Bedah Karya Fikber #2: Karya bagus atau Buruk? Karya Gagal atau Berhasil?

Pemimpin Bayangan III
Karya Pemimpin Bayangan III Kategori Proses Kreatif
dipublikasikan 04 Mei 2016
Bedah Karya Fikber #2: Karya bagus atau Buruk? Karya Gagal atau Berhasil?

Kita menulis sejumlah puisi, lantas membukukannya. Tetapi kemudian kita menyadari bahwa semua itu hanyalah catatan kaki belaka dari puisi-puisi para penyair yang telah muncul lebih dulu. Catatan kaki belaka, sebab kita nyaris tak menghadirkan atau memunculkan atau menyajikan sesuatu yang "baru" dari segi teknik. Huft… (Ardy Kresna Crenata).

***

Membaca sekilas karya peserta fikber kedua pada link yang ini, saya sempat terserang batuk-pilek, pusing serta sedikit mual. Kenapa? Apa pasalnya?

Karena kesimpulan paling gegabah serta tergesa-gesa yang melintas di batok otak saya waktu itu cuma satu: Inilah karya fikber terburuk yang pernah saya temui…!!!

Tapi benarkah begitu? Mari kita lihat bersama-sama.

Masuk ke opening awal saya langsung melongo? Hla? Ini mana benang ungu dengan karya sebelumnya? Kenapa tahu-tahu Juna jadi pelacur kekuasaan? Terus Juna yang katanya sosok idealis namun terjebak ‘dunia abu-abu’ yang terus mengepungnya dengan segala macam karat serta kisut-misut zaman itu ke mana? *Tepok Jidat.

Saya sempat menduga, Pasti ini ulahnya Sujiwo Tejo dengan ‘Wayang Durangpo’-nya yang rutin nongkrong pada rubrik ‘senggang’ di harian nasional Jawa Pos, karena si nyentrik itu emang doyan mencampur-adukkan antara dunia pewayangan dengan isu politik terkini yang tengah –serta: Selalu- hangat-hangat taik ayam itu… ^_

Baru setelah banyak minum kopi hingga bon di warung menumpuklah akhirnya saya insyaf juga, bahwa sebagai embrio, karya ini layak untuk diacungi jempol kaki… :P

Secara teoritis, ‘membedah karya’ sebenarnya amat mudah. Dengan menggunakan unsur intrinsik serta ekstrinsik sebuah karya, niscaya kekuatan serta kelemahan dari sebuah tulisan akan langsung mengambang di permukaan dan siap untuk kita ciduk kapan saja semaunya.

Tapi cukupkah hanya itu?

Tergantung maqom (tingkatan) kau, Mblo… (Ha-ha… ^_). Jika kau seorang pelajar SMP era terkini, hal itu dah lebih dari cukup apalagi di sekolah toh kau dah amat muak dicekoki oleh teks eksemplum dan sebagainya yang amat menurunkan semangat dan kreativitas dalam berkarya itu. Karena boro-boro kau akan bergairah (memiliki ghiroh yang tinggi) dalam membuat sebuah karya keren, sebab pada kondisi masih gelap meraba dalam membuat paragraf ciamikpun kau telah dipaksa untuk mengulak-ulik karya berdasarkan komposisi bahasa, yang umumnya menjadi pegangan para guru dan editor sebagai modal mencari rejeki.

Setelah puas kecipak-kecipuk di ranah intrinsik (tema, alur, plot, dsb.) serta ekstrinsik (latar belakang penulisnya, latar belakang sosial saat karya itu dibuat, dsb). Baik juga kita menggunakan parameter yang lainnya seperti SWAT serta SWOT analisys, positioning, pricing, bahkan kalo perlu menggunakan juga acuan life circle analisys, equibilirium serta cashflow quadrant. Hla? Ini sebenarnya bedah fiksi ato belajar jadi ekonom sih? ^_

Jangan lupa juga untuk mengintip, adakah novelty di dalamnya? Atau termuat jugakah proximity-nya? Lalu prominence-nya? Terus consequence-nya? Lantas human interest serta conflict-nya?

Makhluk apaan, tuh? Sekali-kali bicara pake bahasa manusia ngape, Bay, biar yang baca jadi gampang paham…!!!

Dan itu semua masih belum termasuk fokus pada opening, plotting, ending serta entah ‘ing’ apa lagi yang pada akhirnya, tetap aja saya sarankan untuk ‘jangan dulu bermain di tataran teori’ sebab hal itu berpotensi membuatmu minder untuk berkreasi dan mengapresiasi, tak ubahnya jomblo perjuangan yang langsung letoy karena nge-trik cewek idaman tapi malah ditantang kawin langsung, haha… *Sapa suruh senengnya cuma zina doang, weee… :P

Kembali ke karya fikber peserta kedua. Setelah opening berbentuk puisi (?) atau setidaknya prosa liris, tuturan jiwa, kalimat berima, sajak esei atau entah apa namanya itu, Shinta Siluet Hitam Putih langsung main selonong aja ke Juna versi baru, tanpa sempat membuat sedikitpun paragraf penyambung ke kisah sebelumnya.

Tapi mengenai paragraf penyambung saya agak bosan untuk menjabarkannya. Biar lain kali saja diposting beberapa alternatif contoh yang bisa menambah pengayaan pemahaman tentangnya.

Berlanjut ke opening, kembali saya dibuat cengar-cengir, karena karya Siluet ini siapa sangka menggunakan model fragmen. Dan itu adalah sesuatu yang unik terutama jika mengingat model ini banyak digunakan oleh Sidney Sheldon dalam novel-novelnya yang memang te-o-pe be-ge-te itu. Juga mengingatkan pada “Pesantren Impian” karya Asma Nadia, yang bisa saja seiring berlalunya waktu menjadi hal yang ‘amat biasa’ namun percayalah bahwa ketika novel itu pertama kali terbit termasuk salah satu dari sedikit karya yang anti mainstream.

Apakah karya Siluet mengacu kepada model fragmen di atas? Saya pikir tidak, karena Asma Nadia dan Sidney Sheldon menggunakan model tersebut untuk memperkenalkan karakter tokoh melalui penggalan-penggalan kejadian eye catching yang dialami oleh masing-masing, hingga akhirnya mereka berkumpul dan membentuk kisah secara utuh. Sementara Siluet murni bersolo karir.

Hanya Juna.

Tentang Juna.

: Juna.

Penasaran, saya gali karya lain dari siluet sebagai pembanding, dan… Wew… Ternyata di situ kuncinya.

Dalam karya “Lara Alana : Asmodeus dan Smartphone Warna Hitam” karya Siluet, saya mengalami hal yang sama, hingga menimbulkan rentetan pertanyaan “Mengapa karya sebagus ini terasa kurang menggigit?” atau “Mengapa tak seperti karya si bengal Ajo Gara-Gara, yang mampu menjenggut paksa pembacanya hingga seakan ikut ngusruk ke dalam cerita dan ngejogrok di samping tokoh utamanya dengan mata buram seperti di “Cahaya yang Tak Pernah Padam”, yang bahkan jauh lebih ciamik jika dibandingkan dengan “The Most Glorious Woman in the World” yang cukup banyak penggemarnya itu?

Dari dua karya Ajo yang bergenre religi itulah saya lantas  teringat Narudin Pituin:

 

"Setelah kau menjaga kebun apelku selama satu tahun, tapi tak pernah kau makan satu apel pun, kau begitu amanah. Maka, kunikahkan kau dengan putriku yang tak berkaki, tak bertangan, dan bisu," kata lelaki tua kepada lelaki muda.
Di malam pertama, di balik kelambu, ternyata pendamping hidupnya itu cantik jelita. Berkaki, bertangan, dan tak bisu, ternyata.
"Kenapa Ayahmu berdusta? Katanya kau tak berkaki, tak bertangan, dan bisu?"
"Ayahku tak pandai berdusta. Begini, dengarkan baik-baik, Pujaanku..."
Suara hujan yang gaduh di luar rumah mengaburkan jawaban berbisik si perempuan itu.

 

Itulah penjelasan dari Narudin Pituin, yang tak butuh mulut nyinyir hingga penuh buih hanya demi menjabarkan tentang teknik serta tips membuat karya yang baik. Dan sebaik apapun buku tentang pedasnya rasa cabe, tetap saja tak akan pernah mampu menggantikan kehebatan sensasi dari menggigit cabenya secara langsung. Masih berminat bersandar pada teori kepenulisan?

Dari karya religi itulah kita akhirnya kian yakin, bahwa penulis memang seringkali berprofesi ganda menjadi ‘maling’, dengan cara mendaur ulang kisah apapun yang pernah mampir di dirinya.

Mendaur ulang sebuah tulisan sebenarnya sah-sah aja, asalkan mampu memberikan bentuk baru atau perspektif yang berbeda dari tulisan sebelumnya. Hanya saja harus diakui masih banyak penulis yang mendaur ulang tulisan tanpa menciptakan dua hal itu. Padahal mereka termasuk penulis 'berkelas', yang karyanya banyak menjadi pilihan admin komunitas serta blog bersama, yang tentu saja tak mutlak kesalahan admin mengingat begitu banyaknya informasi berseliweran di dunia digital, yang tak akan mampu terpantau seluruhnya oleh admin kecuali menggunakan alat pendeteksi khusus yang biasa digunakan blog berbayar, demi menghindari membayar karya plagiasi.

Namun khusus untuk karya sastra/fiksi pada event lomba nasional, mendaur ulang sangat diharamkan, dan termasuk penjiplakan. Moga menjadi masukan buat kita semua yang kadang masih saja gemar tergiur untuk melakukan 'jalan pintas'… ^_

Kembali ke karya Siluet Lara Alana : Asmodeus dan Smartphone Warna Hitam. Alih-alih membaca ulang bolak-balik, saya justru tertarik dengan ‘cacat’ yang terdapat dalam karakter tokohnya, hingga akhirnya melahirkan kutak-katik kata berikut ini:

Alana... Alone.
Asmodeus… Ashmedai (Ibrani)... Raja Setan/Setan Nafsu.
Kubi... Remote Telepresence Robot.

Setelah jelas gambaran filosofi nama-nama karakter tokohnya, maka kisah ini langsung tersibak dengan amat telanjang, baik luka jiwa yang dalam yang diderita oleh tokoh utamanya, maupun 'penghakiman' penulis pada sosok Asmo, yang sebelumnya laksana Kubi.

Dan sepertinya hal itu berulang lagi pada karya fikber yang ini. Anggap saja semacam ‘karya gelap’ yang ketika selubungnya berhasil disingkap maka langsung bugil segala yang ada dalam kisahnya.

Keunikan lain dari karya ini adalah beberapa dialognya terasa cantik serta amat fleksibel, yang tetap menggelitik baik dipakai untuk kisah politik maupun cerita cinta, tanpa perlu terlihat lebay serta mengada-ada.

“Siapa yang tidak tahu Arjuna? Siapa yang tidak mengakui kepintaran Arjuna? Memanah saja perkara mudah, apalagi permainan selanjutnya,” jawab Arjuna setengah mengkerlingkan satu mata. Kerlingan penuh siasat.

Saya tak bilang karya ini mengandung unsur kebaruan alias novelty. Namun setahu saya, bentuk yang seperti ini amat jarang digunakan oleh penulis. Entah karena tak popular, atau justru memiliki tingkat kerumitan yang menjebak.

Perihal judul, baik Siluet maupun Ajo sepertinya masih butuh banyak ‘keliling’. Atau tak perlu jauh-jauh mengembara, cukup dengan mencermati judul yang dibuat oleh Andri Sipil niscaya akan banyak hilang kejumudan kata dan menghampir judul yang amat menggoda:

 

Masa Lalu yang Tumbuh di Halaman Rumah.

Jingga Senja Kita.

Membakar Guna-Guna.

Anak-Anak Pematang.

 

Masih kurang? Sila colek langsung Dues K Arbain, karena berdasarkan data yang pernah saya rekam, beliyo pernah membikin riuh dengan pemilihan judul yang pada masa itu sangat perkasa, yaitu: Derita Cinta Membara, yang kemudian menangguk hits pembaca hingga jauh berlipat ganda, bahkan dibandingkan dengan peserta yang paling kuat sekalipun!

Dan cara Dues sepertinya termasuk salah satu alternatif jalan pintas untuk memiliki ‘Jaringan Pembacamu Sendiri’, walau hati-hati dengan isi karya yang kau tulis, karena pada akhirnya, yang paling utama tetap saja konten, dan bukannya kontet… ^_

Pada akhirnya, tetap saja pertanyaan itu-itu melulu yang hadir dalam tulisan ini, yaitu:

Apa teknik terbaik agar karya mampu membuat pembaca kepincut, untuk tak hanya sekedar membacanya selewatan saja?

Jawabannya saya pikir tetap saja tiga yang dulu itu, yaitu pembuka kisah yang menggiurkan, konflik yang menggairahkan, serta ending yang meluluh lantakkan emosi dengan akhir sumbing, menggantung atau justru memberi jelaga.

Saya sepaham jika ini bukanlah karya terbaik Siluet. Tapi saya lebih sepaham lagi untuk mengatakan, bahwa karya Siluet ini jelas merupakan embrio yang patut diperam ulang dalam rahim kata, untuk kelak terlahir sebagai karya yang barangkali saja mampu sarat makna, rasa juga nada.

Coba nanti saya izin dulu sama Desol, sebab dengan menamatkan ‘Kumpulan Cerita: Mati’ buatannya,  akan cukup banyak menambah wacana tentang gaya berfiksi yang bagus tanpa tapi tanpa nanti.

Atau bisa juga saya oper genre yang lebih dekat sebagai tambahan pengetahuan, dengan kata kunci pengingatnya, yaitu, “Tuah Mandi Air jenazah” dari seorang penulis yang tak habis-habis saya kagumi buah karyanya itu.

Tapi membaca hiruk-pikuk yang ada di kolom komen karya Siluet, entah mengapa mendadak saya ingin menyeret Siluet untuk ngopi bareng, dan berkata dengan amat serius:

 

Belajarlah untuk selalu menjadi diri sendiri

Usah sombong saat banyak yang memuji

Pun tak perlu banyak kata membela diri

Saat yang kau lakukan tak mereka anggap sehati

Karena pembenaran pribadi bukanlah kebenaran hakiki

Belajarlah untuk selalu menghargai diri sendiri

Bukan demi orang lain

atau sosok entah siapapun

semoga kau tangkap sirat ini

 

Tulisan ini terkesan kurang fokus serta meleber kemana-mana, eh…? Sebenarnya hal itu memang disengaja. Karena jika dugaan saya tak keliru, harusnya postingan ini termasuk yang menjalankan proximity, dengan jumlah sharenya sebagai tolok ukur utama.

Sebagai penutup saya pinjam komen ngocol Ag. Prasetyo, yang saya pikir lumayan berguna bagi penulis yang gemar mengutak-atik kata tanpa paham makna, hanya demi tak tergelincir ke durjana kata… ^_

Menyemut > seperti semut,
Mengular > seperti ular.
Mengeong > seperti keong… :P

Salam hangat belajar menulis bareng, bye from Bay… ^_

 

ThornVille, Tahun Bedah Fikber Mimi.


  • Umi Setyowati
    Umi Setyowati
    1 tahun yang lalu.
    Aku tadi sudah koment, aku bingung dg karakter Arjuna, maksudku kok ga nyambung dengan Arjuna di Medsos, kalau ini fikber. Mungkin dibuat tema yg mudah aja Bay, untuk uji coba. Selanjutnya.

    • Lihat 2 Respon

  • Bina Raharja
    Bina Raharja
    1 tahun yang lalu.
    gelar tiker. sruput kopi.
    dan keselek *kagum
    warbiazaaak ^ ^

    • Lihat 16 Respon

  • Asep Bahtiar Pandeglang
    Asep Bahtiar Pandeglang
    1 tahun yang lalu.
    wah keren nih.. salam hangat yak pak bayangan maulana

    • Lihat 1 Respon

  • Lilik Fatimah Azzahra
    Lilik Fatimah Azzahra
    1 tahun yang lalu.
    Ikut menyimak dengan seksama ya kak...

  • Ajo Gaara
    Ajo Gaara
    1 tahun yang lalu.
    seeettt daaaahhh shock Bay sedeng, saenak e dewe bilang ane bengal, hahah kuamvreeettt...
    padahal ane nih anak baik lhoo, penurut, gak sombong, rajin menabung **Apa-hubungannya-coba?

    hmm, mengenai mengganti judul, entah kenapa dari 300 lebih artikel ane di lapak sebelah, tercatat hanya ada 3 artikel saja yang ane ubah judulnya, itu tadi... entah kenapa begitu ane udah nentuin satu judul, akan amat sangat berat nian ane mau ngubahnya **Pembelaan-diri-heyaaaa...

    Diiih... pan nyang "Cahaya yang Tak Pernah Padam" belum ane posting dimari Bay, ishh...

    • Lihat 19 Respon