(Bedah Karya Inspirator #2) Versi Cersil Usil Menyentil… ^_

Pemimpin Bayangan III
Karya Pemimpin Bayangan III Kategori Proses Kreatif
dipublikasikan 26 April 2016
(Bedah Karya Inspirator #2) Versi Cersil Usil Menyentil… ^_

Setelah sebelumnya terposting review karya ‘Inspirator Peliris’ pada link yang ini, kali ini giliran ‘Inspirator Perenung’ yang karyanya saya kutilin, dengan versi yang sengaja dibuat ‘agak tak biasa’. Monggo langsung diseruput kopinya, Gan… ^_

***

 

Tebing Jomblo Berjoged, Waktu Indonesia Bagian Bedah Kiamboh.

“Ada yang menyusup ke tempat kita tanpa izin, Na,” bisik Bay sambil tetap meneruskan latihan gabungan Jurus Pedang Hujan dan Pukulan Kitab Catatan Seorang Sufi. Tubuhnya berpusing kian kencang searah jarum jam, sambil sesekali melontarkan hawa pukulan ke berbagai penjuru. Sementara pada jarak sehasta di atas tubuhnya, seorang pendekar wanita cantik justru berputar ke arah sebaliknya, sambil tak henti memainkan Tarian Pedang Hujan yang menyerupai kilau pelangi.

“Luar biasa…!!!” entah dari mana datangnya, di hadapan Bay dan Na kini berdiri seorang taysu bergamis putih.

“Siapa taysu sebenarnya, dan ada perlu apa datang ke tempat kami?” tanya Bay tegas. Jubah hitamnya sedikit bergetar terbawa sisa putaran yang barusan dihentikan. Sementara Na tegak di belakangnya dengan pedang terhunus.

Tapi alih-alih menjawab, taysu bergamis putih itu malah menyodokkan kedua telapak tangan ke arah Bay dengan pengerahan tenaga dalam penuh, yang disusul dengan gerakan menyerupai Selusin Malaikat Berdendang Bareng.

“Jurus Seminggu Bercakap dengan Jailani… !!! seru Bay terkejut sambil bergerak zig-zag menggunakan gerakan Langkah Bayangan Menuju Sinar andalannya. Tangannya sibuk menyentil kanan dan kiri menahan serangan taysu tersebut, dengan gerak kaki yang terus zig-zag super cepat hingga nyaris mendekati kecepatan cahaya.

Belum lagi Bay mengambil napas ketika taysu bergamis putih tersebut kembali melancarkan serangan beruntun. Kali ini tubuhnya menjadi satu dan meluncur bagai meteor ke arah Bay.

Tak sempat berpikir panjang, tanpa sadar Bay memapak serangan taysu dengan jurus Tapak Kerinduan yang Memuncrat dengan tangan kiri, sementara tangan kanan memutar ritmis melancarkan jurus Aku Ingin Mencintaimu dengan Sempak yang Paling Sederhana, yang pernah dia pelajari dari Suhu Saparji Joko Celono.

Akibatnya sungguh fatal. Bay terpental lima tombak ke belakang buah tumbukan arus tenaga dalam taysu. Tubuhnya terjajar di dinding tebing, dengan bibir melelehkan darah segar.

“Kau tidak apa-apa, Bay,” Na menghampir dan mengusap leleh merah di sudut bibir Bay, sebelum kembali berkata, “Lebih seriuslah dikit, Bay. Kali ini kau bukan membuat postingan untuk warga Planet Kenthir di lapak sebelah, jadi tak usah lagi menggunakan kitab Legenda Sempak Terlarang yang tak ahsan nama jurus-jurusnya itu.”

Insyaf akan kesalahannya, kali ini Bay bangkit dengan lebih gagah. Dia himpun segenap lwekang yang dimiliki hingga jubah hitamnya menggembung dipenuhi hawa sakti, untuk kemudian melangkah setindak demi setindak mendekati taysu bergamis putih itu.

“Rupanya taysu yang bernama Dinan dan berjuluk Pendekar Hutan Larangan itu,” cibir Bay, membuat wajah taysu berjubah putih tersebut terperangah kaget.

“Da-dari mana tayhiap tahu nama dan gelar boanpwe?”

“Bukankah taysu adalah anggota Partai Lembah Inspirasi yang baru terbentuk itu? Yang dengan tujuh jurus pamungkas Seminggu Bercakap dengan Jailani sempat mengguncangkan rimba persilatan? ”

Kembali taysu itu terdiam, sebelum akhirnya berkata, “Benar, boanpwe yang bernama Dinan. Dan boanpwe kemari hendak menagih bedah kiamboh yang pernah tayhiap janjikan.”

“Baik. Coba taysu serang cahye dengan tujuh jurus pamungkas dari kitab pusaka perenungan taysu itu,” tantang Bay dengan sikap angkuh, membuat merah padam sekujur wajah Dinan.

Tanpa menunggu lagi, Dinan langsung menyerang Bay dengan jurus Tak Ada yang Tak Ada, karena Ada adalah Ada sambil berteriak, “SENIN…!!!”

“Jurus pembuka yang amat bagus…!!!” tanpa sadar Bay berteriak kagum. Diperhatikannya sejenak jurus pertama Dinan yang terpecah menjadi serangkaian gerakan, mulai dari gerak ‘pembuka’ hingga ‘inti’ juga ‘penutup’, yang kesemuanya memang termasuk gerak pilihan yang tak perlu diubah lagi.

Tak puas-puas Bay membaca jurus demi jurus yang dilontarkan Dinan ke arahnya, sambil sesekali membalas dengan jurus Kukosongkan Isiku Kau isikan Kosongku yang dipadu dengan jurus Aku Kosong Kau Isi Aku Isi Kau Tetap Isi.

Melihat jurus pertamanya mendapat pujian, Dinan kian bersemangat memamerkan kehebatan permainannya.

“SELASA… !!!”

Tapi pada jurus kedua ini Bay mulai mengernyitkan dahi.

“Terlalu fluktuatif, Dinan. Dan buanglah dua ‘jurus’pembuka pertamamu karena tak bagus jika dibukukan dalam sebuah kitab pusaka.”

“Bagaimana dengan jurus Mengapa Kalbu dapat Mengenal-Nya ini? Juga jurus yang ini…?!!!” seru Dinan sambil membentuk gerakan menyelam ke kedalaman hati dengan jurus Tahapan Pencarian Manusia dimulai dengan Mengenal-Nya. Tubuhnya berjumpalitan ke udara, sebelum akhirnya menyerang Bay dengan gerakan-gerakan yang amat kaku.

Bay mengimbangi amat santai dengan jurus Tak Kenal Aku Tak Paham Dunia, Kenal Aku Kenal Jagat Raya. Tubuhnya meliuk menjenguk jiwa sambil mengekang ego dan hawa nafsu dengan gerakan yang agak patah.

Tapi bahkan dengan gerak monoton seperti itupun Dinan telah keteter hingga nyaris terjerembab oleh jurusnya sendiri yang kaku njeku itu, membuatnya meringis sedih sambil berkali-kali menatap Bay dengan pandang penuh tanya.

“Gerak jurusmu yang ini terlalu monoton, Dinan, baiknya kau penggal saja sebab jurus yang saya gunakan untuk mematahkan gerakanmu tadi bahkan jauh lebih luwes,“ jelas Bay. “Dan tahukah kau, Dinan, jurus tersebut kuambil dari kiamboh hasil perenungan Kho Ping Hoo yang bercampur ajaran Kong Hu Cu, yang terbit puluhan tahun lebih dulu dari jurus-jurus milikmu, yang juga membuat pendekar lain enggan ‘mempelajarinya’ selain hanya membaca sekilas lalu melewatinya.”

“Apakah kau justru ingin mengulangi keburukan yang sama dari masa puluhan tahun yang lalu, Dinan…?!” tanya Bay dengan suara datar namun penuh hawa yang membuat nyelekit.

Agak termenung Dinan mendengar apresiasi dari Bay, sebelum akhirnya dengan kepercayaan diri yang mulai goyah dia kembali melangsungkan serangan dengan jurus Rabu gubahannya.

Tapi pada jurus Rabu itulah mata Bay tak henti berkedip. Ditatapnya manik-manik mata Dinan dengan sorot setajam sembilu, sebelum akhirnya berubah menjadi pandang yang amat hangat.

“Jurus yang amat menawan, Dinan. Walau mengingatkanku pada jurus yang ini” ucap Bay sambil menggoyang tubuhnya dengan gerakan Hebatnya Manusia dalam Episode Matari, yang disusul dengan tepukan ringan mengarah ke jidat (*Tepok jidat… ^_) dengan jurus Sebuah Kado untuk Rasulullah.

Dan ketika empat buah telapak tangan mereka yang penuh hawa sakti bertemu, tak terjadi apapun, seakan lwekang masing-masing memang berasal dari aliran perguruan yang sama hingga tak menimbulkan letupan juga gejolak sedikitpun.

“Sekarang kau percaya ucapanku bukan, Dinan, bahwa jurus yang kita mainkan masing-masing barusan memang tak ubahnya seperti kembar siam.” senyum Bay. “Hanya saja jurus pembukamu terpaut terlalu jauh dengan jurus Selasa, membuat rangkaian jurusnya jadi terkesan agak dipaksakan kecuali jika kau memang berniat memperpanjang jumlah jurusmu agar dapat ditawarkan ke media pendekar mayor.”

Mendapat pujian dari lawan, sontak gairah Dinan meng-ekstase. Tanpa menunggu waktu lama dia lancarkan pukulan Kamis dengan penuh khusyuk. Dikeluarkannya segenap kemampuan yang dimiliki untuk kemudian disalurkan ke dalam jurus demi jurus yang amat beruntun.

Akibatnya sungguh bukan kepalang dahsyatnya, yang bahkan sempat membuat Bay gelagapan untuk mengimbanginya!

“Jurus yang amat matang… ! HIYAAA…!!” teriak Bay dengan keras dan bersemangat. Lalu sambil tersenyum lembut dia berkata kepada Pendekar Pedang Hujan yang sejak tadi mengawasi dengan penuh sungguh,  “Imbangi permainan jurusku, Na…”

Bay menahan pukulan Sudahkah Engkau Membersihkan Hatimu yang dikeluarkan Dinan dengan pukulan Menolak Neraka Mengetuk Pintu Surga, sementara pukulan susulan Dinan yang menggunakan jurus Tujuh Puluh Tiga Cabang Islam Mengaku yang Paling Benar, dihalangi oleh kelebat pedang Na menggunakan jurus Bersama Gerimis Menghapus Sedih Nan Mengiris yang digabung dengan jurus Dari Hujan ke Hujan Aku Semakin Tak Paham tentang Hujan.

Dan ketika arus pukulan Dinan mencapai puncak kegemilangannya lewat jurus Pelajari Jalan Bersandar Kalbu, mau tak mau memaksa Bay memaparnya dengan jurus Mengapa Doa Tak Kau Ucap Sesungguh Kata, yang merupakan jurus gabungan pamungkas dengan Tarian Bianglala Memulas Angkasa milik Na.

Tapi sayangnya itu semua belum cukup untuk menahan gempuran pukulan Dinan, hingga akhirnya dengan amat serius Na mulai menggerak-gerakan pedang dengan putaran Butir Hujan Membasuh Nyeri yang amat gemulai, yang disambung dengan Tarian Hujan Membias Pelangi.

Tubuh Na berpusing di udara, dengan sinar pedang yang berkelebat-kelebat membungkus seluruh dirinya dengan amat menawan, membuat Bay kembali meleletkan lidah buah kekaguman akan keindahan jurus yang amat luar biasa itu.Walau sebenarnya ini bukanlah yang pertama kali bagi Bay.

“Masuk, Bay!” seru Na dengan memainkan Gerimis Pedang Menyeka Penjuru Dunia.

Dengan hati yang masih grogi seperti dulu, Bay langsung menyelusup ke dalam tarian pedang Na. Kakinya melangkah zig-zag mengiringi gerak tubuh Na menggunakan Langkah Bayangan Mengejar Sinar dengan putaran arah yang berlawanan, sementara tangannya sibuk melancarkan pukulan tanpa bayangan Mencari Rahmat Memohon Syafa’at, Akhlakmu Cermin Ibadatmu serta Bersama Meniti Jalan Menuju Tuhan Tanpa Cacian dengan amat sebat.

Dua tubuh kembali mengulangi masa lalu dalam jajar ke atas yang mengharmoni, dengan tubuh Bay berputar ke kiri di bagian bawah, dan badan Na berpusing searah jarum jam beberapa cun di atas kepala Bay, hingga memercikkan medan hawa murni yang luar biasa besar.

Dan ketika Dinan kembali melancarkan rangkaian jurus Seminggu Bercakap dengan Jailani bagian Kamis dengan kekuatan yang seakan tanpa batas, langsung digempur melalui kekuatan gabungan milik Bay dan Na.

DUARRRR!!!

Dentuman besar menggema ke seluruh penjuru Tebing Jomblo Berjoged, yang terus menggema hingga tak kurang dari satu jam lamanya, meninggalkan jejak ledak serupa cendawan yang pernah terbentuk di atas reruntuhan Hiroshima dan Nagasaki.

Beberapa waktu kemudian saat kabut bebatuan mulai menipis, terlihat tubuh Bay tegap berdiri dengan garis wajah mengeras, sebelum akhirnya berteriak kencang dengan menggunakan jurus Lantunan Kedasih di Pekuburan Sunyi.

Teriakan tersebut bukan sekedar lengking kemenangan belaka, melainkan satu dari sepuluh jurus penyembuhan tertinggi yang terdapat dalam kitab Catatan Seorang Sufi. Sementara Na tengah asyik duduk bersandar di tebing sambil meneguk buli-buli berisi kopi peram yang pernah amat tersohor itu.

Setelah dirasa cukup menormalisasi jalan darah Dinan yang mengalir kacau, Bay menghentikan teriakannya.

“Terimalah hormat boanpwe untuk Suhu dan Subo… !!!” teriak Dinan lantang sambil melakukan gerakan menyembah layaknya murid kepada guru.

“Tak perlu banyak peradatan, Dinan, karena cayhe adalah Bay si bebas yang gemar bye ke siapapun hingga tak akan bisa menjadi guru yang baik, bahkan bagi diri dan pengalaman sendiri,” tolak Bay sambil mengibas ujung lengan jubah hitamnya, membuat Dinan yang telah setengah tersimpuh mencelat kembali dalam kondisi berdiri yang amat tegak.

“Mari kita nikmati bersama kopi peram khas buatan istri cayhe,” Ajak Bay sambil mem-pukpuk bahu Dinan.

Sejenak Dinan menghentikan langkah teringat bahwa kopi peram, kabarnya diracik dari biji kopi pilihan yang dicampur dengan tumbuhan beracun amat ganas dari jenis bunga bernama Cinta yang Menggebu Terlalu DiniRumput Kerinduan Penghancur Konsentrasi serta Akar-Bahar Dusta Kehidupan dan sedikit saripati Daun Kasih Tak Sampai. Benar-benar jenis minuman yang amat buruk bagi para jomblo perjuangan manapun… ^_

Tapi senyum Bay dan Na membuyarkan kekhawatiran Dinan, karena bagi teman sejati, kepercayaan adalah segalanya, tanpa tapi tanpa walau.

Bersama mereka melewati malam di Tebing Jomblo Berjoged, dengan suguhan kopi peram plus persahabatan serta tali ukhuwah yang tak sekedar nyantel di lidah.

***

“Kiamboh Seminggu Bercakap dengan Jailani gubahan taysu bagus, hati dan jiwanya terasa sekali.”

“Terima kasih, Lihiap, Na. boanpwe hanyalah seorang pendekar kroco dalam dunia perfiksian, yang belum pantas untuk mendapat sanjungan dari Lihiap.”

“Taysu memang rendah hati... Tapi taysu masih ingat, kan, apa kewajiban utama seorang pendekar fiksi?”

“Mengedit.jurus”

“Dengan hati?”

“Tak sekedar itu, Tayhiap Bay, melainkan juga dibarengi ilmu.”

“Lupakan ilmu perguruan yang monoton itu, taysu, yang kerap kali gagal membuat kita menjadi lebih kreatif dalam membuat kiamboh, yang justru malah menjebak segalanya menjadi kaku serta terpenjara.”

“Terus, boanpwe harus bagaimana guna meningkatkan kualitas?”

“Perbanyak baca kiamboh hebat buatan pendekar fiksi yang telah mumpuni. Amati, tiru serta modifikasi.”

“Hanya itu?”

“Tidak juga. Karena bisa pula taysu menikah dengan pendekar fiksi yang lain, dijamin bakalan langsung meningkat kiamboh buatan taysu, karena dibantu edit oleh pasangan… ^_”

“Ha-ha.”

 

Tebing Jomblo Berjoged, 26 April, Taoen Bedah Joeroes.

*Buat Dinan: Jurus Jum’at dan Sabtu sebaiknya dibreidel ulang saja dengan mengacu pada kebagusan jurus Rabu dan Kamis, dan jangan terjebak pendapat yang mengatakan bahwa jurus tersebut luar biasa, karena yang dipakai tentu saja kacamata kualitas karya secara keseluruhan, dan bukannya hanya kandungan tema. Hati-hati. Lihat pula masukan pada kolom komen… ^_

Sementara untuk jurus Minggu, bisa juga buang opening, Pak Andi dan Ayah, lalu mulailah dari ‘kopi ayah’. Sementara ending Nabi Khidir tak usah disertakan mengenai metafisika sayap, dll. Atau jikapun tetap dipakai, sudahi dengan ending menggantung sebatas tersibaknya identitas Jailani sebagai Nabi Khidir oleh Ihsan, dan bukannya berdasarkan pengakuan Jailani sendiri karena dapat menjebak kepada ending non twist. Dan batasi sampai tersibak, tanpa perlu ada tambahan yang lainnya… ^_


  • Ariyanisa AZ
    Ariyanisa AZ
    2 tahun yang lalu.
    Baca ini, betapa saya masih merasa sebagai yesterday afternoon child, anak kemaren sore

    • Lihat 30 Respon

  • Bambang Setyawan
    Bambang Setyawan
    2 tahun yang lalu.
    Ane juga suka hahahaha

    • Lihat 1 Respon

  • Irfan Kriyaku.com
    Irfan Kriyaku.com
    2 tahun yang lalu.
    Rebahan aaah...

  • Shinta Siluet Hitam Putih
    Shinta Siluet Hitam Putih
    2 tahun yang lalu.
    Pak nitip sepeda dlu, nanti saya mampir sini lagi...

    • Lihat 6 Respon

  • Anis 
    Anis 
    2 tahun yang lalu.
    kereeeeen

    *komen ini telah disunting

    • Lihat 31 Respon