Bedah Karya Inspirator Perdana… ^_

Pemimpin Bayangan III
Karya Pemimpin Bayangan III Kategori Proses Kreatif
dipublikasikan 20 April 2016
Bedah Karya Inspirator Perdana… ^_

Seperti yang pernah saya posting dalam “Apa yang Kita Cari di inspirasi.co? (Tanggapan Buat Pengelola dan Inspirator),” Bedah Karya Perdana kali ini jatuh pada karya Inspirator Tias yang berjudul: Sang Angin.

Opening amat memikat dikucurkan Tias melalui paragraf berikut, yang berfungsi ganda sebagai narator pembuka kisah sekaligus tokoh utama. Langsung cek ke TEKAPE yah, Mblo #eh… ^_

 

Aku ingin ucapkan banyak hal padamu, terutama tentang kisah kita yang kamu pasti tak tahu. Bahwa sinar mentari pagi pernah membantuku menemukan sosokmu di antara uap embun pagi dan rumpun benih padi. Bisik angin sering mengantar degub jantungku ke ruang hampa di antara kita. Bahkan, dinding dengan cat pucat, yang ringkih, lapuk, retak, pun pernah menyangga bahuku saat kamu melangkah di antara kicau sore.

 

Walau kalimat pertama agak miskin diksi dan baiknya dikutak-kutik lagi, namun penggunaan majas personifikasi pada kalimat selanjutnya cukup asyik untuk direka-reka dalam benak.

Dalam postingan perdana berjudul Sang Angin : Tiupan Prasasti ini kita akan menemukan untaian kata indah yang asyik buat teman ngopi, seperti, Diam, adalah caraku berdoa di antara embun pagi...” atau Lalu waktu memisahkan sinar mentari dari embun pagi, merampas jejak-jejak langkahmu dari angin pengayun benih padi” serta banyak lagi yang lainnya, yang langsung menghasut untuk berpikir bahwa proses kreatif di belakang karya ini sepertinya cukup berliku serta penuh edit. Bahkan Al Mukarom Polisi Bahasa yang biasa memberi komen stereotif berbentuk sempritanpun kali ini mencantelkan komen yang sangat berbeda… ^_

 

 

Intermezzo sedikit. Selain dalam karya Tias, Al Mukarom Polisi Bahasapun pernah memberi komentar yang mengejutkan seperti yang tertera dalam gambar ini, yang bisa saja bukan efek kesempurnaan EYD dkk, melainkan karena tema, diksi dan atau yang lainnya, walau hal tersebut amat jarang dilakukan mengingat fokus beliau yang pyur-plek urusan bahasa… ^_

 

 

Satu-satunya kelemahan yang dimiliki adalah bahwa chapter pembuka yang semodel ini lazim dilakukan oleh penulis ‘yang telah punya nama’ dan memiliki –meminjam bahasa CEO inspirasi.co- lingkaran pembaca sendiri hingga bisa berkreasi kata sebebas, selepas serta seliris-lirisnya tanpa butuh khawatir akan ditinggalkan oleh pembaca.

Bagaimana jika Tias adalah penulis pemula?

Saya pikir ada baiknya jika Tias lebih memasifkan bab tersebut hingga hanya tersisa sepertiganya, misalnya, agar tak terjerumus menjadi bab yang membosankan dan atau bertele-tele. Menghapus paragraf kedua dan ketiga, dengan tetap mempertahankan paragraf keempat yang digabung dengan paragraf keenam tanpa butuh mempertahankan paragraf kelima.

Begitu seterusnya proses mutilasi paragraf yang baiknya dilakukan –walau biasanya amat tak menyenangkan serta sukar ikhlas- hingga akhirnya benar-benar tersisa maksimal tiga paragraf saja. 

Atau jika memang sayang, bisa pula dengan menukar bab pembuka dengan chapter 2 dalam postingan Sang Angin : Penantian Bersama Mentari Timur yang sekali lagi dengan pura-pura sadis saya saran ulang untuk membreidel empat paragraf pertama, serta langsung masuk ke paragraf lima sebagai pembuka.

Sampai di sini mungkin Tias –dan rekan inspirator yang membaca- akan bertanya, mengapa banyak sekali paragraf keren liris manis kinyis-kinyis justru harus dipenggal? Apa dosa dan salah mereka hingga harus mengalami genocide seperti itu? Hiks… T_

Saya jawab, tak ada. Mereka tak salah sebab bahkan yang berada di penjara saat inipun seringkali bukanlah penjahat yang sebenarnya melainkan korban percaturan Sang Dalang #Lho?

Semua hanya mengenai ‘menarik minat awal’ pembaca, dalam hal ini adalah calon pembeli novel tersebut, yang data terbaru dari komen penulisnya kepada saya mengabarkan bahwa tak lama lagi naskah buku tersebut siap menjadi draf yang masuk penelitian proof.

Dan lazimnya buku yang ‘taiching’ maka wajib mengamankan 3 bagian tubuh terlarisnya: Bab awal, tengah dan akhir, karena pada titik itulah biasanya calon pembeli pertama kali mengintip serta mencicip, yang setelah dirasa syedap maka barulah transaksi siap untuk dilakukan.

Untuk contoh mengenai hal tersebut sila intip sekilas postingan “Teror Jempol Setan” yang awalnya hendak saya semplak ke penerbit anak-anak namun berbelok menjadi pembuka even di salah satu komunitas.

Jika rajin, sila lihat openingnya yang langsung masuk ke konflik utama sebagai pemikat rasa penasaran, lalu pindai pula bagaimana opening tersebut kemudian ‘disisipi’ paragraf-paragraf penjelas yang sukar kinclong karena memang tak semua kata mampu kita reka dengan amat cerlang. Karena yang wajib kita lakukan hanyalah, “Berusaha semaksimal mungkin mengedepankan kelebihan yang dimiliki, dengan menyembunyikan kekurangan yang ada dibagian yang tak kasat mata lalu nemenutupnya dengan ending yang mengandung rasa apapun selain kewajaran.”

Namun semua penjelasan di atas menjadi langsung batal jika Tias menerbitkan Novel Sang Angin secara pribadi, misalnya, atau demi keperluan ‘hanya sekedar mendokumentasikan karya’ dan atau untuk dibagikan secara gratis kepada orang-orang terdekat dengan cetakan sebanyak minimal 100 eksemplar. Karena jika begitu, mau seperti apapun naskah yang dibuat benar-benar wewenang qath’i dari penulisnya tanpa perlu pertimbangan apapun lagi… ^_

Dan menerbitkan buku sendiri secara mandiri belum tentu sebuah kekurangan. Jika tak salah ingat, banyak kisah heroik perbukuan yang dimulai dari mencetak buku dan menjualnya juga sendiri. Dari dalam negeri yang masih terbilang gress bisa diwakili oleh Dedi Padiku dengan buku ‘Mengejar-Ngejar Mimpi’. Juga Robert T. Kiyosaki dengan serial Rich Dad’s-nya yang lumayan bikin hidup mapan itu, yang awalnya dicetak dan dijual sendiri di pom bensin. Atau penulis yang karyanya kini sekali cetak tak kurang dari angka 1 juta kopi, siapa lagi kalo bukannya John Grisham… ^_

Atau jika masih minder dengan cara tersebut, sila oper ke penerbit ‘abu-abu’ yang bukan penerbit mayor namun tak masuk kelompok grup indie yang seringkali menipu dengan gaya PoD-nya (Print on Demand) yang meminta biaya pencetakan, karena harusnya penerbit indie bebas biaya apapun.

Juga penerbitan model terbaru yang kini banyak bermunculan, yang khusus melayani penerbitan dalam bentuk ebook dan dijual di Google Play Store dan lain-lain, yang juga gratis serta memiliki jangkauan pemasaran ‘cukup mendunia’.

Atau… Udah, ah, jadi melebar kemana-mana… ^_

Kembali ke leptop. Pada masa awal bergabung di inspirasi.co, saya membiasakan diri untuk membaca postingan yang masuk perhari: Semua postingan! Yang sebisa mungkin tanpa satupun karya yang terlewat untuk dibaca, di-like atau diberi komen minimal senyum setengah khas milik saya yang setengahnya lagi terampas oleh pekatnya hidup #eaaa… ^_

Dan pada masa itulah saya –dalam tanda kutif- kepincut oleh karya beberapa  rekan inspirator yang mulai unjuk gigi (dan bukannya unjuk ‘Plak!’ gigi ala Om Ridho, yah… ^_), termasuk karya Tias salah satunya, hingga akhirnya lahirlah artikel ini… ^_

Untuk chapter dua ini Tias belum cukup menjelaskah tokoh serta setting masa kejadiannya. Sebuah kekurangan sekaligus kelebihan yang cukup keren bagi saya pribadi untuk kepo ke bab yang selanjutnya. Hingga akhirnya pada chapter tiga berjudul, Sang Angin : Menyusup ke Perpustakaan,  saya baru tersadar jika karya Tias satu dari sangat sedikit karya yang sempat mengundang keheranan saya. 

Mengapa? Karena saya merasa karya Tias ini agak anomali. Koq bisa yah, cerita dengan pendekatan 'tell' seperti ini tak membosankan untuk dibaca? Apakah karena temanya yang bagus, atau memang kepiawaian penulisnya dalam menggarap kisah?

Dan hal itu langsung mengingatkan saya pada deretan testimonial karya Hemingway yang berjudul ‘Pak Tua dan Ikan Gabus’ #eh… Maksud saya The Old Man and The Sea’, walau tentu saja kelasnya berbeda (Maaf yah, Tias… ^_). 

Hingga akhirnya pada chapter keempat berjudul, Sang Angin : Hembusan (masih) di Perpustakaan, saya benar-benar kepincut dengan gaya Tias memasukkan unsur serta istilah biologi ke dalam kisah secara amat wajar dan alami.

Dan itu adalah sesuatu yang lumacan lusinga lukambing sulit, yang bahkan saya pribadipun kadang butuh banyak merenung guna ‘menyinkronkan’ data khusus yang serupa itu ke dalam cerita. Hingga akhirnya pada chapter lima berjudul, Sang Angin : Kejutan Semilir Pagi, Tias mengalami ‘cegukan’pada paragraf pembukanya, membuat saya menduga bahwa sebenarnya bab lima ini awalnya merupakan ‘outlines’ tersendiri dan atau dibuat secara terpisah yang bisa jadi proses kreatifnya duluan, dengan Tias lengah untuk ‘menaturalisasikannya’ ke dalam rangkai kisah yang sebelumnya.

Kekurangan itu masih berlanjut dengan susulan paragraf buruk berikut ini:

Oh iya, di Sang Angin: Berhembus di Perpustakaan, aku ceritakan bahwa aku diminta belajar Biologi juga untuk ikut lomba mata pelajaran tingkat kabupaten. Nah, selama tiga hari itu aku habiskan jam sekolahku untuk belajar bersama dengan Mas Bimo di perpustakaan. Kami hanya membaca buku cetak Biologi masing-masing, merangkum, dan mencoba memahami, menghapal, dan banyak juga mengerjakan soal-soal. Kebanyakan kami menikmati buku masing-masing, tak banyak saling bicara. Lagipula, sesekali aku lihat, Mas Bimo memang tampak serius. Aku juga lebih nyaman dan fokus menyerap materi dengan membaca. Dan, tentu saja, terlalu banyak bertanya padanya juga membuat pikiranku ke mana-mana. Tidak fokus. Percuma.

Seharian mengejar materi Biologi, malamnya di rumah, aku mengejar materi di kelas. Aku meminjam buku catatan teman, menyalin, membaca ulang, dan mencoba memahami sendiri. Aku terlalu asyik dan terlalu bersemangat, sepertinya, sehingga aku aku lembur, aku telat makan, dan pada malam ketiga, kebetulan aku pergi ke warung Uwak (sebutan untuk kakak dari ayah atau ibu untuk orang Banyumas), dan tiba-tiba angin dingin hadir, lalu gerimis menyusul. Aku segera pulang. Uwak menawariku payung, tapi aku menolak karena saat itu hanya gerimis. Ternyata, tak lama setelah itu, hujan lebat datang. Aku berlari. Uwak memanggilku, tapi aku hanya berlari.

Pagi harinya, aku tidak bisa bangun. Kepalaku begitu berat, sementara badanku menggigil hebat. Badanku panas, mataku panas. Sejak hari itu hingga beberapa hari ke depan, aku tidak masuk sekolah. Maka, tidak ada belajar bersama dengan Mas Bimo, tidak ada hembusan angin di perpustakaan. Angin itu sedang meliuk-liuk dalam tubuhku, sama kuatnya dengan rasaku ingin segera bertemu Mas Bimo di sekolah masuk sekolah. Tentu saja, kesempatan untuk kompetisi mewakili sekolah pada saat itu pun lepas...

Untuk kompetisi saat itu, Mas Bimo yang akhirnya mewakili sekolah. Yah, kalau dipikir-pikir memang sudah sepantasnya begitu, aku saja yang terlalu bersemangat. Hehehehe...

Yang merupakan paragraph tell luar biasa jelek serta merusak kelebihan yang dimiliki sejak awal kisah. Terutama sekali kalimat yang ini: Oh iya, di Sang Angin: Berhembus di Perpustakaan, aku ceritakan bahwa aku diminta…” yang walaupun sekilas tak ada yang aneh namun membuyarkan rangkaian novel yang sejak awal berkomposisi: “Mukadimah-Kisah novel berbentuk novel-Epilog”menjadi novel kacau-balau yang inkonsisten menyasar ke perlit (Personal Literasi) sejenak lalu kembali tanpa perasaan berdosa menjadi novel lagi. Agak-agak mirip jomblo perjuangan menjalin hubungan lalu selingkuh terus dengan santainya melenggang ulang ke hubungan awal tanpa ada badai pemicu sebelumnya juga tanpa ada perekat sesudahnya... :P

Saran saya, sila digarap ulang noda merah tersebut. Atau jika memang tak mengganggu keseluruhan jalinan kisah utamanya, langsung lempar saja ke adonan dan goreng menjadi mendoan untuk kita sarapan bareng kapan-kapan yah, Tias… ^_

Untuk kalimat penjelas inipun, yang tidak lain adalah sepupuku” sebaiknya dipenggal saja, karena beneran terasa dipaksakan tanpa ada seninya sama sekali… ^_

Dan untuk selebihnya saya pikir tak ada masalah. Juga mengenai komentar, “dan usahakan jangan sampai terjebak 'gaya sinetron', kembalilah ke episode awal sebagai patokan... ^_” saya di sana lebih kepada preventif, dan bukannya pengobatan untuk keadaan yang telah terjadi. Karena umumnya penyakit penulis adalah gemar memanjang-manjangkan bab hanya demi bisa menjadi sebuah karya dengan ketebalan yang sah dan mirip novel, tanpa mempertimbangkan apakah bab yang dipanjang-panjangkan tersebut katroks atau tidak… ^_

Untuk chapter keenam yang berjudul, Sang Angin: Semilir Sepanjang Gatot Soebroto, saya belum membacanya karena masa-masa itu saya absen meng-inspirasi.co sekitar satu bulan demi memenuhi panggilan jiwa *Uhuk! ^_ Tapi saya pikir ‘Review Karya Perdana’untuk karya Inspirator ini telah lebih dari cukup sebagai pembuka. Semoga bermanfaat bagi Inspirator Tias sebagai penulisnya, dan juga bagi rekan-rekan inspirator lain yang kebetulan nilai keilmuannya tak jauh berbeda dengan tingkat kepahaman yang saya punya. Sementara bagi yang memiliki kemampuan lebih tinggi, saya mohon maaf karena telah songong berani melakukan ini di inspirasi.co. Semua murni hanya demi belajar bersama dengan cara seasyik mungkin, yang agak sulit jika misalnya dilakukan dengan sosok-sosok hebat super kawakan yang biasanya memicu rasa grogi, bahkan sebelum dimulai.

Salam hangat berbagi dalam persahabatan, salam belajar bareng. Bye from Bay… ^_

 

Secangkir Kopi Review Karya Inspirator Perdana, ThornVille, Tahun Sotoy.

*Psssttt…! Tias…! Ada baiknya untuk novel ini kamu minta Kata Pengantar kepada Jajaran Pengelola inspirasi.co, dan bukannya sekedar njaluk endorser ke si Bay yang namanya tak punya nilai jual di dunia kepenulisan ini. Saya yakin beliau-beliau di inspirasi.co akan dengan senang hati menyambut permohonan kamu ini, karena hal itupun harusnya masih dalam wilayah ‘Kewajiban Moral’mereka sebagai Jajaran Elit Pengelola inspirasi.co… ^_


  • Komentator Ngasal
    Komentator Ngasal
    1 tahun yang lalu.
    Boleh juga. Lanjutkan kisanak....

  • 31 
    31 
    1 tahun yang lalu.
    Kali ini saya ga komen..ehehehe
    *saya promote aja..

    • Lihat 16 Respon

  • Bina Raharja
    Bina Raharja
    1 tahun yang lalu.
    speechless... makasih Ka :') sampe tumpah-tumpah rasa harunyaaaaaa, huhuhuhuuuuu *iya, saya lebay* ternyata beneran dibuat, dan sangat cepat!! *ini jleb banget, yg bedah cepet, yang nulis malah suka mampet. hiks....* terima kasih banyak, semuanya bergizi untuk selera sastra, rasa humor, bahkan memanjakan mata pada rangkaian-rangkaian kata. terima kasih, sudah berbagi ilmu buat saya dan yang lain, hehehe. Tapi, ceritanya saya gubah lagi dari awal Ka, saya rombak! bongkar! bongkar! *bukan iklan kopi. ehehehe, saya gak tau deh bakal dikomen apa nantinya : p soalnya agak jadi panjaaang *semoga gak dibilang macam sinetron lagi :') *siap-siap upload aaah* hmmm, gak bosan2 baca bedah karya ini, banyaaaak ilmunya. Terima kasih ^ ^

  • Chairunisa Eka 
    Chairunisa Eka 
    1 tahun yang lalu.
    sehingga aku aku lembur, aku telat makan, dan pada malam ketiga

    > ketahuan banget ada dua kata yang berulang...bang bay mau di tip-ex gak?
    aku ngakak lo baca bagian lumacan lusinga lukambing...jangan-jangan yang baca berubah tanduknya hahaha

    pokoknya tulisan bang bay yang panjang ini kuuuuueeeeerrrrrreeeeennn....Jadi saya harus menyelami dulu tulisan yang akan di buat seperti contohnya mba tias ini. Aku baru baca yang bagian ke dua artikelnya loh...sampe garuk-garuk tembok benar terbawa suasana. Tapi udahannya lupa ninggalin komen

    • Lihat 4 Respon

  • Shinta Siluet Hitam Putih
    Shinta Siluet Hitam Putih
    1 tahun yang lalu.
    Berangkat dari bedah karya perdana-nya Mas bay ini...saya jd menimbang2 kembali mau upload tulisan...poles diksi dlu ah...hehe...

    Sunduuullll, layak promo...

    • Lihat 3 Respon