Arjuna di Medsos: Legenda Sempak Terlarang

Pemimpin Bayangan III
Karya Pemimpin Bayangan III Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 02 Juni 2016
Arjuna di Medsos: Legenda Sempak Terlarang

Bagian satu dari beberapa fragmen "Bung Karno, Pancasila serta Jejak Hidupnya" ala saya pribadi. Mohon maaf jika kurang bagus karena baru belajar nulis rasa teenlit.. ^_

***

Menjadi satu-satunya siswa yang berhasil memanah burung terbang di sekolah kemarin membuat kepercayaan diri Juna bertambah tebal. Digenggamnya erat wejangan Guru Durna tentang adab belajar, untuk dijadikan bekal dalam pengembaraannya memunguti ilmu demi ilmu pada banyak kejadian besar yang kelak disinggahinya.

“Fokus ke yang paling inti…” bisik Juna menggumam ulang petuah dari guru utamanya tersebut, sambil bersegera meraih kertas dan mulai merangkai satu-dua kata yang diharapkan akan menjadi karya terhebat yang pernah dibuatnya.

“Mengapa tak menggunakan Smartphone saja, Juna? Bukannya hal itu jauh lebih mudah serta  lebih praktis?” tanya Yudistira lembut sambil mengusap sayang kepala adiknya.

Juna menggeleng pelan, sebelum akhirnya menjawab dengan agak tersipu, “Enggaklah, Bang Tira. Juna khawatir lebih banyak fesbukan sama mereka, dan malah jadi hilang fokus.”

Yudistira tersenyum mahfum. Dia tahu meski masih remaja, entah mengapa Juna memiliki begitu banyak penggemar di akun medsosnya, yang tentu saja rata-rata dari jenis perempuan.

Kembali diusapnya rambut Juna yang agak gondrong, sebelum akhirnya ditinggalnya Juna yang terlihat asyik mencorat-coret kertas.

“Belenggu Angan” tulis Juna singkat sebagai judul karangannya, yang sedetik kemudian langsung dia coret kembali sebab merasa bagaimana mungkin judul seperti itu mampu dikembangkan menjadi karya terhebatnya? Lha wong maknanya saja sudah sangat merampas kebebasan angan dan pikir, bagaimana pula isinya kelak?

Kembali Juna menulis beberapa kata di kertasnya.

“Cinta dalam Secangkir Hujan”.

“Tuan Anu Presiden Buncis”.

“Jilbab yang Menyentil”.

Tapi dengan sama bergegasnya semua judul tadi kembali dicoret. Juna merasa semua judul barusan terlalu surealis, sementara keinginannya membuat karya bagus tentu saja tak boleh jauh-jauh dari kisah keseharian, yang digarap dengan penuh hikmah. Walau memang hikmah ala dirinya sendiri tentu saja, yang kadang jika tengah mancing di Kawah Candradimuka Juna suka berpikir bahwa dirinya tak lebih dari remaja kenthir yang gemar bergaya absurd sambil gembelengan bareng teman.

Ah, teman! Buru-buru Juna meraih smartphone dan memencet beberapa nomor.

“Halo… ! Kul! Bilang sama Wawa kita bertemu setengah jam lagi di warung es cendol samping SMP Hastinapura, yah. Jangan lupa ajak juga si Bimbim… Kita akan ngebekpeker ke tempat yang asyik banget nih… !”

Dan sebelum suara di seberang menjawab, Juna langsung mematikan smartphonenya lalu mulai berkemas.

Tak lama berselang Juna telah ‘siap tempur’ dengan kemeja hitam lengan panjang yang digulung sebatas bahu, carrier serta tak lupa busur dan beberapa batang anak panah bersimbol hati nemplok dengan luwes di pundak hingga menambah kegagahannya.

***

Sambil menyeruput es cendol Juna asyik menjelaskan rencana petualang tersebut kepada sahabat-sahabat terbaiknya.

“Kamu yakin benda tersebut bisa mengabulkan keinginan dan cita-cita kita, Juna?” tanya Nakula dan Sadewa sama antusiasnya. Sementara Bima meyedot es cendol lebih lahap pertanda hatinya yang amat tertarik.

“Entahlah, Kul, Wawa… Tapi dari kitab lain yang digubah oleh Empu Vyasa ke-19, saya menemukan kisahnya, yang bahkan telah dilengkapi peta pula,” bisik Juna sambil memberi isyarat kepada Bima.

Bima mengeluarkan secarik kertas daur ulang dari kantung celana kargo lalu membeberkannya di tengah meja.

“Hah! Perumahan Pringgodani Indah?! Gila kau, Juna…!!!” tanpa sadar Nakula dan Sadewa berteriak bersamaan. Kaget. Agaknya sebagai anak kembar mereka berdua memang telah sangat teruji kekompakannya dalam menyikapi kejadian apapun.

“Sssttt…!” Juna meminta teman-temannya untuk lebih mendekat. Sekilas posisi mereka mirip tim sepakbola tengah diskusi serius demi mencetak goal-goal kemenangan dengan volume suara yang nyaris seperti bisikan.

“Tapi kau yakin berani ke sana, Juna? Ingat legenda yang amat menakutkan itu!”

“Justru tempat itu yang akan kita datangi, Kul. Biar nanti aku sama Bimbim yang masuk lebih dahulu, dan kau jaga saja gerbang depan.”

“Tapi bagaimana cara kita melewati penjagaan sekuriti kompleks? Kudengar satpam di sana galak-galak, terutama menjelang pilkada seperti sekarang ini.”

“Kita pakai cara yang waktu itu aja, Wa. Masih ingat kan waktu kita menyamar jadi ‘Tim Pemburu Rayap’ di Kompleks Perumahan Pondok Indah yang mewah tapi bobrok itu? Yang rentan serangan rayap karena dibangun di bekas hutan karet hingga sisa akar rimbun menjadi sarang rayap abadi sebelum akhirnya menyerang segala bahan kayu yang ada di perubahan tersebut?

 “Wah… Benar juga, Juna. Bukankah Pringgodanipun tadinya hutan belantara nan angker dan penuh raksasa? Yang buah kegilaan entah pengembang siluman mana malah dibabat habis dengan hanya mengandalkan HPH dari ‘Trah Sakti’ keturunan sang Jendral Senyum?”

“Sudah… Sudah… Tak usah bicarakan politik dululah, kita kan sekarang tengah menjadi lakon di kisah anak-anak. Gimana? Deal tekodil-kodil ga nih semuanya?”

“DEAAALLL!!!”

Bergegas empat sahabat membereskan barang bawaan, sebelum akhirnya Bima menyeletuk, “Siapa yang giliran bayar es cendol kali ini?”

Keheningan langsung mengepung. Semua mata berpandangan dengan tatap kosong bercampur nanar, sebelum akhirnya dengan meringis Juna mendekati sang penjaja es cendol.

“Ngggg… Anu, Bang Avy… Nnnggg… Kami Udin lagi yah kali ini…” ucap juna grogi kepada Begawan Vyasa yang kini lebih banyak mengenakan sarung dan kaus dalam merek “Swan” ketimbang jubah itu. Barangkali efek pemanasan global yang membuat cuaca selalu gerah tak peduli sedang musim apapun.

“Maksud kamu si Udin anaknya Pak Erte Ngamerta yang akan membayar tagihan es cendol kalian?” selidik Begawan Vyasa dengan mata menyipit hingga hanya pupilnya yang terlihat menyorot.

“Eh… Anu… Bukan, Bang Avy…” dipandang seperti itu Juna semakin gagap. “Maksud saya… Udin alias Utang DIngiN bin utang dulu…” sahut Juna dengan sorot mata yang dibuat semelas mungkin.

Suasana terasa semakin hening. Dan dalam hening yang mengundang hawa merinding itulah Juna tegak dengan jengah karena diputari oleh Begawan Vyasa, yang memperhatikannya dari ujung kempol hingga ujung jidat. Sementara dilingkaran terluar tampak Nakula, Sadewa juga Bima tak kalah cemas menanti hasil akhir ‘pertempuran’ di tengah gelanggang hutang-piutang tersebut dengan hati yang amat kebat-kebit.

Mendadak Begawan Vyasa melayangkan tamparan ke kepala Arjuna dengan amat lesat, membuat Nakula-Sadewa juga Bima terkejut sambil berteriak, “Jangan, Bang Avy…!!!” tanpa sempat berbuat apapun demi membantu Juna.

Tapi sebelum menyentuh kepala Juna, Tamparan Begawan Vyasa yang penuh tenaga tersebut tahu-tahu berubah menjadi cengkeraman, hingga akhirnya mendarat di kepala Juna dengan lembut dan mengacak-acak rambut gondrong Juna sambil terkekeh puas.

“Tidak sia-sia kau belajar pada Si Tua Durna, Juna. Keberanianmu memang patut diacungi jempol!” puji Begawan Vyasa sambil  tersenyum, yang belum lagi Juna menimpali dengan beberapa deret kalimat penuh adat sebagai basa-basi peradaban, kembali Begawan Vyasa melanjutkan kalimatnya: Dengan mata melotot.

“Tapi jika lain kali kau mempergunakan ajian menukar kepala dengan batu kepadaku, maka akan kulucuti semua ilmu yang pernah kuberi tahukan kunci pemahamannya kepadamu dulu!”

Agak memucat wajah Juna mendengar ancaman Begawan Vyasa, sebelum akhirnya hanya bisa menunduk pasrah buah rasa bersalah.

“Dan kalian yang mengaku sahabat-sahabat terbaik, Juna!” telunjuk Begawan Vyasa menuding Nakula, Sadewa serta Bima yang masih pias buah kejadian yang mengejutkan tadi. “Belajarlah lagi untuk lebih memahami tentang apa itu persahabatan… dan bukannya mencari aman dengan menumbalkan teman lalu berpura-pura simpati melalui ucapan!”

“Karena persahabatan sejati tak pernah terucap melalui lisan!” kali ini wajah Begawan Vyasa amat serius saat berbicara. “Karena sahabat sejati hanya mengungkap semua melalui tindakan… DEMI SAHABATNYA…!!!” tandas Begawan Vyasa lagi, yang langsung membuat tiga sekawan itu merapatkan ujung janggutnya semakin ke dada dengan wajah merah menahan malu.

***

Setelah melewati Pos Sekuriti Kompleks Perumahan Pringgodani Indah dengan mudah, Juna dan ketiga sahabat karibnya melanjutkan perjalanan sambil terus berbincang seru.

“Ternyata Bang Avy memang orang baik, yah,” ucap Sadewa, teringat kejadian tadi dimana akhirnya mereka diperbolehkan pergi tanpa perlu membayar seperakpun es cendol yang mereka minum.

“Kata ibuku, Bang Avy dulu seorang guru. Tapi setelah bertemu dan banyak berdiskusi dengan temannya yang berasal dari Negeri Bayangan, beliau mulai banyak berubah hingga akhirnya malah mengundurkan diri dari profesi guru dan menjadi penjual es cendol,” kali ini Sadewa yang berbicara.

“Siapa temannya itu, dan dimanakah letak Negeri Bayangan?” tanya Bima sambil mengunyah bekal dari carrier Juna yang digembol di punggungnya, membuat Juna meringis sebab rencananya penganan itu akan dijadikan santapan pelepas lelah setibanya di lokasi tujuan.

Tapi Juna tak marah, melainkan justru heran melihat postur Bima yang tetap kurus walau banyak makan. Dan lagi, melihat gaya Bima yang gemar memukul-mukul apapun dengan rotan kecil kesayangannya sepanjang perjalanan, malah mengingatkan Juna pada drummer grup lawas slengean yang memang memiliki panggilan yang sama persis dengan sahabatnya itu: Bimbim.

“Saya kurang tahu, Bimbim,” jawab Nakula. “Tapi dari yang kudengar, Bang Avy mengundurkan diri setelah teman Negeri Bayangannya yang sengak dan spesialis tukang sentil itu banyak menceritakan tentang nasib tragis para guru di negerinya, yang masuk penjara karena mencubit siswa yang nakal. Bahkan ada pula yang di BAP berkali-kali di kantor polisi, hanya karena menyuruh siswa perempuan yang membuang sampah sembarangan di kelas untuk memungutnya kembali,” lanjut Nakula.

“Haaa? Masa ada kejadian begitu?” desis Bima sambil menyuap kembali sepotong penganan yang mirip pisang molen namun terbuat dari bahan yang biasa dijadikan inthil di rumah-rumah penduduk.

“Entahlah…” sahut Sadewa. “Tapi sejak itu Bang Avy langsung mengundurkan diri sebagai guru, karena katanya Bang Avy tak ingin menjadi bagian dari kaum brahmana yang kian waktu kian dihinakan Kerajaan oleh segala macam Undang-Undang Perlindungan Anak yang kebablasan pelaksanaannya.”

Agak pusing juga Bima memahami ucapan temannya itu. Apa itu UU Perlindungan Anak? Apakah sama dengan Bhagavad Gita yang kini tengah dipelajarinya demi mengetahui rahasia kehidupan sejati dunia hingga mampu terbebas dari samsara? Ataukah justru hanya kumpulan dari hawa nafsu berbalut kepentingan para pembuatnya yang…

Belum lagi Bima menyelesaikan tanya-jawab di benaknya, ketika Juna memberi aba-aba agar mereka berhenti.

“Kita sudah sampai di lokasi,” bisik Juna sambil menunjuk arah depan dengan gerakan kepalanya.

Tapi ketika semua memandang ke depan, tanpa dikomando semuanya langsung menepuk jidat secara serentak sambil berteriak “Halaaahhh…!!!” keras-keras.

 

Betapa tidak? Bukannya mendapatkan pemandangan yang seram-angker-wingit layaknya lokasi benda-benda keramat, mereka justru disuguhi pemandangan yang luar biasa bagus.

Di hadapan mereka terpampang sebuah istana megah dengan air mancur keemasan yang memuncrat indah tepat di tengah halaman. Sementara pada bagian depan istana amat jelas terpampang tulisan-tulisan besar gantung-gemantung di antara atap dan lantai selasar.

 

SELAMAT DATANG DI WAHANA ADRENALIN ‘LEGENDA SEMPAK TERLARANG’

Tempat wisata ini didukung oleh: Komunitas Planet Kenthir, dan disponsori oleh: Teman Planet Kenthir.

 

Ini semua pasti cuma pencitraan...!!!

Penasaran, Bima langsung melangkah ke depan. Namun baru beberapa langkah berjalan ketika dia merasa pundaknya di tahan Juna, bersamaan dengan kaki kanannya yang kini tak lagi menapak sebab tanah yang barusan dipijaknya telah amblas.

“Mundur semuanya, teman-teman…!” perintah Juna dengan suara rendah, bersamaan dengan merebaknya semacam wewangian khas alam gaib yang seperti mengandung harum melati namun terasa pula bagai bercampur bau oseng-oseng ikan asin plus sambel terasi, membuat mereka berempat saling berpandang-pandangan dengan perut lapar.

Tanpa ba-bi-bu sekejappun lagi Juna langsung mencabut anak patah lalu membidikkannya tepat ke huruf-huruf yang saling bergelantungan itu.

Fokus, Juna, fokus! Bisik Juna pada dirinya sendiri ketika dilihatnya keadaan sekeliling mulai berubah-ubah. Dengan kekuatan penuh direntang jemparing di tangan, untuk kemudian dilepas tanpa sedikitpun getaran.

CLEP! BRUSHHH!!!

Bangunan istana meletup, lalu berubah menjadi asap biru ungu, yang kian lama kian menggumpal membentuk sesosok makhluk tinggi besar berambut menjuntai yang hanya mengenakan celana kolor komprang sebatas dengkul.

“Hantu Blao!! Hati-hati, Bimbim!!” teriak Juna mengingatkan. Tapi terlambat. Dilihatnya tubuh Bima dicengkeram oleh tangan si Raksasa Biru-Ungu itu. Sementara pada tangan yang lain tampak Nakula tengah diselamatkan oleh Sadewa namun tak berhasil.

Juna meraih sisa anak panah sesigap yang dia mampu. Hanya saja dia kalah cepat. Sebuah sabetan dari rambut yang menjuntai itu menghantam busur dan anak panah di punggungnya hingga patah berserakan. Tubuh Juna oleng termakan hantaman hingga terhuyung beberapa tindak.

Tapi melihat bahaya yang mengancam teman-temannya, dengan nekat Juna menubruk Hantu Blao tersebut dengan sundulan kepalanya sekuat tenaga.

Hekkk! Berhasil. Tubuh Bima dan Nakula terlepas dari tangan Hantu Blao, yang dengan kepala pening buah tumbukan tadi diseretnya mereka menjauh dari si Raksasa.

Belum lagi Juna berhasil menjauh ketika dia merasa lehernya dililit rambut amat kencang. Sekuat tenaga Juna berusaha menahan lilitan rambut biru-ungu tersebut, namun apa daya napasnya terasa sesak hingga tenaganya menguap.

Perlahan kaki Juna melemah, sebelum akhirnya tersungkur ke tanah dengan rambut yang melilit lehernya semakin kuat. Dan ketika pandangan Juna mulai menggelap, saat itulah dia mendengar si Hantu Blao meraung keras bersamaaan dengan lilitan rambut di lehernya pupus tiba-tiba.

Juna berbalik, dan melihat ada dua dara cantik berhadapan dengan si hantu Blao dengan gaya yang amat anggun.

Di sebelah kanan, dara berbaju putih terlihat melempar benda melengkung yang berputar di udara sebelum akhirnya mengenai tubuh raksasa biru-ungu tersebut, berbarengan dengan dara bertutup kepala kotak-kotak yang menyerang Hantu Blao tersebut dari jarak dekat dan langsung menikamkan sesuatu di perut buncitnya, sebelum akhirnya raksasa biru-ungu tersebut meledak menjadi kepulan asap yang membumbung ke udara.

“Kamu tak apa-apa?” tanya kedua dara cantik tersebut ke Juna nyaris berbarengan, membuat keduanya saling pandang dan bertukar senyum di sesama mereka dengan muka jengah.

Baru saja Juna ingin menjawab, ketika tahu-tahu dia melihat dari kepulan asap si Hantu Blao meluncur sebuah sempak keemasan ke udara.

”Tolong sempak itu untuk saya…!” spontan Juna berteriak kepada dua dara cantik di hadapannya dengan suara sengau menahan sakit. Tapi entah mengapa mendengar permintaannya, kedua dara jelita itu justru memalingkan wajah dengan muka yang semakin memerah, sebelum akhirnya berlari cepat meninggalkan Juna sambil sesekali menggerutu entah apa.

Agak bingung juga Juna melihat tingkah-polah kedua dara cantik itu, yang kini justru berlari meninggalkannya sambil misuh-misuh. Tapi keinginannya akan sempak keramat membuatnya tak terlalu menggubris kejadian itu.

Dilihatnya Bima, Nakula juga Sadewa masih tergeletak lemah seperti dirinya, hingga akhirnya Juna tak mampu melakukan apapun lagi selain memandangi sempak keramat yang membumbung kian tinggi ke angkasa, hingga pada titik ketinggian tertentu di langit sempak keramat berhenti dan berkerlap-kerlip indah keemasan seperti digantung oleh tangan yang tak terlihat.

***

Sesampainya di rumah, Yudistira terbahak sangat keras mendengar kisah Juna.

“Jelas saja mereka langsung berlari meninggalkanmu, Juna. Mana ada di dunia ini bocah tak tahu malu seperti kamu, yang berani-beraninya meminta sempak kepada dua dara jelita, hahahaaaaa…!!!”

Kembali tawa menyembur dari mulut Yudistira, tak peduli meski Juna protes bahwa dia tengah meminta sempak keramat, dan bukannya sempak milik dua dara jelita tersebut. Walau memang jika dipikir lebih lanjut, Juna merasa dua dara jelita tersebut memang tak melihat sempak keramat yang terbentuk dari kepulan asap si Hantu Blao.

Pantas saja mereka salah paham! Jangan-jangan, suaranya yang tak jelas waktu itupun disangka mereka tengah meminta sempak yang mereka kenakan? Duh…

“Memangnya apa yang kau harapkan dengan mengejar sempak keramat itu, Juna?” tanya Yudistira kembali lembut setelah bahaknya mereda.

“Juna ingin menjadi penulis hebat, Bang Tira. Dan berdasarkan catatan di kitab Mpu Vyasa ke-19, dijelaskan bahwa ada sebuah legenda mengenai sempak keramat serta terlarang, yang mampu membuat semua keinginan pemiliknya terkabul,” jawab juna polos, dan entah mengapa kembali memancing kekeh abangnya itu sebelum akhirnya berlalu.

Tapi tak lama kemudian Yudistira kembali, dan memberikan setumpuk buku pantuan, tips dan trik serta banyak lagi buku sejenis tentang karang-mengarang, yang langsung disambut gembira oleh Juna.

“Jika hanya untuk mampu menjadi penulis hebat, harusnya kamu tak perlu menempuh bahaya seperti itu, Juna, melainkan cukup memberitahu abangmu ini.” ucap Yudistira masih dengan beberapa kekeh kecil berlompatan dari bibirnya.

Tapi Juna tak menanggapi ucapan abangnya itu. Dirinya sibuk membacai satu persatu buku kiat menulis milik abangnya itu. Kiat Cepat Merakit Karya Sastra Terhebat, Mahir Menulis-Tartil Berfiksi, Lancar Mengarang dalam 30 Detik, dan lain-lain yang amat menggugah selera dan cita-citanya, membuat Yudistira menggeleng-geleng kepala sambil kembali berlalu.

Hanya dalam waktu satu minggu seluruh buku tentang tulis-menulis telah habis dibacanya, membuat Juna merasa bahwa dirinya seakan telah menjadi pribadi yang amat mumpuni dalam bidang karang-mengarang.

Tapi tak selamanya teori dapat akur ketika bersanding dengan praktek!

Bulan pertama Juna langsung menyadari, bahwa semua keyakinan tentang kehebatannya dalam hal karang-mengarang ternyata hanya sekedar ilusi pengetahuan. Tak satupun karya utuh yang berhasil Juna buat dalam tempo sebulan itu, yang kembali berlanjut dengan bulan-bulan berikutnya hingga hitungan berganti menjadi tahun.

Menginjak waktu sepuluh tahun barulah Juna berhasil menyelesaikan karya pertamanya, yang itupun dia buat dengan terus mempertahankan mental sebaja mungkin, dengan tampolan perasaan rendah diri akan kemampuannya.

Penyebabnya sederhana saja, Juna merasa tidak pernah bisa fokus dalam meraih cita-citanya karena dua benda milik dara jelita yang dipungutnya saat petualangan mencari sempak terlarang dulu. Sebuah senjata lengkung sejenis bumerang dengan inisial ‘n’ di bagian tengah, serta sejenis pisau dapur bercap ‘garpu’ dengan huruf ‘i’ si salah satu sisinya, yang sepertinya merupakan senjata khas berlatar tempat tinggal masing-masing pemiliknya.

Benar kata Guru Durna, bahwa memang tak akan ada yang mampu diraih, jika kita tak memiliki fokus sedikitpun terhadap apapun yang kita ingini, tak peduli sehebat apapun keinginan serta sebanyak apapun latihan yang kita lakukan, bathin Juna penuh dengan kemasygulan.

Dibuatnya beberapa corat-coret untuk Yudistira, sebelum akhirnya Juna melakukan pengembaraan ke banyak tempat, hanya demi mencari tahu siapa gerangan dua dara jelita yang dulu pernah menolongnya tersebut.

Pada akhirnya Juna tak pernah berhasil menjadi penulis hebat. Barangkali memang takdirnya yang justru menjadi bahan tulisan buah pengembaraannya mencari sosok-sosok wanita yang paling berkesan dalam hidupnya tersebut, setelah sebelumnya begitu banyak petualangan merah-jambu dilewatinya dengan penuh warna serta membuat hidupnya semarak juga riuh.

Dan catatan terakhirnya tentang ‘Legenda Sempak Terlarang’ yang ditinggalkan untuk Kakaknya, entah bagaimana kejadiannya kemudian justru tercatat dalam Kitab Sukasoma karangan Mpu Karuhun, yang kelak dipopulerkan oleh salah satu tokoh terpenting dalam sejarah sebuah negeri.


“Gantungkan Sempakmu setinggi langit! Bermimpilah setinggi langit. Jika engkau jatuh, engkau akan jatuh di antara bintang-bintang.”

 

Walau memang demi entah apa, kata-kata asli yang awalnya Juna tulis sebagai ‘sempak’ diganti dengan ‘cita-cita’. Selebihnya, sama.

Selamat berjuang meraih cita-cita.

***

“Setiap orang memiliki dasar pemahaman yang berbeda, juga memiliki antusiasme serta bilik pandang yang tak sama, maka biarlah masing-masing menuju maqomnya dengan cara unik setiap pribadi,” wejang Guru Durna. “Tapi jangan pernah melupakan adab utama dari sebuah ilmu.”

“Apa adab utama tersebut, Guru?”

“Fokus ke yang paling inti, dan jangan gemar mengunyah-unyah tepi hingga hanya menghasilkan segala yang berpotensi memberangus habis daya nalar serta sabar.”

 

ThornVille, Juni-2016.

*Postingan ini pertama kali diposting pagi tadi sebagai ajang silaturahim event 'Lomba Planet Kenthir edisi cerita anak-anak', barulah kemudian dicantelin di inspirasi.co.

*Buat Mamas MJK Riau, karena saya 'dulu banget' pernah berjanji akan menggarap kisah pewayangan walaupun blas ga paham apapun yang berhubungan dengan pewayangan… ^_

*Bagi yang berminat membaca kisah Arjuna yang lainnya, sila klik link berikut:

Arjuna di Medsos: Sepotong Leher yang Meminta untuk Tidak di Panah.


  • DEBORA KAREN
    DEBORA KAREN
    7 bulan yang lalu.
    Lah

  • Chairunisa Eka 
    Chairunisa Eka 
    7 bulan yang lalu.
    ramein ah,,,,biar notifnya nambah hihi

  • Ariyanisa AZ
    Ariyanisa AZ
    1 tahun yang lalu.
    Wew... tulisan bagus, layak promo ^_

    Btw, teen itu masih masuk kategori anak-anak ya, Kak Ben? Hee

  • Komentator Ngasal
    Komentator Ngasal
    1 tahun yang lalu.
    Juna agamanya apa ya...

  • Nisrina S Nissinero
    Nisrina S Nissinero
    1 tahun yang lalu.
    Akhirnya, selesai juga tulisan ini. ^_^

    Dari judulnya, terdengar agak ngeri-ngeri sedap.
    Tapi setelah membaca ceritanya dari awal sampai akhir, begitu banyak hikmah yang dapat dipetik. Meskipun kesannya cerita ini tidak serius, karena menggabungkan kisah beribu tahun yang lalu dengan kisah yang kekinian dibumbui humor khas si Bayangan. Tapi tetap saja banyak pesan di dalamnya, tentang pemerintahan, tentang politik, tentang kepenulisan, juga tentang hati.

    Jarang sekali ada orang yang bisa menyentil sana-sini dengan tetap berpegang pada adab. Tapi entah mengapa saya merasa ada yang kurang, apakah karena ceritanya terlalu pendek untuk seorang Bay yang biasanya amat sangat panjang karyanya.

    • Lihat 1 Respon