Dongeng untuk Jokowi: Tanah Air Mata #2

Pemimpin Bayangan III
Karya Pemimpin Bayangan III Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 05 Februari 2016
Dongeng untuk Jokowi: Tanah Air Mata #2

Cerita sebelumnya:

?Bukankah ini sebuah proses?? suaranya terdengar lembut namun tegas dan penuh wibawa.

?Proses yang terlalu berlebihan,? aku tersenyum kecut. Alangkah singkatnya pertanyaan itu.

?Proseskah namanya ketika pendidikan, menjadi seolah-olah sebuah sulap yang ajaib? Waktu dipersingkat sementara suapan diperbesar dan diperbanyak? Proseskah namanya ketika kemampuan siswa, menjadi begitu disamakan? Kejar target dengan waktu tertentu yang kemudian, hanya dengan alasan daya tampung maka pelulusan bagi siswa yang belum layak, menjadi begitu dilegalkan! Proseskah namanya ketika kita, dengan dalih globalisasi dan alih teknologi, menciptakan sistem-sistem pengajaran yang hanya mampu membuat siswa hanya sebagai operator? Hanya sebagai kuli di negeri sendiri? Terutama, proseskah namanya ketika akhirnya, pendidikan, menjadi begitu mahal bagi kantung-kantung rakyat yang lusuh dan bolong termakan kemiskinan? Proseskah namanya???

Bisik-bisik kembali terdengar. Gaung lebah. Sementara ruang seminar menjadi sangat sesak karena jumlah peserta yang terus bertambah. Bahkan beberapa dari mereka nekad menggelar koran karena tidak kebagian kursi (Dongeng untuk Jokowi #1).

***

saat kau terlelap

aku bermandikan sunyi yang pedih

dan menyakitkan

air mata kini tak lagi punya hati

(?Saat Kau Terlelap? dalam Di Bawah Kibaran Dosa)

?

Seminar berlangsung semakin hangat. Pertanyaan demi pertanyaan terlontar dengan kian bernas. Kian panas. Hingga panitia memberiku isyarat untuk mengakhirinya.

?Bukan tanpa alasan ketika ?Bapak Tua Itu? pernah berkata: ?Beri aku sepuluh pemuda revolusioner, maka akan kuguncang dunia!? Ya. Indonesia punya segalanya. Tanah yang subur, laut yang luas membentang, minyak, wisata alam, keragaman hayati dan banyak lagi yang lainnya? Tapi selalu ada alasan untuk kita berlemah diri, dengan selalu berkata ?Indonesia negeri miskin yang terjerat hutang? atau ?kita tak punya SDM yang handal?. Andai kita tak lagi sungkan untuk berkata: Ya, Indonesia negeri yang sekarat?!? suaraku yang tenang dan datar mengakhiri seminar yang?ironis! Betapa tidak? Sempat kulihat peserta yang bubar meninggalkan gema yang ramai dari lidah mereka. Riuh. Panas. Sementara mataku beberapa kali berkedip secara refleks terkena cahaya yang pendek dan berkilat. Silau.

***

Setelah seminar itu, terjadi perubahan yang besar pada negeriku. Dua minggu lebih wajahku terpampang pada media massa, dengan tulisan yang hampir senada: ILMUWAN BARU TELAH LAHIR, atau SEBUAH MESIN PERADABAN TELAH TERCIPTA DI NEGERI INI!

Mungkin ini pengaruh dari almamater tempatku belajar, yang katanya barometer bagi setiap pergerakan dan perubahan. Atau, bisa jadi masyarakat begitu merindukan orang-orang yang berani untuk berbicara apa adanya, walau nyeleneh.

Reformasi kembali bergaung. Tapi kali ini tanpa demonstrasi. Jakarta tiba-tiba menjelma kuburan! Sepi dan lengang. Bahkan gedung bundar yang biasanya selalu penuh oleh manusia-manusia ?pilihan?, menjadi lebih sepi dari museum.

Pemandangan yang sama terlihat pada kantor pengadilan, komnas HAM serta gedung-gedung pemerintahan lainnya. Hingga suatu hari, terdengar pengumuman yang sangat menggemparkan dari Istana Kepresidenan. Sebuah Instruksi Presiden!

Tetapi, alangkah dahsyatnya kekuatan sebuah inpres, hingga hanya dalam tempo dua puluh menit, mampu membuat ?Negeri Semar? ini menggelegak. Ramai. Riuh. Orang-orang berlarian keluar rumah sambil berteriak-teriak. Mata-mata mereka begitu besar dan terbelalak. Melotot. Sementara kaum perempuan begitu sibuk membuat danau, dengan air mata mereka.

Ada apa? Apakah sembako naik lagi? Listrik? BBM? Sementara jalan-jalan kembali dipenuhi lautan manusia.

?Ah? rupanya mesin peradaban itu telah mulai digulirkan?? aku bergumam sendiri.

?Hai?!? sebuah suara memanggilku. Rupanya dia.

?Kau memang gila..!? sosok itu menghampiriku. Ditepuknya pundakku dengan agak keras. Napasnya memburu.

?Ini? Ini adalah sejarah...!!!? lagi-lagi dia berteriak. Apakah aku telah menjadi begitu tuli baginya?

***

Pagi yang cerah. Bundaran HI tampak penuh warna hari ini. lingkaran-lingkaran pelangi tergambar dari jaket almamater yang dipakai oleh ribuan manusia itu, dengan kolam berisi patung sebagai poros. Pada salah satu sisi kolam, terlihat seseorang berteriak-teriak dengan gagah. Orasi.

Ah, lingkaran manusia? Apakah Ka?bah telah berpindah tempat? Sementara sayup-sayup terdengar suara sang orator menabuh jiwa.

??Kemarin pemerintah telah memberlakukan darurat sipil? Dan, hari ini? kita telah diembargo oleh dunia internasional?!!!?

Suara-suara terdengar bergemuruh, lalu sunyi lagi.

?Indonesia bukan negara miskin?!!!? sang orator kembali berteriak. Lantang.

Ia bercerita bahwa pemerintah telah mengkorupsi dana sebesar lima ratus trilyun, yang terkumpul dari APBN yang dipangkas hampir lima puluh persen, surplus migas serta dana banpres sebesar tiga ratus milyar.

Ia bercerita bahwa hari ini telah datang kapal penangkap ikan sebanyak sepuluh juta unit, yang langsung didistribusikan kepada rakyat di seluruh pelosok negeri: Secara gratis!

Ia bercerita bahwa hari ini pemerintah telah memulai pembangunan pos-pos penyuluhan rakyat di seluruh daerah, juga sarana pengelolaan pasca produksi pertanian dan hasil laut.

Ia bercerita bahwa semuanya dilakukan pemerintah dengan dana tersebut, tanpa memungut sepeserpun dari rakyat! Ah, baru kali ini kata-kata korupsi terdengar begitu merdu. Korupsi yang didukung jutaan cinta di mata rakyat.

Orator berganti. Tapi suara mereka punya nada yang sama, irama kerakyatan. Dari lidahnya mengalir simfoni keprihatinan. Pilu. Sedih. Tentang negeri yang dikecam oleh sebagian besar penduduk bumi. Tentang negeri yang bersikeras untuk menunda pembayaran utang luar negerinya. Tentang negeri yang mencoba mempertahankan kehormatannya ketika menolak segala jenis utang baru yang ditawarkan oleh lembaga-lembaga rentenir internasional. Juga, tentang negeri yang menolak segala jenis perdagangan bebas? selain komoditas pangan!

?? Barat? menekan kita?? suaranya terdengar putus-putus. Dari balik jaketnya ia keluarkan beberapa lembar kertas. Ada gambar presiden di sana, sedang menanam padi. Sementara pada kertas yang lain tercetak gambar beberapa menteri sedang menebar jala dari kapal nelayan. Ada satu kesamaan yang tercermin dari gambar-gambar itu, bahwa mereka, tak lagi mengenakan jas dan pantalon. Bahwa mereka bersimbah peluh dan lumpur, tanpa rekayasa teknologi.

?Dengan gambar-gambar ini? mereka? mencaci maki kita?! Bangsa yang hina! Bangsa yang tak lagi layak menyandang gelar negara?! Bahkan mereka berani mengatakan bahwa Indonesia? negeri muslim terbesar di dunia? adalah komunis yang tereduksi?!!!?

Suara-suara yang penuh kemarahan kembali terdengar. Gaduh.

?Apa yang salah dengan profesi petani??! Apa yang salah dengan dengan pelaut?! Hinakah kita, ketika para pemimpin Indonesia? ketika para pemimpin kita? menjadi pembuat ikan asin dan tempe??!?

Suasana mendadak senyap. Suci. Keharuan menjelma awan dan kabut yang terus menebal menyelimuti danau manusia itu.

?Haiii?! Dia ada di siniii?!? lelaki muda di sebelahku tahu-tahu berteriak sambil tangannya meraih dan mengangkat lengan kananku.

Kesunyian serta-merta pecah, meninggalkan jejak gelagapan pada wajahku. Semua mata kini tertuju kearahku. Terdengar gumam-gumam yang tertahan menyebutkan dua kata, mesin peradaban.

?Suruh dia maju?!? sebuah suara kembali terdengar, yang disusul oleh suara-suara lain yang senada.

Danau manusia kembali bergemuruh. Gelombangnya menjelma tangan-tangan raksasa yang membawa tubuh rikuhku menuju podium.

Gemetar, sebuah keadaan yang menjadi begitu akrab merengkuhku akhir-akhir ini. Pun, kini, ketika aku terangkai situasi untuk berdiri di hadapan ribuan jiwa. Ribuan wajah yang seakan-akan menjelma kertas putih bagi syair lisanku.

?Bismillaah?? suaraku terdengar lirih. Tapi kesunyian meminjam angin hingga lirih itu menari, menembus batas-batas mikrofon.

?Hari ini kita berkumpul? menukar duka dengan asa?? aku terdiam sejenak. Jengah. Suara-suara kembali hingar.

?Hari ini kita berkumpul? di sini? bukan untuk meratap dan menebar air mata? Juga, bukan untuk melafalkan mantra-mantra kemarahan. Tidak, bukan itu?? kuhela nafas sejenak.

?HARI INI BUKANLAH TAKDIRRR?!!!? suaraku tiba-tiba saja berubah keras. Menggelegar.

?

?Benar bahwa Tuhan Maha Pemberi, tapi? tetap, manusia harus membuka tangan. Perubahan mungkin terlalu menyakitkan bagi kita semua. Tapi pernahkah kita, sejenak, meluangkan waktu untuk berpikir bahwa setelah duka yang beriak-riak hari ini? APPPA YANG SEBENARNYA DIGENGGAM MASA DEPAN UNTUK KITAAA??!!!?

Kesunyian kembali merezim.

?Dunia mungkin sudah terlalu busuk, tapi bukan berarti kita harus menjadi bagian darinya dengan selalu berkata bahwa kita cuma manusia biasa? Justru kata-kata itulah yang harusnya, memacu semangat kita untuk lebih meluruskan niat? untuk lebih menyempurnakan ikhtiar? Agar kita? tetap mampu untuk mempertahankan satu-satunya yang tersisa dari negeri ini: Harga diri dan kehormatan! Agar hari ini? dapat kita kenang sebagai hari pembebasan dan kasih sayang! Walau jika untuk itupun, kita harus meninggalkan semuanya? dan kembali menggigit akar!?

Gemuruh kembali bergema. Kebisingan itu bagai tongkat estafet yang dilempar kesana-kemari tanpa seorangpun yang berniat menangkapnya.

?Jika kemarin kita, selalu berteriak-teriak menuntut perubahan? Maka sekaranglah saatnya bagi kita untuk pergi? dari kegelapan yang panjang! Perubahan adalah kita?! KITALAH MESIN PERADABAN ITU?!!!?

Kumpulan manusia itu bubar, tanpa sorak dan tepuk tangan. Hanya satu jejak yang tertinggal di mata mereka, semangat.

?Assalamu ?alaikum?? sebuah suara menerobos paksa ke dalam gendang telingaku secara tiba-tiba. Sret! Mendadak semuanya hilang. Tak ada lagi trotoar yang penuh manusia. Tak ada lagi kolam dengan patung yang angkuh. Semuanya lenyap. Tak berbekas. Berganti dengan suasana pendopo yang tenang, terang dan sejuk.

?Astaghfirullaah?? kuusap muka dengan kedua tangan. Rupanya aku melamun.

?Ada apa?? tanyaku pada sosok yang memberi salam tadi.

?Ada undangan dari Pusat Persaudaraan. Bapak diminta untuk menjadi pembicara pada forum yang akan mereka buat. Lalu, emmh? surat dari Mesir dan Belanda.?

Sosok itu pergi lagi, meninggalkan salam dan jejak kehangatan pada tangan kananku. Kembali otakku terkoyak, dirasuki oleh masa-masa tiga tahun yang silam.

Alangkah ajaibnya waktu! Tiga tahun yang lalu masih kulihat rakyat Indonesia yang bersatu, padu. Tak peduli tua atau muda, kaya, miskin, pejabat, pelajar, mahasiswa, mereka semua berjuang. Bahu-membahu mencangkuli ladang, menanam ini dan itu, beternak, melaut dan kegiatan-kegiatan lainnya yang sangat kental dengan produktivitas. Tiga tahun yang lalu masih kulihat kantor-kantor yang ditutup, sekolah, kampus dan tempat-tempat lainnya yang biasanya begitu ramai dan mentereng. Kini semuanya berubah, drastis. (Bersambung ke ?Dongeng untuk Jokowi: Tanah Air Mata #3?)

?

Secangkir Kopi Mengenang Kembali Bung Karno dan Relevansinya Terhadap Pemuda-Pemudi Indonesia Kini, ThornVille-inspirasi.co, 05 Pebruari 2016

*Tulisan ini merupakan draft naskah novel yang mengacu kepada pendapat pribadi penulis, dengan tidak bermaksud melakukan ujaran kebencian dan atau mendiskreditkan Negara, Presiden, seseorang atau sekelompok pihak tertentu.


  • Mas Yunus
    Mas Yunus
    1 tahun yang lalu.
    Saya suka semangat seperti tertulis dalam kalimat ini: "?Beri aku sepuluh pemuda revolusioner, maka akan kuguncang dunia!?, Semoga bisa mengubah dongeng air mata menjadi air syurga...

    • Lihat 1 Respon

  • Suyono Apol
    Suyono Apol
    1 tahun yang lalu.
    Ada melamun Bundara HI juga. Urusan bangsa ini memang bikin mumet, bahkan bagi pemimpin hasil seleksi alam yang sangat berat sekalipun.

    • Lihat 1 Respon

  • Pemimpin Bayangan III
    Pemimpin Bayangan III
    1 tahun yang lalu.
    Makasih banyak buat teman2 inspirator yang telah men-share karya saya dini hari ini...^_ Sayang media bersama ini tak bisa dilacak siapa saja yang telah mengesharenya, jadi saya tak bisa melakukan kunjungan balik, dan baru bisa mengucapkan salam hangat dulu buat kalian semua...^_

    • Lihat 2 Respon