[Fikber KOMPI] Arjuna di Medsos

Pemimpin Bayangan III
Karya Pemimpin Bayangan III Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 01 Mei 2016
[Fikber KOMPI] Arjuna di Medsos

 

Tiba giliran belajar memanah, Guru Durna mengacung ujung hidung ke udara.

“Siapkan busur dan mata panah kalian!”

Berlomba-lomba siswa membidik ke angkasa, siap untuk melepas panah perdana.

“Apa yang kalian lihat?” selidik Guru Durna sambil menebar pandang ke seluruh siswa.

“Serombong burung terbang di gemerlap awan, Guru” jawab sekelompok siswa, sementara grup siswa yang lain menjawab dengan kalimat berbeda.

“Itu jenis burung anu, Guru.”

“Burung itu berbulu itu dan bercorak itu, Guru.”

Baru pada kelompok terakhir seorang murid menjawab berbeda, juga dengan intonasi yang pelan namun mengandung bergunung kesungguhan.

“Saya hanya melihat leher burung berterbangan, Guru”

Guru Durna memandang siswa bernama Arjuna tersebut lekat-lekat, sebelum akhirnya mengangguk samar.

Hingga pelajaran berakhir, hanya Arjuna satu-satunya yang berhasil memanah. Tepat di leher.

“Setiap orang memiliki dasar pemahaman yang berbeda, juga memiliki antusiasme serta bilik pandang yang tak sama, maka biarlah masing-masing menuju maqomnya dengan cara unik setiap pribadi,” wejang Guru Durna. “Tapi jangan pernah melupakan adab utama dari sebuah ilmu.”

“Apa adab utama tersebut, Guru?”

“Fokus ke yang paling inti, dan jangan gemar mengunyah-unyah tepi hingga hanya menghasilkan segala yang berpotensi memberangus habis daya nalar serta sabar.”

***

Agak tercenung Juna membaca kitab lama tersebut, sebelum segalanya lantas lesap dalam ruang bernama kenangan, yang disingkap kembara sunyi dari sudut paling riuh yang ada di benaknya.

 “Hamba melihat sepotong leher hamba sendiri, Guru,” ucap Juna suatu kali kepada cermin di hadapannya, beberapa saat sebelum hengkang dari kampus nusantara dengan amat malu karena pernah mati-matian mengalahkan dua ratus ribu pesaing, hanya demi bisa 'duduk dengan manis' di kampus yang dijubeli bocah-bocah picik yang terlalu sibuk dengan ego pribadi itu, serta 'kearifan lokal' yang memaksa siapapun untuk 'kencing sambil berlari' buah disorientasi ruh dan hati karena memang telah menjadi sukar lagi untuk ditemui di sini.

“Hamba melihat sepotong leher kembali terpanah, Guru,” bisik Juna sambil memandang nanar rupiah yang beredar di meja gedung mentereng bilangan Kuningan, tempat para aktivis mangkal dan berbicara dengan bangganya bahwa telah sanggup membiayai kuliah secara mandiri: Dari uang hasil menjual demonstrasi.

Dan tatap Juna kian bertambah nanar tatkala petinggi gedung mentereng tersebut, kemudian didaulat menjadi menpora (yang gemar menenteng pistol kemana-mana), dari partai yang pernah menjadi paling putih pada masanya, dengan tatap nanar mencapai puncak terpicaknya saat banyak anggota komunitas religi tersebut 'tak ubahnya' sosok-sosok sekuler. Dengan tampilan yang jauh lebih religius sebagai –mungkin- satu-satunyanya pembeda.

“Hamba melihat sepotong leher meminta untuk tidak dipanah, Guru,” tekad Juna yang tanpa segala macam pertimbangan mulai menciptakan rule model pendidikannya sendiri, dengan mengekstraksi materi belajar hingga tingkat tertentu lalu mengaplikasikannya kepada siswa tanpa perlu merasa tertekan buah waktu yang dipersempit serta muatan yang diperbesar secara serampangan itu, yang banyak waktu kemudian rule model tersebut siapa sangka terlihat identik dengan metode 'Pabrik Olimpiade' milik Yohanes Surya, seperti yang pernah ditayangkan dalam sebuah liputan media nasional.


“Hamba melihat sepotong leher tak ingin terpanah dulu, Guru,” sahut Juna sambil terengah-engah mengamini masyarakat marjinal yang meminta untuk segera diterapkan revisi dari Grameen Bank di wilayah mereka, serta menghapuskan dominasi jaringan rentenir yang mewabah di sana. Menyediakan advokasi hukum serta memperbaiki tata kelola ekonomi yang dapat menjadikan orang-orang kecil tanpa pendidikan tak lagi sekedar menjadi penonton, juga pilot project pembuatan ‘bank rakyat’ yang diharap mampu membuat nyaris semua angan menjadi ingin… dengan kekuatan bersama. Walau untuk semua itu Juna harus merelakan dirinya 'dibreidel' oleh begitu banyak kepentingan yang terganggu oleh pergerakannya.

“Hamba melihat sepotong leher kembali diajukan untuk dipanah, yang ternyata adalah sepotong leher milik hamba sendiri, Guru,” keluh Juna kepada Guru Durna juga Arjuna dalam posting ini, ketika dunia yang riuh, angkuh serta penuh jelaga yang pernah menelikungnya habis-habisan ini kembali mengundangnya untuk 'membantu penyelesaian beberapa kejadian', memaksanya untuk  berjibaku ‘ulang’ dengan waktu dan kebenaran yang tak lagi ingin semu, walau dengan kemampuan yang tak lebih dari bayi merah yang belum lama meninggalkan rahim ibunya, walau dengan sepenggal ragu tentang takdir yg keliru menafsir serta salah menerka segala macam gurat nasib di telapak tangannya, walau dengan seribu walau...

T_

***

ThornVille, Fiksi Bersambung, Peserta yang Pertama, Komunitas Pegiat Fiksi Inspirasi (KOMPI), Tahun Nyeri.

*Untuk melihat karya peserta yang lain, silakan klik link yang berikut ini.