akan muncul pula makanan halal buat kambing, sapi dan yang lainnya??Terutama yang pemeliharaannya dilakukan secara lebih modern menggunakan zat kimia tertentu?

Atau bisa jadi, tak lama lagi bakalan ngetren hijab syar?i untuk kucing betina?

Bagaimana dengan ayam gorengnya, haruskah dipilih dari bahan ayam yang matinya khusnul khotimah?

Atau telah perlukah wanti-wanti kepada para petani, agar terus mendoakan tanaman padinya agar menghasilkan bulir gabah yang sholeh dan sholehah?

Benar-benar agama yang amat merepotkan!

Dan kerepotan itu kembali terulang ketika muncul polemik anyar tapi lawas di medsos, yang ?tak sama tapi mirip? dengan hadirnya jilbab berlabel halal dari MUI milik salah satu produsen jilbab, dengan peluncuran iklannya yang cukup membuat bathin keberagamaan saya pribadi mengalami kondisi gegana alias gelisah, galau serta merana.

Betapa tidak? Ladzimnya sebuah polemik tentu saja akan giat merambat kemana-mana. Begitu juga dengan polemik jilbab berlogo halal tersebut, yang sempat membuat saya berprasangka tentang sandang lainnya yang kami pakai sekeluarga, yang benarkah telah halal pula? Atau justru semuanya menggunakan emulsifier gelatin babi? Lantas, bagaimana kami bisa paham serta yakin akan hal itu, hingga tak lagi ketar-ketir buah ibadah yang tidak sah karena salah satu syarat sah sholat bukankah suci badan, pakaian dan tempat dari segala najis? Hiks? T_

Tapi pada akhirnya dari medsos pula saya menemukan pencerahan yang lainnya. Melalui percakapan super singkat dengan salah satu teman maya yang belum pernah sekalipun saya temui di dunia nyata.

?

Ugyna?: ?Iya. Sudah nyaris tidak ada lagi yang menarik di medsos, saya jadi lebih banyak di dapur. Udah lama banget ga pernah baca tulisan Kakak.?

Saya: ?Kamu benar, Ugy. Barangkali itu sebabnya dapur diciptakan, buat membunuh waktu ketika semua tak lagi menarik.?

?

Yap, barangkali dapur memang alternatif yang cukup bagus untuk membunuh waktu saat ?peradaban? cuma melulu disesaki oleh pergumulan murahan tentang dimana tempat lahir Sukarno, atau boleh tidaknya membaca Alqur?an dengan langgam jawa, Sangkakala Lia Eden, Jokowi makan pakai tangan kiri atau kaki kanan dan kiri sekaligus, Jonru Si Juragan Cat, Makanan kucing halal, jilbab halal serta entah remeh-temeh apa lagi, mengingatkan kita pada Al Baqoroh Gates dimana kebutuhan awal hanya sapi asal sapi, namun karena kerewelan pelakunya menjadikan sapi tersebut lalu berkriteria ini dan itu yang amat merepotkan.

Agama barangkali memang terlalu suci, memaksa kita untuk mati-matian selalu berkubang hanya di ranah tepiannya, tanpa pernah sekalipun berminat guna lebih menggali substansi isinya.

Dan kesucian itu pulalah yang terus mengungkung kita agar tak membolehkan sedikitpun perbedaan. Tentu saja dengan kebenaran hakiki, yang jelas-jelas telah tersimpan dengan amat saklek di pundi-pundi diri, yang secara otomatis memberikan otoritas berlebihan untuk kita mengkavling surga: Hanya untuk diri sendiri dan para kroni.

Toh segala upaya-upaya spiritual yang kita lakukan selama inipun, tak lebih bertujuan hanya demi memahami tradisi dan kebiasaan beragama, dan belum demi yang lainnya. Uhuk!

?

Secangkir Kopi Masih Tentang Beragama, 06 Pebruari 2016.

Link sebelumnya: Cinta Dalam Secangkir Hujan

  • view 231

  • Mas Yunus
    Mas Yunus
    1 tahun yang lalu.
    Ulasan menarik tentang makna Islam dibalik simbol jilbab...

    • Lihat 1 Respon

  • Muthmainnah Rati
    Muthmainnah Rati
    1 tahun yang lalu.
    Rangkaian kekata sersan, serius tapi santai, membacanya membuat saya tergelitik dengan kata-kata yang jenaka, sekaligus membuat saya tergiring dalam sebuah perenungan dan berpikir 'ini benar juga'. Tak terasa membaca sampai tuntas padahal kalo dilihat lumayan panjang tulisannya. Tapi gak bikin bosan. Ah jadi pengen bisa lihai menulis seperti ini ...