Dongeng untuk Jokowi: Tanah Air Mata #3

Pemimpin Bayangan III
Karya Pemimpin Bayangan III Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 06 Februari 2016
Dongeng untuk Jokowi: Tanah Air Mata #3

Cerita sebelumnya:

Alangkah ajaibnya waktu! Tiga tahun yang lalu masih kulihat rakyat Indonesia yang bersatu, padu. Tak peduli tua atau muda, kaya, miskin, pejabat, pelajar, mahasiswa, mereka semua berjuang. Bahu-membahu mencangkuli ladang, menanam ini dan itu, beternak, melaut dan kegiatan-kegiatan lainnya yang sangat kental dengan produktivitas. Tiga tahun yang lalu masih kulihat kantor-kantor yang ditutup, sekolah, kampus dan tempat-tempat lainnya yang biasanya begitu ramai dan mentereng. Kini semuanya berubah, drastis (Dongeng untuk Jokowi #2).

***

saat kau terlelap

hidungku tak lagi tajam

membaui aroma

kehidupan, yang penuh dengan sketsa

ketidak berdayaan

?

dan saat kau terlelap, aku

tak mampu lagi untuk tidak bergerak

dalam detak dan bercak

yang penuh oleh darah

(?Saat Kau Terlelap? dalam Di Bawah Kibaran Dosa)

?

Panen besar melanda, pada hampir seluruh sektor riil yang digarap.

Indonesia mungkin telah diembargo, tapi hal itu tak pernah bisa memadamkan semangat rakyat yang terus berkobar, terus melaju dan berderap meraih cita.

Indonesia mungkin telah diembargo, tapi Indonesia bukan Irak atau negeri-negeri Islam lainnya yang bisa dipermainkan. Sejarah telah membuktikan bahwa hanya dengan bambu runcing yang diolesi tekad yang membaja, telah berhasil menghancurkan segala jenis penjajahan yang ada.

Lalu sejarah kembali terulang, terus, karena itulah watak terkeras dari sejarah. Barat yang terus saja memantau dan berusaha keras menghancurkan kredibelitas negeri ini di mata dunia dengan jaringan media internasional mereka yang sangat canggih, justru sangat membantu pemulihan ekonomi di ?Negeri Cangkul dan Jala? ini. Betapa tidak, Indonesia tiba-tiba saja menjadi begitu terkenal! Begitu sensasional?!!! Dan hal itu menimbulkan rasa ingin tahu yang besar dikalangan warga dunia.

Berbondong-bondong mereka datang, tanpa peduli akan propaganda-propaganda busuk yang mereka dengar dan baca. Mereka begitu didera oleh rasa penasaran, bahwa di era yang sudah demikian maju, justru ada negara yang menolak peradaban dan kembali kepada masa ?berburu dan meramu?.

Devisa tiba-tiba mengalir dengan begitu deras, dari sektor pariwisata. Tidak hanya itu, begitu membludaknya para wisatawan yang datang, ditambah lagi dengan tidak adanya hotel yang beroperasi, memaksa mereka untuk tinggal di rumah-rumah penduduk. Melebur, dengan fasilitas yang seadanya. Aha! Siapa bilang tamu tidak membawa berkah? Bahkan rakyatpun kini mengantungi dolar, ringgit, yen serta mata uang lainnya yang mereka peroleh? dengan cara yang halal!

Tapi rakyat Indonesia memang agak sadis walau ramah. Kerapkali para wisatawan itu dibuat heran dan tercengang ketika hari demi hari yang mereka lalui, disuguhi dengan berbagai kenyataan yang agak ganjil. Mereka tidak hanya diberi tahu bahwa rasa tiwul dan gaplek itu begitu getir dan kasar. Tapi mereka juga diberi tahu bahwa penduduk negeri ini? bukan manusia!

Dengan mata kepala sendiri mereka melihat bahwa rakyat Indonesia, lebih kuat dan gagah melebihi singa di siang hari. Dan ketika malam tiba, singa-singa itu kembali berubah wujud. Menjelma Phoenix emas yang terus meneteskan sinar perak dari telaga yang mengalir tatkala penyerahan diri seutuhnya kepada Sang Pencipta, menjadi begitu suci.

Lantas saja rasa heran itu berubah, menjadi sebuah ketertarikan baru berlabel tantangan. Bau tanah, berendam dalam lumpur sambil mencangkul serta kegiatan-kegiatan lainnya yang sangat akrab dengan alam, begitu membangkitkan gairah mereka. Kelucuan-kelucuanpun menjelma tatkala sosok-sosok jangkung dengan kulit tanpa warna itu, melenggang penuh gaya dengan tudung lebar di kepala, sambil menenteng cangkul dengan sangat canggung.

Atau ketika mereka berusaha keras untuk menunggangi kerbau sambil meniup suling bambu tanpa nada yang jelas, sebelum akhirnya terjatuh dan lintang-pukang dikejar hewan pendengus itu. Sementara mereka yang ?terdampar? di perkampungan nelayan, bertelanjang dada dengan bebasnya sambil menebar jala dari perahu kecil. Saling memamerkan kemachoan pangkal lengannya sambil berteriak-teriak menantang laut, sebelum akhirnya tercebur karena perahu yang oleng.

Dunia sekali lagi gempar ketika para wisatawan itu mulai membuat tulisan, surat, laporan serta bentuk-bentuk pendokumentasian lainnya yang kemudian mereka kirim ke negara masing-masing. Tak perlu waktu yang terlalu lama ketika arus wisatawan kembali membanjir. Dan kali ini, mereka memakai dasi dan jas yang berkilap dengan simbol perusahaan pada diktat dan kertas yang mereka bawa.

Gelombang investasi kembali mengalir, melebihi derasnya aliran Sungai Barito. Gayungpun bersambut. Rakyat punya tanah dan produk sementara mereka punya pabrik dan jaringan pemasaran. Konsep yang dipakaipun sangat sederhana: Bagi hasil! Dan itu artinya tidak ada lagi birokrasi yang bertele-tele tanpa harus dibebani peraturan ini dan itu berlabel otonomi daerah. Ah, investasi? siapa bilang harus lobi-lobi ke luar negeri?

Kuhirup napas dalam-dalam. Lega sekaligus haru. Hari ini, tiga tahun setelah hari pembebasan dan kasih sayang itu mulai diberlakukan, Indonesia kembali mendapatkan semuanya, kehormatan, harga diri, dan? tentu saja: Kemakmuran?!!!

Hari ini Indonesia mendapat penghargaan dari dunia internasional sebagai negara tercepat yang mampu keluar dari krisis ekonominya. Hari ini bayi-bayi yang lahir, tidak lagi menyandang hutang. Hari ini semuanya telah kembali membaik. Walau sampai hari ini pendidikan masih saja mahal.

Tapi apakah artinya mahal ketika rakyat telah mampu untuk berkata ?Ah, tidak apa-apa?? seperti bunyi salah satu iklan rokok kretek, dengan tetap tersenyum. Dan senyum mereka tak pernah lagi hendak usai ketika setiap minggu yang mereka lalui, dipenuhi dengan rupiah dan dolar yang mereka peroleh dari bagi hasil.

Yap, siapa bilang hidup tak indah? Sementara aku, aku tetap seorang manusia biasa. Bahkan kuliahkupun tak pernah selesai. Tapi aku tak pernah jadi petani atau pelaut. Bukan karena dua pekerjaan itu begitu remeh. Hanya saja, aku ? lebih tertarik untuk menyempurnakan ?mesin peradaban? yang tengah kubuat. Sebuah mesin yang, kuharap, mampu untuk membuat manusia? menjadi lebih manusia! Dan bukannya menjadi serigala atau mesin.

Ya, kebetulan aku dipercaya untuk mengelola sebuah ?Rumah Ilmu? yang sederhana, yang hanya memiliki beberapa puluh laboratorium dengan fasilitas komputer yang hanya beberapa juta unit. Dan saat ini, usiaku belum lagi genap dua puluh satu.

?Heh! Gembel! Pergi kau dari tokoku?!!!? tahu-tahu di hadapanku telah berdiri seorang pria tambun. Wajahnya galak, melotot kearahku. Sementara di perempatan jalan di depanku, kulihat bocah-bocah kumal berlarian menjajakan koran. Beritanya terorisme. Yang lainnya mengelap-ngelap kaca mobil, atau bertepuk tangan sambil mendendangkan ?Tanah Air Mata?.

Rupanya aku melamun.

?

tapi engkau tetap terlelap

dan desah nafasmu yang teratur

seakan membisikiku, tentang

sebuah keabadian cinta

dalam dunia yang tak pernah mampu

untuk kucumbu

karena

saat kau terlelap, akupun

turut terlelap

di sisimu, dalam irama kebusukan hidup

(?Saat Kau Terlelap? dalam Di Bawah Kibaran Dosa}

?

*Bersambung ke ?Dongeng untuk Jokowi #4: Menjadi Staf Penasehat Kepresidenan Bidang Khusus".

?

Secangkir Kopi Kenangan Masa-Masa Pergerakan, ThornVille-inspirasi.co, 1999-06 Pebruari 2016

*Tulisan ini merupakan draft naskah novel yang mengacu kepada pendapat pribadi penulis, dengan tidak bermaksud melakukan ujaran kebencian dan atau mendiskreditkan Negara, Presiden, seseorang atau sekelompok pihak tertentu.

  • view 195