Nasionalisme Bakpia Rasa Orek Tempe

Pemimpin Bayangan III
Karya Pemimpin Bayangan III Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 28 April 2016
Nasionalisme Bakpia Rasa Orek Tempe

Cerita Silat Usil Menyentil "Cinta Menari di Gerimis Pedang", Babad yang ke-2.

 

Cerita sebelumnya:

Geger di Tanjung Priuk: Siapa Penjahat Sebenarnya?

***

 

Tersuruk-suruk Dayat mengikuti langkah sakti sosok sengak berhidung gondrong yang kini menggandengnya. Matanya perih, hidung berair, dengan tamparan angin yang luar biasa keras efek gerak mereka berdua yang supersonik.

“Tarik nafasmu pelan-pelan, putar sejenak di rongga antara perut dan diafragma, endapkan sesaat, lalu hembus kembali secara zig-zag,” bisik sosok sengak yang menggandengnya itu.

Dayat mengikuti instruksi itu dengan cepat. Satu kali. Dua kali. Tetap tak ada perubahan yang berarti. Baru pada kali yang ke sembilan belas cara tersebut mulai membuahkan hasil. Ada hawa hangat yang menggumpal di dalam perutnya, yang perlahan menjalar secara adil ke seluruh tubuh.

Seperti tiba-tiba saja Dayat tak lagi merasakan siksaan kecepatan. Matanya dapat terbuka secara normal. Begitu juga semua pori di wajahnya, tak lagi sakit seperti sebelumnya. Hanya saja ia masih merasa ngeri melihat pohon dan bangunan yang seperti bergentayangan amat cepat di kiri-kanan jalan yang mereka lalui.

“Sudah merasa lebih baik?” tanya sosok di sebelahnya.

Dayat mengangguk dan mengucap terima kasih. Dilihatnya sosok itu hanya tersenyum tipis.

Entah berapa lama Dayat terus melakukan pernafasan seperti yang diajarkan tadi, ketika tiba-tiba ia merasa ada guncangan keras menerpa tubuhnya. Ulu hatinya terasa agak nyeri, dengan beberapa rasa kebas yang mendampar di bahu sebelah kiri.

“Tahan sebentar, ada serangan susulan dari arah jam 10,” bisik sosok sengak sambil melambung tinggi ke sudut Timur Laut.

Wutt…!

Tak urung Dayat merasa jari kakinya agak linu terserempet entah apa. Kuku jempolnya pecah berlumur darah.

“Kau tunggu di sini sebentar.”

Belum lagi Dayat sempat menjawab, ketika beberapa jerit yang penuh kengerian merobek keheningan di beberapa tempat yang berlawanan. Cepat sekali gerakan sang Pemimpin ini, demikian pikir Dayat.

“Sniper,” bisik sosok sengak berhidung gondrong itu, sebelum akhirnya mereka kembali melesat menembus malam.

***

 

Malioboro, Waktu Indonesia Bagian Entah.

“Coba yang ini, Day, bakpia rasa gado-gado. Kabarnya limited edition” tawar sosok sengak berhidung gondrong.

Dayat mencomot sebuah dan langsung menggigitnya dengan amat lahap karena semalaman mereka berlari tanpa sempat berhenti makan di warteg manapun.

Tapi baru dua kunyahan, mendadak Dayat melepehkan bakpia di mulutnya sambil ber 'hah-hah' tak karuan.

“Pedas sekali, Paman, bagi air mineralnya, dong...” tanpa menunggu persetujuan Dayat langsung menyaut botol dan meneguknya. “Tapi betewe, nama Paman siapa, dan mengapa saya Paman culik?”

“Panggil aku Paman Bay saja, Day” jawab Bay kembali menyodorkan kotak bakpia ke Dayat. “Pilih yang rasa orek tempe saja, dijamin tidak pedas.”

Habis separuh kotak, barulah Bay memulai pembicaraan serius bersama Dayat.

“Kau pernah mendengar kisah tentang Sunan Kalijaga?”

Dayat menggeleng malu. Sebab di kehidupannya yang serba modern ini, dia memang tak terlalu dekat dengan segala yang berhubungan dengan agama.

“Dalam Babad Jaka Tingkir terekam bahwa pembangunan Masjid Demak sebagai masjid tertua di Jawa, didirikan tanpa terlebih dahulu menentukan arah kiblat, hingga ketika rampung, delapan Wali yang bergotong-royong membangunnya berdebat cukup pelik. Tahukah kau bagaimana akhirnya perkara tersebut selesai, Day?”

“Mungkin mereka menentukannya melalui voting, Paman Bay, atau bisa saja melalui adu kesaktian.” suara Dayat mulai terdengar penuh hasrat. Tertarik.

Paman Bay terkekeh.

“Kau terlalu banyak menonton fiksi politik dan film kungfu murahan, Day.” ucap Paman Bay seraya melanjutkan kembali kisah nyata yang seringkali terlihat amat mistik itu.

Akhirnya wali kesembilanlah yang dapat menyelesaikan perkara pelik itu. Beliau bergelar Sunan Kalijaga. Beliau bertafakur sejenak, untuk kemudian tangan kanannya menjangkau Ka’bah di Mekah dan tangan kirinya merengkuh pucuk (sirah gada) Masjid Demak. Ditariknya keduanya hingga akhirnya bertemu, sewujud, bertaut:

"Payok Kakbah lawan sirah gada masjid

Dèn-nyataken sawujud

Cèples kenceng datan mènggok"
.
Dan Islam yang “universal” (Ka’bah) bertaut dengan Islam yang “partikular” (Masjid Demak). 
.
Yang satu tak menghilangkan yang lain, tentu saja selamanya ada latar sejarah setempat dalam tafsir.
.
Tapi ortodoksi mencoba menampik unsur sejarah setempat itu, yang gerakan awalnya bermula setelah Nabi tak ada lagi. 
.
Dalam memperebutkan pengganti Rasulullah, tiap kubu menghadapi persoalan yang sama, yaitu  bagaimana Nabi terasa hadir secara asli? Dan untuk mendapatkan yang “asli” itulah kemudian agama dibersihkan dari jejak sejarah dan lokalitas. Yang dekat pun dihilangkan, yang jauh jadi idaman, sebagai sesuatu yang tegar dan wajib tunggal.
.
Dan Masjid Demak sejatinya tak pernah mengacu kepada semua kekonyolan tersebut. Karena Sunan Kalijaga alih-alih membuat tiang dari batu, bata, ataupun balok, justru menyusunnya dari tatal: lapis kayu yang mengeriting yang terbuang ketika permukaan papan diratakan dengan ketam. Sebagai simbol bahwa masjid sejatinya didukung oleh mereka yang yang terbuang, yang remeh, dan yang tak bisa disusun rata. Karena masjid bukanlah rumah Tuhan yang berdiri karena fondasi yang lurus dan tegak dalam kekakuan, juga bukan dengan lembing dan tahta, yang terlahir dari kekerasan dan kekuasaan.

“Dari sanalah semua bermula, Day, hingga puncaknya pada pemilu presiden yang lalu, yang membuat begitu banyak elemen bangsa ini terpecah-belah.”

“Tak dapatkah semuanya diubah seperti masa sebelumnya, Paman?”

“Agak sulit, Day, karena ketika agama telah menjadi tujuan dan bukannya sekedar ‘jalan’ menuju Sang Maha Segalanya, saat itulah agama tak lebih bermakna dari sekedar stempel pelegal kebiadaban. Agama yang satu menjatuhkan agama yang lain. Bahkan agama yang sama begitu gemar melempar caci menukar maki, menyembunyikan Allah di lapis kepentingan yang ke entah berapa, yang sejatinya mesti menjadi yang paling utama dari yang utama.”

Agak pusing juga Dayat mencerna semua pembicaraan Paman Bay, hingga akhirnya ia hanya mampu terdiam. (Bersambung ke babad yang ke-3: Tujuh Pukulan Korupsi Penuh Bisa).

 

Secangkir Kopi Legenda Silat Indonesia, Babad yang Kedua, ThornVille, Tahun Belajar Bikin Cersil Pertama Kali.

*Karya Ini Orisinil dan Baru Sekali Dipublikasikan…^_


  • Dinan 
    Dinan 
    2 tahun yang lalu.
    Nah, ini baru asyik.
    *promo deh

    • Lihat 5 Respon

  •   Kurirperasaan063
     Kurirperasaan063
    2 tahun yang lalu.
    Mbakpia, bapuk, sephia, Sophia,

    BTW masbayyy ,Biasa makan apa Sebelum menulis, lancarjaya banget

  • Silmi Kaffah
    Silmi Kaffah
    2 tahun yang lalu.
    Bakpia dengan rasa yang dulu pernah ada~

  • Ariyanisa AZ
    Ariyanisa AZ
    2 tahun yang lalu.
    Tulisan bagus, layak promo ^_
    *versi Bay kelana inspirasi padepokan inspirasi.co

  • Genta Kalbu
    Genta Kalbu
    2 tahun yang lalu.
    Tulisan berseri mas bay unik, saya suka _^
    Membayangkan bagaimana serunya isi kepala sang penulis saat menyusun tulisan ini ... _^
    *kayak nonton petualangan James Bond di jogjakarta mencari cinta #aiihhh #apaansih mueheheheee

    • Lihat 5 Respon