Dongeng untuk Jokowi #1: Tanah Air Mata

Pemimpin Bayangan III
Karya Pemimpin Bayangan III Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 03 Februari 2016
Dongeng untuk Jokowi #1: Tanah Air Mata

kenistaan adalah kini

tatkala angan, yang hanya begitu saja

memaksaku untuk melacurkan semua

sementara moral

sudah jauh-jauh hari menguap

dalam retorika ketinggian manusia

yang kini, tak lagi punya harga

(?Saat Kau Terlelap? dalam Di Bawah Kibaran Dosa}

?

?Hah!? Kamu serius ingin keluar dari RK?!? Dera terlonjak. Kaget. Suaranya terdengar sangat keras di telingaku. Sementara wajahnya yang santai berubah serius hanya dalam sekejapan mata.

?Ya?? jawabku singkat.

?Tapi? kenapa?!?

?Tak ada alasan yang istimewa. Aku hanya merasa dunia pendidikan formal tidak cocok untukku. Aku??

?Tapi kamu masih waras, kan?! Ini RK! RK?!!!? Dera memotong ucapanku. Ada kepanikan yang besar terhambur dari suaranya yang keras.

***

Rimba Kuning, setahun yang lalu. Saat itu usiaku masih sangat muda di sana, datang membawa sekarung sketsa untuk dijual. Dan? berhasil! Aku banyak menuai mimpi kala itu. Bendera diriku berkibar. Di RK, sebuah hutan yang hanya mencetak harimau. Hanya harimau.

Aku berhasil menembusnya, masuk ke dalam jajaran harimau muda. Mungkin saat itu aku sedang beruntung, seperti perkiraan semua orang. Sayangnya tidak. Semua sudah kurencanakan. Selalu, kubuat sketsa untuk kujalani. Minimal enam bulan ke depan. Selalu kubuat sketsa, yang sebelumnya kugojlok habis-habisan. Dan ketika sketsa itu selesai, benar-benar sebuah sketsa yang matang! Karena aku, tak pernah ingin mensketsa sebuah kegagalan.

Aku seorang perfeksionis. Tak ada kata gagal dalam kamus hidupku, walau sekecil apapun. Kekuasaan Tuhan begitu besar merengkuhku, merengkuh jiwa yang fakir ini sehingga aku selalu mampu untuk mendapatkan apa-apa yang kuinginkan. Dan aku tak pernah lupa untuk selalu memasang topeng keberuntungan, kebetulan dan ketidaksengajaan. Karena aku tahu bahwa mereka tidak pernah suka orang-orang yang ambisius, pesaing dan orang-orang yang ?berbahaya? bagi mereka. Aku tahu itu sehingga aku selalu memasang wajah-wajah kebetulan. Seakan-akan, selalu ?The man in the right time and in the right place?. Agar semua berjalan sesuai rencana. Agar aku tetap bisa bergerak bebas. Agar semua, tetap? dalam kendaliku.

***

Tiba-tiba saja aku hadir di sini, pada sebuah ruangan Gedung Pusat Kajian Humaniora kampus RK. Masih kuingat betapa sumringahnya ekspresi Subhan, ketua senat fakultasku ketika menyampaikan berita ajaib itu kepadaku semalam.

?Selamat, yah? Kau terpilih sebagai pembicara pada seminar besok.?

?Seminar apa? DPKP?? tanyaku bingung. Terkejut.

?Oh? bukan. Yang ini istimewa. Seminar tentang dunia yang tengah kau cari-cari bentuknya?pendidikan!? suara Subhan terdengar mantap. Semangat.

?Lho? Tapi? bukankah masih banyak teman-teman lain yang lebih ahli dibandingkan aku? Mengapa tidak si??

?Aah, sudahlah... Lakukan saja?!? tukas Subhan cepat.

Ruang seminar ini tidak terlalu besar. Kapasitasnya mungkin hanya sekitar seratus lima puluh orang. Hampir seluruh ruangan dipenuhi oleh kursi-kursi yang ditata sedemikian rupa, membentuk sebuah parade yang bersusun-susun. Hanya ada sebuah meja di ruangan ini, meja pembicara, meja yang kini kutempati. Sementara pada dinding ruang di belakangku terpampang spanduk besar bertuliskan ?Seminar Nasional: Pendidikan dan Implikasinya Terhadap Arah dan Kebijakan Pemerintahan?. Hmm? sebuah tema yang cukup menantang.

?Tunggu apa lagi?? tanyaku kepada moderator ketika kulihat deretan kursi peserta mulai sesak.

?Biasaa? Orang-orang penting belum datang...? jawab sang moderator sambil tersenyum.

Orang-orang penting? Siapa? Aku tertawa sendiri ketika sebuah wajah tiba-tiba saja muncul di kepalaku? Madonna! Ah, ada-ada saja?

Ruang seminar yang penuh dan gelisah mendadak hening ketika serombongan manusia berdasi masuk. Semua yang hadir seperti diberi aba-aba untuk memfokuskan pandangan kearah mereka.

?Eh? eh, itukan si Namsa! Emh? maksudku Pak Namsa Idub Santoso, rektor kita!? aku berkata seraya mencolek punggung moderator.

?Ya? Itu memang Pak Namsa. Coba kau perhatikan juga orang-orang yang datang bersamanya, kau pasti akan terkejut.?

Keningku tiba-tiba saja basah. Gugup. Bukankah itu ketua partai anu, Pak BI, Kapolri dan masih banyak lagi wajah-wajah nomor satu negeri ini yang biasanya hanya muncul di layar televisi? Tapi kini mereka berkumpul, duduk pada deretan kursi paling depan dan berhadapan langsung denganku. Ah, mimpikah aku? Alangkah tegangnya mimpi! Tapi peluh yang mengalir di dahiku menyadarkanku bahwa semua adalah kenyataan.

Seminar dimulai. Setelah pembukaan yang singkat, moderator menyilakanku untuk memulai presentasi.

Kuhirup napas panjang-panjang. Tenang, mereka cuma manusia?

Tapi salamku tetap saja bergetar.

?Terima kasih kepada teman-teman BEM RK dan Yayasan Peduli Pendidikan Anak Bangsa selaku panitia penyelenggara, atas kehormatan dan kepercayaan yang sangat besar kepada saya?? ucapku, sebelum segalanya akhirnya tercurah bagai air bah. Semua yang hadir perlahan menjelma patung. Diam, serius mendengarkan uraianku tentang sistem pendidikan di Indonesia yang buruk. Tentang realitas-realitas sosial yang menyedihkan. Juga tentang arah kebijakan negara yang terkesan ngawur dan panik. Sempat kulihat kening-kening yang berkerut dari sebagian besar peserta seminar. Juga desah ketidak setujuan dari bibir mereka.

Empat puluh menit telah berlalu ketika aku mengakhiri kalimat-kalimat baku yang kurangkai. Otodidak, dan tanpa persiapan. Hingga saat yang menegangkan itu akhirnya tiba juga. Sesi tanya-jawab! Kulihat sebuah tangan terangkat, pada sudut sebelah kiri deretan kursi bagian belakang. Setelah menyebutkan nama dan asal universitas, diapun mengajukan pertanyaan.

?Atas dasar apa saudara mengatakan bahwa sistem pendidikan di Indonesia, sangat buruk dan mandul? Bukankah saudara baru menjadi mahasiswa selama tiga semester? Itupun, saya yakin, hanya saudara jalani secara sambilan mengingat curriculum vitae saudara yang lebih dari dua jengkal!?

Hmm? Pertanyaan pembuka yang cukup berat. Inikah bobot dari seminar nasional? Atau kebetulan ia berasal dari UNPJ, pabrik pencetak guru.

?Benar?? aku menjawab tenang. Kejutan apa lagi ini? Bahkan panitiapun menyebarkan biodataku. Apakah hari ini aku berulang tahun hingga mereka iseng dan menghadiahiku sebuah seminar? Tapi? Alangkah anehnya jika seminar ini hanya sebuah keisengan, bahkan jika sebagai hadiah ulang tahun sekalipun. Ah, alangkah anehnya?

?Dengan menjadi pembicara pada forum ini, tidak otomatis menjadikan saya sebagai orang yang paling ahli. Tapi setidaknya saya dapat memberikan sebuah gambaran untuk anda,? aku bangkit dari kursi dan membuat beberapa coretan pada white board yang tersedia.

?Inilah gambaran dunia pendidikan kita?? ucapku sambil menunjuk pada skema yang baru saja kubuat.

?Gambar rumah ini menunjukkan bahwa sistem pendidikan kita, tak terarah! Terlalu banyak celah yang terbentuk di dalamnya. Emmh? saya menyebutnya sebagai ?jebakan industri?. Sedangkan garis panah ini menunjukkan kualitas dari hasil yang diperoleh, yang tak lebih dari produk setengah jadi??

Suasana yang tadinya sunyi mendadak menjadi begitu ramai. Ada gaung lebah yang terbentuk dari suara-suara mereka. Semua orang saling berpandangan. Semua orang saling berbicara. Sementara moderator terlihat berusaha keras untuk menenangkan suasana.

?Kita terlalu terlena?? kuusap peluh yang membasah di kening, berharap agar gejolak jiwa yang tercipta tiba-tiba, hilang bersama peluh yang kini menempel di sapu tanganku.

?Mungkin benar bahwa Indonesia telah mampu menghasilkan ribuan sarjana setiap tahunnya, dari berbagai disiplin ilmu. Tapi pernahkah kita berani untuk jujur, bahwa dari yang ribuan itu, berapa banyak yang benar-benar lulus dan berapa banyak pula yang sekedar ?lulus???

Suasana kembali tenang. Terlalu tenang bahkan! Semua yang hadir terdiam. Serius.

?Kita terlalu terlena dan menjadi tidak sadar bahwa insinyur yang kita hasilkan, hanya mampu menjadi semacam sekrup dari unit-unit yang dibangun. Sementara sarjana- sarjana hukum yang tercetak, tak lebih baik dari bab-bab hukum kita yang terlalu kaku dan penuh lubang?! Demikian pula dengan bidang-bidang yang lainnya??

Seseorang kembali mengangkat tangan. Dari warna rambutnya, kutaksir usianya lebih dari enam puluh. Tapi? ah, bukankah ia kepala sekolah X di bilangan Jakarta? Sebuah institusi pendidikan yang cukup sehat dan? tentu saja mahal!

?Bukankah ini sebuah proses?? suaranya terdengar lembut namun tegas dan penuh wibawa.

?Proses yang terlalu berlebihan,? aku tersenyum kecut. Alangkah singkatnya pertanyaan itu.

?Proseskah namanya ketika pendidikan, menjadi seolah-olah sebuah sulap yang ajaib? Waktu dipersingkat sementara suapan diperbesar dan diperbanyak? Proseskah namanya ketika kemampuan siswa, menjadi begitu disamakan? Kejar target dengan waktu tertentu yang kemudian, hanya dengan alasan daya tampung maka pelulusan bagi siswa yang belum layak, menjadi begitu dilegalkan! Proseskah namanya ketika kita, dengan dalih globalisasi dan alih teknologi, menciptakan sistem-sistem pengajaran yang hanya mampu membuat siswa hanya sebagai operator? Hanya sebagai kuli di negeri sendiri? Terutama, proseskah namanya ketika akhirnya, pendidikan, menjadi begitu mahal bagi kantung-kantung rakyat yang lusuh dan bolong termakan kemiskinan? Proseskah namanya???

Bisik-bisik kembali terdengar. Gaung lebah. Sementara ruang seminar menjadi sangat sesak karena jumlah peserta yang terus bertambah. Bahkan beberapa dari mereka nekad menggelar koran karena tidak kebagian kursi?(Bersambung ke ?Dongeng untuk Jokowi #2?)

?

Secangkir Kopi Mengenang Kembali Bung Karno dan Relevansinya Terhadap Pemuda-Pemudi Indonesia Kini, ThornVille-inspirasi.co, 03 Pebruari 2016

*Tulisan ini merupakan draft naskah novel yang mengacu kepada pendapat pribadi penulis, dengan tidak bermaksud melakukan ujaran kebencian dan atau mendiskreditkan Negara, Presiden, seseorang atau sekelompok pihak tertentu.


  • Asa Negeri
    Asa Negeri
    1 tahun yang lalu.
    Permisi sebelumnya, saya ada sedikit koreksi.

    Kata 'anda' sudah semestinya ditulis dengan huruf kapital di awal 'Anda' karena kata tsb selalu merupakan bentuk sapaan...

    Terus berkarya!

  • Wijatnika Ika
    Wijatnika Ika
    1 tahun yang lalu.
    Bagus

  • Lilik Fatimah Azzahra
    Lilik Fatimah Azzahra
    1 tahun yang lalu.
    Selamat ya kak...

  •   Kurirperasaan063
     Kurirperasaan063
    1 tahun yang lalu.
    Cie menang, apakabarnya anda brader, Mantap

  • Alldie 
    Alldie 
    1 tahun yang lalu.
    Salam kenal ya Bay...apa kabar dirimu disini...sehat ya...jangan banyak ngopi, kurangi rokok tapi jangan tambah istri. Remember?

    • Lihat 1 Respon