Dongeng untuk Jokowi #4: Cara Aneh Menjadi Staf Khusus Penasehat Kepresidenan

Pemimpin Bayangan III
Karya Pemimpin Bayangan III Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 06 Februari 2016
Dongeng untuk Jokowi #4: Cara Aneh Menjadi Staf Khusus Penasehat Kepresidenan

?Apakah Presiden membaca tulisan rakyatnya? Sebab di dunia yang pernah aku kenal dan singgahi, yang namanya Presiden, seringkali jauh lebih tahayul keberadaannya: Bahkan jika dibandingkan dengan dongeng tentang Hantu Blao sekalipun??

***

Cerita sebelumnya:

?Heh! Gembel! Pergi kau dari tokoku?!!!? tahu-tahu di hadapanku telah berdiri seorang pria tambun. Wajahnya galak, melotot kearahku. Sementara di perempatan jalan di depanku, kulihat bocah-bocah kumal berlarian menjajakan koran. Beritanya terorisme. Yang lainnya mengelap-ngelap kaca mobil, atau bertepuk tangan sambil mendendangkan ?Tanah Air Mata?.

Rupanya aku melamun (Dongeng untuk Jokowi #3: Tanah Air Mata)

?

***

kita tak pernah mati

karena kita

tak pernah benar-benar hidup

?

kerap terdengar

alunan nada dari lembah

penderitaan

datar, namun tajam

namun pekat namun sesak

?

dulu negeriku amat makmur

kekayaan melimpah

gemah ripah loh jinawi

yang subur tanahnya, tumbuhkan batu

dan tongkat kayu yang kita lempar sambil bersandar

(?Catatan Terakhir Orde Baru? dalam Di Bawah Kibaran Dosa)

?

?Kau? Staf Khusus Penasehat Kepresidenan??

Aku tersenyum kecut mendengar nada tak percaya itu. Sudah biasa. Lagi pula, siapa juga yang akan percaya. Dengan tongkronganku yang bohemian ini, paling banter orang-orang hanya akan menyangka bahwa aku tak lebih dari sejenis ?Seniman Tanpa Tanda dan Tanpa Jasa?. Atau paling terhormat mungkin difitnah sebagai pemilik usaha kecil-kecilan, yang itupun terasa amat dipaksakan hanya karena kulitku yang agak bening.

Masih jelas terekam di benakku, saat beberapa pria cepak berbadan tegap masuk ke ruangan kantor, dan langsung duduk di depanku memperlihatkan beberapa berkas.

?Tidak memiliki badan hukum, tidak memiliki kualifikasi pendidikan yang sesuai dengan prasyarat yang dibutuhkan, tidak menggunakan kurikulum UU Sisdiknas yang berlaku??

?Januari 2015 mendirikan Lembaga Pengelolaan Dana Masyarakat tanpa izin. Maret 2015 percobaan pembuatan rumah susun illegal di wilayah X. Agustus 2015 melakukan? ?

?Saudara tinggal memilih, apakah ingin kami gelandang dengan sembilan puluh sembilan pasal berlapis yang telah kami persiapkan, atau ikut kami dengan baik-baik.?

?Apakah Bapak-bapak punya surat perintah pengadilan untuk menangkap saya?? getirku, yang dengan amat sigap lembar sakti tersebut langsung terhampar di atas meja.

Menit berikutnya, aku telah duduk satu mobil dengan mereka.

?Kemana tujuan kita??

?Sebentar lagi Saudara akan tahu.?

***

Setelah menempuh perjalanan selama beberapa jam, mobil berhenti. Kembali beberapa sosok cepak berbadan tegap itu menggiringku.

?Tinggalkan dia di sini,? perintah pria setengah baya di hadapanku, yang langsung diamini oleh mereka, membuatku berpikir keras tentang siapa adanya orang sakti yang ada di depanku ini.

Dan seperti paham apa yang tengah kupikirkan, pria setengah baya tersebut tersenyum samar dan menyilakanku duduk. Pada mejanya ?sekali lagi- kulihat berkas yang persis dengan yang dibeberkan oleh penjemputku, membuatku spontan meringis dengan amat miris.

Alangkah sempitnya dunia! Bahkan data diriku begitu mudah beredar di tangan mereka, lengkap dari catatan terkecilnya.

?Saudara tahu mengapa kami bawa kemari??

Aku menggeleng.

?Karena Saudara akan kami tempatkan pada posisi Staf Penasehat Kepresidenan untuk Bidang Khusus.?

Agak terbengong aku mendengar keterangan sosok di depanku ini, sebelum detik berikutnya tawaku meledak. Riuh.

Tapi tawaku tak langgeng, yang dengan amat paksa kupenggal periodnya ketika mengetahui, bahwa pria setengah baya di hadapanku tak turut tertawa. Bahkan justru memasang tampang yang jauh lebih serius dari sebelumnya.

?Sudah cukup tertawa Saudara??

Aku mengangguk jengah.

?Hanya ada satu pertanyaan untuk Saudara,? lanjutnya. ?Jika Saudara memperoleh buah simalakama, apa yang akan saudara lakukan. Memakannya? Atau tidak memakannya??

Kembali aku terbengong. Tapi kulihat raut di depanku ?lagi-lagi- tak menunjukkan gejala canda sedikitpun, membuatku bingung bercampur geram karena merasa dipermainkan. Sebenarnya ada apa dengan semua ini?

?Saya tidak akan melakukan keduanya,? jawabku dengan suara yang agak tegang. Barangkali terbawa perasaan kurang suka yang baru saja menyelinap.

?Lantas??

?Karena saya lebih memilih untuk menjualnya, lalu menyumbangkan hasilnya kepada fakir-miskin yang saya temui,? tegasku dengan sedikit menantang, karena siapapun jelas mengerti, bahwa jawaban yang kuberikan hanyalah banyolan liar diluar konteks serta nalar umum.

Dan, benar saja. Pria setengah baya tersebut langsung menggebrak meja keras-keras.

?Bagus!?

Lagi-lagi aku terbengong. Bagus, katanya? Apanya yang bagus?

Belum lagi kebingunganku redam, ketika pria setengah baya itu memberi isyarat agar aku mengikutinya. Tibalah kami pada sebuah meja pertemuan yang nyaris penuh.

Sekilas lirik, sepertinya tak kurang dari enam belas belas orang yang hadir di sana, yang nyaris kesemuanya berusia tak berbeda dengan yang membawaku, menjadikan saya sebagai orang ke-delapan belas yang hadir di ruangan ini.

?Silakan duduk,? ucap pria setengah baya tersebut, setelah sebelumnya ia berjalan menuju kursi utama.

Wajahku agak panas ketika belasan sosok berbatik rapi tersebut menatapku dengan pandang sinis. Terutama menatap kemeja flanel motif kotak-kotak yang kugulung sebatas siku, yang berbanding seratus delapan puluh derajat dengan seragam kebesaran mereka yang licin mengkilap.

?Keberatan, Bapak Ketua! Saya keberatan duduk bersama anak muda gondrong yang tidak jelas asal-usulnya ini!? protes bapak berbatik merah yang terhormat tersebut, yang langsung disambut riuh oleh yang lainnya. Ada yang pro, juga ada yang kontra, membuat darahku menggelegak agak panas. Terhina.

Pria setengah baya yang ternyata ?Bapak Ketua? tersebut mengangkat tangan, membuat hadirin seketika sirap seperti semula.

Dan wajahku kembali memanas ketika Bapak Ketua tersebut, membacakan biodataku kepada forum yang entah apa ini, lengkap dengan track record yang pernah kulakukan? sebanyak tiga puluh halaman penuh!

Alangkah hebatnya sumber data yang dimiliki oleh Bapak Ketua ini, hingga tahu sedetil itu tentang saya, yang bahkan saya sendiri telah banyak yang lupa!

?Ada yang masih merasa keberatan?? tanya Bapak Ketua sambil mengedarkan pandangan ke seluruh yang hadir. ?Jika tidak, mari kita mulai pembahasan tema kegiatan Presiden untuk bulan depan,? lanjutnya.

***

Aku benci berada di antara orang-orang yang bahagia. Mereka bicara tentang segala sesuatu, tapi kata-kata mereka tidak mengatakan apa-apa. Mereka tertawa dan menipu diri sendiri menganggap hidup mereka baik-baik saja. Mereka berpesta dan membunuh anak kecil dalam diri mereka (?Melihat Api Bekerja? ? M. Aan Mansyur).

?Jumlah Staf Penasihat Kepresidenan ini memang kebetulan sama persis dengan banyaknya anggota MKD yang menyidang SN kemarin, yang terdiri dari divisi-divisi multibidang, mulai dari Divisi Kebudayaan, Divisi Politik serta Divisi Bahasa. Dan saya memanggil Saudara untuk menempati Divisi Khusus di luar dari yang telah ada, agar ?pintu utama? Pertimbangan Kebijakan Presiden, tak turut terjebak dalam kesalahan yang sama menggelikannya.? terang Bapak Ketua kepadaku, usai pertemuan yang amat menjemukan barusan.

Kudengarkan ucapan Bapak Ketua ini dengan pandangan kosong. Mataku buram. Satu-persatu bayangan melintas di sudut pikiran.

Apa itu Presiden?

Saat Si Erray jatuh dari atap sebuah gudang saat tengah membobol sebuah gudang, kemana Presiden? Karena yang ada hanya teman-teman sesama bencoleng, yang hanya menutupkan koran pada tubuhnya yang masih kejet-kejet, hanya demi terus bisa melanjutkan menjarah! Sebab katanya, di dunia mereka tak ada Presiden. Karena yang ada hanyalah uang, yang harus terus ada agar perut-perut kecil bocah kesayangan mereka yang kumal tercabik kemiskinan? tetap bisa makan: Dengan atau tanpa kehalalan.

Kemana Presiden? Saat Plenyun Si Penjual Sapu lidi, tak kuasa melunasi tunggakannya terhadap rentenir, yang barangkali bahkan lebih rendah nominalnya dari jumlah yang ditolak oleh Yang Terhormat serta Paling Mulia Dia yang melecehkan makan siang di warteg.

Kemana Presiden? Saat dengan amat bahagianya murid ngajiku bercerita, tentang tempat pensil barunya yang kusam dekil, yang baru saja dia temukan dan pungut dari tempat sampah.

Kemana Presiden? Sebuah pertanyaan yang kemudian bermetamorfosa dalam benakku, menjadi, ?Siapa Presiden??, atau ?Apa itu Presiden?? hingga perubahan yang paling mutakhir menjadi, ?Apakah benar-benar ada Presiden di negeri ini??

Tanpa sadar aku berdiri dan menggebrak meja dengan amat marah. Mataku yang memerah bersitatap langsung dengan mata Bapak Ketua yang tajam menusuk.

Cukup lama juga kami berdiri saling menatap, hingga akhirnya aku yang mengalah. Tubuhku kembali luruh di atas kursi. Lelah dengan pertikaian bathinku sendiri yang terus menggerogoti selama banyak tahun sebelum ini.

?Baik, saya akan berangkat besok ke Tanah Papua. Tapi setelah urusan Suku Korowai ini selesai, tolong Bapak Ketua kembali menegaskan syarat yang saya ajukan saat menerima jabatan ini kepada Bapak Presiden, agar kelak Beliau sama memperhatikan suku-suku terasing lainnya, yang nyata-nyata berada tak jauh dari pusat pemerintahan. Dan saya bersedia untuk menjadi penghubung mereka.?

***

Dan di sinilah sekarang aku berada, memandangi hamparan salah satu tanah tersubur yang ada di negeriku, hutan pedalaman Papua, yang masih amat jauh dari modernisasi.

Keningku sedikit mengernyit melihat pemukiman suku paling terasing yang baru ditemukan keberadaanya tiga puluh tahun yang lalu ini, yang kutaksir berada pada ketinggian pepohonan hingga lima puluh sampai dengan seratus meter? dari permukaan tanah!

Kutatap agen penghubungku dengan penuh tanya. Laporan apa yang baiknya kubuat untuk Presiden, tentang komunitas suku, yang bahkan tidak mengenakan koteka ini??

?

lalu kita membesar hanya perut

tanpa isi lambung

lambung tanpa isi

?

kini bayi-bayi negeri

lahir menyandang hutang

yang lembut tubuhnya

hanya mampu kita selimuti

dengan daun pisang

yang kita pinjam dari negeri seberang

(?Catatan Terakhir Orde Baru? dalam Di Bawah Kibaran Dosa)

?

(Bersambung ke Dongeng untuk Jokowi #5: Ini Bukan Hanya Tentang Papua, Pak?).

?

Secangkir Kopi Dongeng untuk Jokowi Edisi Menjadi Staf Khusus Penasehat Kepresidenan, Thornville-inspirasi.co, 06 Pebruari 2016

*Tulisan ini merupakan draft naskah novel yang mengacu kepada pendapat pribadi penulis, dengan tidak bermaksud melakukan ujaran kebencian dan atau mendiskreditkan Negara, Presiden, seseorang atau sekelompok pihak tertentu.

  • view 273

  • hery sofyan
    hery sofyan
    1 tahun yang lalu.
    ?Keberatan, Bapak Ketua! Saya keberatan duduk bersama anak muda gondrong yang tidak jelas asal-usulnya ini!? ...berbaju hitam lagi.....udah kaya dukun...ha..ha

    • Lihat 1 Respon