Kenapa Gak To The Point Aja Sih, Tuhan…!

Pemimpin Bayangan III
Karya Pemimpin Bayangan III Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 05 Juli 2017
Kenapa Gak To The Point Aja Sih, Tuhan…!

(Sekali-kali mosting di marih, edisi kangen sama teman-teman eks KOMPI Inspirasi yang dah bubar itu... T_)

***

 

"To the point aja, sih...!!!"

Komen remeh dan standard itulah yang saya dapatkan dari sobat maya muda, ketika saya 'gagah-gagahan' meng-ACC tawaran jadi Admin pada grup 'Secangkir Kopi Sufi', yang setelah melewati uji materi dan kelayakan versi konyol saya sendiri, akhirnya menyadarkan saya untuk segera hengkang dari grup tersebut, cuma agar terhindar dari jebakan kekonyolan yang lainnya buah kesadaran saya yang amat minim tentang konsep "Tak Tahu Diri dan Tak Tahu Malu"... T_

Tadinya saya berharap akan bertempur hikmah dengan pemilik komen tersebut, saling menelikung kalimat dan berkutat kata mati-matian, yang kadang demi kebenaran, walau tak jarang sekedar pembenaran. Hanya sayangnya pemilik komen tersebut lebih memilih untuk merendahkan cangkir pembelajar miliknya, memaksa saya untuk kembali terhenyak serta pontang-panting sendirian menyingkap hijab dibalik kejadiannya. Apes nian kau, Bay, hahahay…

Untunglah pengalaman sebagai pecundang terhebat yang juga mantan pesulap, membuat saya mampu untuk segera mengubah apes itu menjadi begitu banyak rejeki, yang barangkali 'ga malu-maluin banget' ketika saya bagi diposting ini.

Komen tersebut langsung saja menyepak saya untuk mempertanyakan lagi semuanya.

Kenapa kita tak to the point saja terhadap semuanya? Kenapa yang kita lakukan justru men-jlimet-inya? Melungker-lungker tak karuan putar sana puter kemari, yang akhirnya menguras begitu banyak energi untuk hanya sampiran dan tepi, dan bukannya langsung berfokus kepada substansi? Yang ketika akhirnya sampai kepada isi kita telah lelah, lalu marah, lalu bersabda juga barangkali berfirman bahwa isi inilah yang terbaik, yang terbenar, karena dalam dunia isi saya adalah tuhan, tak seperti kalian yang cuma sekedar insan? Naudzu billah min dzaalik…!

Kenapa kita tak 'to the point aja, sih...!!' bertanya kepada pangsa pasar, sehingga tak perlu berlelah-lelah bikin perusahaan lengkap dengan segala macam kecipak survei pasar, kiu si (QC) dan sebagainya. Atau kenapa kita tak to the point terhadap jemaah pengajian plus ustadznya, yang setelah poin itu didapat, pengajian langsung bubar sebab tujuannya toh telah tercapai.

Atau bertanya ulang kepada Kepala Sekolah point apa yang membuat kita bergumul dalam rutinitas belajar di kelas hingga menghabiskan waktu 18 tahun untuk menjadi S2, yang harusnya kita cuma butuh berkata 'to the point aja, sih…!'  saat baru mendaftar TK, maka kita bisa lulus seketika itu juga dan langsung menjabat gelar profesor kehidupan.

Atau saat bertanding bola, yang point-nya jelas 'memasukkan' bola ke gawang lawan. Kenapa kita tidak berfokus ke sana? Saling memasukkan bola ke gawang team lawan dengan cara bergantian yang lebih sederhana dan kekeluargaan, yang setelahnya pertandingan tak lagi kita perlukan karena toh apa gunanya tips dan trik bertanding bola kita bahas dan ulas sampai berbusa kalau tujuan utama pertandingan sepak bola sudah berhasil kita mufakati bersama…?

Hingga puncaknya barangkali kita akan bertanya kepada Tuhan, sesaat setelah kita terlahir di dunia: “Ga usah basa-basi, Tuhan, and to the point aja sih, tentang kenapa kami perlu dilemparkan ke dunia yang amat menyebalkan ini…?” yang kemudian setelah bertanya, kita bisa langsung mati lagi dengan sangat mapan sebab point kehidupan toh telah kita dapatkan dengan cara yang sangat nyaman dan terutama sekali: To the point alias langsung kepada Tuhan.


Tapi sayangnya itu semua cuma bisa terjadi di dunia khayalan, yang jika kita lanjutkan pembahasannya, cuma akan menjerumuskan kita menjadi si tukang angan, menjajakan barang dagangan kulak jere adol ndeyan,  sambil diam-diam tak berhenti berdoa agar keajaiban seketika mengubah angan menjadi kenyataan. Bukankah doa adalah senjatanya orang-orang yang beriman…?

Dengan sangat bergegas saya hirup kopi di gelas. Bukan karena saya begitu menyukai kopi, melainkan lebih karena tak ingin tawa geli saya terkesan mengejek kalimat religius tersebut, yang ketika berada di tangan kita pelaksaan kalimat tersebut seketika berubah menjadi kalimat paling sekuler yang pernah ada.

“Doa…? Doa yang mana? Doa yang seperti apa...?” gumam saya pelan, sambil berpikir keras kapan terakhir kali kita saling mendoakan bersama teman, sambil berpikir keras bagaimana mungkin kita mampu untuk saling mendoakan, sementara berdoa untuk diri sendiri saja kadang begitu terburu-buru demi bisa memenuhi undangan khutbah, mengajar, atau sekedar menyuarakan kebaikan dan atau menularkan kebahagiaan melalui laman medsos yang penuh dengan zona nyaman.

Dan gumam saya menjadi kian perlahan ketika saya merasa lebih sukar lagi mengingat benarkah yang kita panjatkan adalah doa…? Untuk Tuhan…? Dengan cara menantang ayat-Nya dengan ayat kemapanan dunia yang terus kita ciptakan…?

“Kau nikahlah, kau miskin Kubuat kau kaya...” bisik Tuhan di kitab suci, yang dengan anggah-ungguh penuh sopan kita balas dengan ayat kita sendiri, “Baik ya, Tuhan, saya dengar dan saya taat, tapi nanti, setelah saya punya pekerjaan, setelah saya lulus ini selesai itu, setelah saya punya ini mampu itu, setelah saya begini lalu begitu, setelah…”

Dan mari kita ganti kata-kata ‘nikah’ tersebut dengan sedekah, beribadah, menjadi kepala suku atau bos perusahaan, penulis, penyiar radio, pastor, kyai, dan entah profesi apa lagi yang akhirnya percuma saja sebab jawaban kita tetap saja serupa: Tunggu. Nanti. Karena kita memang seorang pembangkang yang amat hebat dan professional.

Bahkan Tuhanpun kita bangkang! Atau jika perlu, kita tipu. Toh Tuhan Maha Penyayang, yang tak akan mungkin marah buah ulah konyol yang terus kita lakukan dengan atau tanpa sadar itu.

“Terus, gue salah gitu kalo menjadi pembangkang, Bay…?” kali ini saya teguk seluruh sisa kopi, sambil menghisap dalam-dalam asap pembunuh yang sekarang di-claim bisa dijadikan obat itu.
“Yaa… salah sekaligus juga ga salah…” ucap saya dengan berbelit, sambil berusaha mengorek kenangan  tentang para pembangkang yang biasanya cuma berakhir sebagai debu hitam.

“Ganyang taklid perangi kultus…!” teriak mereka hingar, seakan agama baru kemarin sore ditemukan waktu nge-like status medsos. Lupa bahwa mereka cuma sekedar pindah kuadran dari status ‘karyawan’ yang rendah hati di perusahaan orang lain menjadi kasta ‘budak’ sombong di perusahaan yang dia dirikan sendiri, sambil mati-matian menghibur diri bahwa jabatan ‘Bos Besar’ adalah bukti keterlepasannya dari dunia karyawan, tak peduli jabatan bos besar itu justru menjadikan dia kacung bagi karyawan perusahaannya sendiri itu, agar perusahaan tetap berjalan dan membuahkan keuntungan atau mungkin juga cuma sekedar bertahan. Lupa bahwa mereka hanya pindah dari satu taklid ke kultus yang lainnya. Lupa bahwa yang mereka anut kini –tak lebih- hanya ‘takfir metodologi’ dan bukannya ‘Keilahian sejati’. Berbeda berarti kafir, dan salah berarti dosa, titik.

“Lo dari tadi celoteh begono-begini sebenarnya mo ngomongin tentang apa sih, Bay…? Kenapa ga to the point aja, sih…!”

Hampir saja “Huaaahhh…!!!” yang keras dan panjang tersembur dari mulut saya buah kekagetan yang sangat.

Kenapa kalimat itu lagi yang timbul, seakan-akan semua kalimat keren selain ‘to the point aja, sih’  tenggelam dalam era kekinian yang memang serba instan. Serba menuntut apapun untuk langsung ujug-ujug.

Dengan sedikit getar dan getir saya ingin mengatakan bahwa semua ini cuma tentang proses, Sobat, hanya tentang bagaimana agar pengetahuan yang telah kita dapatkan dengan susah-payah serta kadang berdarah-darah itu, dapat menuntun kita kepada jalan pelaksanaan, dengan penyederhanaan sebagai alat utamanya. Sebab sehebat apapun point berenang yang kita pahami, tetap, tak akan pernah mampu untuk membuat kita mengarungi air tanpa proses gejebar-gejibur terlebih dahulu, dan tak akan pernah bisa membuat kita secepat torpedo merenanginya, tanpa penyederhanaan gerak dan olah napas yang hakiki, yang hanya bisa kita dapatkan melalui proses pematangan yang entah cepat entah lambat.

Tapi saya urung melakukan itu. Bukan karena enggan atau temperamen. Melainkan lebih kepada sadar, bahwa hidayah, cahaya atau pencerahan memang milik Tuhan. Milik Allah. Dan sehebat apapun kita berusaha penuh busa di mulut atau peluh di sekujur tubuh, jika Allah belum menghendaki, tetap saja tak akan ada yang terjadi.

Tinggal satu cara tersisa, yaitu mengajaknya untuk berdoa bersama agar Tuhan memberikan apapun secara langsung kepada kita, dan bukannya mengajari kita lewat musibah ataupun keberhasilan. Dan setelah itu, saya cuma ingin membentur-benturkan jidat jenong saya ke sajadah, berusaha khusu’ dalam istighfar memohon ampun-Nya, dan berharap semoga setelah ini tak ada lagi komen dan atau pertanyaan lain yang membuat saya larut dalam keputus asaan. Semoga Allah to the point mengabulkannya, eh…

Padepokan Bayangan-Kenangan Medio15.

Gambar: Dok. Pri.  Model: Iffah, siswa Bay. Kamera: Nisrina-Anisa. Lokasi: X-Menur.

  • view 165