Dzikir Karya: Yang Fana adalah Belajar Menulis, Bebal Kita Abadi

Pemimpin Bayangan III
Karya Pemimpin Bayangan III Kategori Kesusastraan
dipublikasikan 09 Mei 2016
Dzikir Karya: Yang Fana adalah Belajar Menulis, Bebal Kita Abadi

Yang fana adalah waktu

Kita abadi

Memungut detik demi detik, merangkainya seperti bunga

Sampai pada suatu hari kita lupa untuk apa

“Tapi, yang fana adalah waktu, bukan?” tanyamu.

Kita abadi.

(Yang fana adalah waktu - Sapardi Djoko Damono).

***

Harusnya postingan ini diunggah melalui akun resmi KOMPI di inspirasi.co. Namun atas pertimbangan obyektivitas dan sebagainya, maka saya putuskan untuk mengunggahnya di akun Bayangan. Walau kadang tergoda juga sih untuk mempostingnya di akun Fahd Pahdepie yang pernah diduga sebagai akun saya yang lainnya itu alias akun klon, haha… *Teringat gosip serius yang sempat hangat beredar di inbok bawah tanah… :P

Selama dua hari kemarin KOMPI mengadakan kegiatan belajar menulis bareng online bertitel: Dzikir Karya, dengan menampilkan karya-karya ekstrim dari pegiat sastra bebas yang sengaja dipilih dari latar belakang genre kepenulisan yang berbeda-beda.

Untuk hari pertama dihadirkan karya tiga penulis pilihan, yang kebetulan dipertemukan dalam even fiksi bersambung ‘generasi pertama’, yaitu:

1. Malam Bulan Mati, Balkon, dan Ciuman – (Rheinara Yuki).

  1. Bulan Mati di Hati Rheinara – (S Aji).

3.Pesan Cinta dari Masa Lalu – (Ben Ahsan).

Ada yang menarik dalam proses belajar bareng di kegiatan Dzikir Karya tersebut, yaitu munculnya apresiasi yang tidak sekedar berbeda, melainkan juga amat bertolak belakang dari peserta.

Nyaris semua peserta sepakat bahwa karya pertama gurih lezat asyik serta layak untuk dinobatkan sebagai karya pembuka yang super ciamik, yang kembali menegaskan bahwa untuk sebuah karya bagus, memang tak akan pernah berkurang kebagusannya walau dibaca pada rentang waktu yang berbeda juga oleh pembaca dari komunitas yang tak sama. Maka, mari kita upayakan semaksimal mungkin untuk membuat karya, yang tak sekedar kejar target hit pembaca semata namun minim kualitas… ^_

Memasuki karya kedua dan ketiga barulah apresiasi peserta mulai riuh diwarnai perbedaan.

Apresiasi pertama dari Dinan langsung membai’at bahwa karya kedua jauh lebih baik jika dibandingkan dengan karya pertama, dengan penilaian karya ketiga sebagai yang terburuk dan hanya layak mendapatkan poin 5 karena dirasa terlalu memaksakan. Poor you, Ben, ha-ha… ^_

Namun berbanding terbalik dari pendapat Dinan, Shinta Siluet Hitam Putih justru mengemukakan pendapat yang berseberangan melalui resume singkat yang dikirim ke saya melalu kolom inbok berbasis file word. Dan hal ini patut dicermati mengingat Siluat sebagai praktisi media memiliki track-record yang cukup bagus dalam mengamati sesuatu, yang barangkali buah profesinya sebagai jurnalis muda. Mari kita intip langsung ke resume Shinta Siluet Hitam Putih… ^_

 

Setelah membaca tiga karya fikber tersebut, yang pertama nancep di kepala saya karakteristik para penulis ini. Mereka membawakan fiksi ini dari sudut pandang berbeda. Tanpa sulit ditebak, saya bisa menerka mana yang dibuat oleh penulis wanita dan mana yang laki-laki.

Kenapa begitu? Karena setiap penulis membawakan imajinya dengan cara khas mereka sendiri.

Pada karya yang dibuat oleh Rhein, gaya penulisannya lebih mendayu-dayu, lebih memakai perasaan alias baper. Dan kecenderungan selama ini dari pelbagai buku yang saya baca buatan penulis wanita, ya gayanya memang seperti itu.

Berbeda dengan S. Aji, sejak opening hingga ending, semua tokoh seolah tengah mengalami hipertensi alias darah tinggi alias marah-marah. Sosok lembut Rhein di fikber #1 seolah mendadak berubah jadi Rhein yang kasar. Menurut saya terlihat sangat jomplang. Walaupun Bay bilang fikber #2 ini ditulis oleh bukan sembarang penulis, tapi saya belum bisa larut ke dalam tokoh ini.

Ibarat nih ya, saya makan bakso empat mangkok. Mangkok pertama, saya semangat menggebu karena baru pertama kali coba. Tapi mangkok kedua dan ketiga terasa biasa saja, keliatannya cuma bakso dan kuah udah gitu aja. Eh… pada mangkok yang keempat tahu-tahu disisipi gorengan dua biji. Cuma gorengan biasa, sih, tapi justru bikin rasa serta sensasi yang baru lagi.

Sama aja kayak saya baca ketiga fikber ini. Mungkin jika orang yang masih baca sekedar baca, rasanya akan tetap sama, yaitu bahwa semuanya tetap cuma sekedar bakso. Kalo saya lain, dan saya paling suka sama Ben Ahsan, eh maksudnya fikbernya Mas Ben Ahsan.

Kenapa? Karena saya suka alurnya. Dia yang menyisipkan gorengan ke bakso itu agar lebih punya rasa yang baru. Banting setir, dari PoV (Point of View) tokoh Rhein yang bercerita menjadi bergeser ke tokoh Nughie, dengan  tanpa melihat sudut jiwa Nughie sebagai laki-laki yang emosi aja bawaannya kalo si Rhein dicipoy-cipoy (?) sama Ran. Tokoh Nughie dibawakan dengan lembut, perasa, dan pengalah. Saya sampe bingung, Ben Ahsan ini penulis cowok apa cewek, kok bisa membuat karya sehalus itu? Dan Finally, saya larut pada sosok Nughie versi Ben Ahsan ini, yang itu artinya penulis berhasil membuat saya klepek-klepek dengan tulisannya.

Kalo disuruh menilai dari 1-100:

Fikber #1 : 80

Fikber #2 : 70

Fikber #3 : 90....!!!

 

Dari dua apresiasi peserta Dzikir Karya tersebut, saya kembali memperoleh bukti shahih tentang wejangan Guru Durna pada episode yang ini, yaitu bahwa:

“Setiap orang memiliki dasar pemahaman yang berbeda, juga memiliki antusiasme serta bilik pandang yang tak sama, maka biarlah masing-masing menuju maqomnya dengan cara unik setiap pribadi…”

Dalam hal ini, Dinan jelas banyak  terpengaruh oleh latar belakang pendidikannya (dan mungkin juga latar belakang sosial lainnya seperti misalnya domisili, organisasi yang pernah diikuti, dan sebagainya) yang amat saklek dan meng-exact, sehingga ketertarikan Dinan lebih kepada ‘isi’, dan bukannya ‘bentuk’.

Lain halnya dengan Shinta Siluet Hitam Putih, yang bisa pula buah latar sosial yang berbeda sebagai jurnalis muda, menjadikannya lebih berfokus ke kisahnya itu sendiri, dan bukan ‘isi’ kisahnya.

Saya tak paham mana yang lebih baik dari keduanya. Walau HAMKA sendiri pernah mengatakan dengan amat terus terang bahwa ‘metode itu lebih baik dari isi’, namun karya yang baik bukanlah karya yang tanpa cacat typo, EYD dan lain-lain, karena apalah fungsinya segala kelebihan ‘bentuk’ berbahasa itu jika tidak diimbangi dengan ‘isi’ karyanya sendiri.

Namun memang ada dua poin penting yang amat baik turut kita amini dari resume singkat Shinta, yaitu:

Pertama, karya yang baik umumnya mampu membuat pembacanya larut dalam kisah karya tersebut, hingga membuat pembaca turut menangis, tertawa, sedih, tegang, lega atau malah justru merasa bahwa rangkaian kejadian tokoh utamanya mirip dengan dirinya atau seakan-akan dibuat khusus untuk dirinya.

Dan khusus untuk poin ini saya pribadipun tak selalu berhasil melakukannya. Dari ratusan karya yang pernah saya buat, barangkali hanya puluhan saja yang berkriteria ‘layak baca’, dan dari yang puluhan itu kembali mengerucut menyisakan hanya belasan karya yang ‘membuat larut pembacanya’. Selebihnya: CUMA SAMPAH.

Kedua, Teknik pergantian plot.

Agak terkejut juga saya mengetahui Shinta mampu menangkap ‘pesan terselubung’ yang terdapat dalam karya ketiga tersebut, karena sepanjang pengalaman saya, pembaca –dan terutama sekali: Pembaca wanita- umumnya hanya berfokus kepada tema, karakter penokohan atau paling banter yah cuma sekedar diksi, terutama yang berbau-bau liris manis melankolis agak sedikit najis penuh daya pikat.

Dari solilokui yang intens saya lakukan bersama ‘penulis karya ketiga’ tersebut tentu saja saya paham apa maksud utama si brengsek-kasar-absurd itu mengalihkan PoV, yaitu hanya demi tetap mempertahankan jumlah peserta fikber agar tak rontok dua pertiga dari total peserta, hanya karena tak mampu mengeksploitasi tokoh utama dalam fiksi bersambung tersebut, karena misalnya segala ‘kedalaman’ milik tokoh utama tersebut telah habis disedot oleh peserta kesekian hingga kerontang.

Tapi sampai tulisan ini diketik saya tak habis-habisnya nyengir membayangkan, betapa akan terbahak-bahaknya Dinan juga Shinta, jika mereka mengetahui siapa pemilik akun Ben Ahsan yang membuat pandangan mereka berseberangan itu, yang bahkan sempat dipertanyakan jenis kelaminnya apakah dia seorang laki-laki, perempuan atau malah hermaprodit? *Nyengir bego.

Dzikir Karya hari kedua kembali disuguhkan enam buah karya yang sumpah mati anehnya sebagai menu prasmanan utama.

Tiga karya pertama buah ‘kekejian’ Desol, Tiyang Malang Ayu lembut yang berbanding terbalik dengan hobinya membunuh segala yang berbau fiksi, hingga saya pribadi sejak awal kenal lebih suka memberinya paraban: Penulis Sadis.

  1. Aku dan Zainal.
  2. Asal Anakku Tidak Mati.
  3. Bulan di Matamu.

 

Karya keempat dari Loganue S. J, wartawan media nasional yang sama nyebelinnya dengan si Ajo Garaa yang enggan silaturahim kelayapan ke tetangga itu.

  1. Dunia Lewat Tengah Malam.

 

Dan karya kelima serta keenam yang sekaligus merupakan sajian penutup Dzikir Karya hari kedua, tahu-tahu ditempati oleh Livia -livilivi- Halim secara amat absurd bin surealis, Mojang Geulis asal Bandung yang sukses membuat saya sebal hingga saat ini.

  1. Sepercik Luka di Lantai Tempat Kita Pernah Menari.
  2. Merangkak ke Saku Angkasa.

 

Jika dilihat secara judul, karya Desol jelas menyalahi hukum blogging yang baik dan benar, karena pilihan judul karyanya amat ‘enggak gue banget, dah!’. Tapi jika sekali saja kau mencicipi kesadisannya, niscaya kau tak akan berhenti untuk mencabik karyanya dengan amat rakus, lagi dan lagi, terutama bagi penggemar genre ‘fiksi mati’. Jika sudah begitu, jangan heran jika setiap malam yang dilalui akan otomatis berubah menjadi kelam penuh darah serta bertabur kematian, dengan berbagai versi yang sama nyerinya.

Kelebihan lain yang cukup menonjol dalam karya-karya Desol tentu saja terletak pada diksinya yang amat ringkas serta –meminjam bahasa S. Aji- memiliki ‘Bahasa Appeal’ yang mampu menyeret imajinasi pembacanya untuk seakan terlibat dan turut bersama menuju ‘ruang pembantaian maya’ yang disimulasikannya melalui karya.

Satu-satunya kelemahan si penulis sadis ini adalah: Dia tak bisa membuat karya bergenre humor. Juga jangan pernah coba-coba iseng membaca genre cintanya, yang walau liris namun anehnya tetap saja membuat bulu kuduk dan degup jantung pembacanya berkolaborasi hingga menimbulkan efek merinding disko yang cukup nyelekit.

Untuk karya keempat saya sempat sangat terkejut waktu awal membacanya, karena mengingatkan pada ‘Sophie’s World’-nya Jostein Gaarder yang pernah menjadi buku panduan wajib mata kuliah Dasar-Dasar Filsafat di universitas, yang tentu saja luar biasa bagus, walau bagi sebagian orang akan terasa cukup membingungkan. Hanya saja karya selanjutnya dari wartawan muda ini tak lagi banyak saya lirik, yang bisa jadi hanya karena pertimbangan selera pribadi. Uhuk! *Kode keras.

Hingga akhirnya, karya kelima dan keenamlah yang paling membuat saya benci. Terutama benci karena bahkan hingga detik ini pun saya belum mampu untuk membuat karya dengan kualitas yang setara dengan buatan penulis surealis yang baru menginjak semester awal perkuliahan ini, menghasut saya untuk sangat bercuriga apakah semua orang hukum memiliki imajinasi yang amat entah? Sama seperti Putu Wijaya yang gemar meneror mental melalui cerpen? Atau ‘si penulis psikopat’ yang ‘membunuh melalui syaraf pikiran’, yang rencananya akan turut meramaikan event fikber KOMPI?

Pernah saya iseng menjajal karya absurd yang dipadu dengan genre horor, dengan hasil terbaik, yaitu: DITERTAWAKAN HABIS-HABISAN MELEBIHI GENRE NGOCOL oleh si Ajo Garaa-Garaa dan si Penulis Psikopat karena alih-alih dapat rasa horornya atau warna surealisnya, yang ada malah lebih mirip Trio Warkop DKI main film ‘Men in Black’. Sakitnya tuh di sini…!!! *Nunjuk jidat pake ulekan.

Bagaimana dengan apresiasi dari peserta Dzikir Karya? Berikut kutipannya, Kawan… ^_

Dari Dinan:

Dinan: Asyik ini, luar biasa… Pertama gaya ini baru saya lihat. Pesannya tersampaikan dengan bahasa yang menghentak. Tertata rapi. Deskripsinya fokus pada ceritanya.

Bay: Tapi kasar, eh... ^_
Apa lagi yang bisa kamu eksplor, Dinan, karena setelah ini akan jauh lebih banyak yang 'menjengkelkan kebenarannya'.

Dinan: Dan, endingnya berpesan bahwa mereka yang mendiamkan 'anak' ato 'pekerja' mereka bisa mematikan. Karena dipaksa diam dengan Arsenik.

Bay: Lanjut...

Dinan: Ingin mengusir pengemis dari jalanan... Itu sih yang kutangkap. Sepintas.

Bay: Belum, Dinan. Itu baru kulit... ^_

Dinan: Bentar,,, Apa yah, yang ada di dalamnya lagi… Kemiskinan? Realitas sosial?? Apa... ? Hihi… Udah ngantuk besok mau ke hutan.

Desol memang kasar dan hanya ada darah. Tapi diksinya luar biasa. Irit kata. Endingnya membuat pembaca terbelalak... Luar biasa!

Bay: Sipp... Selamat beristirahat, Dinan... ^_

 

Dari Shinta:

Shinta: Udah selesai Bay...
Gak kepikiran kalo zainal itu...

Bay: Apa aja yang kamu dapat, Mi...? ^_

Shinta: Diksi yang berani, alur yang bikin emosi naik turun, dan closingnya... joss... Gak memelas, tapi penuh tegas...

Bay: Terus...

Shinta: HI-nya dapet, konfliknya juga dapet, pembaca awalnya dibawa untuk jastifikasi kalo aparatlah yang jahat. Eh… muncul konflik si polisi bawa pengemis sama Zainal ke RS...

Bay: Wew... terus… ^_

Shinta: Kaloo dilihat, sebenernya yang harus jadi sorotan utama si Zainal... Tapi entah kenapa yang lebih nonjol justru ibu pengemisnya... Katanya Bay namanya prominence yah kalo gak salah...

Bay: Semakin menarik gaya fokusmu, Mi. Lanjut... ^_

Shinta: Ini masih terus gak? Kalo iya saya kupas kulitnya...

Bay: Lanjut sampai kamu mentok, Mi. Nanti ga usah tunggu yang lain saya singkap juga dikit... ^_

Shinta: Kalo di jurnalistik ada yang namanya proximity atau kedekatan emosional dengan pembaca... Klo saya sambung-sambungin nih, ya... kejadian ini akrab sama peristiwa-peristiwa di kota besar (sisi geografisnya), pengemis - aparat sama aja kayak Tom and Jerry.

Nah, di awal penulis dibawa untuk menjastifikasi si aparat, kejam sadis dll. Pembaca pasti bakal menelan mentah-mentah semua pesan di awal.

Tapi pertengahan sampe akhir mindset pembaca digeser. Ternyata ibunya zainal ini malah yang kejam, dan mau gak mau pembaca mikir, bila dikaitkan sama fakta, emang bener ada peristiwa kayak gitu... Namanya seh pengalihan mindset kalo di jurnalistik, hehehehe... Di luar koridor media, lho, Cuma dalam penulisan berita…

Yang ini udah termasuk akibat lho, bay, konsekuen… Akibatnya ya itu, pembaca langsung diajak jastifikasi kalo pengemis itu sama jahatnya kayak aparat.

Bay: Bagus... Ada lagi? ^_

Shinta: Bay, saya pengen tau karya dia yang lain. Apa emang tiap dia nulis pembawaannya kayak gini semua ato gimana? Apa dia konsisten milih diksi yang kayak gini terus? Bukankah latar belakang penulis juga penting?

Aaaahhh… !!! Saya menyerah. Saya belum nyampe ilmu tentang model-model kepenulisan (tapi saya pengen tau).

Bay: Bagus...!!!

Shinta: jadi?

Bay: Permintaan yang paling bagus malam ini, dah lari ke ekstrinsik eh, Mi... latar belakang penulisnya...? ^_

Deal, saya kasih lagi... ^_

Shinta: Ya saya juga harus tau dong, Mbak Desol Desy ini karya lainnya gimana, hehehe... Tapi keren e... grin emotikon.

Bay: Kalo keren relatif, tapi kalo sadis jelas semuanya... tongue emotikon.

Shinta: Makanya saya pengen tau... tongue emotikon.

Bay: Bentar yah, saya pilih dulu yang agak sadis, baru yang agak indah

Shinta: Oke.

 

Sementara Bagus KurirPerasaan tak banyak komentar selain ramai mengatakan karya surealis Livi-Livi keren di inbok bawah tanah, menjebak saya untk berpikir benarkah hanya orang-orang absurd juga yang menyukai karya amat absurd ini? Lantas bagaimana dengan saya sendiri? Apakah tergolong sosok super absurd karena bukan hanya suka, melainkan justru mengaguminya?

Harusnya Dzikir Karya hari ketiga menelaah beberapa contoh karya bergenre ‘gelap’, yang saya jamin akan membuat peserta ternganga-nganga buah kepiawaian penulisnya dalam menyembunyikan fakta-fakta di muka, dan memancing rasa penasaran untuk menebaknya hingga akhir cerita, untuk kemudian tercenung buah ending konklusif yang kadang butuh kening berkerut sebelum akhirnya pecah menjadi senyum yang penuh angguk.

Dan untuk hari keempat akan diisi oleh genre psikopat, yang kadang membuat saya berpikir sebenarnya penulis psikopat ini orang hukum atau kedokteran spesialis syaraf?

Sebagai penutup, beberapa contoh karya liris dan horor jelas amat menggairahkan, yang seketika membuatmu terguguk saat baru selesai membacanya, untuk kemudian berkali-kali menengok ke belakang dengan bulu kuduk meremang, karena khawatir ada makhluk entah apa yang turut membaca bersamamu.

Tapi waktu memang selalu mampu berperan sebagai hakim sejati penguji kebersamaan, yang dengan perantara kesibukan, memancung kebersamaan hingga kembali kepada ketiadaan… perpisahan. Walau definisi perpisahan bagi penulis tentu saja agak sedikit berbeda.

 

“Aslinya perpisahan tak pernah ada. Semuanya tak lebih sekedar serangkai tunggu, yang menyelusup di antara jarak dan waktu, memberi kita perjumpaan sesekali di kini serta nanti…” (Malam Ini Aku Kembali Menghitung Kenangan).

Seperti manfaat penyelenggaraan fikber bersama sebagai sebuah pembelajaran berbasis akselerasi, Dzikir Karya inipun mempergunakan metoda belajar menulis sistem cepat, yang dengan pemberian tugas mandiri ‘Menulis Sistem Buta’, harusnya dapat membuat peserta mampu menjadi penulis yang jauh lebih berkualitas, hanya dalam waktu satu bulan, seperti yang dialami oleh sahabat BMI/TKI dalam video berikut ini:

Tapi memang manusia berupaya Allah Yang Maha Berkehendak. Sibuk yang menumpuk seringkali membuat kita semua tanpa sadar terperangkap dalam jejak jebak ‘ilusi pengetahuan’, yaitu mengumpulkan begitu banyak bahan belajar sambil berharap dapat membacanya ‘kelak setelah ada waktu yang lebih longgar’, yang akhirnya memberi perasaan aman karena telah memiliki bekal pengetahuan berlimpah yang telah dikumpulkan tersebut, tanpa pernah sempat untuk membaca seluruhnya, apalagi mempraktekkannya. Karena memiliki bahan belajar seringkali memberi kita semua berilusi ‘telah otomatis memiliki peluang lebih paham’, yang tetap selalu menjadi hanya sekedar peluang. Begitu selalu, selamanya… T_

Barangkali puisi Sapardi Djoko Damono yang menjadi pembuka postingan di atas benar adanya, bahwa yang fana adalah waktu, kita yang abadi… dalam upaya sekedar mengangkangi ilusi pengetahuan. Tak kurang, juga tak lebih.

Salam muram.

 

ThornVille, Tahun Bacin.

* Fungsi fikber yang paling utama hanya ada dua, yaitu menangkap poin utama dari sebuah karya, serta memperhatikan kekuatan dan kelemahan penggarapan kemasan karya itu sendiri untuk kemudian mengaplikasikannya dalam pembuatan karya pribadi.