Dongeng untuk Jokowi #5: Ini Bukan Hanya Tentang Papua, Pak…

Pemimpin Bayangan III
Karya Pemimpin Bayangan III Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 06 Februari 2016
Dongeng untuk Jokowi #5: Ini Bukan Hanya Tentang Papua, Pak…

?Tulisan yang baik itu, Bapak Penasehat Kepresidenan, harus mampu membangkitkan pembacanya dengan harapan-harapan, dan bukannya justru membunuh mereka dengan hanya berfokus pada masalah, perbedaan atau sekedar berisi tentang ujaran kebencian.?

Aku terdiam. Bagaimana mungkin aku menulis yang indah-indah, sementara kenyataan di luar sana, bahkan jauh lebih tragis dibanding yang sempat kucatat? (Ditulis untuk menemani Jokowi Sang Presiden, sebelum memulai kegiatan kepresidenan pagi ini?^_)

***

Cerita sebelumnya:

Dan di sinilah sekarang aku berada, memandangi hamparan salah satu tanah tersubur yang ada di negeriku dari balik lebat hutan pedalaman Papua, yang tentu saja belum pernah sekalipun mencicipi modernisasi.

Keningku sedikit mengernyit melihat pemukiman suku paling terasing yang baru ditemukan keberadaanya tiga puluh tahun lalu ini, yang kutaksir berada pada pucuk pepohonan lima puluh hingga seratus meter? dari permukaan tanah!

Kutatap agen penghubungku dengan penuh tanya. Laporan apa yang baiknya kubuat untuk Presiden, tentang komunitas suku, yang bahkan tidak mengenakan koteka ini...? (Dongeng untuk Jokowi #4: Cara Aneh Menjadi Staf Khusus Penasehat Kepresidenan).

***

tak perlu berguru puisi jika cuma untuk mengerti

bendera negeri sendiri

yang dulu begitu lantang kau teriaki

tentang merah yang berani

bertopang kesucian

yang terpancar dari warna putihnya yang menawan

dalam himne tentang negeri nan gagah rupawan

yang selalu kaunyanyikan sepenuh sungguh kala sekolah kemarin

(?Bendera Rindu Negara Cinta? dalam Di Bawah Kibaran Dosa)

?

Ini Bukan Hanya Tentang Papua, Pak?

Satu jam sejak agen penghubungku berlalu, aku masih bergeming. Laporan apa yang baiknya kuberikan kepada Bapak Presiden?

Haruskah kutulis saran yang sama, agar Bapak Presiden membangun rumah permanen untuk mereka? Lengkap dengan kompor, pakaian serta entah tetek-bengek penciri peradaban apa lagi yang lainnya, hanya demi suku tersebut mengetahui, bahwa ternyata Presiden memang benar-benar ada, peduli serta mengakui mereka sebagai bagian dari rakyat yang dipimpinnya?

Masih terngiang ucapan Dani, sehari sebelum keberadaannya tak pernah terdeteksi lagi.

?

Kemiskinan tak melulu mengacu kepada uang dan daya beli, Bay?

Tanpa hutan, mereka tak lagi mudah mencari kayu bakar, dan dipaksa untuk menggantinya dengan minyak tanah atau gas. Tanpa pepohonan sagu, mereka yang semula tinggal menebang dan mengolah, dipaksa untuk mencari alternatif lain pengganjal perut, yang kesemua itu melahirkan kebutuhan baru akan benda bernama: Uang.?

Dan demi kebutuhan akan uang pulalah lapangan pekerjaan wajib diciptakan, yang setelahnya segala yang tumbuh di hutan kemudian menghilang, berganti dengan tunas-tunas sawit serta pertambangan, menyeret mereka ke dalam lingkaran kebobrokan sistem ekonomi yang kita anut. Memaksa mereka yang tadinya "tinggal makan dan tidur", harus menempuh jalan yang jauh lebih berputar, hanya agar bisa makan dan tidur yang tadinya amat mudah mereka lakukan, hanya demi bisa ?sesuai? dengan gaya serta standar yang kita punya.

Benarkah kemiskinan serupa dengan gaya hidup, Bay, yang mesti diuji hanya melalui daya beli sebagai satu-satunya tolok ukur?

Sebelum adanya niat baik dari Presiden, mereka telah memiliki segalanya, Bay. Pasokan kayu bakar berlimpah, sagu tanpa batas, daging hewan liar hutan yang tak tersentuh mafia harga, juga rawa yang dipenuhi cadangan ikan nan amat berlebih!

Sementara kita mesti berpayah-payah menghabiskan hari, hanya demi sepiring nasi serta seketip mimpi?

?

Kuhembus napas kuat-kuat. Secangkir kopi telah lagi kureguk hingga kering. Namun alih-alih beroleh ilham, ingatan yang lain justru kembali hadir, menyulap benakku hingga menjadi layar pemutar adegan-adegan.

Dalam sebuah fragmen yang agak buram nun di Jawa Tengah sana, kulihat deretan perempuan muda, tengah baya juga renta berbondong-bondong melewati liuk jalan mendaki dan menurun -sambil menenteng obor sederhana- menuju tempat bekerja sebagai buruh pemetik bunga melati.

Dan kegiatan itu rutin mereka lakukan setiap hari, sejak pukul empat dini hari hingga menjelang jam dua siang, hanya demi rupiah sebesar lima sampai delapan ribu rupiah? per hari!

Dan setelahnya, tentu pula memerlukan waktu hingga sore lagi untuk mereka tiba di rumah, untuk kemudian kembali berjibaku dengan segala macam rutinitas sebagai ibu.

Sementara pada panil lainnya yang masih berlokasi tak jauh, aku kembali terheran-heran memaknai, betapa amat murahnya harga seorang ibu, yang direnggut dari kebersamaan buah hatinya, dengan hanya empat ratus ribu rupiah per bulan sebagai penukar ?jam kerja?, sejak pagi hari hingga pukul sepuluh malam.

Tak heran Gofar kecil menjadi nakal. Tak aneh Rinto remaja menjadi berandal. Tak janggal Siti muda menjadi binal. Sebab mereka lahir dan membesar tanpa asuhan ibunya, yang sibuk mengait-ngait rambut sintetis menjadi idep (bulu mata palsu) pabrikan setempat, yang kabarnya milik putra daerah asli namun setelah dicermati hanya kaki tangan pabrikan Negara Anu. Bahkan rumah tinggal merekapun di Green Garden Jakarta sana: Datang ke Purbalingga, hanya ketika tiba saat mengambil laba ?perusahaan?.

?Angger njiyot idep nang Rika kenang rega pira, Kang?? tanyaku pada salah satu pengepul idep yang tengah mengambil setoran pekerjaan para ibu tersebut.

?Sing seri X kenang kosi patangatus, Mas, nanging madan angel garapane. Beda karo sing seri Y kiye. Kejaba mung telungatus bisa rampung patang puluh ngasi sewidakan sedinane. Tapi ya kuwi, digarap nganti jem sepuluh wengi,? kecap si pengepul dengan bahasa ngapaknya, yang langsung membuat keningku berkerut.

Jika rata-rata para wanita tersebut hanya sanggup mengerjakan empat puluh lima buah idep per hari di kali tiga ratus rupiah, maka upah yang mereka peroleh adalah sebesar Rp. 13.000,-. Per hari. Juga sejak pagi hingga jam sepuluh malam.

Siapa bilang perbudakan telah dihapuskan? Terutama bila mengingat harga sepasang idep di Negara Anu sana, harga minimalnya bisa mencapai seribu kali lipat dari upah lini terbawah! Membuatku berpikir tak perlukah pemerintah membuat semacam holding company yang membawahi semua perusahaan tersebut? Atau setidaknya, membuat regulasi dan kebijakan yang sedikit saja lebih berpihak kepada masyarakat?

Kembali kureguk cangkir kopi yang ketiga dengan amat masygul. Entah apa yang salah dengan negeri ini. Atau benarkah kita semua memang telah terlalu bodoh hingga tak lagi mampu, walau untuk sekedar memaksimalkan potensi yang tersedia dengan begitu rayanya di sekitar kita? Tersedia dengan amat riuhnya dalam negeri, yang memang sejak dulu kita buai lewat segala macam nyanyi surgawi? Tentang negeri dimana tongkat dan kayu bahkan menjelma tanaman meski kita lempar secara asal sambil bersandar saking suburnya. Begitu juga dengan kekayaan lautnya. Atau migasnya. Udaranya. Dan sebagainya yang semakin membuatku habis daya logis buah kenyataan yang terasa amat mensterilkan semangat ini.

?Jika ada yang berminat untuk melumat masyarakat dengan cara yang amat cepat, pisahkan para ibu dari anak-anak mereka, niscaya tak akan butuh waktu lama untuk generasi penerus menjelma serigala, bagi sesama mereka??

(Bersambung ke Dongeng untuk Jokowi #6: Jamuan Penyambutan yang Amat Mendebarkan).

?

Secangkir Kopi Dongeng untuk Jokowi Edisi Menjadi Penasehat Presiden, Thornville-inspirasi.co, 06 Pebruari 2016.

*Tulisan ini merupakan draft naskah novel yang mengacu kepada pendapat pribadi penulis, dengan tidak bermaksud melakukan ujaran kebencian dan atau mendiskreditkan Negara, Presiden, seseorang atau sekelompok pihak tertentu.

  • view 219

  • Budi mch.
    Budi mch.
    1 tahun yang lalu.
    "Kemiskinan tak melulu mengacu kepada uang dan daya beli" aku setuju bang... Kualitas pendidikan sekarang juga masih mengacu kepada uang dan daya beli, kita masih berputar-putar dalam lingkaran kemiskinan. Tulisannya inspiratif banget, ditunggu lanjutan nya.... hehe.. Salam

    • Lihat 1 Respon

  • hery sofyan
    hery sofyan
    1 tahun yang lalu.
    Apresiasi untuk............*Tulisan ini merupakan draft naskah novel yang mengacu kepada pendapat pribadi penulis, dengan tidak bermaksud melakukan ujaran kebencian dan atau mendiskreditkan Negara, Presiden, seseorang atau sekelompok pihak tertentu...........salam