Legenda Pedang Tetesan Air Mata

Legenda Pedang Tetesan Air Mata

Pemimpin Bayangan III
Karya Pemimpin Bayangan III Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 29 April 2016
Legenda Pedang Tetesan Air Mata

(Terima kasih kepada MJK Riau atas masukannya di cersil usil menyentil, tentang bahaya memasukkan politik secara berlebihan ke dalam cerita silat…^_).

Cerita sebelumnya:

Tujuh Pukulan Korupsi Penuh Bisa.

***

Tak ada yang lebih mendebarkan dibandingkan pengalaman pertama, sejak mulai masuk TK hingga malam pertama pengantin baru.

Begitu juga yang dirasakan Hanny. Inilah pertama kalinya dia akan mempraktekkan kepandaian Camar Menari Diantara Tiang Sampan ajaran kakeknya dari ketinggian 17.000 meter di udara.

Dan di sinilah Hanny berada sekarang, di depan pintu Sukhoi yang hanya boleh dibuka dalam tempo yang tak lebih dari satu per sekian ratus detik saja. Sebab jika lebih lama dari itu, dia tak dapat membayangkan apa yang akan menimpa pesawat tempur yang ditumpanginya ini.

Hanny menganguk perlahan pada pilot yang mengacungkan jempol kepadanya.

Tanpan juga nih pilot, sayang hidungnya terlalu pesek, bathin Hanny sempat-sempatnya mengumbar perasaan, sesaat sebelum tubuhnya melayang di angkasa.

Masih seperti pengalaman malam pertama kebanyakan orang, kengerian yang Hanny rasakan sebelum meluncur di udara tadi perlahan menguap, dan berganti dengan kenikmatan yang sangat buah sensasi lain yang menerpanya kini. Tak terlukiskan!

Walau agak aneh, tapi Hanny benar-benar merasakan dirinya bergelayut manja dibawah tali-temali payung terjunnya, dengan hembusan angin yang genit meraba setiap pori yang ada di atas kulit tubuhnya. Belum lagi pemandangan super indah dengan begitu banyak bentuk yang mirip jajaran pegunungan, lembah juga kumpulan hijau serupa permadani yang kian waktu kian membesar dan memperlihatkan bentuk nyatanya sebagai pepohonan hutan.

Syuuutttt…! Hup.

***

 

Kisah Legenda Pedang yang Menyedihkan.

Sementara Partai FC mengadakan pesta besar-besaran atas kembalinya Desol sebagai sesepuh tertua yang pernah tercatat dalam Kitab Hikayat Cianbunjin FC dari Masa ke Masa, pada sebuah kaki gunung yang masih permai dan belum pernah terjadi pembakaran hutan, seorang pendekar setengah baya bersama cucu kesayangannya tengah asyik membicarakan sebuah legenda kesedihan.

“Kau tahu, Ndhuk, senjata apa yang paling menakutkan di dunia ini?” tanya MJK Riau kepada cucu semata wayangnya itu.

“Ah, Kakek kan tahu kalau Hanny sering lupa apapun, mengapa mengetes Hanny dengan pertanyaan yang sulit seperti itu?” rajuk Hanny dengan amat manja kepada kakeknya, membuat sang kakek tersenyum penuh sayang.

“Semenjak kakek pulang dari tanah suci kemarin, yang kakek pikirkan hanya kamu seorang, Nduk… Tentu saja selain pengadaan bus gratis di tanah suci yang amat membantu jemaah haji Indonesia menunaikan ibadah. Sungguh terobosan yang amat luar biasa…” lanjut Sang Kakek tanpa mampu menyembunyikan rasa syukurnya atas fasilitas yang kini semakin mempermudah jemaah haji untuk lebih khusuk beribadah. Walau memang masih ada saja oknum yang alih-alih memaksimalkan waktu dan energi yang tersedia untuk memperbanyak doa, justru lebih memilih untuk sibuk berfoto selfie. Menyulap semua rejeki tersebut hingga menjadi amat mubazir, hanya demi rangkaian foto yang kelak dipajang di ruang tamu atau laman media sosial layaknya kristal mewah kebanggaan keluarga.

Hanny termenung sejenak, mencoba mencari jawaban terbaik dari pertanyaan kakeknya.

“Apakah pisau terbang Siau-li yang legendaris dan tak pernah meleset itu? Yang ribuan kali lebih menakutkan dibandingkan Belati Hawa Nafsu pasangan Desol dan Febri, Kek?”

MJK Riau menggelengkan kepala. “Sejak berpulangnya Siau-li Tham-hoa dan Yap Kay murid utamanya, senjata yang welas asih itu tak pernah lagi muncul di rimba persilatan manapun,” sanggah MJK Riau.

“Mungkin Tongkat Penggebuk Anjing milik Ui Yong?”

Kembali MJK Riau menggeleng. “Lepas dari tangan Ang Cit Kong, Tongkat Bambu Hijau mustika Partai Kaypang juga tak jelas lagi keberadaannya.”

“Ah, Hanny tahu… Pasti Golok Pembunuh Naga punya Sin Tiaw Tayhiap Yoko dan  istrinya Si Cantik Siaw Liong-li…!!” setengah berteriak Hanny bertepuk tangan sendiri atas kecerdasan tebakannya, yang kembali harus kecewa sebab lagi-lagi kepala sang kakek menggeleng.

 “Yang lebih menakutkan dari itu semua adalah… Pedang Tetesan Air Mata, Ndhuk…” lanjut MjK Riau dengan sorot mata yang jauh menerawang.

“Dan kisah sedih inilah yang ingin kakek bagi kepadamu, dengan harapan kelak kau dapat menemukan kembali pedang sakti itu lalu menggunakannya untuk menegakkan keadilan di tanah pertiwi yang kini penuh rayap dan busuk luar biasa…” harap MJK Riau.

Tertarik luar biasa Hanny atas prolog sang kakek, hingga tanpa sadar duduknya bergeser ke arah kakek, membuat sang kakek tersenyum penuh mahfum.

“Dahulu waktu masih zaman dungtong, ada seorang pendekar bernama Zoel Z’anwar yang mengembara ke Tanah Jawa. Kesukaannya akan syair dan hujan, serta tindakannya yang agak sadis dalam memberantas penjahat hingga berkubang darah, menjadikan beliau memperoleh paraban Pendekar Syair Berdarah-darah. Hingga suatu hari, kesukaannya yang lain mempertemukan beliau dengan Sam Trader, Cianbunjin Partai Pena Inspirasi yang juga penggila puisi pendek tujuh kata.”

MJK Riau menghela napas sejenak, sebelum kembali melanjutkan ceritanya.

“Sayangnya perkenalan yang akrab tersebut harus berakhir dengan tragedi, yang berakhir dengan pertarungan mereka berdua…”

Kembali MJK Riau menghela napas, yang membuat Hanny berpikir bahwa tragedi yang akan diceritakan oleh kakeknya pastilah amat mengenaskan hingga membuat beliau terus-menerus menghela napas.

“Apakah mereka berkelahi karena memperebutkan es dawet, Kek?” sela Hanny dengan tak sabar.

Dari sedih MJK Riau langsung terbahak mendengar pertanyaan lugu dari cucunya itu. Bagaimana mungkin dua pendekar besar bertarung hanya demi es dawet?

Tapi ia tak menyalahkan sang cucu, karena walaupun usianya sudah mulai beranjak dewasa, namun kehidupan tenang di pedesaan kaki gunung yang jauh dari hiruk-pikuk politik yang penuh kemunafikan, menjadikannya menganggap bahwa es dawet adalah sesuatu yang pantas diperebutkan mati-matian. Seperti kejadian beberapa tahun yang lalu ketika sang cucu tersebut membuatnya repot karena jambak-jambakan di tengah jalan dengan anak gadis kepala kampung, hanya demi memperebutkan segelas terakhir es dawet jualannya Mbok Sarungpaet.

“Ada banyak hal di dunia ini yang jauh lebih berharga dari sekedar es dawet kegemaranmu itu, Ndhuk…” jawab MJK Riau masih dengan sisa kekehnya, membuat Hanny merasa agak malu tapi sekaligus juga amat penasaran.

“Apa itu, Kek?” tanya Hanny cepat.

“Kopi,” jawab MJK Riau sama konyolnya. Sebab mana mungkin kopi dapat menimbulkan tragedi? Jika menimbulkan hutang di Warkop bisa jadi. Tapi tragedi? Karena kopi?

“Kau pasti menganggap kakek hanya bercanda yah, Ndhuk,” tukas MJK Riau cepat, sebelum sang cucu kembali menginterupsi.

“Begini… Jauh waktu sebelum Jalan Kerawang-Bekasi direkam oleh Chairil Anwar Si Binatang Jalang, tempat itu telah lebih dulu bersimbah mayat buah pertempuran Pendekar Syair Berdarah-darah dan Ciangbunjin Partai Pena Inspirasi,” lanjut MJK Riau. “Lalu…”

Wuuzzz… Mendadak pemandangan kaki gunung tempat Hanny bercengkerama bersama kakeknya hilang, berganti dengan suasana lengang jalan raya yang belum lagi tersaput aspal.

Sayup Hanny masih mendengar penuturan kakeknya, yang melantun perlahan dan penuh keharuan laksana tembang mocopat syafa’at, dengan warna nada yang melenting kian kemari bersama lirih gamelan yang ditabuh sebatas pendengaran yang paling minimal, yang entah sejak kapan ditabuh orang.

Dan diantara sayup yang magis itulah Hanny melihat dua sosok gagah berdiri tegak di tengah pergumulan maut.

Jubah salah satu dari mereka berkibar, dengan caping bambu bertengger angkuh di kepala. Sementara yang lainnya mengenakan jaket berbahan denim khas anak muda sembari menenteng sebilah pedang, hingga sekilas jika tidak jeli akan menganggapnya sebagai pemuda sok jago yang hendak tawuran antar kampung.

Percakapan mereka berdua terdengar jelas di telinga Hanny, membuatnya menggigil bercampur entah berapa banyak kengerian sekaligus keheranan akan topik yang dibicarakan.

“Jadi kau kembali hanya demi membayar hutang darah ini?” selidik Sam Trader Sang Cianbunjin Partai Pena Inspirasi.

“Tepat sekali!” tegas Zoel Z’anwar Si Pendekar Syair Berdarah-darah.

“Dengan cara apa kau ingin melunasi semuanya?! Dan apakah itu dapat menghidupkan lagi semua sanak kandangku yang terlanjur hancur lebur ini?!” seru Sam Trader penuh emosi seraya menunjuk mayat yang menggelimpang tumpang-tindih di sekitar mereka.

“Tak bisa dilunasipun tetap harus kubayar. Dan bagaimana cara aku membeli nyawa, dengan cara itu pula kujual selembar raga ini. Kau pikir, buat apa aku kemari hari ini?” tandas Zoel Z’anwar.

Sam Trader menatap Zoel Z’anwar tepat di manik mata, yang dibalas oleh Zoel Z’anwar dengan tatap yang sama persis, walau anehnya sorot mata mereka berdua tak sedikitpun menyiratkan dendam dan sakit hati. Lebih tepatnya mungkin kekaguman dan perasaan hormat kepada masing-masing seterunya.

“Harusnya kau tak menyindir cerpen cinta hasil kolaborasiku yang waktu itu,” sesal Sam Trader seraya meraba gagang pokiam di pinggangnya.

“Karena akhir cerita buatanmu begitu mengenaskan. Juga penamaan Tora dan Bika sebagai karakter utama tokoh fiksimu, begitu menyinggung rasa kekopian di hatiku,” bela Zoel Z’anwar.

“Tapi bukankah kisah cinta yang baik wajib berkonflik?” serang Sam Trader tak mau kalah.

“Maaf, Sam, aku cinta damai,” kelit Zoel Z’anwar.

“Damai seperti puisi kolaborasimu yang bersalin rupa dari hujan menjadi kecupan itu…?! Begitukah refleksi cinta damai yang kau maksud…?! Yang mati-matian mengingkari sendu buah hitam kenyataan lalu menggantinya dengan ribuan jargon tentang cinta yang indah dan melenakan…?! Begitukah cinta damai yang kau maksud itu…?! Dengan pura-pura lupa bahwa usia dan jam terbang yang kau punya tak lagi serupa pemuda romantik yang baru mengenal cinta…?! Begitu…?!” ejek Sam Trader dengan berapi-api. Tangannya menggenggam batang pokiamnya semakin erat. Untuk harga diri memang seringkali tak menyisakan pilihan apapun lagi selain mempertahankan yang telah terlanjur dikreasi, tak peduli bahkan jika kreasi itu kelak akan menjadi jauh lebih mengandung permenungan tingkat tinggi ketika digarap ulang dengan lebih menyayat.

“Setidaknya masih jauh lebih baik dari cerpen nyerimu itu, yang rela memberikan mata karunia Sang Maha Kuasa, hanya demi dianggap pecinta wanita terbaik abad ini…!!!” cibir Zoel Z’anwar.

Blaarrr! Pokiam meletik ke depan. Namun bilah pedang Zoel Z’anwar belum juga diloloskan dari sarungnya.

“Tahu apa kau tentang cinta sejati…?! Tahu apa kau tentang cinta yang rela mempersembahkan segala yang terbaik bagi yang dicinta…?!” erang Sam Trader dengan hati yang amat terluka.

Zoel Z’anwar tetap bergeming di tempat. Begitu juga tatapannya: Tetap tajam dan menyayat. Membuat Sam Trader sejenak terdampar rasa ragu dan sedikit mengerem laju pedang.

“Jika semua perwira berpikir sepertimu, tak perlu menunggu hitungan dasawarsa untuk negeri ini kembali dijajah negara lain dengan cara licik yang memang keahlian utama mereka...!” suara Zoel Z’anwar semakin tegas terdengar, membuat Sam sedikit terhenyak.

“Mak-maksudmu…?” tak tahan Sam Trader bertanya. Sekuat tenaga ditahannya laju pokiam yang terlanjur menusuk.

Tapi terlambat. Pedang pusaka meluncur deras, menghujam tepat di jantung Zoel Z’anwar hingga tembus dan menyisakan hanya gagang di bagian dada.

“Kau… Kau… Kenapa kau tak menghindar…?” Secepat kilat Sam Trader merangkul Zoel Z’anwar, dan bertanya setengah histeris.

“Kenapa kau tak menghindar, Zoel…?! Kenapa…?!” Sam Trader mengguncang tubuh Zoel Z’anwar yang bersimbah darah.

“Aku hanya ingin… kit… kita semua meng… hasilkan karya yang tidak sekedar cinta… Aku hanya ingin kita… lebih fokus menggarap karya apapun… juga cin… cinta… dengan konflik kemanusiaan atau pembebasan belenggu kemiskinan… seb… sebag… gai bumbunya… Atau cinta gadis remaja yang rela… mendampingi buah hatinya meng… inovasi… negeri…” sendat suara Zoel Z’anwar.

“Tapi kenapa kau tak menghindar, Zoel…?! Kenapa kau tak membalas…?! Kenapa kau tak menangkis… ?!” Sam Trader memeluk leher Zoel Z’anwar erat-erat.

“Maafkan aku yang gem… gemar membedah karya kalian… walau terkadang itu menyakitkan… tapi… itulah bukti cinta dan apresiasiku terhadap karya kita semua… karena tak ada yang lain yang melakukannya selain memberi jempol serta komen bertabur pujian… yang… memabukkan…”

“Tidak, Zoel… Tidak…” ratap Sam Trader.

“Ti-titip inn… nniii… Lan… lanjutkan semuanya bersama seluruh kerabat yang ter… sisa… Dari lanjutan cersil ini… kelak kita semua akan paham… betapa amat berharganya nilai diri kita… dan… seluruh… anggota… Pe… na… hek…”

Zoel Z’anwar mati. Tapi wajahnya penuh senyum. Barangkali berwasiat kepada teman kepercayaan memang selalu menenangkan.

Masih dengan terguguk Sam Trader melihat benda yang dititipkan Zoel Z’anwar kepadanya. Sepertinya sebuah kitab pedang.

Tapi Sam Trader terlonjak ketika membaca tulisan yang tertera di sampul bagian depan.

“Hah? Kitab ini?!”

Bergegas Sam Trader meraih pedang di pinggang Zoel Z’anwar dan ditariknya keluar dari sarungnya, dan kembali Sam Trader kaget, untuk kemudian semakin terbenam dalam sedu-sedan yang penuh sesal.

“Ternyata kau adalah penerus orang itu, Zoel, hu… hu… hu… Maafkan aku, Zoel… huuuuuuu… Kenapa… hu… kau tak melawan… huhuuuuu…”

Setelah menangis agak lama, Sam Trader bangkit lalu bertabik tiga kali kepada jasad Zoel Z’anwar dengan penuh penghormatan, lalu menunjuk layar hape dan monitor dengan ujung telunjuk yang tepat mengarah ke hidung pembaca sambil memohon, “Tolong lanjutkan perjuangan kami di dunia reka kata…” yang lantas dengan gerakan amat sebat dia menggorok leher sendiri dengan pedang milik Zoel Z’anwar.

Puk-puk hangat di punggung Hanny menyadarkannya dari pemandangan menakutkan tersebut. Ternyata tangan kakeknya. Sontak Hanny membenamkan tangis di dada sang kakek.

“Sabar, Nduk… Sabar…” hibur MJK Riau sambil mengusap punggung sang cucu dengan penuh kelembutan.

Setelah surut kesedihannya, Hanny bertanya kepada sang kakek, “Bagaimana kisah selanjutnya, Kek?”

“Harusnya hal itu ditanyakan kepada pengarang cerita silat semau gue ini,” keluh MJK Riau sambil mendelik kearah Ahmad Maulana S sebagai pengarangnya, yang hingga pukul sembilan dua puluh tujuh malam ini masih mengetik kisah pilu berlatar silat dengan amat khidmat.

“Tapi karena kakek adalah tokoh pengantar di episode yang ke-4 kali ini, tak ada salahnya jika kakek yang menjelaskan,” lanjut MJK Riau sambil menghela napas dengan amat berat.

MJK Riau meneruskan kisahnya, bahwa setelah Sam Trader melihat kitab serta memeriksa pedang milik Zul, dia segera tersadar, bahwa dari bercak serupa tetesan air yang terukir di batang pedang, menunjukan bahwa pedang itu adalah Pedang Tetesan Air Mata yang pernah menghentak jagad persilatan tanah Tiongkok.

“Pedang Tetesan Air Mata adalah simbol keadilan rimba persilatan Tiongkok, Ndhuk… Walau mungkin ada cukup banyak tosan aji bermutu di negeri ini, namun tak satupun yang mampu menepiskan kehebatan dan pedang ini,” wejang MJK Riau.

“Termasuk Keris Setan Kober yang terkenal sakti itu, Kek?” polos Hanny.

“Untuk urusan keris kakek kurang mendalami, Ndhuk…” senyum MJK Riau. “Tapi yang kakek tahu, pedang ini memang memilki riwayat yang amat menyayat” lanjut MJK Riau.

“Pedang ini adalah yang tertajam dari begitu banyak pedang kenamaan yang pernah ada sejak masa tiga ratus tahun yang lalu hingga sekarang. Bahkan masih lebih tajam dari cuwi-kiam yang pernah membuntungi tangan Sin Tiaw Tayhiap Yoko.”

Tanpa sadar Hanny berdecak kagum.

“Siapa pembuatnya, Kek?”

“Setahu kakek, yang menempa pedang ini seorang Taysu keturunan Ouw Cu-ki, dengan pemegang terakhir bernama Siau-ko, seorang pemuda pendiam yang amat misterius. Dan setahu kakek pula, pedang ini amat keji sehingga tiap kali keluar dari sarungnya niscaya selalu menyeruput darah lawan.”

Hanny bergidik ngeri.

“Benar-benar pedang yang jahat.” komentarnya.

“Kau salah, Nduk. Pedang ini justru terkenal sebagai pedang keadilan yang amat ampuh, hingga mampu menghukum nyaris setiap kejahatan yang ada di Tiongkok dulu, bahkan termasuk juga para pejabat negara yang korup pada masa Dinasti Anu, di mana ada kejadian salah satu anggota kesatuan militer setingkat kepolisian kerajaan ditampar oleh juragan pompa namun tak ada yang berani menangkapnya, karena kabarnya si juragan pompa dibeking oleh anggota yang sama tapi dengan pangkat yang jauh lebih puncak.”

“Saat itulah Pedang Tetesan Air Mata kembali menunjukkan taringnya, dengan cara mengebiri si juragan pompa di alun-alun kerajaan hingga menjadi tak berbeda dengan seorang thaykam istana.”

Tiba-tiba MJK Riau melompat dan berjumpalitan di udara. Tangannya meraih Hanny untuk dibawa berlari dengan amat cepat. Hanya sekejap jarak ratusan li sudah terlampaui oleh keduanya.

“Ad-ada apa, Kek? Kita mau kemana?” tanya Hanny bingung, walau diam-diam dia amat kagum dengan ginkang kakeknya yang maha dahsyat ini. Tapi dia heran, kenapa waktu pergi haji kakek tak menggunakan ginkang saja. Bukankah lebih cepat dan terutama sekali: Gratis…!!!

“Kau harus ke Kalimantan, sementara kakek akan ke jurusan yang lain. Darurat sipil,” jawab  MJK Riau misterius.

“Ja-jauh sekali, Kek. Memang ada masalah apa? Tapi ginkang Hanny tak akan mampu menuju ke sana dalam waktu singkat.”

MJK Riau terbahak-bahak sambil terus mempertahankan laju larinya. Sungguh sebuah kepandaian yang amat langka, mengingat seseorang jika berlari mempergunakan ginkang biasanya harus mengatur napas sedemikian rupa tanpa boleh sedikitpun tertawa.

“Kau pikir ini zaman Wiro Sableng apa, Ndhuk? Hahaha… Kau ke sana naik Sukhoi bareng kenalan kakek waktu jaman perjuangan kemerdekaan dulu, yang kini telah jadi perwira di angkatan udara.”

Diam-diam hati Hanny bersorak mendengar dirinya akan naik pesawat keren tersebut.

“Jangan senang dulu, Ndhuk, karena kau akan turun pesawat dengan cara terjun tandem dari ketinggian 17.000 meter.” Kembali MJK Riau tertawa, sementara wajah Hanny langsung pucat pasi.

“Ap-apakah kakek bercanda?”

MJK Riau menggelengkan kepala.

“Tadi kakek terciprat paparan gelombang S.O.S. dari seseorang bernama Paw pie Nug entah siapa melalui jalur AA-Eneng dalam jaringan khusus ber-tagar #jangansensi. Katanya ada beberapa pendekar besar yang terluka dan hampir mati di posisi yang berjauhan. Satu di Kalimantan, sementara yang satunya lagi kakek kurang begitu jelas. Terdengar seperti di Maroko atau Mabolro atau entah apa.”

“Terus, ini kita mau kemana, Kek?”

“Kemana lagi jika bukan ke Lanud Wirasaba yang tak kunjung selesai itu…?” entah mengapa suara kakek terdengar agak sewot, mungkin sebal dengan lambannya birokrasi antar institusi yang ada di Negeri Semar ini.

***

 

Pesawat Sukhoi, Waktu Indonesia Bagian Ngeri.

Tak ada yang lebih mendebarkan dibandingkan pengalaman pertama, sejak mulai masuk TK hingga malam pertama pengantin baru.

Begitu juga yang dirasakan Hanny saat ini. Jantungnya seakan berpacu beberapa kali lebih laju dari biasanya, dengan lonjakan aneh antara rasa takut bercampur penasaran bergelut di relung hatinya. Inilah pertama kalinya dia akan mempraktekkan kepandaian Camar Menari Diantara Tiang Sampan ajaran kakeknya dari ketinggian 17.000 meter di udara.

Dan di sinilah Hanny berada sekarang, di depan pintu Sukhoi yang hanya boleh dibuka dalam tempo yang tak lebih dari satu per sekian ratus detik saja, sebab jika lebih lama dari itu, dia tak dapat membayangkan apa yang akan menimpa pesawat tempur yang ditumpanginya ini.

Hanny menganguk perlahan pada pilot yang mengacungkan jempol kepadanya.

Tampan juga nih pilot, sayang hidungnya terlalu pesek, bathin Hanny sempat-sempatnya mengumbar perasaan, sesaat sebelum tubuhnya melayang di angkasa.

Masih seperti pengalaman malam pertama kebanyakan orang, kengerian yang Hanny rasakan sebelum meluncur di udara tadi perlahan menguap, berganti dengan kenikmatan yang sangat buah sensasi lain yang menerpanya kini. Tak terlukiskan!

Walau agak aneh, tapi Hanny benar-benar merasakan dirinya bergelayut manja dibawah tali-temali payung terjunnya, dengan hembusan angin yang genit meraba setiap pori yang ada di atas kulit tubuhnya. Belum lagi pemandangan super indah dengan begitu banyak bentuk yang mirip jajaran pegunungan, lembah juga kumpulan hijau serupa permadani yang kian waktu kian membesar dan memperlihatkan bentuk nyatanya sebagai pepohonan hutan.

Syuuutttt…! Hup.

Akhirnya Hanny mendarat di atas tanah dengan amat cantik. Tapi belum sempat dia melepas payung terjunnya, ketika sebuah erangan yang amat merintih keluar dari gua tepat di depannya.

Dengan agak berjinjit Hanny mendekati mulut gua, mencoba mengintip ada apa atau siapa di dalam sana, hingga tiba-tiba matanya tertumbuk tubuh sesosok pria yang terus muntah darah bercampur sedikit asap.

Sontak Hanny meloncat ke sosok yang terluka parah itu. Tanpa ba-bi-bu lagi dia langsung menotok tiga puluh lima jalan darah penting yang ada di dada, serta tujuh puluh sembilan titik nadi di punggung pria tersebut, untuk kemudian tangannya ditempelkan ke punggung si sakit untuk menyalurkan hawa murni.

Tak kurang dari sepeminum kopi lamanya, pernapasan yang penuh sengal berangsur teratur.

“Te… terima kasih atas kebaikan Nona yang telah menolong saya,” ucap pria tersebut sambil berpaling ke arah Hanny.

“ Tidak apa-apa, Pak. Sudah menjadi kewajiban sesama kaum persilatan untuk… Lho, Mas Aldy…?” kaget Hanny.

“Hah… Kamu? Mbak Hanny? Yang dulu biasa inbokan di blog keroyokan versi lama itu, kan? Wah…”

Sesaat keduanya terpana, untuk kemudian tawa meletup melalui bibir keduanya.

“Kita kayak lagi kopdar aja yah, Mas Aldy, hihihi…”

“Iyah, Mbak Han, Padahal era kopdar-kopdaran dah lama berlalu. Dasar juru ketiknya kurang kerjaan, masa pertemuan menyedihkan seperti ini malah dirubah jadi aneh. Mana saya ditempatin di peran konyol yang terus muntah lagi. Untung aja udah enggak campur kentut, tapi tetap kurang gagah rasa kependekarannya kan? Haha…”  

(Bersambung ke babad yang ke-5: Cinta Menari di Gerimis Pedang).

 

Secangkir Kopi Legenda Silat Indonesia, Babad yang Ke-4, ThornVille, Tahun Belajar Bikin Cersil Pertama Kali.

*Karya Ini Orisinil dan Baru Sekali Dipublikasikan…^_